NovelToon NovelToon
SATU ATAP SERIBU DUSTA

SATU ATAP SERIBU DUSTA

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / CEO
Popularitas:7.8k
Nilai: 5
Nama Author: blcak areng

Merelakan masa mudanya merantau demi modal bisnis, Nesa berhasil membangun brand kosmetiknya seorang diri. Sebagai wujud bakti, ia memberikan posisi nyaman di perusahaan untuk kakak kandungnya, Sasya, dan mempercayakan hatinya pada Dika, suami yang dipacarinya sejak SMA.

​Namun, dunia Nesa runtuh seketika saat ia mendapati kenyataan paling menjijikkan: Dika berselingkuh dengan Sasya. Di saat yang sama, Sasya memanfaatkan fasilitas perusahaan untuk merintis skincare tandingan di bawah dukungan penuh Dika. Syok luar biasa akibat pengkhianatan berlapis itu merenggut nyawa bayi yang tengah dikandung Nesa.

​Berada di titik terendah setelah keluar dari rumah sakit, air mata Nesa berubah menjadi bara. Mengabaikan rasa sakitnya, Nesa bersiap membalas setiap tetes air matanya, membongkar kebusukan suami dan kakak kandungnya, serta merebut kembali apa yang sepenuhnya menjadi hak miliknya.

​Satu Atap, Seribu Dusta ketika bakti dibalas duri dan pengkhianatan harus dibayar mahal.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

SATU ATAP SERIBU DUSTA

​

​Suara ketukan pintu ruang kerja utama berketuk tiga kali dengan ritme yang sudah sangat akrab di telinga Nesa. Tanpa menunggu jawaban, gagang pintu perak itu berputar perlahan, memperampakkan sosok perempuan berbusana blazer pastel berpotongan modis dengan senyuman yang merekah manis di bibirnya.

​Sasya, kakak kandung Nesa yang kini memegang kepercayaan penuh sebagai Kepala Divisi Humas di NesAura Skincare, melangkah masuk dengan anggun. Di tangannya, sebuah kantong kertas eksklusif dari butik kue terkemuka berayun ringan, menebarkan aroma manis yang langsung menyeruak ke seluruh ruangan.

​"Belum jam makan siang, tapi ruang kerja CEO kita ini sudah kelihatan paling sumpek sedunia," suara Sasya mengalun lembut, sarat akan nada manja seorang kakak kepada adiknya. Ia berjalan mendekat dan meletakkan kantong kue itu tepat di atas meja kerja Nesa, di samping tumpukan laporan keuangan bulanan yang berserakan.

​Nesa, yang sedari tadi tenggelam di balik layar laptop untuk memeriksa draf desain kemasan produk terbaru, langsung mendongak. Garis-garis ketegangan di wajahnya perlahan mencair. Senyuman tipis seketika terukir di bibirnya. Rasa penat akibat berjam-jam berkutat dengan angka, grafik penjualan, dan strategi pemasaran mendadak menguap begitu melihat kehadiran sang kakak di hadapannya.

​"Kak Sasya tumben banget mampir ke ruanganku jam segini. Bukannya harusnya lagi sibuk briefing sama tim PR di lantai bawah buat persiapan peluncuran Glow Series akhir bulan ini?" tanya Nesa sambil merenggangkan sedikit otot lehernya yang terasa kaku karena terlalu lama menunduk.

​Sasya tertawa kecil, suara tawa yang terdengar begitu renyah dan menenangkan. Ia lalu menarik kursi di seberang meja Nesa dan duduk dengan anggun. Tangannya dengan sigap membuka kantong kertas tersebut, mengeluarkan sekotak kue keju berukuran sedang, lalu menyodorkannya ke hadapan Nesa dengan penuh perhatian.

​"Justru karena sibuk, Kakak sempat-sempatin mampir ke sini. Takut CEO muda kita ini terlalu semangat kerja sampai lupa sama kesehatan diri sendiri. Ingat, Nes, kamu itu sekarang bukan cuma sedang mikirin perusahaan dan ribuan karyawan, tapi juga sedang membawa titipan yang jauh lebih berharga di dalam tubuhmu," ucap Sasya hangat.

​Tanpa menunggu persetujuan, tangan Sasya terulur perlahan, menyentuh dan mengusap dengan lembut perut Nesa yang masih rata, mengingat usia kehamilan adiknya baru saja memasuki bulan ketiga.

​Perlakuan itu terasa begitu tulus dan menyentuh hati. Nesa merasakan gelombang kehangatan menjalar di dadanya. Sebagai anak bungsu yang merintis NesAura Skincare dari nol dengan cucuran keringat setelah bertahun-tahun merantau seorang diri di negeri orang, Nesa selalu memegang teguh prinsip bakti kepada keluarga. Kegagalan masa lalu Sasya di mana sang kakak sempat mengalami depresi berat dan terpuruk karena pertunangannya hancur secara misterius tanpa sebab selalu menyisakan rasa iba yang mendalam di lubuk hati Nesa.

​Itulah alasan utamanya mengapa, ketika perusahaannya mulai mendulang kesuksesan besar, Nesa tidak berpikir dua kali untuk menarik Sasya masuk ke dalam lingkaran perusahaannya. Nesa ingin memberikan kehidupan yang layak, jabatan terhormat sebagai Kepala Divisi Humas, dan memanjakan kakaknya dengan segala kenyamanan yang dulu tidak pernah mereka miliki.

​"Makasih banyak ya, Kak. Perhatian banget. Tadi pagi sebenarnya aku sudah sarapan bareng Dika di rumah," jawab Nesa sambil tersenyum tulus, mencungkil sedikit kue di depannya dengan garpu kecil.

​Mendengar nama suaminya disebut, senyum di wajah Sasya sempat berkedip sepersekian detik, namun langsung tertutup oleh senyuman lebarnya.

​"Ngomong-ngomong soal Dika, suamimu itu tadi sempat mampir ke ruanganku sebentar sebelum dia harus ikut meeting koordinasi dengan divisi logistik," ujar Sasya dengan nada santai, menopang dagunya di atas meja. "Dia pesan khusus sama Kakak, nyuruh kamu jangan terlalu sering begadang di ruang kerja atau melewatkan jam makan. Katanya dia benar-benar khawatir sama kesehatan kamu dan calon buah hati kita."

​Mendengar kalimat itu, bunga-bunga kebahagiaan seakan bermekaran di hati Nesa. Dika pria yang telah mendampinginya sejak masa-masa sulit di bangku SMA, yang merangkak bersama dari bawah hingga kini menduduki kursi penting di jajaran direksi untuk membantu mengawasi manajemen operasional perusahaan selalu bisa diandalkan. Bagi Nesa, Dika adalah rumah tempat ia mendaratkan segala letih, dan kehamilannya adalah sempurnanya karunia hidup yang ia miliki saat ini.

​"Dika itu memang selalu berlebihan kalau soal kehamilanku. Padahal usianya juga baru tiga bulan, belum terlalu besar untuk dikhawatirkan separah itu," balas Nesa dengan tawa kecil, merasa hidupnya saat ini sudah berada di puncak kebahagiaan yang utuh: karier yang gemilang, suami yang penuh cinta, serta keluarga yang saling merangkul erat.

​"Namanya juga calon ayah, Nes. Wajar kalau dia siaga penuh dan protektif," sahut Sasya cepat. Ada kilatan aneh yang begitu cepat melintas di dalam manik mata Sasya saat ia menundukkan pandangannya, namun kilatan itu lenyap seketika sebelum Nesa sempat menangkap maknanya. "Oh iya, bagaimana progres akhir untuk peluncuran produk baru kita di akhir bulan nanti? Tim laboratorium bilang sampel batch pertama sudah siap untuk uji klinis terakhir."

​Topik pembicaraan langsung bergeser secara profesional. Sebagai pendiri dan pemilik mutlak NesAura Skincare, Nesa kembali memasang ekspresi serius. Tangannya kembali menyentuh papan tik laptop, memperlihatkan grafik pencapaian dan lembar kerja digital kepada sang kakak.

​"Semua sudah berjalan sesuai jalur, Kak. Formula pencerah baru dengan ekstrak bunga edelweis organik itu sudah lolos uji klinis tanpa ada catatan merah. Pabrik utama kita di Cikarang bahkan sudah mulai menambah jam operasional lembur untuk mencetak kemasan botol limited edition sesuai dengan desain elegan yang kemarin Kak Sasya ajukan ke agensi periklanan," papar Nesa dengan binar antusias di matanya.

​Sasya mengangguk-angguk penuh minat, menyimak setiap detail penjelasan bisnis yang disampaikan oleh adiknya dengan saksama. Kepala Divisi Humas itu bahkan mengeluarkan ponsel pintarnya untuk mencatat beberapa poin penting.

​"Baguslah kalau semuanya on track. Peluncuran produk di akhir bulan ini adalah pertaruhan besar bagi reputasi brand kita, apalagi kompetitor di luar sana sedang gencar-gencarnya mencoba menjatuhkan pasaran kosmetik lokal," ucap Sasya dengan nada prihatin yang terdengar sangat meyakinkan di telinga Nesa. "Tenang saja, Nes. Sebagai kakak sekaligus orang yang bertanggung jawab penuh di divisi humas, Kakak bakal pastikan branding produk baru ini meledak di pasaran dan mendominasi seluruh media sosial tanpa ada celah."

​"Aku selalu percaya sama kemampuan Kak Sasya. Makasih banyak ya udah selalu membantuku mengurus lini publikasi dan humas perusahaan," ucap Nesa penuh ketulusan, mengulurkan tangannya untuk menggenggam jemari sang kakak di atas meja.

​"Sama-sama, sayang. Sudah kewajiban Kakak buat meringankan beban adik tersayang," jawab Sasya manis.

​Namun di balik senyuman ramah dan genggaman hangat itu, tersimpan rapat ribuan rencana licik yang siap menghancurkan hidup Nesa dalam sekejap mata.

​

1
fatmiatun sahono
sy komen ya....pdhal di upload aja itu surat ancaman di media gosip seperti PD saat wkt makan siang rame gosip nya. nah surta ancaman itu akan rame klo di upload dg narasi ancaman pertama seru ne....
fatmiatun sahono
maaf emang sdh cerai ya Dika sama Nisa...apa sy ada yg kelewat ya...baca nya..
Mundri Astuti
kebiasaan dimanja si Sasa ...tapi dimana" mang Sasa cuma buat pelengkap bumbu 🤭
stela aza
bukan anak kandungnya x itu s nesa masa dr kecil sampai dewasa masih di beda bedakan 🤦
Sya Haron
Di bab 19 syasya dan dika sudah dijatuhi hukuman. Bila waktunya syasya dilepaskan?
blcak areng: Hay kak terima kasih ya revisi dari Kamu nya🙏🙏🙏.. maaf ya aku sedikit sibuk di dunia rl jadi beberapa kali mlh bikin kesalah 🙏🙏
total 1 replies
Agunk Setyawan
othornya lagi ngantuk kali ya🤣🤣🙏
blcak areng: udah di revisi ya kak
total 1 replies
Zhafran Althaf
waittt bentar bentar bukannya Dika udah di penjara yaaaa kok ini muncul lagi
Dewi Rahmawati
bagus ceritanya up terus kk 💪
Mundri Astuti
obatnya nesa nich
stela aza
kelamaan bertindak
Zhafran Althaf
aku hadierrrr kakak
Zhafran Althaf: kak
karyamu yang tamu di atap orang tuaku kamu hapus ta kak kok aku cari ga ada
total 2 replies
Zhafran Althaf
hallo Kaka aku hadirrrr😍
blcak areng: yeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeee mksh Kakak 🙏🙏🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!