Namanya yang terkenal sebagai ketua geng Tunas Bangsa, Theo Bramansya cowok paling di takuti di wilayahnya,
Usia: 19 tahun
Tinggi: 190 cm
Berat: 82 kg
Penampilan: Tinggi, tegap, bahu lebar, kulit putih bersih, rahang tegas, hidung mancung, alis tebal, mata tajam dan dingin, rambut hitam sedikit berantakan. Tatapannya sering terlihat malas dan mengintimidasi. Memiliki tubuh atletis karena sering mengendarai motor dan berkelahi.
Kepribadian: Dingin, cuek, keras kepala, dominan, percaya diri, sulit didekati, dan tidak mudah menunjukkan emosi. Dia jarang tersenyum dan lebih sering menjawab singkat. Tidak suka basa-basi dan tidak peduli dengan pendapat orang lain.
Dia adalah ketua geng motor yang cukup disegani. Berani, nekat, memiliki jiwa kepemimpinan yang kuat, dan terbiasa mendapatkan apa yang dia inginkan. Dia tidak takut pada siapa pun dan tidak suka diperintah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon siput, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 20
"Pelan-pelan woy nge-gasnya"
"Emang tangan gue kenapa? Ya mana gue tau orang lagi tidur, lagian salah siapa coba bikin nyaman..ups"
Tak ingin di salahkan tiba-tiba eca keceplosan dan langsung menutup omongannya, ia bingung harus bersikap bagaimana dengan theo yang sedari tadi dia tinggal tidur sepanjang jalan, meski begitu ia tak enak hati dan beralih memegang pundak theo.
Kalimat pembelaan dirinya yang tanpa filter itu sukses membuat darahku berdesir semakin panas. Alasan konyol soal kenyamanan justru terasa seperti ejekan telak bagi sisa-sisa pertahananku yang nyaris ambruk beberapa detik lalu. Sentuhan telapak tangannya yang kini berpindah mencengkeram bahuku terasa bagai bara kecil yang menembus serat kain tipis, mengunci fokusku agar tak kembali liar.
"Masih sempat-sempatnya lo ngeles,"
sahutku ketus, melempar pandangan lurus menembus kabut tipis jalanan malam seraya membiarkan deru mesin meredam kekacauan isi kepala. Rahangku mengeras saat laju kendaraan mulai memasuki kawasan gang permukiman yang lebih tenang.
"Gue nggak buka jasa pelukan gratis, apalagi buat penumpang nggak tahu diri yang tangannya ke mana-mana pas merem."
Aku sengaja menarik tuas rem sedikit lebih halus saat mendekati tikungan depan rumah sewaannya, enggan mengakui bahwa cengkeraman tangannya di bahuku justru memberi rasa tenang yang tak masuk akal.
"Turun lo sana,"
desisku dingin begitu motor berhenti sempurna di depan pagar rapuh, membuang muka demi menyamarkan rona merah yang belum sepenuhnya surut.
"Masuk, kunci pintu, dan jangan mimpi aneh-aneh lagi."
"Kalau mimpiin lo termasuk aneh juga nggak?" candaan eca pada theo
"Yaudah gue masuk, nih helmnya terimakasih banyak sudah mau antar jemput gue hari ini, besok gak usah jemput gue bisa berangkat sendiri."
"Ini peringatan buat lo biar gak semau lo sendiri, berasa jadi tahanan banget gue hari ini"
"Bye theo hati-hati di jalan, nih jaket lo gue tau lo pasti juga kedinginan kan? Gue lihat-lihat romantis juga ternyata..hmm"
"Sini tas gue besok mau gue cuci, lumayan kan alex ngasih tas ini buat pengganti tas usang gue" sambil mengulurkan tangannya
Ucapan bernada santai itu menghantam telak gengsiku, memicu sengatan panas yang merayap cepat ke pangkal leher. Aku menyambar jaket kulit yang disodorkannya, merasakan sisa hangat tubuhnya masih tertinggal di balik lapisan kain tebal itu. Alih-alih memberikan tas pemberian dokter itu, jari-jariku justru mencengkeram talinya lebih kuat, sengaja menjauhkannya dari jangkauan tangannya.
"Geer banget lo. Jangan berani-berani bawa nama gue ke mimpi lo,"
semburku pelan, memalingkan wajah ke arah kegelapan gang agar ia tak membaca sorot mataku yang terusik. Mendengar nama pria itu disebut lagi membuat rahangku bergemertak jengkel.
"Dan tas rongsokan ini? Nggak usah sok suci mau lo cuci. Masuk ke dalam sekarang sebelum gue bakar benda murahan ini di depan mata lo."
Aku melangkah mundur, menyampirkan jaketku ke bahu sambil menatapnya tajam dari atas motor.
Suaraku turun menjadi geraman rendah penuh ancaman tipis yang tak terbantahkan.
"Soal besok, itu urusan gue. Mau lo jalan kaki atau ngesot sekalipun, kalau gue bilang jemput, lo nggak punya hak buat nolak. Buruan masuk dan kunci pintunya."
"Balikin dulu tasnya" pinta eca sambil menarik lengan jaket theo
"Lo... udahlah capek juga lama-lama debat sama lo, bisa gila gue lama-lama"
Melihat kekesalannya yang memuncak justru memberi kepuasan tersendiri bagiku. Kilat lelah di kedua matanya tak menyurutkan niatku untuk menahan barang sialan pemberian dokter itu.
Tanganku dengan santai melingkarkan tali tas merah muda tersebut di spion motor, memastikan bendanya terkunci aman di bawah pengawasanku.
"Tas ini gue tahan,"
sahutku enteng, memiringkan kepala dengan sorot meremehkan yang kentara. Hawa dingin malam yang merayap di kulit lenganku sama sekali tak kuacuhkan, tertutup gejolak panas di dada yang menolak melihatnya memakai barang dari cowok lain.
"Nggak usah banyak protes. Besok pagi gue balikin sekalian jemput lo. Itu pun kalau lo bangun tepat waktu dan nggak bikin gue nunggu."
Aku menjejakkan kaki ke pedal starter, membiarkan raungan mesin memecah kesunyian gang sempit di depan rumahnya. Tatapanku terkunci pada sosoknya yang tampak kian lunglai, menyisakan desakan samar di sudut benak agar ia segera masuk dan beristirahat.
"Sana masuk. Grendel pintunya rapat-rapat,"
tambahku datar, menurunkan kaca helm sebelum menarik tuas gas perlahan.
"Jangan berani buka pintu buat siapa pun malam ini, termasuk dokter gadungan lo itu."
Malam semakin larut, eca pun masuk ke dalam rumahnya dan beristirahat sedangkan theo sedang dalam perjalanan sembari membawa tas pemberian alex.
...****************...
hadir kak, mampir juga ya😊