Di dunia luar, Gabriel Alexius adalah ketua mafia paling ditakuti—dingin, kejam, dan tanpa ampun. Namun, takdir mempertemukannya dalam pernikahan rahasia dengan Aira, gadis biasa yang awalnya mengira suaminya hanyalah pria kaya yang polos dan sedikit konyol.
Di rumah, Gabriel berubah drastis menjadi suami yang manja dan bucin setengah mati, bahkan rela bertingkah konyol demi membuat istrinya tersenyum.
Semua kebohongan manis itu terbongkar saat Aira tak sengaja memergoki Gabriel dalam "mode monster" saat menghadapi musuhnya. Panik karena takut ditinggal, sang ketua mafia yang garang itu mendadak jadi panutannya yang paling penakut di hadapan sang istri.
“Aira, aku bisa menghancurkan kota ini, tapi jangan minta aku hidup tanpamu!”
Bagaimanakah kisah rumah tangga gadis biasa dengan pria paling berbahaya di dunia bawah ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rey Nanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18 : Pendar Romantis Di Kota Roma Dan Pasukan Pengawal Siluman
Pesawat jet pribadi berbadan lebar milik dinasti Blackwood membelah langit malam benua Eropa sebelum akhirnya mendarat mulus di landasan pacu pribadi Bandara Internasional Ciampino, Roma. Udara malam kota abadi itu terasa sejuk, membawa serta aroma khas sejarah dan kemegahan arsitektur klasik Eropa.
Pintu kabin pesawat terbuka perlahan. Aira melangkah keluar mengenakan mantel panjang berwarna camel yang anggun, dipadukan dengan selendang sutra senada yang melingkar di lehernya. Di sampingnya, Gabriel berjalan siaga, mengenakan setelan jas hitam bespoke buatan Italia yang mempertegas postur tubuh atletisnya. Walaupun tampil sangat rapi dan berwibawa layaknya seorang raja mafia kelas dunia, tangan Gabriel sama sekali tidak melepaskan genggamannya dari jemari lentik Aira.
"Selamat datang di Roma, Tuan dan Nyonya Besar," sambut seorang pria paruh baya berambut perak dengan setelan jas rapi—Marco, kepala keamanan cabang Blackwood wilayah Eropa—yang sudah menunggu di bawah tangga pesawat bersama sepuluh pengawal berjas hitam.
Gabriel mengangguk singkat, matanya mengedar ke sekeliling area bandara dengan sorot tajam penuh kewaspadaan. "Bagaimana situasi di pusat kota? Apakah Dewan Tetua Eropa sudah mengetahui kedatangan kami?"
"Semua pergerakan kita terpantau, Tuan," lapor Marco dengan nada serius sambil membukakan pintu mobil Limousine antipeluru yang terparkir. "Dewan Tetua di bawah pimpinan Don Vincenzo mengadakan pertemuan tertutup malam ini. Mereka tahu Anda datang bersama Nyonya Aira, dan mereka bersiap menguji kelayakan Nyonya dalam sidang pleno besok pagi."
Aira yang mendengar hal itu tetap tenang. Ia melangkah masuk ke dalam mobil, disusul oleh Gabriel.
Begitu pintu mobil tertutup dan kendaraan meluncur membelah jalanan kota Roma yang diterangi lampu kekuningan kuno, Gabriel langsung melepaskan jas luarnya, merosotkan tubuhnya, dan menyandarkan kepalanya di bahu Aira dengan manja.
"Sayang..." rengek Gabriel pelan dengan suara baritonnya yang lembut, memeluk pinggang istrinya erat-erat. "Aku benci kota ini."
Aira menoleh heran, tersenyum geli sambil merapikan jas suaminya. "Benci? Kota Roma ini sangat indah, Gabriel. Kenapa tiba-tiba kamu membencinya?"
"Karena para tetua tua bangka itu mau bikin acara sidang besok pagi! Itu artinya, waktu kita untuk menikmati malam romantis di Roma jadi berkurang drastis," gerutu Gabriel sebal, lalu mengecup sekilas punggung tangan istrinya. "Harusnya kita ke sini cuma buat liburan, makan gelato, dan naik komidi putar di dekat Colosseum, bukan malah meladeni para kakek cerewet itu."
Aira tertawa renyah, mengusap helaian rambut hitam suaminya dengan penuh kasih sayang. "Jangan begitu, Gabriel. Pertemuan besok adalah pembuktian penting. Aku ingin berdiri di sampingmu bukan cuma sebagai istrimu, tapi sebagai wanita yang layak memegang kendali bersama Dark Lord-nya."
Mendengar kata-kata penuh keyakinan dari istrinya, Gabriel tertegun sejenak. Sorot mata cokelat gelapnya memancarkan rasa cinta dan kekaguman yang begitu dalam. Ia menegakkan tubuhnya, menangkup kedua pipi Aira dengan kedua tangannya, lalu mendaratkan ciuman yang lembut dan penuh cinta di bibir istrinya.
"Kamu selalu tahu cara meluluhkan hatiku, Aira," bisik Gabriel tulus. "Apapun yang terjadi di sidang besok, aku ada di sampingmu. Kalau ada satu saja tetua yang berani menatapmu dengan sebelah mata, aku pastikan hari itu juga jadi hari pensiun mereka."
Keesokan paginya, pukul sembilan tepat.
Sebuah gedung opera klasik bergaya Barok di pusat kota Roma—yang telah disulap menjadi ruang sidang rahasia para petinggi sindikat mafia Eropa—tampak dikelilingi oleh ketegangan yang pekat. Di dalam aula utama beratap kubir tinggi dan tiang-tiang marmer putih, duduk belasan pria paruh baya dan lansia berpakaian jas formal. Mereka adalah para anggota Dewan Tetua Eropa yang terkenal kejam, konservatif, dan tidak kenal kompromi.
Di ujung ruangan, pintu ganda berukuran besar perlahan terbuka lebar.
Gabriel Blackwood melangkah masuk lebih dulu dengan aura kekuasaan yang begitu mendominasi, membuat suhu di dalam ruangan mendadak terasa membeku. Di sampingnya, berjalan Aira Anindita dengan langkah anggun, kepala tegak, dan tatapan mata yang tenang namun setajam elang.
Seluruh pasang mata anggota dewan tertuju tajam ke arah mereka.
Di kursi utama dewan, duduk Don Vincenzo—pria sepuh berusia delapan puluhan dengan mata abu-abu yang tajam dan keriput di seluruh wajahnya. Ia mengetukkan tongkat kayunya ke lantai marmer dua kali.
Tak... Tak...
"Selamat datang di Roma, Ketua Gabriel," suara serak namun berwibawa milik Don Vincenzo menggema di seluruh aula. "Dan selamat datang pula kepada Nyonya Aira. Kami mendengar banyak cerita tentang bagaimana seorang wanita dari luar dunia bawah tanah tiba-tiba menduduki kursi eksekutif tertinggi di Blackwood Corp."
Aira berhenti tepat di tengah ruangan, berdiri berdampingan dengan Gabriel. Ia menjawab dengan suara jernih dan tenang tanpa sedikit pun keraguan. "Dan saya rasa, Tuan Vincenzo, dunia bawah tanah juga harus belajar bahwa era kepemimpinan Blackwood kini berjalan dengan visi yang jauh lebih luas dan modern."
Beberapa anggota dewan langsung berbisik-bisik, terkejut dengan keberanian wanita muda di hadapan mereka.
Seorang tetua di sisi kiri mendengus sinis. "Berani sekali kamu berbicara soal visi di hadapan dewan! Menjadi Permaisuri Hitam tidak cukup hanya dengan omongan manis. Kamu harus membuktikan bahwa mentalmu tidak akan runtuh di bawah tekanan darah dan aturan aliansi kita!"
Sebelum Aira sempat membuka mulut untuk membalas, Gabriel melangkah satu langkah ke depan. Aura pembunuh yang sangat pekat langsung meledak dari tubuhnya, membuat tetua yang berbicara tadi menelan ludah ketakutan.
"Jaga mulut kua, Tuan tua," desis Gabriel dingin bagaikan iblis neraka. "Istriku tidak perlu membuktikan apa pun kepada kalian yang hanya duduk di kursi usang sambil ketakutan!"
"Gabriel! Cukup," bisik Aira lembut, menyentuh lengan suaminya dan menggelengkan kepala pelan untuk menenangkannya.
Gabriel menarik napas dalam-dalam, meredam amarahnya demi menghormati batasan yang dibuat istrinya sendiri, meski tatapan matanya masih siap menerkam siapa saja yang berani bersuara tinggi.
Don Vincenzo mengangkat tangannya, menengahi situasi yang mulai memanas. Ia menatap Aira lekat-lekat. "Baiklah, Nyonya Aira. Jika Anda memang layak duduk di takhta tertinggi bersama Gabriel, buktikan melalui ujian kebijaksanaan dan strategi yang akan kami berikan sore ini. Apakah Anda siap?"
Aira menatap lurus mata abu-abu Don Vincenzo tanpa gentar sedikit pun. "Saya siap."
📌 Pojok Penulis (Rey Nanda):
Wah, mental baja Aira benar-benar diuji di hadapan para tetua mafia Eropa! Tapi tenang aja, Gabriel si suami bucin dan siaga satu pasti siap pasang badan buat bela istrinya! 🔥🏛️