Nayara tak pernah menyangka, pria yang dinikahinya dengan penuh cinta, justru tega mengkhianatinya.
Adrian berselingkuh, bahkan menghamili wanita lain, di belakang dirinya.
Di tengah luka dan pengkhianatan, hadir seorang pria yang mencintainya.
Rendra, pria yang mencintai Nayara dalam diam dan bersedia memberinya ketulusan, dan cinta yang tak pernah ia dapatkan dari suaminya sendiri.
Kini, Nayara dihadapkan pada pilihan yang menyakitkan: bertahan demi pernikahan yang telah dikhianati atau pergi bersama luka yang belum sembuh.
Sementara itu, ada hati lain yang menunggunya, berharap suatu hari Nayara mampu membuka kembali pintu cintanya.
Namun, ketika Nayara akhirnya menentukan pilihannya, siapa yang akan ia genggam, suami yang mengkhianatinya, atau pria yang mencintainya? Dan akankah Adrian rela kehilangan istri yang selama ini ia sia-siakan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kak_Hans, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
28: Malam Terakhir
____🌺
Ancaman Adrian masih terngiang jelas di telinga Nayara.
Pria itu sudah membanting pintu dan pergi dengan mobilnya, kembali ke kantor, meninggalkan Nayara sendirian di ruang tamu.
Namun, bukannya merasa takut, ancaman itu justru membuat keputusan Nayara semakin bulat.
Adrian benar-benar mengira uang bisa mengendalikan segalanya sesuai dengan apa yang dia inginkan, termasuk harga diri istrinya.
Nayara meraih ponsel yang tergeletak di atas meja kaca. Jarinya segera mencari kontak Maya, lalu menekan tombol panggilan.
Tut!
Tut!
Tut!
Panggilan telepon terhubung.
"Halo, Nay? Gimana?" Suara Maya terdengar cemas dari seberang telepon, bercampur dengan suara mesin pembuat kopi di kafenya. "Dia tetep maksa kamu untuk datang ke acara keluarga mereka?"
"Iya, May. Tapi aku menolak." Nayara berusaha menjaga suaranya tetap tenang.
"Bagus! Jangan mau dijadikan sebagai alat buat menutupi kelakuan busuk dia, dan keluarganya." Maya berhenti sejenak sebelum kembali bertanya, "Terus, sekarang kamu di mana? Dia marah besar, enggak sama kamu?"
"Dia sudah kembali ke kantor. Sebelum pergi, dia mengancam akan memblokir akses termasuk rekening yang dia berikan, mengambil mobil, dan menghentikan asuransiku kalau aku berani meninggalkan rumah ini."
Maya mendengus kesal.
"Laki-laki, brengsek, pengecut! Dia pikir kamu tidak bisa hidup tanpa uangnya?" Suaranya terdengar semakin geram. "Terus, kamu mau bagaimana sekarang, Nay?"
"Aku mau keluar dari rumah ini, hari ini juga, sebelum dia pulang untuk bersiap-siap ke acara makan malam keluarganya." Nayara menarik napas sejenak. "Aku boleh menumpang di tempatmu beberapa hari, sampai aku menemukan tempat tinggal yang baru?"
"Ya ampun, Nay! Tentu saja boleh! Kamu tidak perlu bertanya lagi. Rumahku selalu terbuka buat kamu." Maya langsung menyanggupi. "Kamu sudah berkemas? Aku tutup kafe sekarang dan jemput kamu ke sana, ya?"
"Tidak usah dijemput, May." Nayara menolak dengan halus. "Aku tidak mau memancing keributan lagi kalau kebetulan Mas Adrian pulang dan melihat mobilmu. Aku akan pesan taksi saja. Aku cuma perlu membereskan barang-barangku, yang ketinggalan dan langsung pergi dari sini."
"Kamu yakin bisa membawa semuanya sendiri? Pasti repot kalau harus mengangkut koper besar."
"Aku tidak membawa banyak barang. Cuma pakaian dan barang-barang pribadiku. Aku segera ke sana. Kabari aku kalau kamu sudah di rumah."
"Iya, Nay. Hati-hati, ya. Langsung hubungi aku kalau dia macam-macam."
Nayara mengakhiri panggilan, lalu bergegas menuju kamar.
Tut!
Ia membuka lemari pakaian dan mengeluarkan koper berukuran sedang yang sempat dilarang Adrian untuk dibawanya sehari sebelumnya. Tanpa membuang waktu, ia mulai memasukkan pakaian satu per satu.
Tidak ada gaun mahal pemberian Adrian atau ibu mertuanya yang ikut masuk ke dalam koper.
Nayara hanya membawa pakaian yang dibelinya dari uang gajinya sendiri, sebelum menikah, laptop pribadi, serta dokumen-dokumen penting yang sudah di pisahkan, oleh Nayara.
Setelah itu, ia membuka laci meja dan mengambil dompetnya. Dua kartu kredit berlogo bank ternama dengan limit puluhan juta, yang diberikan Adrian selama pernikahan mereka, dikeluarkannya lalu diletakkan di atas meja rias.
Kunci mobil yang biasa digunakannya untuk berbelanja menyusul di samping kartu-kartu tersebut.
Nayara tidak ingin membawa apa pun yang bisa dijadikan alasan oleh Adrian untuk menuduhnya pergi sambil membawa hartanya.
Ia kembali memeriksa barang-barang yang akan dibawa. Setelah memastikan semuanya siap, Nayara menutup ritsleting tas ranselnya.
Namun, sebelum sempat mengangkat tas itu, suara deru mesin mobil terdengar memasuki garasi.
Nayara spontan melirik jam dinding di atas pintu kamar.
Pukul empat sore.
Adrian pulang jauh lebih cepat dari biasanya. Nayara menduga pria itu ingin memaksanya bersiap untuk acara makan malam keluarga.
Bagaimanapun, Adrian tidak akan mudah menyerah dalam mempertahankan citra sempurnanya di hadapan para kolega dan pemegang saham.
Tak lama kemudian, suara langkah kaki terdengar menyusuri lorong.
Tak! Tak! Tak!
Langkah itu cepat dan berat, hingga akhirnya pintu kamar didorong terbuka dengan kasar.
Adrian berdiri di ambang pintu, masih mengenakan kemeja kerja dengan lengan yang digulung asal-asalan. Pandangannya langsung tertuju pada koper dan tas ransel yang sudah siap di sudut kamar.
Wajahnya seketika mengeras.
Ia melangkah masuk, memperhatikan barang-barang tersebut sebelum mengalihkan tatapannya kepada Nayara yang berdiri di samping tempat tidur.
"Kamu masih berniat, untuk pergi dari sini, Nay?" tanyanya.
Suaranya terdengar lelah, tetapi nada menuntutnya tetap terasa. "Aku pikir ancaman ku, tadi siang sudah cukup membuatmu berpikir jernih dan berhenti bersikap kekanak-kanakan."
Nayara tidak menunduk. Ia mengangkat tas ranselnya dan menyampingkannya, ke satu bahu.
"Aku sudah memikirkannya baik-baik, Mas." Tatapannya tetap tertuju pada Adrian. "Justru setelah berpikir jernih, aku sadar kalau aku sudah tidak punya alasan untuk tinggal di sini, dan menjadi istrimu."
Adrian melirik meja rias. Matanya menangkap dua kartu kredit dan kunci mobil yang tergeletak berdampingan.
Ia menghela napas panjang. Ancaman keuangan yang dilontarkannya tadi rupanya tidak membuat Nayara mengurungkan niat. Kali ini, ia mencoba mengubah pendekatan.
"Nay, tolong hentikan keras kepalamu ini."
Nada suaranya mendadak lebih lembut. Adrian berjalan mendekat dan mencoba menyentuh lengan istrinya.
Nayara segera mundur selangkah.
Adrian menarik kembali tangannya. Kekesalan tampak di wajahnya, tetapi ia berusaha menahannya.
"Pikirkan masa depan kita, Nay." Ia menatap istrinya, berusaha meyakinkan. "Kamu mau jadi janda di usia yang masih sangat muda? Kamu mau mulai semuanya dari nol lagi di luar sana? Cari pekerjaan itu susah. Di sini hidupmu sudah terjamin. Kamu tinggal duduk manis, tidak perlu bekerja keras, dan aku yang mengurus semua kebutuhanmu."
Nayara menatapnya beberapa saat sebelum menjawab.
"Masa depan apa yang kamu maksud, Mas?" tanyanya datar. "Masa depan di mana aku harus membesarkan anak dari selingkuhanmu? Masa depan di mana aku harus tersenyum di depan keluargamu yang sudah menipuku sejak hari pertama kita menikah?"
"Itu cuma masalah kecil yang dibesar-besarkan!" Adrian mulai kehilangan kesabaran. "Semua pernikahan pasti punya masalah, Nay! Tapi kalau kamu pergi sekarang, kamu akan menghancurkan segalanya. Bukan cuma nama baikku, tapi juga masa depan kita berdua!"
Nayara menggeleng pelan. Ia memandang pria di depannya, mencoba memahami bagaimana Adrian masih bisa menyebut semua ini sebagai masa depan mereka.
"Kamu tidak sedang memikirkan masa depan kita, Mas. Kamu cuma memikirkan dirimu sendiri."
"Aku memikirkan kamu, Nayara! Di luar sana hidup itu keras. Kamu tidak akan bisa bertahan sendirian tanpa dukungan dan uang dariku!"
"Berhenti berbohong."
Nayara memotong ucapan suaminya sebelum pria itu kembali melanjutkan argumennya.
"Kamu memintaku tinggal bukan karena kamu mencintaiku, Mas. Kamu tidak mau keluargamu marah sama kamu. Kamu juga tidak mau para pemegang saham tahu kelakuan aslimu. Kamu cuma ingin citra mu, sebagai pria sukses dengan keluarga harmonis tetap utuh di depan semua orang malam ini. Bukannya itu yang kamu mau, Mas?"
emang lu doang yang bisa 🤣🤣