Dika Pratama, penjaga baru yang mulutnya nggak pernah diam dan kelakuannya selalu nyeleneh, ditugaskan menjaga kantor milik Vanesha Aurelia — CEO termuda, tercantik, dan paling ditakuti seantero kota. Cantiknya kayak lukisan, tapi kalau ngomel bisa bikin orang langsung kicep sampai lupa napas.
Satu terlalu santai dan sok asik, satu lagi perfeksionis dan gampang meledak. Setiap hari pasti ada aja alasan buat berantem — dari sepatu yang bunyi, senyum yang terlalu lebar, sampai tatapan yang katanya "terlalu lama natap bos".
Tapi di balik omelan dan tatapan tajam itu, perlahan tumbuh rasa yang nggak bisa dijelasin pakai kata. Siapa sangka hati bos yang galak itu akhirnya luluh sama senyum kuda seorang penjaga yang nggak pernah nyerah
"Diamlah, Nona Bos. Ngomel terus nanti kerut lho."
"Kamu... siapa yang kasih izin ngomong gitu sama saya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Faris Arjunanurhidayat, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17: Kejutan di Lorong Kantor dan Secangkir Kopi Rasa Baru
Hari berlalu dengan cepat di gedung pencakar langit Vanesha Group. Hubungan antara Vanesha dan Dika kian hari kian mencair, berubah dari sekadar atasan dan bawahan menjadi dua insan yang saling mengisi hari-hari sibuk di tengah ketatnya dunia korporat. Pagi itu, matahari bersinar cerah menyapa kota Surabaya, memantulkan kilau keemasan pada dinding kaca gedung-gedung perkotaan.
Di lantai sepuluh, Dika melangkah keluar dari lift khusus dengan membawa nampan kayu kecil. Seperti biasa, secangkir kopi hitam pekat dengan takaran satu sendok teh gula tersaji rapi di atasnya, ditemani sepiring kecil tahu pentol hangat kesukaannya. Langkah kakinya terasa ringan, diiringi siulan kecil yang mencerminkan suasana hatinya yang sedang berbunga-bunga.
Namun, setibanya di depan pintu ruang kerja Vanesha, langkah Dika mendadak terhenti.
Di sana, berdiri seorang pria berjas rapi warna biru gelap dengan potongan rambut klimis dan tas kerja kulit mahal tersampir di bahunya. Pria itu tampak sedang berbicara dengan sekretaris Vanesha sambil tersenyum ramah. Dika menyipitkan matanya, memasang mode siaga tingkat tinggi ala intelijen lapangan.
"Selamat pagi, Mbak Rini," ucap Dika sambil mendekat dengan langkah tegap yang sengaja dibuat-buat. "Ada keperluan apa ya tamu agung ini nongkrong di depan ruangan Nona Bos? Apa perlu saya periksa KTP dan surat izin masuknya?"
Pria berjas rapi itu menoleh, menatap Dika dari atas ke bawah dengan sebelah alis terangkat, sementara Mbak Rini hanya tersenyum canggung.
"Pagi juga, Dika. Ini Pak Dimas, direktur operasional dari cabang Surabaya timur. Beliau mau menyerahkan laporan bulanan langsung ke Bu Vanesha," jawab Mbak Rini menjelaskan.
Pak Dimas tersenyum tipis, menatap Dika dengan tatapan menilai. "Ah, jadi kamu satpam baru yang nemenin Bu Vanesha akhir-akhir ini? Baguslah, setidaknya penjagaan lantai sepuluh sekarang ada yang ngurusin," ucap Pak Dimas dengan nada yang terdengar sedikit meremehkan.
Dika tersenyum lebar, meski matanya menatap tajam penuh selidik. "Siap, Pak! Penjagaan di sini dijamin aman sentosa, bebas dari maling, setan gentayangan, maupun tamu tak diundang yang senyumnya terlalu dipaksain," jawab Dika telak, membuat senyum di wajah Pak Dimas seketika kaku.
Sebelum ketegangan di depan pintu itu merembet lebih jauh, pintu ruang kerja di hadapan mereka terbuka perlahan. Vanesha melangkah keluar dengan balutan blazer elegan warna abu-abu muda, wajahnya tampak tenang namun tegas.
"Ada apa ini ribut-ribut di depan ruangan saya?" tanya Vanesha dingin, matanya menyapu Pak Dimas dan Dika secara bergantian.
Pak Dimas langsung mengubah ekspresinya menjadi ramah seketika. "Ah, selamat pagi, Vanesha. Saya cuma mau menyerahkan laporan bulanan operasional cabang timur, sekaligus ingin mengajakmu makan siang nanti," jawab Pak Dimas dengan nada sok akrab.
Vanesha menerima berkas laporan tersebut dengan tenang. "Terima kasih, Pak Dimas. Untuk ajakan makan siang, sepertinya saya harus lewatkan karena jadwal saya sudah penuh hari ini," jawab Vanesha halus namun tegas tanpa memberikan celah.
Pak Dimas tampak sedikit kecewa, namun dia hanya tersenyum simpul. "Baiklah kalau begitu. Saya permisi dulu," pamit Pak Dimas sambil melirik sekilas ke arah Dika sebelum melangkah pergi meninggalkan lantai sepuluh.
Begitu Pak Dimas berlalu, Vanesha menghela napas pelan lalu menoleh ke arah Dika yang sejak tadi berdiri tegak memegang nampan kopi.
"Kamu ini ya, suka banget cari gara-gara sama tamu perusahaan," ucap Vanesha pelan, meski ada secercah senyum geli di sudut bibirnya.
"Bukannya cari gara-gara, Vanesha," jawab Dika cepat sambil melangkah masuk mengikuti Vanesha ke dalam ruangan. "Insting prajurit saya mendeteksi ada gelagat mencurigakan dari senyuman pria klimis tadi. Mana ada urusan kantor jam pagi-pagi ngajak makan siang segala? Jelas itu modus terselubung!"
Vanesha meletakkan berkas dari Pak Dimas di atas meja kerjanya, lalu berbalik menatap Dika lekat-lekat. "Cemburu, nih?" tanya Vanesha jahil, mengangkat sebelah alisnya dengan tatapan menggoda.
Dika tertegun sejenak, lalu cengar-cengir salah tingkah sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Bukannya cemburu... tapi waspada itu wajib hukumnya buat seorang pengawal pribadi," jawab Dika membela diri. "Lagian, saya kan sudah bawain kopi racikan khusus kesukaan kamu. Nggak mungkin dikalahin sama kopi bikinan kantor lain."
Vanesha tertawa kecil mendengar gombalan santai itu. Dia mendekati meja, mengambil cangkir kopi hitam yang dibawa Dika, lalu menyeruputnya perlahan. Hangatnya cairan pekat itu langsung menenangkan pikirannya yang sempat penat.
"Enak. Tetap juara buatan kamu," ucap Vanesha tulus, membuat dada Dika bergemuruh senang.
"Kalau gitu, gimana kalau nanti sore sesudah jam kerja, kita jalan-jalan sebentar cari angin segar di taman kota?" ajak Dika lembut, menatap mata Vanesha penuh harap.
Vanesha tersenyum manis, menganggukkan kepalanya pelan. "Ide bagus. Saya butuh istirahat sejenak dari setumpuk laporan ini," jawab Vanesha lembut.
Di dalam ruangan yang hangat itu, di bawah temaram sinar matahari pagi yang menembus kaca gedung pencakar langit, lembaran kisah mereka terus berlanjut — penuh canda tawa, kesetiaan, dan rasa yang kian hari kian menguat tanpa keraguan.
Waktu berlalu begitu cepat. Jarum jam di dinding ruang kerja Vanesha kini telah menunjukkan pukul lima sore, menandakan berakhirnya jam operasional kantor hari itu. Suasana lantai sepuluh yang tadinya sibuk oleh hilir mudik karyawan kini mulai lengang.
Di dalam ruangannya, Vanesha merapikan beberapa berkas terakhir ke laci meja, lalu mematikan komputer jinjingnya. Hari ini terasa jauh lebih ringan berkat kehadiran Dika yang setia mendampingi dan sesekali melempar candaan konyol untuk mencairkan ketegangan.
Pintu ruangan diketuk ringan, lalu kepala Dika menyembul masuk dengan cengiran khasnya.
"Laporan sore, Vanesha! Waktunya jam kepulangan dinas luar tanpa pengawalan ketat, alias jalan-jalan santai ke taman kota," ucap Dika setengah berbisik sambil membuka pintu lebar-lebar.
Vanesha merapikan blazer abu-abunya, lalu tersenyum tipis. "Bisa aja kalau bikin alasan buat bolos dari pos jaga," jawab Vanesha lembut, beranjak dari kursi kerjanya dan mengambil tas tangan miliknya. "Yuk, keburu malam."
Keduanya berjalan berdampingan meninggalkan gedung pencakar langit Vanesha Group. Menjelang senja, udara di luar terasa jauh lebih sejuk. Tak butuh waktu lama bagi mereka untuk tiba di taman kota yang terletak tidak jauh dari pusat kota Surabaya. Taman tersebut tampak asri dengan deretan pohon rindang, lampu-lampu taman bernuansa kuning hangat yang mulai menyala, serta beberapa warga yang duduk santai menikmati angin sore.
Mereka berjalan pelan menyusuri jalan setapak berbalut paving blok. Di sekeliling mereka, riuh rendah suara kendaraan di jalan raya berpadu dengan derik jangkrik dan suara tawa anak-anak kecil yang bermain ayunan.
"Kamu suka suasana tenang kayak gini?" tanya Dika memecah keheningan, melirik sekilas ke arah wanita di sampingnya.
Vanesha menoleh, menganggukkan kepalanya pelan sambil merapikan helaian rambutnya yang tertiup angin senja. "Suka," jawab Vanesha tulus. "Selama ini hari-hari saya selalu diisi sama angka laporan, target perusahaan, dan rapat-rapat tegang yang nggak ada habisnya. Baru kali ini saya bisa benar-benar bernapas lega."
Dika terdiam sejenak, lalu memasukkan kedua tangannya ke saku celana seragam satpamnya yang sudah berganti jaket kasual. "Kalau gitu, mulai sekarang tugas saya bukan cuma jagain kamu dari ancaman luar, tapi juga mastiin kalau kamu punya waktu buat diri sendiri," ucap Dika mantap, menatap lurus ke mata Vanesha.
Vanesha menghentikan langkahnya, begitu pula dengan Dika. Di bawah temaram cahaya lampu taman yang mulai berpendar kekuningan, Vanesha menatap Dika lekat-lekat. Tidak ada lagi jarak canggung antara atasan dan bawahan; yang terpancar di mata mereka hanyalah ketulusan yang teramat dalam.
"Kamu ini ya... hobi banget bikin saya terharu di tempat umum," ucap Vanesha malu-malu, sementara pipinya merona merah di bawah bias lampu taman.
"Bukannya bikin terharu, tapi menyampaikan fakta yang sebenarnya," sahut Dika tersenyum lebar, mencairkan suasana agar tidak terlalu sentimental.
Vanesha tertawa renyah, lalu tanpa ragu meraih lengan Dika dan menggandengnya erat. Mereka kembali melangkah bersama menyusuri sisa jalur taman kota, menikmati ketenangan malam yang perlahan turun. Di bawah langit senja Surabaya yang mulai bertabur bintang, babak baru kisah mereka terus bersemi — membawa kehangatan sederhana yang mengalahkan dinginnya malam dan kerasnya dunia di luar sana.
Setelah puas menikmati suasana tenang di taman kota, langkah kaki Dika dan Vanesha perlahan membimbing mereka keluar dari area hijau menuju kawasan komersial modern yang dipenuhi gedung-gedung kafe estetik berlampu temaram. Udara malam kota Surabaya terasa semakin sejuk, diiringi lalu-lalang kendaraan yang mulai melambat.
"Eh, Vanesha... kita mau ke mana nih?" tanya Dika agak kebingungan saat melihat Vanesha membelokkan arah langkahnya ke sebuah kafe berkonsep industrial modern berlantai dua dengan plang nama minimalis bercahaya keemasan. Di balik dinding kaca besar, tampak para pengunjung duduk santai di kursi sofa empuk sambil memegang cangkir keramik mahal.
Vanesha menoleh sekilas sambil tersenyum misterius. "Kita ngopi di dalam. Kemarin kan kamu terus-terusan racik kopi hitam buat saya di kantor. Sekarang giliran saya yang traktir kamu nyobain kopi buatan barista profesional," ucap Vanesha santai.
Dika spontan berhenti melangkah, menelan ludahnya susah payah sambil melirik penampilannya sendiri yang hanya mengenakan jaket kasual dipadu celana jins belel. "Ha? Ngopi di tempat elite begini? Wah, Nona Bos... jujur saja, insting intelijen saya langsung bergetar hebat. Ini tempat kayaknya golongan sultan semua isinya. Dompet saya yang isinya cuma pas-pasan buat beli tahu pentol pinggir jalan bisa langsung pingsan di tempat!"sahut Dika
Vanesha terkekeh geli mendengar reaksi panik setengah mati dari pengawalnya itu. "Tenang saja, Kapten. Kan sudah saya bilang, saya yang traktir. Kenapa jadi kamu yang mendadak ciut nyalinya?" tanya Vanesha sambil menarik lengan jaket Dika pelan agar ikut masuk ke dalam kafe.
Mau tidak mau, Dika melangkah masuk dengan perasaan campur aduk antara kagum dan salah tingkah. Begitu pintu kaca bergeser terbuka, aroma harum biji kopi panggang kelas atas langsung menyergap indra penciuman mereka. Interior kafe itu tampak sangat mewah — dinding beton ekspos berhias tanaman gantung, alunan musik jazz lembut yang mengalun menenangkan, serta deretan lampu gantung bergaya vintage yang memancarkan cahaya kekuningan hangat.
Beberapa pasang mata pengunjung sempat melirik ke arah mereka sejenak, namun Vanesha dengan wibawa alaminya berjalan tenang menuju meja kosong di dekat jendela lantai satu. Dika mengekor di belakangnya dengan langkah kaku ala prajurit yang masuk ke sarang musuh, sesekali merapikan rambutnya yang agak berantakan.
"Silakan duduk, Prajurit Sengklek," ucap Vanesha sambil tersenyum manis, mempersilakan Dika duduk di sofa empuk berwarna abu-abu tua.
Dika mendudukkan dirinya perlahan, merasa tidak enak badan karena sofa itu terlalu empuk dibandingkan kursi kayu pos satpam tempat biasa dia melepas lelah. "Duh, empuk banget sofa ini. Rasanya agak berdosa duduk di sini pakai celana jins belel," gumam Dika pelan sambil cengangas-cengenges.
Tak lama kemudian, seorang pelayan pria berpenampilan rapi datang membawa buku menu setebal majalah fashion. Dengan senyum ramah, pelayan itu menyerahkan menu tersebut kepada Vanesha.
"Silakan, Kak. Mau pesan apa malam ini?" tanya pelayan sopan.
Vanesha membuka lembaran menu sebentar, lalu menoleh ke arah Dika. "Kamu mau pesan apa? Pilih aja yang disuka. Jangan sungkan, mumpung disponsori langsung sama CEO-mu," ucap Vanesha.
Dika membuka buku menu dengan penuh kehati-hatian, seakan-akan buku itu terbuat dari kaca tipis yang gampang pecah. Begitu matanya mendarat di halaman daftar minuman kopi, bola matanya seketika mendelik keluar. Jantungnya nyaris copot melihat deretan angka harga di sana.
"Ya ampun...!" seru Dika kaget setengah mati, reflek menutup buku menu itu rapat-rapat sambil menatap Vanesha dengan wajah melas. "Kopi hitam di sini harganya bisa buat beli sekarung beras sama stok tahu pentol sebulan penuh! Ini kopinya dicampur serpihan emas murni apa bagaimana? Kok bisa semahal itu harganya?"
Vanesha tak kuasa menahan tawa lepasnya. Suara renyah tawa itu pecah di tengah keheningan kafe yang tenang, membuat beberapa pengunjung lain menoleh ke arah mereka. Namun Vanesha tidak peduli; pemandangan Dika yang mendadak syok melihat harga menu kafe elit adalah hiburan paling langka sedunia.
"Namanya juga kafe spesialis artisan coffee, Dika. Harganya sebanding sama tempat dan biji kopi pilihan," ucap Vanesha sambil menahan tawa, menutup mulutnya dengan sebelah tangan. "Sudah, biar saya yang pesankan. Satu Caramel Macchiato hangat dan satu Espresso Single Origin buat dia, sama tambahin croissant cokelat dua."
"Baik, Kak. Segera disiapkan," jawab pelayan itu sambil mencatat lalu berlalu pergi.
Dika menghela napas panjang, bersandar lemas di sofa empuk sambil mengelus dadanya dramatis. "Ampun deh... kalau tahu harganya semahal itu, mending tadi saya minta di bungkusin kopi sachet warung sebelah. Untung dibayarin Vanesha, kalau pakai duit sendiri, bisa-bisa saya harus puasa senin-kamis selama setahun."
Vanesha menatap Dika dengan pandangan penuh kehangatan, rasa gemas dan sayang bergemuruh lembut di dadanya. "Makanya, sekali-kali rasain nikmatnya hidup sebagai orang kaya raya, biar nggak penasaran," ucap Vanesha lembut.
Tak lama kemudian, pesanan mereka datang tersaji di atas nampan kayu estetik. Cangkir keramik berisi kopi pilihan berpadu sempurna dengan aroma kue croissant yang baru dipanggang. Malam itu, di balik dinding kaca kafe mewah yang hangat, tawa dan canda mereka melebur menjadi satu — membuktikan bahwa dunia yang begitu berbeda latar belakang bisa saling melengkapi dalam kebahagiaan yang tulus.