Sejak zaman dulu, sepuluh padepokan saling serang demi pecahan Cincin Braja Moksa. Kabarnya, siapa pun yang menyatukan sepuluh pecahan itu akan menguasai dunia.
Satrio Caksena hanyalah murid Geni Wening, padepokan paling lemah yang tinggal punya tujuh murid dan seorang guru dengan cakra hancur. Saat Kala Ireng datang menuntut pecahan mereka, Satrio cuma bisa bangun lagi setiap kali dihajar.
Malam itu, ia menemukan kristal merah di bawah lantai pendapa. Kristal itu menyala karena darahnya dan membangunkan sisa jiwa seorang Prabu yang sudah mati ribuan tahun lalu.
Dari sang Prabu, Satrio mengetahui rahasia yang dilupakan semua padepokan. Cincin Braja Moksa ternyata segel. Di dalamnya terkurung Sandawa, raja siluman yang dulu hampir menguasai dunia. Setiap pecahan yang terkumpul membuat segel itu makin lemah.
Satrio harus menghentikan Kala Ireng sebelum cincin itu utuh kembali. Masalahnya, tidak ada yang mau percaya pada murid dari padepokan paling lemah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon adicipto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Uap dan Bara
Keping perak itu masih melayang di atas telapak tangan si muda saat Satrio menyatukan kedua tangannya.
Jari-jarinya saling mengunci, kedua ibu jarinya menekan dada, dan panas yang tinggal separuh itu ia tarik keluar sekaligus sampai tetes terakhir. Bara-bara merah menyembur dari kulit lengannya dan berputar mengelilingi kedua lengannya. Dengungnya memenuhi pendopo.
Si muda baru sempat mengalihkan mata dari keping peraknya.
"Ajian Geni Sewu!"
Dari jarak empat langkah, seribu percik bara itu tidak memberinya waktu untuk mengangkat golok. Percik-percik itu menghantam wajah, leher, dan dadanya sekaligus, dan api merah langsung membungkus tubuhnya dari kepala sampai ke kaki.
"AAARGHH!"
Ia terhuyung dua langkah dan roboh di sudut pendopo. Jeritannya terputus di tengah. Keping perak itu jatuh berdenting ke lantai, lalu menggelinding masuk ke genangan kuah gulai.
Bau daging hangus menyengat hidung Satrio, dan perutnya bergolak seperti di jalan setapak dulu. Ia menggigit bibir dan menahannya.
Mata Ratna sempat singgah sekejap di tubuh yang terbakar itu, lalu ia bergerak. Di tangga, lelaki berlengan tebal itu menoleh ke arah api. Sebelum kepalanya sempat kembali, Ratna sudah merapatkan telunjuk dan jari tengahnya di mulut bumbung bambu di pinggangnya.
"Tirta Sembur!"
Air dari dalam bumbung itu melompat keluar dan menghantam kedua mata lelaki itu. Ia menjerit, dan lengannya yang mengunci leher anak Mbok Rondo mengendur. Ratna menyambar anak itu dari pelukannya, berputar sekali, dan melemparkannya ke arah perempuan-perempuan yang berkerumun di bawah tangga.
Mbok Rondo menangkap anaknya dan memeluknya erat-erat sampai keduanya jatuh terduduk.
"Keluar! Lewat sudut itu!" Kepala desa menunjuk sudut tempat si muda roboh, "Cepat!"
Warga berhamburan ke sudut yang kini tidak dijaga itu, melompati tubuh yang masih terbakar, lalu berlari ke kegelapan di belakang balai. Kepala desa berdiri di sudut itu dengan tongkat teracung sampai orang terakhir lewat. Salah seorang anak buah bercaping bergerak untuk menghadang mereka.
"Biarkan," kata Branjang, "Mereka tidak akan lari jauh. Jaga tangga."
Lalu ia menoleh ke arah Satrio, melirik sebentar ke tubuh yang terbakar di sudut, dan mendecakkan lidah.
"Dia anak buahku yang paling murah," katanya, "Tapi tetap saja anak buahku."
Satrio masih berlutut dengan napas tersengal. Lengannya berasap, dan dingin sudah merambat dari kristal ke pergelangan tangannya. Bahu kanan Branjang bergerak, dan seperti semalam, Satrio melempar tubuhnya ke samping.
Kepalan itu sudah tiba sebelum bahu Branjang selesai berayun.
Bugh!
Pukulan itu menghantam perut Satrio. Tubuhnya terlipat, terangkat dari lantai, dan menghantam tiang pendopo di belakangnya.
"Hoek!"
Darah menyembur dari mulutnya dan membasahi baju lurik pemberian Mbok Rondo. Satrio merosot di kaki tiang. Perutnya terasa seperti dibakar dari dalam.
"BODOH!" jerit Ratna dari seberang pendopo.
"Jangan coba membacanya, bocah!" seru Eyang, "Pertapa bergerak lebih cepat daripada matamu! Jarakmu dengannya terlalu jauh!"
Branjang mengibaskan tangannya, seperti orang yang baru mengusir lalat dari piring.
Di sisi lain pendopo, golok-golok berdenting. Ratna mundur selangkah demi selangkah, terjepit di antara dua anak buah bercaping. Bumbungnya sudah kosong, dan yang bisa ia lakukan hanya mengelak. Lelaki berlengan tebal itu menyerang dengan mata merah dan berair, dan setiap tebasannya disusul tendangan dari temannya. Ujung salah satu golok merobek lengan baju Ratna. Ia membalas dengan hantaman telapak tangan ke leher lawan yang lebih kecil, tapi tendangan si lengan tebal langsung menyusul dan menghantam pinggangnya. Ratna terhuyung dan menabrak bibir tungku. Setiap kali mundur, punggungnya makin dekat ke sudut itu.
Satrio mengusap darah di mulutnya dengan punggung tangan kanan. Darah itu merembes ke kain balutan, sampai ke kristal di telapak tangannya.
Kristal itu langsung menyala. Panas menyembur dari telapak tangannya, deras dan liar, jauh lebih besar daripada sisa panas yang tadi ia keluarkan.
Langkah Branjang tertahan sejenak. Senyumnya hilang sekejap, lalu kembali lagi, lebih lebar daripada sebelumnya.
"Batu itu minum darahmu lagi!" seru Eyang, "Tapi panas ini liar. Kalau kau lempar ke Pertapa itu, dia cuma akan menepisnya. Dan tubuhmu tidak akan kuat menahannya lama-lama!"
Satrio menatap Branjang yang melangkah santai ke arahnya. Lalu matanya beralih ke tempayan setinggi pinggang di samping tungku, ke Ratna yang terdesak makin dekat ke sana. Ia teringat uap putih yang menyembur dari rongga mata siluman semalam, saat api di telapak tangannya bertemu sisa air Ratna.
Uap itu cukup panas untuk mendidihkan isi kepala siluman yang kulitnya lebih keras daripada kulit Dayangkara mana pun. Uap juga tidak terbang di jalurnya sendiri seperti bara. Uap memenuhi semua celah.
"Bara bisa ditepis," gumamnya, "Uap tidak."
"Kau mau merebus dirimu sendiri?" desis Eyang.
'Sedikit.'
Ia menarik napas sampai dadanya sakit.
"Ratna!" teriaknya, "Siram aku! Semua air di tempayan itu, siram ke arahku!"
Ratna menoleh sambil mengelak tebasan, "Kau sudah gila?! Kau bisa ikut matang!"
"Anggap saja aku tungku! Cepat!"
Ratna menendang lutut lelaki berlengan tebal itu, berputar ke balik tempayan, dan membenamkan kedua tangannya ke dalam air. Bibirnya bergerak cepat. Air di dalam tempayan itu bergolak, lalu naik sekaligus, menggulung tinggi seperti ombak yang dipaksa berdiri.
"Ajian Tirta Prahara!"
Satrio menyatukan kedua tangannya yang berlumuran darah. Bara-bara merah menyembur dari lengannya, jauh lebih banyak dan jauh lebih liar daripada tadi. Sebagian berputar balik dan menyengat kulitnya sendiri, dan Satrio menggertakkan giginya menahan perih.
"Ajian Geni Sewu!"
Gelombang air itu meluncur dari arah tungku, menggulung kedua anak buah bercaping yang menghadangnya. Seribu bara melesat dari arah sebaliknya. Keduanya bertemu di tengah pendopo.
DUARR!
Atap ijuk pendopo itu terguncang. Air dan bara meledak menjadi uap putih yang mendidih, dan dalam sekejap kabut panas itu mengembang ke segala arah, menelan tiang-tiang, tungku, tangga, dan semua orang yang masih berdiri di pendopo.
Jeritan pecah dari balik kabut.
"Mataku! Mataku!"
"ARGHH! Panas!"
Hembusan uap itu melemparkan Satrio ke belakang. Ia merunduk serendah mungkin dan menutup wajah dengan lengan baju lurik. Kulit lengannya melepuh di bawah kain yang basah, dan lepuhan-lepuhan kecil bermunculan di punggung tangannya. Kabut putih itu begitu tebal sampai ia tidak bisa melihat tangannya sendiri.
Seorang anak buah bercaping terhuyung keluar dari kabut dengan kedua tangan menutup wajah. Kulit lehernya merah dan menggelembung. Ia tersandung pecahan piring dan jatuh berguling menuruni tangga pendopo. Dari kegelapan di belakang balai, warga yang bersembunyi melihat uap putih menyembur keluar dari sela-sela atap ijuk, seperti pendopo itu berubah jadi dandang raksasa.
Di balik tempayan yang kini kosong, Ratna meringkuk dengan selendang biru menutupi kepalanya.
Raungan Branjang menggelegar dari arah tangga, kasar dan penuh amarah.
Satrio merangkak menjauh dari tempatnya terjatuh, ke arah meja jati yang terbalik. Telapak tangannya menyentuh sesuatu yang dingin dan bundar di lantai, keping-keping perak upahnya yang tadi berceceran. Perutnya kembali bergolak. Ia menekan mulutnya dengan tangan kiri, tapi batuk itu tetap keluar.
"Uhuk! Uhuk!"
"Jangan batuk!" desis Eyang.
Kabut di depan Satrio tersibak.
Branjang berdiri di sana dengan uap yang masih mengepul dari pundaknya. Capingnya sudah hilang, dan kulit wajahnya merah dan melepuh di beberapa tempat. Mata kirinya terpejam rapat, tapi mata kanannya terbuka dan tertuju lurus pada Satrio. Senyum itu masih ada di bibirnya.
"Akal yang bagus, bocah," katanya, "Tapi batukmu terdengar sampai ke tangga."
"Kalau bagus," Satrio terengah, "Kenapa wajahmu yang matang?"
Satrio mengangkat lengannya untuk menangkis. Kepalan Branjang menembus tangkisan itu seperti menembus selembar daun.
Duakk!
"ARGHH!"
Kepalan itu menghantam dada Satrio dan membenamkan punggungnya ke lantai pendopo. Papan di bawahnya retak. Napasnya tertahan di tenggorokan, dan pandangannya menggelap di tepi-tepinya.
Ia terkapar. Kedua lengannya tidak mau digerakkan lagi, dan darah merembes dari sudut bibirnya ke lantai yang basah.
Lalu ia merasakan panas itu.
Telapak tangan kanannya terbuka di lantai. Darah di sana sudah luntur oleh air dan uap, tapi kristal itu tetap menyala, makin lama makin terang. Cahaya merahnya menembus kabut putih di sekeliling mereka. Panasnya tidak berhenti di telapak tangan. Panas itu merambat ke lengan, ke bahu, lalu ke dada, mendesak jalur-jalur cakra yang sudah kering seperti air bah yang mendesak pintu air.
"Bocah..." Suara Eyang terdengar bingung, "Ini bukan perbuatanku."
Di atas Satrio, Branjang mengangkat sebelah kakinya, siap menginjak tangan yang bercahaya itu.