NovelToon NovelToon
Ketika Takdir Berbicara

Ketika Takdir Berbicara

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / Perjodohan
Popularitas:18.6k
Nilai: 5
Nama Author: Yam_zhie

Hidup Zheana berubah di saat harus menggantikan sang Kakak menikah. Niken kabur di saat hari pernikahan dengan Khadafi.

Ibunya mengamuk dan malah menyalahkan Zheana atas apa yang terjadi. Zheana bahkan di maki dan di siksa ibunya, Khadafi yang tak tega melihat Zheana membawa dia pergi dari sana.

Mereka tinggal di Apartemen milik Khadafi yang sudah di persiapkan sebelumnya. Rupanya kelembutan Zheana mengubah hati Khadafi dan mulai mencintai istrinya. seperti yang di katakan Umi dan Abinya, jika ini adalah jalan Allah SWT untuk menunjukkan jodoh Khadafi.

Selama pernikahan tak semulus itu, karena ibunya Zheana masih terus membencinya. saat Zheana hamil, rupanya Niken kembali. Apakah Khadafi akan kembali kepada Niken?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Zheana 12

Pak Bagas tak bergeming. Wajahnya yang pucat pasi nampak kian renta dalam hitungan jam.

"Diam, Irma! Mau kejar ke mana jam enam pagi begini?! Bandara itu luas! Kita bahkan nggak tahu dia pakai maskapai apa dan pergi kemana!"

"Tapi aku malu, Mas! Aku malu!" jerit Bu Irma histeris, napasnya mendadak memburu kencang, matanya mendelik ke atas sebelum akhirnya tubuhnya kembali terkulai lemas, pingsan untuk kesekian kalinya di pangkuan Tante Lilis.

"Mbak Irma! Mbak Irma! Ya Allah, pingsan lagi!" Tante Lilis panik setengah mati, sibuk memijat pelipis Bu Irma seraya mengoleskan kembali minyak angin.

Zheana yang sejak tadi sibuk menelepon teman-teman terdekat Niken akhirnya menurunkan ponselnya dengan lemas. Jemarinya gemetaran.

"Pa... semua teman Kak Niken bilang nggak ada yang tahu. Kontak mereka juga diblokir sama Kak Niken sejak semalam..."

Pak Bagas memejamkan mata rapat-rapat. Air mata kepasrahan akhirnya menetes melintasi pipinya yang keriput.

"Sudah, Zheana... Sudah. Tidak usah dicari lagi. Kakakmu memang sengaja menghancurkan keluarga ini."

Di tengah tangisan, teriakan panik kerabat, dan hembusan napas berat Pak Bagas, suara deru mesin dua mobil mewah berhenti tepat di depan pagar rumah. Suara pintu mobil yang ditutup dengan hentakan keras bergema menembus ruang tamu.

Seketika, seluruh keriuhan di dalam rumah terhenti. Sanak saudara yang tadinya sibuk menelepon mendadak bungkam, menatap ke arah pintu depan dengan tubuh membeku.

Dari luar, langkah kaki yang mantap dan berat terdengar mendekat. Khadafy melangkah masuk terlebih dahulu dengan setelan beskap pengantin putih yang kini terasa seperti satir pahit, disusul oleh Abi Haris dan Umi Rina dengan raut wajah yang amat dingin, tegang, dan sarat akan wibawa yang menekan.

Keluarga besar Khadafy telah tiba, tepat di tengah puing-puing kehancuran yang ditinggalkan oleh Niken.

Suasana di ruang tamu yang luas itu seketika mencekam. Semua sanak saudara Bu Irma berdiri menyudut dengan wajah pucat pasi, tak ada satu pun yang berani membuka suara. Bu Irma yang baru saja siuman dituntun duduk bersandar di sofa oleh Tante Lilis, napasnya masih memburu dan matanya sembab membengkak.

Pak Bagas berdiri dengan tubuh bergetar hebat, menundukkan kepalanya dalam-dalam di hadapan Abi Haris, Umi Rina, dan Khadafy. Rasa malu yang teramat sangat membuat pria paruh baya itu tak sanggup menatap mata calon besannya.

"Pak Haris... Bu Rina... Nak Khadafy..." suara Pak Bagas parau dan pecah.

"Saya... atas nama pribadi dan keluarga besar, memohon maaf yang sebesar-besarnya. Saya benar-benar gagal mendidik anak saya..."

Abi Haris mengibaskan tangannya pelan, menghentikan ucapan Pak Bagas. Wajah beliau mengeras, namun tetap berusaha mengendalikan emosinya di tengah situasi yang amat kacau ini. Beliau melirik jam di pergelangan tangannya, sudah menunjukkan pukul enam lewat lima belas menit.

"Pak Bagas, kita tidak punya banyak waktu untuk saling menyalahkan sekarang," potong Abi Haris dengan suara rendah namun sarat akan penekanan yang menekan dada.

"Gedung sudah siap, dekorasi dan catering ratusan juta sudah berdiri di sana. Para tamu undangan dari relasi bisnis saya, kerabat, dan pejabat sudah mulai bersiap-siap datang. Ini bukan cuma masalah anak melarikan diri, tapi ini menyangkut harga diri dan martabat keluarga besar kami!"

Bu Irma kembali menangis terisak-isak sambil memegangi dadanya. "Maafkan kami, Pak Haris... Jeng Rina... Niken sepertinya khilaf! Kami tidak tahu kalau dia punya niat..."

Umi Rina berdiri kaku di samping suaminya. Tatapan matanya yang biasa teduh kini begitu dingin, menyapu seluruh ruangan sebelum akhirnya tertuju pada Khadafy yang berdiri membisu di dekat pintu.

"Khadafy," panggil Umi Rina tegas.

Khadafy menoleh, menatap ibunya. "Iya, Umi?"

"Jawab Umi dengan jujur," tegur Abi Haris mengalihkan pandangan lurus ke arah putranya.

"Apakah sebelum ini kamu bertengkar hebat dengan Niken? Apakah ada masalah di antara kalian yang kalian sembunyikan dari orang tua sampai dia nekat kabur seperti ini?!"

Khadafy menghela napas panjang, merapikan posisi beskap putihnya yang terasa kian menyesakkan. Ia menggeleng pelan dengan raut wajah yang amat datar.

"Tidak, Abi, Umi," jawab Khadafy tenang namun tegas.

"Kami tidak bertengkar. Bahkan sampai jam sembilan malam tadi, kami masih berkomunikasi dengan baik lewat pesan singkat."

"Lalu kenapa?!" celetuk Bu Irma dari sofa dengan suara serak.

"Kalau tidak bertengkar, kenapa Niken nekat kabur membawa koper dan semua perhiasannya, Nak Khadafy?!"

Khadafy menatap Bu Irma lekat-lekat, lalu pandangannya beralih pada Pak Bagas. Pria itu memilih bungkam, rahangnya mengeras rapat menahan luapan kekecewaan. Ia tidak berniat membeberkan lebih lanjut tentang perselingkuhan dan kebohongan Niken di tengah kepanikan ini. Bagi Khadafy, kenyataan bahwa Niken telah melarikan diri membawa barang-barangnya sudah menjadi jawaban yang lebih dari cukup.

Abi Haris mengepalkan tangannya di belakang punggung, meremas jemarinya kuat-kuat. Beliau menghela napas berat, mencoba mencerna segala kekacauan yang terjadi. Pandangan Abi Haris mengedar ke seluruh penjuru ruangan, menatap raut-raut wajah yang pucat pasi, hingga akhirnya tatapan mata beliau terhenti pada sudut dekat pintu dapur.

Di sana, Zheana berdiri membisu. Gadis itu mengenakan pakaian sederhana yang rapi, jemarinya bertaut dingin menahan cemas. Wajahnya polos tanpa polesan riasan berlebih, namun memancarkan ketulusan dan ketenangan yang sangat kontras dengan kehancuran di rumah itu.

Seketika, teringat di benak Abi Haris dan Umi Rina bagaimana lembutnya tutur kata Zheana saat menyambut mereka beberapa hari lalu, serta betapa gigihnya gadis itu bekerja tanpa pernah mengeluh.

Abi Haris memejamkan mata sejenak, mengambil keputusan paling krusial dalam hidupnya. Beliau membuka mata kembali, memperlihatkan sorot yang amat tajam, mantap, dan tak terbantahkan.

"Pernikahan hari ini... harus tetap dilaksanakan," cetus Abi Haris dengan suara bariton yang menggema menembus keheningan.

Seluruh orang di ruangan itu tersentak. Bu Irma mendongak kaget, Pak Bagas tertegun, sementara Khadafy hanya terdiam membisu dengan pandangan lurus.

"Tapi Pak Haris..." bisik Pak Bagas terbata-bata,

"Niken... Niken sudah tidak ada..."

"Saya tahu Niken sudah tidak ada, Pak Bagas," potong Abi Haris dingin. Beliau lalu melangkah perlahan mengikis jarak, mengarahkan telunjuknya lurus ke arah sudut ruangan.

"Dan pengantin wanitanya... adalah Zheana."

Deg!

Bagai disambar petir di siang bolong, Zheana membeku di tempatnya. Jantungnya serasa berhenti berdetak. Gelas teh yang dipegangnya hampir saja terlepas jika ia tidak segera mencengkeramnya erat-erat.

1
nely_48
khadafy shok lah, zhea org baru sehari dekat sm dia malah zhea yg paling efort perhatian semua kebutuhan nya khadafy,, lah apa kabarnya niken yg pacaran 2th dia apa pernah nanyain makana kesukaan khadafy, paling jg klau tlp minta uang buat shoping
Ninik Sumarni
kak jangan pisahkan mereka
Fitria Syafei
wow mereka KK dan semoga kedepannya mereka selalu bersama dan bersatu 🫠 KK cantik mantaf 🥰 terimakasih 😍
Ambu Rinddiany Thea
hayoooh we bahas zheaaa ke bisi murka gera s Khadafi saking ku bosen ngabejaaan .. jalani we hela da s niken balik mah samemeh nepi k s khadafi ge , yeh emak2 netijen siap terjun payung terjun bebas ..🤭
Fitria Syafei
wow Khadafi 😍 KK cantik mantaf 😍 terimakasih 😘
ryuka
baguuussss.. keren aku suka thooorrr
ryuka
tuuhhh zheaaa dengerin suami kamu
sunaryati jarum
Wah benar benar Kadaffi suami idaman sangat perhatian dan tanggung jawab
Dew666
💝💝
Fitria Syafei
wow mereka KK 😍 KK cantik mantaf 🥰 kereen 🥰
Ambu Rinddiany Thea
ko aku senyum senyum sendiri ya 🤭🤭
ryuka
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣 zheaaa kamu yg deg2an
Fitria Syafei
wow mereka KK 😍 kk cantik kereen 😍 terimakasih 😘
Oma Gavin
kalian berdua di sweet banget sich bikin iri 😂
sunaryati jarum
Kadaffi itu terdidik sejak kecil taat agama dan aturan negara,hanya saja sebelumnya mencintai orang yang salah.
sunaryati jarum
Semoga bahagia dan penuh berkah
ryuka
tuuhhh zheaaa kamu udah tenang belum 🤭🤭🤭🤭🤭
nely_48
jalani, nikmati n syukuri jd istri khadafy ya zhea,,, km hrs pandai menempatkan diri d samping khadafy, rubah diri biar km ga malu²in khadafi,, bukan cuma jd istri yg bs nya mewek n nangis,,, smart lah jd istri nya khadafy,,, make over otak n badan mu ya zhea
nely_48
panggil nya hubby ath Zea, pst khadafy lgsg klepek-klepek loh
Fitria Syafei
KK cantik kereen 😍 mantaf 😍 terimakasih 😘
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!