Tiga tahun Alyssa Kirana Sastro duduk di meja makan keluarga Narendra, dan tiga tahun pula ia dituduh jadi penyebab lumpuhnya Nadine. Suaminya, Devan, tak pernah mau mendengarnya.
Malam ini Alyssa meletakkan surat gugatan cerai dan cincin nikahnya di meja kerja Devan, lalu pergi tanpa membawa apa pun. Dua jam kemudian, mobilnya ditemukan hancur di dasar jurang. Jasadnya tidak ada.
Devan masih ingin percaya itu hanya drama. Namun di rumahnya tertinggal selembar catatan.
Ke mana Alyssa pergi, dan apa yang akan Devan lakukan saat sadar apa yang sudah ia buang?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zikri Cahyandi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Vonis Tanpa Jasad
Deru angin malam menyapu lereng jurang Puncak dengan kejam, membawa uap air hujan yang membentur wajah Devan. Lampu rotator merah dan biru milik armada kepolisian serta tim SAR membelah kegelapan, memantulkan kilatan buas di atas aspal licin Km 45. Bau hangus karet dan logam terbakar masih tercium pekat, mengalahkan aroma tanah basah.
Devan melompati garis polisi tanpa memedulikan teriakan dua petugas yang mencoba menahannya. Sepatu kulitnya tenggelam dalam lumpur tebal, kemeja hitamnya basah kuyup dihantam hujan.
"Tuan Devan! Dilarang mendekat ke area penurunan, tebing masih labil!" seru Komisaris Polisi Ardi, menyusul langkah Devan menyusuri lereng.
Devan tidak menggubris. Matanya terkunci pada dasar jurang lima puluh meter di bawah sana. Di sana teronggok kerangka besi yang tak lagi berbentuk—bangkai sedan hitam B 1827 KRN yang hangus legam. Petugas pemadam masih menyemprotkan air ke asap yang membubung dari kap mesin yang hancur.
"Di mana dia?" suara Devan parau, tercekik cengkeraman takut yang belum pernah ia rasakan seumur hidupnya. "Di mana Alyssa?"
Komisaris Ardi mengusap air hujan dari dahinya. "Tim SAR sudah menyisir radius dua ratus meter dari titik impak. Pintu pengemudi terbuka lebar saat mobil menghantam dasar jurang. Namun..."
"Namun apa?!" Devan memutar tubuh dan mencengkeram kerah jas hujan perwira itu. Matanya memerah. "Kalian punya belasan personel! Bagaimana bisa tidak ada satu orang pun di sana?!"
"Arus sungai di bawah tebing sangat deras malam ini, Tuan," sahut perwira itu tanpa melawan. "Kalau korban terlempar dari kabin sebelum ledakan, atau berhasil keluar lalu jatuh ke aliran air, kemungkinan besar..."
"Jangan berani-berani menyimpulkan dia tewas sebelum kalian menemukan tubuhnya!" potong Devan, melepas cengkeramannya dengan sentakan kasar.
Ia memaksa kakinya menuruni lereng licin itu. Petugas SAR di bawah terkejut melihat sang konglomerat memanjat turun tanpa perlengkapan keselamatan. Devan sempat tergelincir, tetapi ia merayap bangkit, mengabaikan batu tajam yang merobek telapak tangannya.
Di dasar jurang, hawa panas dari besi hangus masih menyengat kulitnya. Petugas SAR menepi, memberinya ruang di depan pintu pengemudi yang penyok dan lepas sebagian dari engselnya.
Kabin itu hancur. Jok kulit tempat Alyssa biasa duduk telah mencair menjadi kerak hitam. Bau daging terbakar tidak tercium sama sekali, tanda bahwa tidak ada tubuh yang terperangkap di dalamnya.
Devan menyisir setiap sudut bangkai itu dengan mata memerah. Jemarinya yang gemetar menyentuh batang kemudi yang berjelaga.
Lalu matanya menangkap sesuatu di dekat konsol tengah.
Di tuas rem tangan yang masih terangkat, ada benda yang tidak seharusnya ada di sana. Sebuah gelang perak tipis berukir motif daun kecil—gelang yang selalu melingkar di pergelangan kiri Alyssa sejak pertama kali Devan mengenalnya.
Devan berlutut di atas pecahan kaca dan meraihnya. Ia ingat Alyssa sering memutar gelang itu dengan ibu jari saat sedang menahan sesuatu. Devan tidak pernah bertanya apa yang ia tahan.
Gelang itu tidak tergeletak begitu saja. Ia terikat rapi dengan simpul ganda di tuas. Dalam benturan sehebat itu, gelang di pergelangan tangan tidak mungkin terlepas lalu mengikat dirinya sendiri dengan begitu simetris. Logam peraknya masih hangat di telapak tangan Devan yang ternoda jelaga.
"Tuan Devan, Anda harus naik sekarang! Tebing sisi utara mulai longsor!" teriak ketua tim SAR dari atas.
Devan menggenggam gelang itu erat-erat hingga ukiran daunnya menekan kulit telapak tangannya. Ia menatap aliran sungai deras di balik semak-semak yang hancur diterjang mobil. Gemuruh air seolah menertawakan pencariannya.
"Kamu tidak mati, Alyssa," bisiknya pada kegelapan, suaranya gemetar oleh amarah dan rasa bersalah yang mulai menggerogoti dadanya. "Kamu sengaja melakukan ini."
***
Fajar menyingsing di atas Jakarta dengan warna kelabu yang suram ketika mobil Devan meraung memasuki halaman kediaman Narendra. Sepanjang jalan pulang ia tidak menyalakan radio. Dua kali ia hampir menepi untuk menelepon nomor yang sudah ia tahu tidak akan tersambung. Gelang itu terbungkus saputangan di saku celananya, dan tangannya terus menyentuhnya, seperti memastikan benda itu belum ikut hilang.
Bajunya penuh noda lumpur kering, wajahnya pucat dengan bayangan hitam tebal di bawah mata.
Di ruang tamu, Siska dan Nadine sudah menunggu. Siska duduk di sofa kulit dengan secangkir teh hangat, sementara Nadine di kursi roda memeluk selimut tebal, matanya sembap—penampilan sempurna untuk wanita yang berduka.
Melihat Devan, Siska langsung berdiri. "Devan! Astaga, lihat dirimu!" serunya dengan nada cemas yang dibuat-buat, mendekat tapi menjaga jarak dari pakaian Devan yang kotor. "Bagaimana di sana? Apa polisi sudah menemukan jasad perempuan itu? Polisi sudah menghubungi rumah sejam lalu, katanya mobilnya terbakar habis. Ini musibah, tapi kamu tidak boleh merusak kesehatanmu hanya karena wanita seperti dia!"
Devan tidak menjawab. Ia terus melangkah ke tangga.
"Devan, jawab Ibu!"
Devan berhenti di anak tangga pertama dan membalikkan badan perlahan. Tatapannya begitu kelam hingga Siska terkesiap dan mundur satu langkah.
"Wanita seperti apa maksud Ibu?" suara Devan sangat rendah, namun sarat ancaman.
Siska meneguk ludah, mencoba mempertahankan kewibawaannya. "Maksud Ibu... Alyssa sendiri yang memilih pergi saat hujan badai. Dia yang menaruh surat cerai di mejamu, bukan? Kamu tidak bisa disalahkan atas kecelakaan itu. Mungkin memang sudah takdirnya—"
Devan menangkap kalimat itu. Ia belum menceritakan apa pun soal surat cerai kepada siapa pun.
"Tutup mulut Ibu," potong Devan tajam.
"Devan!" pekik Siska, tak percaya putranya yang selalu patuh kini membentaknya di depan para pelayan.
Nadine menggerakkan kursi rodanya mendekati tangga. Matanya berkaca-kaca. "Devan, jangan marah pada Tante Siska. Beliau hanya mengkhawatirkanmu. Kami semua berduka atas Alyssa. Aku tidak pernah membayangkan dia akan senekat ini..."
Ia berhenti sejenak, mengusap sudut mata dengan saputangan sutra, lalu melanjutkan dengan nada yang ditata sangat hati-hati. Devan memperhatikan saputangan itu. Kainnya masih kering.
"Tapi polisi bilang peluang selamat di sungai itu sangat kecil. Dan Alyssa sudah meninggalkan surat gugatan dan cincin nikahnya di mejamu. Secara moral, dia sudah melepaskan statusnya sebagai istrimu."
Devan menatap Nadine dari atas tangga. Untuk pertama kalinya dalam lima tahun, suara manis itu terasa mengganggu di telinganya, memuat motif yang terlalu telanjang.
"Lalu?" tanya Devan. "Apa yang mau kamu katakan, Nadine?"
Nadine menunduk, berpura-pura ragu. "Demi nama baik keluarga Narendra, kamu harus segera mengurus pengesahan perceraian itu. Kalau media tahu kamu masih terikat pada wanita yang hilang di jurang, saham Narendra Group bisa anjlok. Setelah itu kita bisa mulai menata masa depan yang tertunda."
Siska mengangguk pelan, mengaminkan. Baginya, saran itu sangat rasional secara bisnis.
Rasa mual membumbung di dada Devan. Alyssa baru dinyatakan hilang beberapa jam lalu, dan wanita yang selalu ia bela justru sudah membicarakan pengesahan cerai dan masa depan mereka berdua.
"Masa depan yang tertunda?" Devan tertawa—suara serak yang mengerikan. "Istriku belum ditemukan, Nadine. Jasadnya belum ada. Dan kamu memintaku mengesahkan cerai pagi ini?"
"Devan, aku hanya berpikir realistis—"
"Cukup!" bentak Devan, suaranya menggema di seluruh rumah. "Jangan ada yang berani menyentuh surat cerai di meja kerjaku. Siapa pun yang membuang barang-barang Alyssa dari rumah ini, aku usir hari ini juga!"
Tanpa mempedulikan wajah Siska yang pucat kemerahan dan Nadine yang terpaku di kursi rodanya, Devan menaiki tangga dengan langkah lebar.
***
Pintu ruang kerja tertutup dengan dentuman keras. Devan menguncinya dari dalam.
Ruangan itu masih persis seperti saat Alyssa meninggalkannya semalam. Lampu kerja menyala sejak semalam. Di atas meja jati, map cokelat dan cincin perak tanpa permata itu masih tergeletak bisu, bersama kertas catatan Alyssa yang remuk di sudut meja.
Jemarinya yang kotor oleh lumpur menyentuh cincin itu. Cincin murah yang ia beli tanpa perhatian tiga tahun lalu. Cincin yang tidak pernah sekali pun dilepas Alyssa, sedingin apa pun perlakuan Devan, setajam apa pun sindiran ibunya. Dan semalam, Alyssa melepasnya tanpa keraguan sedikit pun.
Ia teringat bulan lalu, saat demam membuatnya tidak masuk kantor tiga hari. Setiap pagi ada semangkuk bubur di depan pintu ruang kerjanya, dengan secarik catatan kecil berisi jam minum obat. Ia tidak pernah menanyakan siapa yang menaruhnya. Ia tahu. Ia hanya tidak pernah mengucapkan terima kasih.
Devan menjatuhkan diri ke kursi kerjanya, menyandar, memejamkan mata dengan gelang perak itu di genggamannya. Mengapa gelang itu terikat di rem tangan?
Alyssa selalu teliti dan tenang di bawah tekanan. Kalau mobilnya dikejar atau dihantam, refleks pertama seseorang adalah mempertahankan kemudi, bukan melepas gelang dan mengikatnya rapi di tuas rem tangan.
Kecuali kecelakaan itu dirancang. Atau Alyssa tahu ia akan diserang dan sengaja meninggalkan petunjuk.
Kalau begitu, Alyssa sudah tahu. Ia tahu bahaya sedang menunggunya malam ini, dan tetap meletakkan cincin itu di meja dengan wajah setenang itu. Sementara Devan, dengan segelas wiski di tangan, sibuk menunggunya merajuk.
"Petunjuk apa, Alyssa?" bisiknya. "Apa yang mau kamu sampaikan padaku?"
Devan membuka mata dan menarik map cokelat itu. Pada lembar terakhir, di bagian pembagian harta, Alyssa menyilang seluruh kolom. Tidak ada tuntutan rumah, kendaraan, saham, atau tunjangan. Hanya satu kalimat tebal di bagian bawah: 'Penggugat membebaskan Tergugat dari segala kewajiban finansial dan materiil pasca-perceraian.'
Selama tiga tahun, Siska dan Nadine membisikkan padanya bahwa Alyssa adalah wanita panti asuhan yang memanfaatkan kekayaan Narendra, memakai kartu kredit keluarga untuk barang mewah dan mengirim uang ke luar secara ilegal.
Rasa curiga mendadak muncul. Devan meraih interkom dan menekan panggilan langsung ke kepala keuangan pribadi keluarga.
"Tuan Devan?" suara Hendri, manajer keuangan senior, terdengar dari seberang.
"Hendri," kata Devan. "Kirimkan mutasi rekening dan penggunaan kartu kredit tambahan atas nama Alyssa Kirana Sastro selama tiga tahun terakhir. Sekarang."
Hendri terdengar ragu. "Laporan Nyonya Alyssa, Tuan? Tapi... bukankah laporan bulanan selalu diserahkan kepada Nyonya Siska?"
"Aku tidak peduli dulu diserahkan kepada siapa!" tukas Devan. "Aku minta data mentah langsung dari sistem perbankan pusat detik ini juga. Kirim ke emailku dalam lima menit."
"Baik, Tuan! Segera saya proses!"
Devan mematikan interkom dan menunggu dengan gelisah. Ia ingin membuktikan bahwa Alyssa hanyalah wanita biasa yang memanfaatkan posisinya. Ia ingin menemukan cacat pada Alyssa, agar rasa bersalah yang mencekiknya sejak semalam berkurang sedikit saja.
Tiga menit kemudian, denting email masuk terdengar dari komputernya. Devan membuka lampiran PDF bernama Audit_Rekening_Tambahan_Alyssa_Kirana, dokumen resmi bank swasta terbesar di negara ini lengkap dengan stempel digital. Semakin jauh ia membaca, semakin dingin darah di tubuhnya.
Kartu kredit tambahan dengan limit dua miliar rupiah per bulan yang ia berikan tiga tahun lalu:
Total transaksi tahun pertama: Rp 0,-
Total transaksi tahun kedua: Rp 0,-
Total transaksi tahun ketiga: Rp 0,-
Kartu itu bahkan tidak pernah diaktivasi sejak dikirim bank.
Devan menggeser layar ke rekening tunai tempat dana belanja lima puluh juta rupiah masuk setiap tanggal satu. Seluruhnya utuh. Tidak satu rupiah pun ditarik, ditransfer, atau dipakai lewat kartu debit. Saldo akhirnya persis sama dengan jumlah semua transferan Narendra Group selama tiga tahun.
Alyssa tidak pernah menyentuh satu sen pun uang keluarga Narendra.
Tidak untuk pakaian mahal. Tidak untuk perawatan kecantikan. Tidak untuk apa pun.
Devan teringat gaun krem sederhana yang dipakai Alyssa di hampir setiap acara keluarga. Dulu ia diam-diam menganggapnya murahan.
Selama tiga tahun dihina sebagai pemeras harta, Alyssa memilih diam. Mungkin ia hidup dari tabungannya sendiri, hasil pekerjaan lepas sebagai analis data sebelum menikah.
Kata-kata ibunya semalam kembali bergema: "Kamu menikmati semua kemewahan keluarga Narendra."
Semua itu bohong.
Tuduhan itu tidak pernah ia periksa. Ia hanya percaya.
Istrinya tidak pernah mengambil apa pun dari rumah ini. Ia tinggal bukan karena harta Narendra, melainkan karena perjanjian almarhum Kakek—kewajiban yang ia jalani dalam diam sambil menelan semua hinaan.
Rasa bersalah yang tadi coba ia tepis kini menghantam dadanya seperti gelombang bandang. Ia menatap cincin perak murah di mejanya, dan menyadari betapa butanya ia selama tiga tahun ini.
Lalu matanya menangkap satu catatan transaksi keluar otomatis di baris paling bawah, diproses pukul 00.01 dini hari tadi—tepat sepuluh menit setelah mobil Alyssa dilaporkan jatuh ke jurang. Seluruh dana yang mengendap, 1,8 miliar rupiah, ditransfer balik utuh ke rekening utama Narendra Group, dengan pesan otomatis:
Pengembalian seluruh hak milik Narendra Group. Alyssa Kirana Sastro tidak lagi memiliki utang materiil maupun moral pada keluarga ini.
Napas Devan tercekat. Alyssa tidak hanya pergi. Ia memastikan tidak ada satu celah pun bagi Devan untuk mencarinya.
Devan menggenggam cincin dan gelang itu dalam satu kepalan, sampai logamnya meninggalkan bekas di telapak tangannya. Dua benda kecil yang selama tiga tahun tidak pernah ia lihat dengan benar.
.....
.....
Bersambung.