Nasib istri kuli bangunan :menceritakan tentang bahwa hidup yang penuh perjuangan seorang laki- laki yang bertanggung jawab dan istri yang punya kesabaran. dan keteguhan yang hebat
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SulSya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 34Nasib Derita Istri pekerja kuli bangunan
Aroma minyak kayu putih dan pembersih lantai rumah sakit masih seolah tertinggal di indra penciuman Anisa. Sepuluh hari berturut-turut ia tertidur beralaskan tikar tipis di samping ranjang RSUD, menyaksikan tubuh suaminya, Burhan, terbaring tak berdaya ditopang jarum infus dan luka perban. Hari ini, pintu kontrakan berukuran empat kali enam meter itu akhirnya kembali terbuka.
Burhan melangkah sangat pelan, bersandar penuh pada bahu Anisa. Wajah pria yang dulu gagah dan menjadi tumpuan keluarga itu kini pucat pasi, matanya sayu, dan napasnya masih sering tersengal jika berjalan lebih dari sepuluh langkah. Dokter mewajibkannya istirahat total selama beberapa bulan ke depan karena kondisi tangan dan kaki yang patah yang membuat Burhan harus menjalani operasi masih sangat lemah serta perlu waktu yang lama untuk penyembuhan nya
"Pelan-pelan, Mas... tahan sebentar, aku ambilkan kursi kayu," bisik Anisa lembut sambil menuntun suaminya duduk di sudut ruangan.
Burhan menarik napas panjang, lalu menghembuskannya berat. Matanya menatap sekeliling ruangan sempit itu. Di sudut lain, sebuah ayunan kain tergantung, tempat bayi mereka yang baru berusia 2 minggu, sedang tertidur pulas.
"Maafkan Mas, Nisa..." suara Burhan terdengar serak, hampir tenggelam dalam kesunyian siang itu. Air mata menggenang di pelupuk matanya. "Mas malah jadi beban buat kamu dan anak kita. Harusnya Mas yang kerja, harusnya Mas yang nafkahin kalian. Sekarang... buat berdiri aja Mas harus dipegangi." ucap Burhan kepada Anisa.
Anisa menyeka keringat di dahi suaminya dengan ujung jilbabnya. Ia tersenyum tipis, mencoba mengubur dalam-dalam rasa cemas yang sebenarnya menggerogoti dadanya.
"Jangan bicara begitu, Mas," potong Anisa halus namun tegas. "Mas bisa sembuh dan pulang ke rumah ini saja sudah hadiah luar biasa buat aku dan Rehan. Soal rezeki, Gusti Allah tidak pernah tidur. Mas fokus saja pemulihan, jangan mikir yang berat-berat dulu."
"Tapi tabungan kita masih ada uang dari kompensasi perusahaan dan sumbang dari para mandor dan teman pekerja mas" ucap Anisa kepada Burhan.
buat beli obat yang tidak ditanggung BPJS kemarin, Nisa! Sewa kontrakan sudah nisa bayar sampai 4bulan kedepan tinggal dua minggu lagi sisa waktu kontrakan yang lama,
Sisa uang kompensasi sasi itu nanti akan nisa pergunakan untuk kebutuhan sehari - hari dan modal usaha jualan kue
"Mas Burhan!" Anisa memegang kedua tangan suaminya yang dingin dan gemetar. "Tolong, demi aku dan , jangan patah semangat. Kalau Mas makin drop, siapa yang menguatkan aku? Kita hadapi sama-sama. Aku masih punya dua tangan yang sehat, aku masih bisa kerja."
"Kerja apa, Nisa? Kamu harus jaga anak yang masih bayi, kamu juga harus ngurus Mas!"
Anisa mengangguk pelan. Ia sudah memikirkan rencana ini matang-matang selama malam-malam panjang di rumah sakit.
"Aku bakal buka usaha cucian baju di rumah, Mas. Tapi karena aku tidak bisa keluar rumah untuk jemput atau antar pakaian karena harus mendampingi Mas dan dan anak kita aku buat aturan: siapa saja yang mau cuci, harus antar dan jemput pakaian mereka sendiri ke kontrakan kita. Selain itu, tiap subuh aku bakal buat kue basah. Nanti aku jajakan di meja kecil depan kontrakan."
Burhan menatap istrinya dengan tatapan tak percaya campur aduk antara haru dan rasa bersalah yang makin membuncah. "Apa ada yang mau antar cuci sendiri ke sini, Nisa? Biasanya orang mau laundry kan karena malas jalan. Apalagi kue basah... modalnya dari mana?"
"kan sudah bisa bilang tadi mas sebagian sisa uang kompensasi itu nanti Anisa gunakan untuk modal Mas. Cukup untuk beli tepung, gula, dan sedikit sabun cuci kiloan. Soal pelanggan, aku yakin niat baik pasti ada jalannya," jawab Anisa penuh keyakinan.
Sore itu juga, Anisa mengambil selembar karton bekas dus mi instan. Dengan spidol hitam yang hampir habis tintanya, ia menuliskan kalimat dengan jemari yang mantap:
MENERIMA CUCIAN BAJU (JASA STRIKA & CUCI) Sistem: Antar & Jemput Sendiri ke Rumah. Sedia Juga: Kue Basah Segar Tiap Pagi (Lumpur, Pastel, Onde-onde).
Tulisan karton itu ia tempelkan di pintu depan kontrakan. Beberapa tetangga yang lalu lalang sempat berhenti dan membaca tulisan tersebut.
Malam harinya, ketika Burhan dan bayi Rehan sudah tertidur lelap, Anisa duduk sendirian di dapur sempitnya. Matanya mengantuk luar biasa, fisiknya lelah setelah berhari-hari tidak tidur cukup. Namun, ia menyalakan kompor kecilnya. Mengaduk adonan kue lumpur dan memotong wortel untuk isian pastel. Setiap ayunan tangannya diiringi doa yang tak putus-putus.
"Ya Allah, kuatkan bahuku. Lindungi suamiku, cukupkan rezeki anakku..." bisiknya liris di tengah kepulan uap adonan kue.
Garis takdir telah berubah. Anisa, wanita muda yang dulunya hanya mengurus rumah tangga dan bergantung penuh pada gaji buruh pabrik suaminya, kini harus berdiri tegak menjadi benteng utama kelangsungan hidup keluarganya
Setitik cahaya fajar baru saja menyeruak di ufuk timur ketika Anisa selesai menata kue-kue basahnya di atas meja kayu kecil tepat di depan pintu kontrakan. Ada kue lumpur beraroma pandan yang wangi, pastel renyah dengan isian sayur gurih, serta kue ku merah merona. Semuanya dibuat dari sisa modal terakhir yang ia kelola dengan sangat teliti.
Sekitar pukul enam pagi, suara langkah kaki terdengar mendekat. Bu Marni, tetangga sebelah kontrakan yang terkenal galak namun dermawan, berhenti di depan meja Anisa.
"Lho, Nisa... ini kue kamu yang bikin sendiri?" tanya Bu Marni sambil memicingkan mata mengamati susunan kue yang rapi.
"Iya, Bu Marni. Alhamdulillah, hangat-hangat baru matang. Coba dibeli Bu, buat sarapan," sapa Anisa ramah dengan senyum mengembang, meski lingkaran hitam di bawah matanya tidak bisa disembunyikan.
Bu Marni mengambil satu pastel dan menggigitnya. "Hmm... renyah e! Isinya juga gurih, pas. Ya sudah, borongkan sepuluh biji buat anak-anakku di rumah. Sama ini... aku baca karton di pintumu. Kamu benar terima cuci pakaian?"
"Benar, Bu Marni. Tapi mohon maaf sekali, saya tidak bisa antar jemput pakaiannya. Soal pakaian harus diantar ke sini dan diambil sendiri kalau sudah selesai, soalnya Mas Burhan belum bisa ditinggal lama dan anak saya masih nyusu," jelas Anisa jujur.
Bu Marni mengangguk-angguk, matanya menatap iba ke arah dalam kontrakan di mana Burhan terlihat sedang duduk bersandar lemah di kasur busa.
"Yalah, paham aku. Nanti agak siangan tak bawa dua ember pakaian kotor keluargaku ke sini. Daripada aku cape nyuci sendiri, mending tak kasihkan kamu. Itung-itung bantu tetangga," ujar Bu Marni seraya menyodorkan uang dua puluh ribu rupiah untuk kuenya.
"Terima kasih banyak, Bu Marni! Semoga rezekinya makin lancar," ucap Anisa tulus. Uang dua puluh ribu itu terasa bagai emas pertama yang sangat berharga di tangannya.
Jalan terjal Anisa tidak sepenuhnya mulus. Menjelang siang, cuaca terasa sangat menyengat. Anisa harus membagi waktunya dengan luar biasa ketat. Saat anak nya menangis minta minum susu, ia harus menghentikan kucekan pakaian, mencuci tangannya hingga bersih dengan sabun, lalu menyusui bayinya hingga tenang. Setelah Rehan tertidur, ia kembali ke kamar mandi belakang untuk melanjutkan mengucek, membilas, dan memeras pakaian pelanggan secara manual tanpa mesin cuci.
Tangan Anisa yang dulunya halus kini mulai memerah, mengelupas, dan terasa perih akibat terkikis sabun deterjen murah.
"Nisa... kemari sebentar, Nak," panggil Burhan dari dalam dengan suara pelan.
Anisa segera mengeringkan tangannya dengan kain lap dan menghampiri suaminya. "Kenapa, Mas? Ada yang sakit? Mau minum?"
Burhan meraih tangan kanan Anisa. Ia membolak-balikkan telapak tangan istrinya yang kasar dan lecet-lecet akibat terlalu lama terendam air dan deterjen. Air mata Burhan menetes tepat di atas telapak tangan Anisa.
"Tangan kamu sampai pecah-pecah begini, Nisa... Mas dosa banget biarkan kamu kerja kasar seperti ini," kata Burhan seraya mencium telapak tangan istrinya berulang kali.
Anisa menarik pelan tangannya lalu tersenyum manis. "Mas, rasa perih di tangan aku ini tidak sebanding dengan rasa takutku kalau sampai kita tidak bisa beli obat buat Mas atau beli susu buat anak Ini tanda perjuangan kita, Mas. Jangan ditangisi. Justru aku bangga bisa bantu keluarga kita."
"Tapi kamu cape banget... dari jam tiga pagi belum istirahat sama sekali."
"Kalau cape, tinggal tidur nanti malam, Mas. Yang penting halal dan tidak minta-minta," sahut Anisa mantap.
Tiba-tiba, suara ketukan pintu depan terdengar kembali.
"Permisi... Mbak Anisa?"
Anisa bergegas ke depan. Tampak Pak RT bersama istrinya berdiri sambil membawa dua kantong plastik besar berisi pakaian kotor.
"Eh, Pak RT, Bu RT. Ada apa ya Pak, Bu?"
"Ini lho, Nis. Istri saya denger dari Bu Marni kalau kamu terima cuci baju di rumah. Ini saya bawakan baju-baju kotor di rumah. Tolong dicucikan dan disetrikakan ya. Kami antar sendiri dan nanti kalau sudah jadi biar saya yang ambil ke sini," kata Pak RT ramah.
Istri Pak RT menyela sambil tersenyum hangat, "Iya Nis, kue basahmu tadi pagi juga dipuji-puji sama ibu-ibu pengajian. Katanya enak dan bersih. Besok Jumat kan ada arisan RT, saya mau pesan lima puluh kotak kue basah campur ya. Bisa?"
Mendengar pesanan lima puluh kotak kue, dada Anisa berdesir hebat. Rasa haru dan syukur yang luar biasa membuncah dalam dadanya. Air matanya hampir saja menetes di depan Pak RT dan istrinya.
"Bisa, Bu RT! Alhamdulillah, pasti saya buatkan sebaik mungkin!" jawab Anisa dengan suara bergetar menahan tangis bahagia.
"Alhamdulillah. Ini saya kasih DP dulu buat belanja bahannya besok ya, Nis. Kamu yang sabar ya, Mas Burhan pasti cepat sembuh. Warga di sini kagum sama kegigihan kamu," ucap Bu RT seraya menyerahkan beberapa lembar uang ratusan ribu sebagai uang muka.
Setelah Pak RT dan istrinya pamit pulang, Anisa menggenggam erat uang DP tersebut. Ia berjalan mendekati Burhan dan memperlihatkan uang itu.
"Lihat, Mas... Gusti Allah jawab doa-doa kita. Ada pesanan lima puluh kotak kue buat besok Jumat, plus cucian dari Pak RT!"
Burhan menatap uang di tangan istrinya, lalu menatap wajah Anisa yang tampak begitu lelah namun memancarkan keagungan seorang ibu dan istri yang tangguh. Burhan menyatukan kedua tangannya, bersujud syukur di atas kasur busanya.
Anisa sadar, jalan di depannya masih sangat panjang dan penuh liku. Rasa lelah, kulit tangan yang terkelupas, serta waktu tidur yang berkurang kini menjadi bagian dari kesehariannya. Namun, berdiri di atas kaki sendiri sebagai tulang punggung keluarga telah memberinya sebuah kekuatan baru: bahwa ketulusan cinta dan kerja keras tak akan pernah mengkhianati hasil.