kecelakan tragis itu merenggut nyawa Kiara, setelah mengetahui fakta bahwa dia dikhianati suaminya.
Tetapi Tuhan selalu memberi plot twist yang tidak pernah bisa kita tebak. Kiara mendadak terbangun kembali ke lima tahun lalu tepat di hari pertama pernikahan kontrak mereka dimulai.
Menyadari bahwa dia kembali mengulang waktu, kali ini Kiara bertekad untuk mengumpulkan uang lalu kabur demi menyelamatkan nyawanya. Akan tetapi, Kiara justru dibuat syok oleh perubahan drastis Dante, sang mafia kejam yang tiba-tiba berubah menjadi super bucin, posesif, dan memanjakan Kiara dengan uangnya yang tidak akan pernah habis itu. Kiara tidak pernah tahu bahwa suaminya yang kejam itu ternyata juga ikut bereinkarnasi dari masa depan, membawa rasa bersalah dan sejuta penyesalan yang siap melakukan apa saja agar sang istri tidak pernah pergi lagi dari pelukannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laksmi Harsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17
Kama yang membara lembut mulai merayap halus menyentuh relung sukmaku. Sneha kasihmu membawa Damai, laksana embun pagi hari menghapus sepi. Prema ini tumbuh mekar indah dalam sanubari yang terdalam.
...----------------...
Sinar matahari pagi menerobos masuk melalui celah gorden sutra kamar utama mansion Belmont, menyinari permukaan ranjang king size yang tampak berantakan. Kiara Belmont perlahan membuka matanya dengan rasa pegal yang menjalar di sekujur tubuh. Ia melirik ke sisi ranjang di sebelahnya, namun tempat itu sudah kosong dan menyisakan seprai yang sedikit mendingin.
Dante Belmont, pria itu selalu memiliki stamina yang tidak masuk akal. Setelah pergulatan panas yang menguras tenaga hingga menjelang fajar, sang pemimpin mafia itu tampaknya sudah kembali segar dan siap mengurus bisnis bawah tanahnya yang berdarah.
Kiara mendengus pelan sembari mendudukkan diri, menarik selimut tebal untuk menutupi tubuh polosnya. Tatapannya tertuju pada pantulan dirinya di cermin besar di seberang ranjang. Beberapa tanda kemerahan yang ditinggalkan Dante di sekitar leher dan tulang selangkanya menjadi bukti betapa dominan dan tidak tahu malunya pria itu semalam.
“Dasar tua bangka mesum,” umpat Kiara dalam hati, meski sudut bibirnya tanpa sadar mengulas senyum tipis yang langsung ia tepis dengan cepat.
Pikiran Kiara kembali berputar pada kejadian malam tadi. Kehancuran ayah dan ibu tirinya terjadi begitu cepat, jauh lebih instan daripada yang ia bayangkan di kehidupan keduanya ini. Dante bergerak seperti badai yang melindas apa saja tanpa ragu. Namun, ada satu hal yang mengusik ketenangan Kiara: mengapa Dante bertindak seolah-olah ia tahu bahwa Kiara sangat membenci mereka? Di kehidupan lalu, Dante baru menghancurkan mereka setelah Kiara menderita bertahun-tahun. Perubahan ini terlalu mencurigakan.
Setelah membersihkan diri dan mengenakan gaun rumah yang nyaman namun tetap elegan, Kiara melangkah turun ke lantai bawah. Suasana mansion pagi ini terasa agak berbeda. Di ruang tengah, tampak beberapa pengawal pribadi Dante berjas hitam berdiri dengan sikap siaga yang lebih ketat dari biasanya.
"Nyonya," sapa Bi Narti yang sedang merapikan vas bunga di atas meja marmer. Wanita paruh baya itu membungkuk takzim, menatap Kiara dengan binar penuh arti, seolah tahu apa yang terjadi semalam suntuk.
Kiara berdeham kecil, mencoba mengabaikan tatapan menggoda dari kepala pelayannya itu. "Bi, di mana Dante? Apakah dia sudah pergi ke kantor pusat?"
"Tuan Belmont belum pergi, Nyonya. Beliau saat ini berada di ruang kerja pribadinya di lantai dua bersama Tuan Marcus" jawab Bi Narti dengan suara lirih, seolah nama yang disebutkan terakhir adalah kode untuk situasi yang serius.
semua orang tahu Marcus adalah tangan kanan sekaligus kepala pengawal untuk sindikat mafia milik Dante. Jika Marcus sudah berada di mansion sepagi ini, artinya ada sesuatu yang besar atau berbahaya yang sedang terjadi di dunia bawah tanah. Rasa penasaran Kiara kembali terusik. Alih-alih menuju ruang makan untuk sarapan, langkah kakinya justru berbelok menuju lorong lantai dua, tempat ruang kerja pribadi Dante berada.
Koridor di depan ruang kerja itu tampak sepi, namun dua pengawal berbadan tegap langsung menunduk saat melihat Kiara mendekat. Kiara memberi isyarat dengan jarinya agar mereka tetap diam dan tidak mengetuk pintu. Kamar kerja Dante memiliki pintu kayu jati yang sangat tebal, namun karena posisi pintu yang sedikit renggang, suara bariton di dalam ruangan samar-samar bisa terdengar oleh Kiara yang kini menempelkan telinganya ke celah pintu.
"Faksi dari distrik timur mulai bergerak, Tuan Dante," suara Marcus terdengar tegas dan penuh penekanan. "Kematian mendadak dari salah satu petinggi mereka membuat kekosongan kekuasaan. Mereka mencurigai kita yang berada di balik pembunuhan itu. Selain itu, pergerakan anda yang menghancurkan keluarga Kairo Daichi dan menyita seluruh aset keluarga istri Anda dalam waktu singkat telah memicu spekulasi di kalangan luar."
"Spekulasi apa?" suara Dante terdengar begitu dingin, datar, dan tanpa riak, sangat berbeda dengan suara cabul yang ia gunakan saat menggoda Kiara tadi malam. Ini adalah suara dari seorang monster yang ditakuti dunia.
"Mereka menganggap Nyonya Kiara adalah kelemahan anda," jawab Marcus lugas. "Selama ini, anda tidak pernah menyentuh urusan personal atau bertindak impulsif demi seorang wanita. Tindakan anda beberapa hari terakhir ini sangat mencolok. Kami menangkap sinyal bahwa beberapa kelompok bayaran dari luar kota mulai mengawasi pergerakan Nyonya Kiara. Mereka berpikir, jika mereka ingin menjatuhkan Belmont, mereka harus menangkap istri anda terlebih dahulu."
Keheningan sempat mencekam ruangan tersebut selama beberapa detik. Kiara di luar pintu menahan napasnya, jantungnya berdegup kencang. Ia tahu betul bagaimana kejamnya dunia hitam Dante. Di kehidupan lalunya, ia pernah diculik dan disiksa oleh musuh Dante karena pria itu mengabaikannya, menganggap Kiara hanya mainan yang bisa diganti. Apakah di kehidupan kali ini sejarah akan terulang kembali?
Klak.
Suara pemantik api terdengar, disusul aroma cerutu mahal yang menguar dari celah pintu.
"Biarkan mereka mencoba," ucap Dante akhirnya, suaranya terdengar sangat tenang namun sarat dengan ancaman kematian. "Jika ada satu saja dari tikus-tikus itu yang berani menatap Kiara dengan niat buruk, aku akan memastikan seluruh garis keturunan mereka terhapus dari muka bumi ini. Marcus, perketat pengamanan di sekitar bangunan samping dan pastikan Kiara tidak pergi ke mana pun tanpa sepuluh pengawal bersenjata lengkap."
"Bagaimana dengan Sora? Wanita itu terus mencoba menghubungi Anda secara pribadi," tanya Leon lagi.
"Abaikan. Jika dia masih berani memunculkan wajahnya di depan Kiara atau mengganggu wilayahku, eksekusi dia tanpa perlu meminta izin dariku lagi."
Kiara memundurkan langkahnya perlahan, tangannya menutup mulut karena terkejut. Dante di kehidupan ini benar-benar berbeda. Pria itu bersedia membunuh siapa saja demi melindunginya, bahkan tanpa keraguan sedikit pun terhadap Sora yang dulu sempat menjadi orang terdekatnya. Namun, Kiara tidak ingin menjadi burung dalam sangkar emas lagi. Ia tidak mau hanya diam menunggu bahaya datang menghampirinya.
Sebelum Dante menyadari keberadaannya di depan pintu, Kiara bergegas membalikkan badan dan berjalan cepat kembali ke kamarnya. Ia harus memikirkan strategi. Jika musuh-musuh Dante mulai mengincarnya, maka ia harus memiliki kekuatan sendiri atau setidaknya tahu siapa yang dihadapi.
Satu jam kemudian, pintu kamar Kiara terbuka tanpa ketukan. Dante melangkah masuk dengan setelan jas hitam tiga lapis yang sangat rapi dan formal. Rambutnya disisir rapi ke belakang, memancarkan aura ketampanan yang matang dan berwibawa.
"Kau sudah bangun, Istriku," ujar Dante sembari berjalan mendekati Kiara yang sedang duduk di sofa santai sembari berpura-pura membaca majalah fashion.
Kiara mendongak, mencoba memasang wajah sedatar mungkin. "Tuan Belmont, bukankah sangat tidak sopan masuk ke kamar wanita tanpa mengetuk pintu?"
Dante terkekeh pelan, ia duduk di sandaran lengan sofa tempat Kiara berada, lalu menunduk untuk mengecup pelipis Kiara dengan lembut. "Ini kamarku juga, Kiara. Dan semua yang ada di dalam kamar ini, termasuk wanita yang sedang memegang majalah terbalik ini, adalah milikku."
Kiara seketika menurunkan majalahnya dengan wajah bersemu merah karena malu tertangkap basah berpura-pura. "Kau... mau pergi ke kantor?"
"Ya. Ada beberapa tikus yang harus kubersihkan di distrik timur," ucap Dante santai, seolah-olah ia hanya sedang membahas urusan membuang sampah. "Aku sudah memerintahkan Leon untuk menambah penjagaan di mansion. Selama beberapa hari ke depan, aku ingin kau tetap berada di dalam area mansion. Mengerti?"
Kiara menyipitkan matanya, menguji apa yang ia dengar di depan ruang kerja tadi. "Kenapa tiba-tiba? Apakah ada masalah? Kau tidak sedang mencoba mengurungku lagi karena cemburu dengan pria lain, kan?"
Dante terdiam sejenak, tatapan matanya menajam, menatap langsung ke dalam manik mata Kiara seolah sedang membaca isi pikiran istrinya. Ia mengulurkan tangan, mengelus pipi Kiara dengan ibu jarinya yang kasar.
"Aku hanya ingin memastikan keamananmu, Sayang. Dunia luar sedang sedikit bising, dan aku tidak suka jika ketenanganku diganggu oleh hal-hal yang tidak penting. Cukup fokus pada ruang pribadimu di bangunan samping, dan pastikan kau merindukanku saat aku pulang nanti malam," bisik Dante dengan nada perintah yang mutlak namun terdengar sensual.
Dante mengecup bibir Kiara sekilas sebelum akhirnya berdiri dan melangkah pergi, meninggalkan aroma parfum maskulinnya yang tertinggal di udara.
Setelah memastikan rombongan mobil Dante telah keluar dari gerbang utama mansion, Kiara langsung bergerak cepat. Ia mengganti pakaiannya dengan celana jeans hitam dan jaket kulit berukuran pas badan. Ia tidak akan duduk diam seperti seorang putri yang tidak berdaya. Di kehidupan lalunya, kelemahannya adalah karena ia tidak tahu apa-apa tentang konspirasi di sekitar Dante. Kali ini, ia akan membalikkan keadaan.
Kiara melangkah menuju garasi belakang melalui pintu rahasia pelayan untuk menghindari pengawasan ketat di gerbang depan. Namun, baru saja ia membuka pintu garasi, sebuah bayangan tegap sudah berdiri menunggunya di sana.
"Nyonya Belmont, Anda ingin pergi ke suatu tempat?" tanya Marcus yang tiba-tiba muncul dari balik pilar beton dengan melipat tangan di dada.
Kiara terlonjak kaget, namun dengan cepat menguasai dirinya. "Marcus. Kebetulan sekali. Aku ingin keluar sebentar untuk membeli beberapa keperluan interior yang tidak bisa dipesan secara online."
Marcus tersenyum tipis, sebuah senyuman formal yang tidak mencapai matanya. "Tuan Belmont telah memberikan perintah tegas bahwa Anda tidak diizinkan meninggalkan mansion tanpa pengawalan dari saya langsung. Jika Anda bersikeras untuk keluar, maka saya yang akan menyetir untuk Anda, Nyonya."
Kiara menghela napas pasrah. Setidaknya, pergi bersama Marcus jauh lebih baik daripada dikurung di dalam kamar. "Baiklah. Antar aku ke rumah sakit distrik barat."
Marcus menaikkan sebelah alisnya, tampak terkejut dengan destinasi yang diminta oleh sang nyonya. "Rumah sakit? Apakah Anda merasa kurang sehat, Nyonya? Jika demikian, saya bisa memanggil dokter pribadi keluarga ke mansion."
"Bukan untukku, Marcus," Kiara menatap tangan kanan suaminya itu dengan tatapan mata yang tajam dan penuh determinasi. "Aku ingin mengunjungi ayahku yang kau tahan di sana sebelum dia dipindahkan ke penjara pusat. Aku tahu Dante menahannya di bawah pengawasan medis karena serangan jantung palsunya, bukan?"
Marcus tertegun selama beberapa saat. Ia tidak menyangka bahwa Kiara bisa mengetahui detail operasional miliknya seakurat itu. Setelah menimbang risiko dan mengingat betapa Dante sangat memanjakan wanita di hadapannya ini, Marcus akhirnya mengangguk patuh.
"Sesuai perintah Anda, Nyonya Belmont. Mari, silakan masuk ke mobil."
Perjalanan menuju distrik barat berlangsung dalam keheningan. Kiara menatap keluar jendela mobil antipeluru yang dikendarai Marcus, menyadari bahwa beberapa mobil hitam pengawal terus membuntuti mereka dari belakang dalam jarak aman. Dante benar-benar mengelilinginya dengan keamanan yang sulit di tembus.
Namun, jauh di lubuk hatinya, Kiara tahu bahwa badai yang sesungguhnya baru saja dimulai. Kehidupan kedua ini bukanlah sekadar kesempatan untuk hidup tenang, melainkan sebuah medan perang baru di mana ia harus berdiri tegak di samping sang mafia dingin, atau melarikan diri sesuai rencana yang telah dia susun.