NovelToon NovelToon
Perjodohan Pembunuh Naga Dan Putri Naga

Perjodohan Pembunuh Naga Dan Putri Naga

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:104
Nilai: 5
Nama Author: EMPIRE RAJA

**Perjodohan Pembunuh Naga dan Putri Naga**

Veronica, seorang naga setengah manusia, harus menikah dengan Altres Vanguard, kesatria terkenal yang dijuluki pembunuh naga. Pernikahan mereka merupakan syarat perdamaian antara bangsa naga dan manusia yang telah lama bermusuhan. Namun, menyatukan dua makhluk dari ras berbeda bukanlah perkara mudah. Veronica yang tidak memahami kehidupan manusia sering berselisih dengan Altres, sementara Altres sulit menerima kenyataan bahwa wanita yang menjadi istrinya adalah seekor naga.

Di balik pertentangan mereka, tersimpan luka masa lalu yang perlahan terungkap. Veronica kehilangan ibunya yang seorang manusia, menyaksikan bagaimana usia singkat sang ibu memisahkan mereka untuk selamanya. Sementara itu, Altres kehilangan ayah dan kedua kakaknya dalam perang melawan bangsa naga, meninggalkan kebencian yang sulit dihapuskan.

Seiring waktu, keduanya mulai memahami kesedihan dan ketakutan masing-masing. Di antara perbedaan, dendam, dan luka masa lalu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EMPIRE RAJA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21 tanggung jawab sang penguasa

Pagi itu, setelah sarapan yang jauh lebih tenang daripada malam sebelumnya, rombongan kembali menaiki kereta kuda menuju pertambangan batu mulia di sisi lain pegunungan. Jalan berbatu yang menanjak membuat roda kereta berderit pelan dan sesekali berguncang, sementara Count Regurd yang duduk di seberang Erin menjelaskan dengan penuh semangat bahwa para penambang di sana tidak hanya menggali batu permata, tetapi juga batu sihir yang sangat dicari para penyihir istana. "Hasilnya memang tidak sebanyak hasil kebun, Nyonya Erin, tapi nilainya jauh lebih tinggi," ujarnya sambil tersenyum bangga.

"Batu sihir?" tanya Erin sambil mengangkat alis. "Aku kira itu hanya ada di menara para penyihir."

"Awalnya memang begitu, Nyonya, tapi urat batunya ternyata berada tepat di bawah gunung kami," jawab Count Regurd sambil mengangguk mantap. Veronica yang duduk di dekat jendela hanya mengangguk-angguk sambil menatap lereng gunung yang berkilau di bawah cahaya matahari, hatinya masih sedikit tergelitik oleh bayangan hukuman dari ibu mertuanya.

Begitu tiba, Count Regurd membawa mereka ke sebuah gudang penyimpanan yang dijaga ketat oleh dua prajurit bertombak. Di dalamnya, deretan kotak kayu berisi berbagai batu mulia tersusun rapi di atas rak, dan begitu tutupnya dibuka, kilau merah, biru, dan hijau langsung memantul ke wajah mereka. Erin mengangkat sebutir batu safir sebesar ibu jari dan memutarnya perlahan di bawah cahaya lampu, matanya menyipit mengagumi setiap sisinya yang berkilau. "Cantik sekali. Aku yakin para pengrajin di ibu kota bisa mengubah batu-batu ini menjadi aksesoris yang luar biasa, bahkan layak dipakai di pesta istana nanti."

Sementara itu, mata Veronica berbinar seperti anak kecil yang menemukan mainan baru. Ia menatap batu-batu itu satu per satu dan teringat tumpukan permata yang dulu ia timbun di dalam gua, dan tanpa sadar jemarinya sudah terulur hendak menyentuh sebutir batu rubi. Ia buru-buru menarik tangannya sambil berdeham dan pura-pura mengamati langit-langit gudang, lalu menoleh pada Erin dengan suara yang sengaja dibuat pelan. "Ibu, apakah semua ini milik kita? Semuanya? Tidak ada yang akan diambil orang lain?"

"Tidak semuanya, Veronica," jawab Erin sambil menutup kotak di tangannya dengan hati-hati dan menyerahkannya kembali pada penjaga gudang. "Sebagian harus dikirim ke Kaisar sebagai pajak. Itu sudah menjadi kewajiban setiap wilayah, dan kita tidak boleh lalai membayarnya." Veronica mengangguk sambil mengerucutkan bibir, jelas berat hati membayangkan batu-batu berkilau itu pergi ke istana, dan matanya mengikuti kotak-kotak itu seolah mengucapkan selamat tinggal.

Setelah puas melihat-lihat, mereka keluar dari gudang dan berpapasan dengan beberapa penambang yang baru saja muncul dari mulut terowongan, wajah mereka penuh debu dan tangan mereka menggenggam kantong kulit yang menggembung. Veronica langsung melangkah mendekat dengan rasa ingin tahu yang tak bisa disembunyikan, sementara Erin hanya menghela napas pelan di belakangnya, sudah pasrah dengan tingkah menantunya.

"Apakah hasil tambang kalian banyak hari ini?" tanya Veronica sambil menatap kantong-kantong itu dengan mata berbinar.

Para pekerja itu terkejut, lalu buru-buru menunduk memberi hormat. Salah seorang di antara mereka, pria berjanggut tebal dengan tangan penuh kapalan, membuka kantongnya dan menunjukkan beberapa batu yang masih kasar dan belum dipoles, permukaannya kusam namun jelas menyimpan kilau di dalamnya. "Seperti inilah hasil kami hari ini, Nyonya Duchess. Belum diasah, tapi kualitasnya bagus, dan setelah dipoles nanti pasti jauh lebih berkilau." Veronica memandangi batu-batu itu dengan senyum puas, bangga karena orang-orang itu mampu menambang sebanyak itu. "Kerja kalian bagus sekali," pujinya tulus sambil mengangguk, membuat para penambang saling melirik dengan wajah tersipu dan dada sedikit membusung.

Erin menepuk bahu menantunya dengan lembut. "Cukup untuk hari ini. Sidak kita hanya sampai hari ini, dan kita harus segera kembali ke kediaman Vanguard untuk mengurus rumah."

Bahu Veronica langsung merosot dan senyumnya memudar. "Secepat itu, Ibu? Padahal aku sedang menikmati hari-hari yang menyenangkan jauh dari tumpukan dokumen." Erin hanya tersenyum samar tanpa menjawab, sementara Emma menunduk menahan tawa sambil merapikan lipatan gaun majikannya.

Belum sempat mereka melangkah menuju kereta, seorang pekerja berlari dari arah terowongan dengan napas tersengal dan wajah pucat pasi, lalu berlutut di hadapan Count Regurd tanpa sempat memberi hormat dengan benar, bahunya naik turun dan lengan bajunya sobek berlumur tanah. "Tuan Count! Ada monster kadal di dalam tambang! Monster itu menyerang para pekerja, dan sebagian dari kami masih terjebak di dalam!"

"Apa?" Count Regurd langsung berbalik dengan wajah tegang, tangannya refleks menggenggam gagang pedang di pinggangnya, dan berseru lantang pada para prajurit yang berjaga. "Semuanya masuk ke tambang sekarang juga! Selamatkan para pekerja!"

"Biar aku yang menolong mereka," sela Veronica sambil melangkah maju dengan sorot mata yang berubah tajam. Erin segera menarik lengan bajunya dengan cemas. "Apa yang akan kau lakukan, Veronica?"

"Ibu tidak perlu khawatir," jawab Veronica sambil menoleh dan tersenyum yakin. "Aku tahu apa yang harus kulakukan."

Erin membuka mulut hendak melarang, tetapi Veronica sudah melepaskan genggamannya dengan lembut. Sebelum Erin sempat bicara lagi, tanduk, sayap, dan ekor naga muncul dari tubuh Veronica dalam kilatan cahaya merah, lalu ia melesat ke udara dengan kecepatan yang membuat debu di tanah berhamburan. Dalam sekejap, jauh mendahului para prajurit yang masih berlari di belakang, ia tiba di depan mulut tambang dan mengaum sekeras-kerasnya hingga dinding gunung bergetar, memperingatkan monster di dalam. Para pekerja yang tengah mati-matian bertahan menghadapi monster itu tersentak kaget mendengar auman yang menggelegar, dan sebelum mereka sempat mencerna apa yang terjadi, Veronica sudah muncul di tengah lorong dan menghantam monster kadal itu dengan satu pukulan keras hingga tubuhnya terpental ke dinding.

Dengan satu tangan, Veronica menarik monster itu keluar dan terbang menembus mulut tambang. Monster itu menggeliat dan berusaha melarikan diri, cakarnya mencakar-cakar udara, namun Veronica sudah mencengkeram ekornya begitu kuat hingga tak bisa bergerak sedikit pun. Veronica menghirup napas dalam-dalam hingga dadanya mengembang, membuka mulutnya lebar-lebar, dan menyemburkan api yang menyala-nyala hingga monster itu terbakar dan berubah menjadi arang di udara.

Orang-orang yang menyaksikan dari bawah terpaku di tempat mereka, wajah mereka pucat karena jelas tanduk, sayap, dan ekor itu adalah milik seekor naga. Veronica mendarat dengan ringan di depan kerumunan yang menahan napas, menepuk-nepuk tangannya yang berdebu, lalu tersenyum pada mereka seolah tak terjadi apa-apa. "Semuanya sudah aman. Tolong bantu para pekerja yang terluka di dalam tambang."

Erin berlari menghampirinya dengan wajah cemas, gaunnya tersingkap karena terburu-buru, dan memeriksa lengan serta bahu menantunya dengan teliti. "Kau tidak terluka? Tidak ada yang sakit? Katakan padaku sekarang juga, Veronica."

"Monster seperti itu hanya serangga di tanganku, Ibu," jawab Veronica sambil terkekeh kecil dan mengibaskan tangannya, lalu tanduk, sayap, dan ekor naganya menghilang seperti kabut tipis.

Beberapa orang yang tadi masih terpaku akhirnya melangkah mendekat dengan ragu, lalu membungkuk dalam-dalam. "Terima kasih, Nyonya Duchess. Terima kasih sudah menyelamatkan kami, dan maafkan sikap kami tadi."

"Aku sudah berjanji sebagai Duchess Vanguard untuk menjaga kalian," jawab Veronica dengan senyum hangat. Ia kemudian menoleh pada Count Regurd dengan raut serius. "Count, tolong periksa seluruh tambang bersama para prajurit. Sepertinya ada monster yang berhibernasi di dalam."

"Akan saya kerahkan seluruh prajurit untuk memeriksanya, Nyonya," sahut Count Regurd sambil menunduk. "Dan prajurit yang lalai menjaga tambang sampai monster bisa masuk akan saya tegur keras."

"Mereka mungkin tidak sepenuhnya lalai, Count," ujar Veronica sambil menggeleng pelan agar prajurit itu tidak dihukum terlalu berat. "Monster jenis itu pandai menggali. Pasti ia menggali lewat bawah tanah sampai ke dalam tambang, makanya tidak ketahuan."

Count Regurd mengangguk perlahan sambil mengusap dagunya, akhirnya paham, dan wajahnya tampak lebih tenang setelah mendengar penjelasan yang masuk akal itu. "Kalau begitu, untuk mencegahnya terulang, saya akan meminta para kesatria memeriksa tambang setiap tiga hari sekali."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!