NovelToon NovelToon
Zombie Cordyceps

Zombie Cordyceps

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Zombie / Hari Kiamat
Popularitas:227
Nilai: 5
Nama Author: Fery Oktavian

Ketika kebocoran fasilitas riset menyebarkan mutasi jamur pembawa wabah kematian, dunia runtuh dalam hitungan hari dan mengubah manusia menjadi mayat hidup yang dikendalikan spora ganas. Di tengah kekacauan Kota Mati, Luna harus memimpin empat penyintas lain, Steve si petarung, Nancy sang peretas, Endru si tenaga medis, dan Onad sang mekanik humoris. untuk bertahan hidup dari kejaran monster cordyceps dan ancaman kejam kelompok penyintas manusia lainnya. Di antara semak sisa peradaban, adegan penjarahan yang menegangkan, serta benih-benih cinta yang hangat di tengah malam kelam, mereka harus memperebutkan satu-satunya wilayah safe zone yang tersisa. Mampukah naluri survival dan ikatan manusiawi membawa kelimanya selamat, ataukah mereka justru hancur oleh kejamnya sesama penyintas?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fery Oktavian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 30 - PASOKAN BBM MENIPIS

Sinar matahari pagi yang masih terasa tipis menerobos celah ranting pepohonan peneduh di sepanjang Distrik Barat. Suara gesekan rantai besi gerbang Bengkel Maju Jaya Motor terdengar berdenting halus tatkala Steve dan Luna mendorong dua daun pintu tempa yang tebal itu hingga terbuka lebar. Di pelataran semen, mesin diesel berturbo dari truk pick-up rakitan milik Onad mengerung halus, menyemburkan asap tipis berwarna keabu-abuan dari dua pipa knalpot tegaknya.

Keheningan pagi di area pemukiman sepi itu perlahan mencair oleh kesibukan persiapan keberangkatan. Di atas bak besi terbuka yang dilapisi plat baja tebal, Endru dan Nancy menata rapi barang-barang logistik. Dua ransel medis merah berisi antibiotik vital diletakkan rapat di pojok terkunci, disandingkan dengan kotak perkakas buatan Onad dan tas taktis berisi perlengkapan komunikasi.

"Semua pasokan medis dan perkakas sudah diikat kencang, Luna," panggil Endru seraya membetulkan kacamata tebalnya dan menepuk dua ransel merah di sampingnya.

"Peta navigasi digital wilayah komersial Distrik Barat juga sudah aktif di layar tablet," tambah Nancy seraya memperlihatkan koordinat rute di layar sentuhnya.

Luna melompat naik ke atas bak truk dengan gerakan yang sangat ringan dan anggun, memosisikan busur recurve kesayangannya bersandar di bahunya. Mantan taruna itu menyapu pengamatan taktis ke sekeliling lorong bengkel sebelum berpaling menatap kabin pengemudi.

"Pintu gerbang sudah dikunci kembali dari luar oleh Steve. Kita bergerak sekarang, Onad," perintah Luna dengan vokal mantap yang jernih.

Kaca kawat ram di bagian belakang kabin terbuka sedikit, memperlihatkan wajah Onad yang menyeringai lebar dari balik kacamata merahnya.

"Ayo meluncur, Rombongan Kesayangan Eke!" seru Onad seraya membunyikan klakson konyolnya yang bergema riang.

TET-TERET-TET-TET!

Steve melompati pembatas besi bak truk, mendaratkan tubuh tegapnya di samping Luna seraya menyandarkan pipa besi tebalnya di dinding baja. Onad memindahkan tuas transmisi, menekan pedal gas perlahan, lalu membawa kendaraan tempur buatan tangannya meluncur keluar meninggalkan Bengkel Maju Jaya Motor menembus keheningan fajar.

Truk rakitan berlapis baja itu bergerak perlahan melintasi lorong-lorong pemukiman sepi sebelum akhirnya berbelok memasuki Jalan Utama Distrik Barat. Pemandangan di sepanjang jalan raya empat lajur itu tampak sangat membisu dan mencekam. Deretan mobil pribadi yang ditinggalkan pemiliknya terparkir melintang secara acak, pecahan kaca toko yang berserakan di atas aspal, serta tiang listrik yang miring mewarnai lanskap Kota Mati yang telah dilumpuhkan oleh wabah Cordyceps.

Di atas bak belakang, lima penyintas duduk bersiap menjaga kewaspadaan. Hembusan angin pagi yang dingin menyapu wajah mereka, menerbangkan helai rambut dan mengusir rasa kantuk. Chemistry yang erat dan rasa percaya yang telah terbangun di antara mereka membuat atmosfer di atas truk terasa jauh lebih tenang dan teratur.

Namun, di dalam kabin pengemudi, raut wajah Onad perlahan berganti menjadi gelisah. Pria eksentrik itu berkali-kali melirik ke arah dashboard, menatap jarum indikator bahan bakar yang kini sudah merayap makin dalam melewati batas garis merah paling bawah.

"Duh, Ganteng... jangan pingsan sekarang dong," bisik Onad seraya mengetuk-ngetuk bingkai kaca indikator dengan jarinya yang dilapisi sarung tangan kain merah.

Steve yang duduk merapat di dekat jendela kabin belakang menyadari perubahan gestur pengemudi mereka. Pria kekar itu membungkukkan tubuhnya, mendekatkan wajahnya ke celah kawat ram.

"Ada kendala di dalam kabin, Onad?" tanya Steve seraya menepuk pelan dinding besi kabin.

Onad memutarkan kepalanya sedikit, memanyunkan bibirnya tipis dengan raut wajah prihatin yang amat dibuat-buat.

"Ini nah, Abang Kekar! Bensin solar di tangki mobil ganteng Eke benar-benar sudah di titik darah penghabisan!" jerit Onad dengan nada vokal yang meliuk-liuk cemas.

Belum sempat Steve membalas ucapan Onad, deru halus mesin diesel berturbo itu mendadak berubah menjadi dentuman yang tersendat-sendat parah.

BAT-BAT-BAT... BRUM... BAT!

Guncangan keras seketika merambat menembus lantai pelataran bak truk saat pasokan bahan bakar solar ke dalam ruang pembakaran mesin terputus-putus. Onad berusaha menekan pedal gas lebih dalam untuk mempertahankan putaran roda, namun mesin truk buatan tangannya terbatuk kencang untuk terakhir kalinya sebelum akhirnya mati total.

CITTTT...

Onad dengan cekatan membanting lingkar setir ke arah kiri jalan raya, memanfaatkan sisa momentum dorongan kendaraan berat itu untuk merapat mulus di pinggir jalan utama, berhenti persis di bawah naungan bayangan pohon peneduh yang rindang di tepi trotoar.

Keheningan yang amat pekat seketika menyelimuti area sekitar Jalan Utama Distrik Barat saat deru mesin truk benar-benar padam.

"Mobilnya mati total," gumam Steve seraya mengintip ke arah kap mesin yang membisu.

"Semuanya tetap tenang dan pertahankan posisi penjelajahan," instruksi Luna dengan vokal dingin yang sangat tenang.

Luna berdiri tegap di sudut bak truk, menarik tali busur recurve-nya sedikit untuk memastikan kesiapan tembak. Mantan taruna itu menyapu pengamatan 360 derajat ke arah deretan ruko kosong di seberang jalan dan lorong-lorong gang kecil di sekitar mereka. Area jalan raya tersebut tampak relatif sepi, namun posisi kendaraan mereka yang mogok di tempat terbuka di pinggir jalan utama adalah celah keamanan yang sangat riskan.

Onad melangkah keluar dari kabin pengemudi seraya membawa sebatang kayu pengukur celup dan kunci tangki. Pria eksentrik itu melangkah meliuk-liuk menuju sisi samping kendaraan, membuka tutup tangki bahan bakar, lalu mencelupkan kayu pengukurnya hingga ke dasar tangki. Saat ditarik kembali, kayu tersebut keluar dalam keadaan kering kerontang tanpa ada sisa minyak sedikit pun.

"Aduh, Gusti... benar-benar kering kerontang kayak tenggorokan Eke kalau tidak ketemu es teh manis!" jerit Onad seraya menepuk dahi tirusnya dramatis.

"Sama sekali tidak ada sisa solar di dalam tangki, Onad?" tanya Endru canggung dari atas bak truk seraya membetulkan posisi kacamatanya.

"Satu tetes pun tidak ada, Brondong Medis! Mobil ganteng Eke resmi pingsan dan kehabisan napas di tengah jalan raya ini!" balas Onad seraya meratap jenaka di samping tangki.

Nancy dengan cepat menggeser layar tablet digitalnya, memindai pemetaan Sistem Informasi Geografis untuk memeriksa posisi presisi mereka di peta kota.

"Kita berada di jalur Jalan Utama Distrik Barat, sekitar empat ratus meter sebelum persimpangan komersial," paparkan Nancy jernih seraya menunjukkan titik lampu merah di layar tablet.

"Menurut peta navigasi digital, ada satu stasiun pengisian bahan bakar umum sekitar lima ratus meter di depan sana. Tapi aku tidak bisa memastikan apakah tangki depositinya masih berisi solar atau sudah dikuras penyintas lain," lanjut Nancy memberikan analisis taktis.

Steve menyilangkan kedua tangan di dada tegapnya, menatap Luna yang sedang memantau kondisi sekitar dari atas bak.

"Kita tidak bisa membiarkan truk berlapis baja ini berada di tempat terbuka begini terlalu lama, Luna," kata Steve seraya mencengkeram erat pipa besi tebalnya.

"Kalau ada kelompok 'Toge Mentah' yang lewat dalam jumlah besar atau ada kelompok penyintas asing yang mengintai dari atas atap ruko, kita bakal jadi sasaran empuk," tambah Steve memberikan pertimbangan logis.

Luna mengangguk setuju. Mantan taruna itu melompat turun dari bak truk dengan gerakan yang sangat tangkas dan tanpa suara, mendarat tegap di atas aspal jalan raya di samping Steve.

"Steve benar," kata Luna tegas seraya menatap seluruh anggota kelompoknya.

"Kita tidak boleh memindahkan seluruh tim atau mendorong kendaraan seberat ini tanpa tahu kondisi keamanan medan di depan," lanjut Luna menyusun taktik pergerakan.

"Onad, kamu dan Endru tetap berada di dekat truk. Kunci pintu kabin dan gunakan pelindung plat baja bak sebagai benteng pertahanan kalau ada ancaman mendadak," instruksi Luna jelas.

"Nancy, tetap patau sinyal radio darurat dan awasi sudut-sudut jalan pakai tabletmu dari atas bak," lanjut Luna membagi peran.

Endru mengangguk mantap, mencengkeram erat pipa besi hollow latihannya seraya berdiri protektif di samping Nancy dan dua ransel medis mereka.

"Serahkan penjagaan truk dan Nancy padaku dan Onad, Luna. Aku bakal pastikan posisi ini tetap aman," kata Endru dengan senyum tulus yang memancarkan keberanian baru.

"Aduh, Brondong Medis Eke makin gagah aja kalau lagi pegang besi!" goda Onad seraya mengedipkan sebelah matanya centil ke arah Endru, memancing tawa halus dari Nancy.

Luna menyunggingkan senyum tipis kepemimpinannya yang hangat, lalu berpaling menatap Steve.

"Steve, kamu ikut denganku," perintah Luna seraya membetulkan tali busur recurve di bahunya.

"Kita akan melakukan patroli jalanan menyisir area di depan secara berjalan kaki. Kita cari tahu situasi SPBU dan pastikan tidak ada ancaman bersembunyi sebelum kita membawa pasokan BBM kembali ke sini," tuntas Luna mantap.

"Siap, Komandan! Pipa besiku sudah gatal ingin bergerak lagi," sahut Steve penuh semangat seraya menyunggingkan senyum khasnya.

Di pinggir jalan utama yang sunyi itu, kelima penyintas kembali menunjukkan kesolidan unit mereka. Dengan ketenangan taktis, tawa ringan pencair suasana, dan rasa saling percaya yang mendalam, Luna dan Steve siap melangkah keluar melakukan patroli jalanan, menembus ketidakpastian dunia Cordyceps demi menjaga keselamatan seluruh kelompok mereka.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!