NovelToon NovelToon
DEWA PEDANG TANPA TANDING

DEWA PEDANG TANPA TANDING

Status: sedang berlangsung
Genre:Kelahiran kembali menjadi kuat / Spiritual / Reinkarnasi / Fantasi Timur
Popularitas:93.2k
Nilai: 5
Nama Author: Otna Forever

Su Yun pernah menjalani hidup penuh kegagalan, kehilangan, dan penyesalan. Ketika takdir memberinya kesempatan kembali ke masa lalu, ia bersumpah tidak akan mengulangi kesalahan yang sama.

Berbekal pengalaman dari kehidupan sebelumnya dan warisan misterius Seni Pedang Tanpa Batas, Su Yun menapaki kembali jalan kultivasi. Demi melindungi orang-orang yang berharga baginya, ia harus menghadapi para genius, sekte besar, Binatang Roh, hingga musuh yang jauh melampaui kekuatannya.

Kali ini, Su Yun tidak akan tunduk pada takdir.

Dengan pedang di tangannya, ia akan merebut kembali semua yang pernah hilang—dan membuka jalan menuju puncak dunia kultivasi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Otna Forever, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6 — Warisan Pedang Misterius

Jalan kultivasi di dunia ini terbagi menjadi sepuluh alam besar.

Alam Murid Roh, Alam Roh Sejati, Alam Inti Roh, Alam Jiwa Roh, Alam Bintang Roh, Alam Guru Roh, Alam Guru Roh Langit, Alam Kaisar Roh, Alam Bijak Roh, dan Alam Dewa Roh.

Setiap alam merupakan jurang yang sulit dilampaui.

Bagi Su Yun sekarang, semua itu masih sangat jauh.

Ia bahkan belum benar-benar melangkah keluar dari Alam Murid Roh.

Namun dibandingkan kehidupan sebelumnya, kali ini ia memiliki sesuatu yang jauh lebih berharga daripada kultivasi tinggi.

Pengetahuan.

Dan pengetahuan itulah yang membawanya ke sarang Harimau Abadi.

Su Yun berdiri di depan liang gelap sambil mengeluarkan sebotol penawar racun.

Ia menenggaknya dalam sekali teguk.

“Seharusnya cukup.”

Udara dari dalam sarang membawa bau busuk bercampur racun.

Su Yun tidak ragu.

Ia masuk.

Semakin jauh melangkah, cahaya semakin redup.

Tulang berbagai Binatang Roh berserakan di tanah. Beberapa sudah menguning, sedangkan lainnya masih menyisakan bekas daging kering.

Kabut kehijauan melayang tipis.

Racun.

Walaupun konsentrasinya tidak terlalu tinggi, menghirupnya terlalu lama tetap bisa membunuh.

Su Yun berjalan cepat.

Setiap kali kepalanya mulai terasa berat, ia meminum sedikit penawar.

Untungnya, sebelum menjalankan rencana ini, ia sengaja memilih sarang milik Harimau Abadi jantan.

Tidak ada anak harimau.

Kalau tidak, seluruh rencananya akan jauh lebih berbahaya.

Beberapa saat kemudian, langkah Su Yun berhenti.

Di antara tumpukan tulang putih, tumbuh beberapa bunga berwarna putih kehijauan.

Matanya langsung berbinar.

“Ketemu.”

Bunga Putih Ganas.

Tanaman langka yang hanya dapat tumbuh di sarang Harimau Abadi.

Tulang Binatang Roh menjadi nutrisinya.

Sementara gas beracun Harimau Abadi menjadi bagian penting pertumbuhannya.

Di pasar, satu tangkai saja bernilai setidaknya tiga ribu koin roh.

Namun Su Yun tidak datang untuk menjualnya.

Bunga inilah tujuan sebenarnya dari seluruh perjalanan.

Ia berjongkok dan memanen bunga itu dengan sangat hati-hati.

Kelopaknya tampak indah.

Aromanya bahkan sedikit manis.

Namun keindahan itu mematikan.

Menghirup aromanya terlalu lama dapat meracuni tubuh.

Apalagi memakannya secara langsung.

Su Yun menyimpannya dengan hati-hati.

Baru hendak pergi, sesuatu di sudut sarang menarik perhatiannya.

“Hm?”

Sebuah kerangka manusia.

Tubuhnya sudah menjadi tulang belulang.

Pakaiannya hampir seluruhnya membusuk, sementara salah satu kakinya patah.

Namun ada sesuatu yang masih tergenggam di tangannya.

Selembar perkamen.

Su Yun mendekat.

Ia mengambil perkamen tersebut dan membukanya.

“Apa ini?”

Simbol-simbol aneh memenuhi permukaannya.

Sebagian menyerupai prasasti naga.

Sebagian lain hampir seperti simbol yang pernah ia lihat ketika mempelajari teknik jalur iblis.

Tetapi tidak ada yang benar-benar dikenalnya.

Lebih aneh lagi, meski kerangka itu jelas sudah berada di sini selama bertahun-tahun, tulisan pada perkamen masih memancarkan kilau samar.

Su Yun mengamatinya beberapa saat.

Tetap tidak mengerti.

“Lupakan.”

Sekarang bukan waktunya.

Ia memasukkan perkamen ke dalam pakaiannya.

Kalau memang tidak berguna, mungkin masih bisa dijual kepada kolektor di kota.

Su Yun segera meninggalkan sarang.

Setelah menemukan tempat aman, ia mengeluarkan Bunga Putih Ganas.

Bunga ini harus digunakan tidak lebih dari satu jam setelah dipetik.

Jika terlambat, khasiatnya akan hilang.

Su Yun mengeluarkan darah Harimau Abadi yang baru dikumpulkannya.

Ia mulai membersihkan bunga dari ujung batang hingga kelopak.

Darah harimau perlahan meresap.

Warna kehijauan pada bunga memudar sedikit demi sedikit.

Proses ini harus dilakukan dengan tepat.

Terlalu sedikit darah, racunnya tidak akan hilang.

Terlalu banyak, khasiat bunga justru rusak.

Setelah selesai, Su Yun memeriksanya sekali lagi.

Kemudian—

ia menelannya.

Su Yun langsung duduk bersila.

Beberapa detik pertama tidak terjadi apa-apa.

Lalu...

Dum!

Jantungnya berdetak keras.

Su Yun membuka mata.

Panas muncul dari perut.

Awalnya hanya hangat.

Namun dengan cepat berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih ganas.

“Hngh!”

Su Yun menggertakkan gigi.

Seolah-olah api dinyalakan di dalam tubuhnya.

Panas menyebar ke dada.

Lengan.

Kaki.

Hingga kepalanya.

Keringat mengalir deras.

Kulitnya berubah merah.

“Efek obatnya ternyata sekeras ini...”

Dalam kehidupan sebelumnya, Su Yun mengetahui resep ini dari orang lain.

Ia memahami prosesnya.

Namun belum pernah mencobanya sendiri.

Sekarang ia akhirnya mengetahui mengapa begitu sedikit orang bersedia menggunakan metode tersebut.

Sakitnya luar biasa.

Tetapi Su Yun tidak bergerak.

Ia sudah menunggu kesempatan ini terlalu lama.

Dalam kehidupan pertama, kelainan tubuh tersebut menghancurkan masa mudanya.

Membuat seorang jenius berubah menjadi sampah.

Membuatnya menyerah pada hidup.

Kali ini ia tidak akan membiarkannya terjadi lagi.

“Ayo.”

Su Yun mengepalkan tangan.

“Lebih keras lagi.”

Panas terus meningkat.

Darahnya seperti mendidih.

Ia tidak ingin kembali menjadi pemuda yang hanya bisa mabuk untuk melupakan kenyataan.

Tidak ingin kembali diinjak-injak.

Dan yang paling penting—

ia membutuhkan kekuatan.

Tanpa kekuatan, mengetahui masa depan tidak ada artinya.

Ia tetap tidak akan mampu menyelamatkan Qing Er.

Dum!

Sesuatu seperti meledak di dalam tubuhnya.

Su Yun menahan napas.

Kemudian ia merasakannya.

Seolah sebuah belenggu yang mengikat tubuhnya selama delapan tahun...

akhirnya pecah.

Energi spiritual di sekelilingnya mendadak terasa jauh lebih jelas.

Su Yun hampir tertawa.

“Berhasil!”

Kelainan spiritualnya...

sembuh!

Namun kegembiraannya hanya berlangsung sesaat.

Panas itu tidak berhenti.

Sebaliknya—

semakin kuat.

“Apa?”

Su Yun membuka mata.

Seharusnya efek obat mulai mereda.

Mengapa masih meningkat?

Energi spiritual di tubuhnya bergerak semakin cepat.

Indranya terhadap energi di sekelilingnya juga terus menguat.

Satu kali.

Dua kali.

Jauh melampaui kondisinya sebelum penyakit muncul.

“Ada yang salah.”

Su Yun berusaha mengendalikan napas.

Namun tubuhnya seolah tidak mendengarkan.

Panas terus naik.

Sesaat ia bahkan merasa dirinya akan meledak.

Lalu—

Wusss...

Semua rasa panas mendadak menghilang.

Begitu saja.

Udara sejuk menyebar dari dalam tubuhnya.

Su Yun terdiam.

Beberapa saat kemudian ia memejamkan mata dan mulai merasakan energi spiritual di sekitarnya.

Ekspresinya perlahan berubah.

“Ini...”

Kemampuan seseorang merasakan energi spiritual merupakan salah satu dasar bakat kultivasi.

Semakin kuat persepsinya, semakin cepat pula ia dapat menyerap dan mengendalikan energi spiritual.

Sebelum tubuhnya bermasalah, bakat Su Yun sudah dianggap luar biasa.

Itulah alasan dirinya pernah disebut jenius Keluarga Su.

Namun sekarang...

kemampuan persepsinya jauh melampaui masa itu.

Setidaknya dua kali lipat.

Su Yun membuka mata.

Bahkan dirinya sulit mempercayainya.

“Bukan hanya sembuh.”

Ia melihat telapak tangannya.

“Tubuhku justru menjadi lebih baik daripada sebelumnya.”

Jika Keluarga Su mengetahui keadaan tubuhnya sekarang, seluruh kediaman utama mungkin akan gempar.

Bakat seperti ini mungkin hanya muncul sekali dalam ratusan, bahkan seribu tahun.

Senyum perlahan muncul di wajah Su Yun.

Namun tepat saat itu—

“Jenius?”

Suara serak tiba-tiba terdengar.

Su Yun membeku.

“Dengan bakat seperti itu kau sudah berani menyebut dirimu jenius?”

Ia langsung berdiri.

Tatapannya menyapu sekeliling.

Tidak ada siapa-siapa.

“Siapa?”

Su Yun meraih gagang pedang berkarat di pinggangnya.

Suara itu tertawa.

“Benar-benar katak di dasar sumur.”

Su Yun mengerutkan kening.

“Keluar.”

“Aku sudah berada di dekatmu sejak tadi.”

Su Yun terdiam.

Kemudian teringat sesuatu.

Tangannya masuk ke balik pakaian.

Perkamen.

Begitu dikeluarkan—

Buzz!

Cahaya emas meledak.

Su Yun hampir melepaskannya.

Simbol-simbol aneh yang sebelumnya tidak dapat dipahami mulai bergerak.

Prasasti naga terurai.

Simbol iblis bergeser.

Garis demi garis menyatu.

Dan di hadapan mata Su Yun, semuanya berubah menjadi—

pedang.

Tujuh pedang.

Masing-masing memiliki bentuk berbeda.

Satu melengkung seperti bulan sabit.

Satu memancarkan bayangan seperti singa.

Pedang lain tampak seolah membawa cahaya bulan dan bintang.

Sementara satu pedang besar dihiasi bayangan naga yang melingkari bilahnya.

Su Yun terpaku.

Ia pernah melihat teknik luar biasa.

Artefak kuat.

Bahkan metode kultivasi dari jalur iblis.

Namun tidak pernah melihat sesuatu seperti ini.

Ketika menatap tujuh pedang tersebut, kesadarannya seperti ditarik masuk.

Langit menghilang.

Tanah lenyap.

Yang tersisa hanyalah dunia luas tanpa batas.

Pedang memenuhi segalanya.

Niat pedang yang tak terukur menekan jiwanya.

Su Yun menggigil.

Dengan susah payah ia memalingkan pandangan dari perkamen.

Napasnya menjadi berat.

“Apa sebenarnya benda ini?”

Suara serak itu kembali terdengar.

Kali ini jauh lebih jelas.

“Benda?”

Nada suara itu terdengar tidak senang.

“Nak, jaga mulutmu.”

Cahaya emas pada perkamen semakin terang.

Kemudian empat kata perlahan muncul di antara tujuh pedang.

Su Yun menatapnya.

Jantungnya berdegup keras.

Seni Pedang Tanpa Batas.

Su Yun menyipitkan mata.

“Seni Pedang Tanpa Batas?”

“Heh.”

Suara misterius itu tertawa.

“Sekarang akhirnya kau menyebutnya dengan benar.”

Su Yun menggenggam perkamen lebih erat.

Ia belum menyadari, bahwa perjalanannya ke Dataran Harimau untuk menyembuhkan tubuh...

baru saja memberinya sesuatu yang jauh lebih besar daripada yang pernah ia rencanakan.

......................

Bersambung...

1
Agus Setiawan
semoga su yun cepat matiiiii😁😁😁
Agus Setiawan
su yun pendekar goblok...kebanyakan coklii😃😃😃
Agus Setiawan
dewa pedang tanpa batas apaan...🤪🤪🤪
Agus Setiawan
udah su yun bunuh aja...pendekar tolol😄😄😄
Okta Oktafianto
keren
Otna Forever: mksh bosku 🙏
total 1 replies
Okta Oktafianto
alurnya kerennnn
Otna Forever: mksh bosku 🙏 jangan lupa baca karyaku yang lain PENGUASA DEWA NAGA
total 1 replies
Eko🍤
bantaaaaaaaiiiiii bantaaaaaaaiiiiii bantaaaaaaaiiiiii
Eko🍤
🤣🤣malah di peras Nasib sial murid dalam👍🤣🤣
Eko🍤
mantap Thor lanjut 👍👍
Widianto Dalang
alur terlalu lambat. ud bab 100 lebih, masih seputar keluarga saja. blm ada peningkatan sama sekali
Eko🍤
apakah akan terjadi bentrok🤣🤣👍
will
wah stres gk tuh su yun? 😁👍
Nusra Perdana
tahap ke 6, tahap ke 7..?? namanya apa cok😡😡
Nusra Perdana
tahap ke enam apa..?? emang gak ada namanya Thor
Nusra Perdana
nyebutin kekuatan mereka kok hanya tingkat 5, tingkat 6,8 10..apa gak ada nama ranahnya..?
Nusra Perdana
awal yg bagus..coba kita baca terus😄
Eko🍤
bagus lariiii terus🤣🤣👍
Eko🍤
julukan sampah nya melekat terus 🤣🤣
Eko🍤
hehehehe...salah pilih lawan.. bantaaaaaaaiiiiii 🤣🤣👍
Eko🍤
hahahahaha...waktu nya panen 🤣👍🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!