Bima Arka Pradipta , anak dari keluarga sederhana di pinggiran Manado. Keras kepala, tidak banyak bicara di luar lapangan tapi meledak-ledak di dalam lapangan. Hamstring putus , pensiun umur 34 tahun. Dikenal karena tendangan bebas melengkungnya dan loyalitasnya sama tim. Dari anak kampung yang main bola pakai kaki ayam -> ditolak akademi karena dianggap terlalu emosional -> bangkit setelah cedera parah di musim hujan -> jadi kapten yang mengangkat tim degradasi jadi juara.
"Bukan tentang seberapa keras kau terjatuh, tapi seberapa lama kau tetap berdiri di tengah hujan."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SelToon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 2 Marahnya Bapak dan Rp 2000 Dari Mama
Bima masih membeku di tengah lumpur.
Bola oranye di kakinya terasa tiba - tiba berat seperti batu.
Bapaknya , Yosua Pradipta , berjalan mendekat. Karung ikan di bahunya meneteskan air laut dan darah ikan. Setiap langkah bapaknya di lumpur bunyinya berat. Jleb Jleb Jleb.
Bima sudah siap dimarahi , siap dicubit , dan siap disuruh push up di atas papan yang paku - pakunya sudah muncul seperti yang biasa bapaknya lakukan kalau Bima nakal.
Tapi Bapak tidak marah.
Bapak hanya berhenti di depan Bima , menatap bola plastik oranye yang kempes itu , lalu menatap Bima dari ujung kaki sampai ujung rambut yang penuh lumpur.
"Lapar ?" tanya Bapak akhirnya.
Bima mengangguk kecil. Air hujan dan ingus bercampur di hidungnya.
"Pulang , ganti baju. Nanti mama lia , dia mo strok," kata Bapak pelan. Bahasa Manadonya keluar kalau dia capek. "Bola sapa itu ?"
"Bukan pe Bima , Pak. Tertinggal."
Bapak mengangguk. "Kase pulang , simpan. Besok kase pa dorang."
Bima mau protes. Dia mau bilang bola itu tidak ada yang punya, sudah robek sedikit. Tapi dia lihat mata Bapak. Mata yang merah karena seharian kena air asin dan kurang tidur. Dia tidak berani.
Dia memungut bola itu. Berat karena penuh air hujan di dalamnya. Dia berjalan di belakang Bapak , meninggalkan jejak kaki kecil di samping jejak kaki besar Bapak.
Di rumah , Mama sudah pulang. Dan seperti yang Bima takutkan , badai datang.
"YOSUA! LIA ANAK MU INI!" Mama Elvina berteriak sambil langsung menarik Bima. "Baju baru cuci! Baru kering tadi pagi! Sekarang jadi baju lumpur! Bim, ngana main di got ?"
Mira yang sudah bangun hanya melihat dari pojok , memeluk boneka beruangnya yang satu matanya sudah hilang.
"Bukan di got , Ma..." Bima berbisik.
"Diam! Mandi sana! Nanti gatal - gatal! Baru Mira pe batuk so bae , ngana mo tambah sakit!"
Bima dimandikan pakai air dingin. Diguyur dengan gayung aluminium sampai menggigil. Mama menggosok punggungnya dengan kasar , tapi tangannya gemetar. Bukan karena marah , tapi karena takut. Takut anaknya sakit dan tidak ada uang untuk berobat.
Malam itu , Bima makan tanpa bicara. Nasi dan ikan goreng kecil dibagi 3. Bapak makan paling sedikit. Katanya sudah kenyang di perahu , padahal Bima tahu Bapak bohong.
Setelah makan , Bima disuruh tidur duluan. Di atas tikar tipis , di bawah atap seng yang kalau hujan bocor harus ditampung pakai ember.
Dia tidak bisa tidur. Dia memikirkan tendangan pertamanya itu. Dadanya masih berdebar kalau mengingatnya.
Jam 9 malam , Mama masuk kedalam kamarnya Bima. Membawa sesuatu di dalam kepalan tangannya.
Mama duduk di samping tikar Bima.
"Bim , masih bangun ?"
Bima pura - pura tidur.
Mama menghela napas , lalu menyelipkan sesuatu seperti kertas dan dingin ke bawah bantal Bima.
"Jangan bilang bapakmu" bisik Mama dengan sangat pelan. "Mama ada sisip dari jualan tadi. 2 ribu."
Bima membuka matanya.
Mama tersenyum. Senyum lelah.
"Besok , habis sekolah , ko beli bola jo. Yang di kios Ko Acun. Bola plastik oranye sama yang tadi siang. Mama lia tadi siang ngana pe mata waktu lia itu bola... sama deng mata bapakmu dulu waktu pertama kali lia laut."
Bima menatap Mama. Air matanya tiba - tiba keluar. Bukan karena dimarahi , tapi karena Rp 2000 itu.
2 ribu rupiah tahun 2016 itu cukup untuk beli 1 kg beras untuk orang miskin.
Mama mengorbankan beras untuk bola plastik.
"Makasih , Ma" suara Bima pecah.
Mama mengusap rambutnya yang masih bau lumpur. "Tidur jo. Besok harus jadi Bima yang pintar , bukan Bima lumpur."
Malam itu , Bima tidur sambil memeluk Rp 2000 di bawah bantalnya , lebih erat daripada dia memeluk guling.
Besoknya , untuk pertama kalinya, Bima yang berumur 8 tahun punya bola sendiri. Bukan bola pinjaman , bukan bola tertinggal.
Bola miliknya. Dibeli dari beras yang tidak jadi dibeli.
Dan bola itu , bola plastik oranye seharga 2 ribu , adalah bola termahal di dunia untuknya.
#####################################
Cukup sampai di sini dulu ya , semoga suka. Jangan lupa beri like dan berikan saran supaya bisa lebih baik lagi kedepannya.
Happy reading