Aurora kira pertemuannya dengan Bima cuma kebetulan. Tapi semakin dekat, semakin dia sadar cowok itu menyembunyikan banyak hal — dia tahu hal-hal yang belum pernah diceritakan siapa pun, dan selalu bicara soal "38.000 langkah" yang belum selesai.
Saat Bima akhirnya berjanji akan datang menemuinya, justru kabar kecelakaan yang datang. Bima pergi, meninggalkan sebuah kotak misterius. Dari sana Aurora mulai menelusuri jejak Bima, dan menyadari bahwa pertemuan mereka sama sekali bukan kebetulan. Bima sudah berjalan jauh, melewati banyak hal berat, cuma untuk sampai ke hatinya.
Walau tak bisa bertemu lagi, cinta Bima sudah sampai tujuan di hati Aurora, selamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yanto Hl, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20 — Kembali Pulang dengan Hati Penuh
Enam bulan berlalu begitu saja. Pekerjaanku di majalah sudah selesai dan saatnya aku harus pulang. Kamar kecil yang dulu terasa asing sekarang terasa seperti rumah kedua. Aku berkemas pagi itu dengan perasaan yang campur aduk. Bukan sedih karena harus pergi, tapi senang karena aku akan pulang membawa diriku yang berbeda dari yang dulu berangkat. Aku merapikan buku-buku di rak, melipat pakaian, dan memastikan semua barang peninggalan Bima tersimpan aman di dalam tas kain itu. Kalung di leherku tetap terasa menempel hangat di dadaku, seolah dia juga ikut bersemangat untuk pulang bersamaku.
Sebelum berangkat aku berpamitan pada orang-orang yang selama ini menemani aku di sini. Aku mampir ke toko buku Pak Jaya. Dia sedang menyusun buku di rak paling bawah dan langsung menoleh saat mendengar langkah kakiku. Dia tersenyum saat melihat aku membawa koper kecil di tangan. Dia mengambil sebuah buku tua yang halamannya sudah agak menguning dan menyodorkannya kepadaku. "Hadiah perjalanan pulang nak. Buku ini bercerita tentang seseorang yang pergi jauh dan pulang membawa kebijaksanaan yang tidak dia temukan di mana pun. Semoga cocok untukmu." Aku terima buku itu dengan senyum tulus. Terima kasih Pak Jaya atas cerita dan nasihatnya selama ini. Pintu tokonya akan selalu terbuka untukmu kapan pun kamu lewat ke sini.
Lalu aku menemui Lina di kedai kopi dekat tempat tinggalku. Dia membawakanku seikat bunga kering yang wanginya lembut dan tahan lama. Dia bilang supaya aku tetap ingat tempat ini dan orang-orang yang pernah aku temui di sini. Kita berpelukan sebentar. Dia bilang dia bangga melihatku tumbuh selama enam bulan ini. Dia bilang jangan pernah ragu untuk kembali lagi kapan pun aku mau. Aku janji akan menulis surat untuknya sesampainya di rumah. Aku juga akan cerita tentang tempat-tempat baru yang aku kunjungi nanti. Persahabatan nggak akan putus cuma karena jarak kan? Kita tetap ada di hati satu sama lain walau tidak saling bertemu setiap hari.
Kereta berangkat siang hari itu. Dari jendela aku melihat kota yang perlahan menjauh. Bangunan, jalan raya, dan orang-orang yang dulu asing sekarang terasa seperti bagian dari perjalanan hidupku yang berharga. Aku membaca buku pemberian Pak Jaya di sepanjang perjalanan. Ceritanya sederhana tapi menyentuh. Tentang seseorang yang pergi mencari harta di tempat jauh dan ternyata yang dia cari sudah ada di dalam dirinya sejak awal. Itu persis seperti yang aku rasakan. Aku pergi ke sini mencari sesuatu yang hilang dan ternyata aku menemukan diriku sendiri yang lebih kuat dan lebih bijaksana. Bima benar kan? Kadang kamu harus melangkah jauh dulu baru kamu sadar bahwa yang kamu butuhkan selalu ada di hatimu.
Saat kereta memasuki stasiun tujuan jantungku berdebar lebih cepat. Pintu terbuka dan aku melangkah keluar. Di sana ada Ibu Bima dan Rian yang sudah menunggu di pintu keluar. Wajah mereka terlihat sama persis seperti yang aku ingat, senyum mereka tetap hangat dan menyambut seolah aku adalah anak yang baru pulang merantau. Ibu Bima langsung memelukku erat. Rasanya seperti pulang ke rumah yang sebenarnya. Dia bilang aku terlihat lebih segar dan mataku terlihat lebih bersinar dari sebelumnya. Rian tersenyum lebar sambil mengambil kopereku dari tanganku. Selamat datang kembali Aurora. Kami senang kamu sudah di sini.
Malam pertama aku menginap di rumah Ibu Bima. Dia memasakkan makanan kesukaanku dan kita makan bersama di meja makan yang sederhana. Kita bercerita tentang banyak hal. Tentang kota tempat aku tinggal, tentang orang-orang yang aku temui, tentang tulisan-tulisanku, dan tentang perjalanan ke tempat terakhir di buku sketsa Bima. Ibu Bima mendengarkan dengan mata berbinar. Dia bilang dia tahu Bima pasti senang sekali karena aku sudah menyelesaikan perjalanannya. Dia bilang Bima selalu tahu kalau aku orang yang tepat untuk menjaga kenangannya dan melanjutkan kebaikannya.
Beberapa hari setelah pulang aku berjalan ke taman itu lagi. Tempat di mana semuanya bermula. Langitnya sama persis seperti dulu. Pohon besar di tengahnya masih berdiri tegak dengan daun yang rindang. Bangku kayu tempat kita dulu duduk masih ada di sana, terlihat sederhana namun kokoh menahan cuaca dan waktu. Aku berjalan mendekat dan duduk di ujung bangku itu. Angin sore berhembus pelan menyisir rambutku. Semuanya terasa sama tapi aku merasa berbeda. Dulu aku datang ke sini mencari seseorang yang hilang. Sekarang aku datang ke sini untuk bersyukur pernah bertemu seseorang yang begitu berarti.
Aku menyentuh liontin di dadaku dan berbicara pelan dalam hati. Halo Bima. Aku pulang. Aku sudah pergi ke tempat-tempat yang kamu gambar. Aku sudah melihat pemandangan yang kamu sukai. Aku sudah menemui orang-orang yang kamu sayangi. Dan yang paling penting aku sudah belajar untuk hidup lagi dengan sepenuh hati. Dulu aku pikir pulang berarti kembali ke tempat yang sama dan tetap sama seperti dulu. Ternyata pulang itu berarti membawa dirimu yang lebih bijaksana kembali ke tempat yang pernah membentuk siapa kamu sekarang. Aku tidak lagi berharap melihatmu berjalan menuju gerbang taman itu. Tapi aku juga tidak lagi merasa hampa saat melihat bangku ini kosong. Karena kamu tidak pernah benar-benar hilang. Kamu hidup di setiap langkah yang aku ambil dan setiap kebaikan yang aku sebarkan.
Aku duduk di sana sampai matahari terbenam perlahan. Cahayanya keemasan dan hangat menyentuh tanah. Sama seperti sore pertama kita saling menyapa. Sama seperti sore terakhir sebelum dia pergi. Sama seperti semua sore yang indah yang masih akan datang di masa depan. Keindahan dunia tidak berhenti saat seseorang pergi kan? Dunia tetap indah dan kita tetap berhak menikmatinya. Itulah pesan terindah yang pernah diajarkan Bima kepadaku.
Beberapa minggu setelah pulang aku menyelesaikan satu tulisan panjang. Bukan buku baru. Tapi catatan perjalananku selama enam bulan. Aku tulis tentang tempat-tempat yang aku kunjungi, orang-orang yang aku temui, dan pelajaran-pelajaran kecil yang aku dapat. Judulnya sederhana yaitu Langkah Pulang. Di halaman pertama aku tulis untuk Bima. Terima kasih sudah membiarkan aku menemukan jalan pulang bukan ke tempat yang dulu, tapi ke dalam diriku sendiri. Tanpa kamu aku tidak akan pernah berani melangkah sejauh ini.
Hidup setelah kehilangan memang tidak mudah. Masih ada hari-hari di mana rindu datang tiba-tiba dan membuat mata terasa panas. Masih ada momen di mana aku berharap dia ada di sebelahku untuk melihat hal-hal indah yang aku lihat. Tapi perasaan itu tidak lagi terasa seperti beban yang berat. Itu terasa seperti dorongan yang lembut tapi kuat. Setiap kali aku merindukannya aku berusaha melakukan satu hal yang baik untuk orang lain. Seolah kebaikan itu adalah cara aku menyapanya dari kejauhan. Semakin aku berbuat baik semakin aku merasa dia ada di dekatku. Seperti cahaya yang tidak terlihat tapi selalu terasa hangat di kulit.
Suatu hari nanti aku mungkin akan menulis cerita yang lain. Cerita tentang pertemuan baru, tentang mimpi-mimpi yang terwujud, tentang hari-hari yang cerah maupun yang hujan. Tapi cerita ini akan selalu jadi bagian paling berharga di hatiku. 38.000 langkah yang ditempuh seseorang hanya untuk sampai ke hatiku. Dan satu langkahku yang membawaku melintasi jarak dan waktu untuk memahami makna cinta yang sebenarnya. Cinta bukan tentang memiliki selamanya. Cinta adalah tentang memberikannya dengan tulus dan membiarkannya terus hidup di hati orang yang kamu tinggalkan.