NovelToon NovelToon
PERMAISURIKU DARI ABAD KE-21

PERMAISURIKU DARI ABAD KE-21

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:980
Nilai: 5
Nama Author: Ve Love

Aku masuk ke dalam tubuh calon permaisuri sial dan terdampar di Kerajaan Langit. Di kepalaku, Sistem yang jatuh dari langit aktif!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ve Love, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 12 - SURAT DARI ABAD 21

"Kahiyang?"

Suara Segara El-Bhumi itu dingin, tapi di keheningan Perpustakaan Terlarang yang berdebu itu, suara dinginnya terdengar seperti guntur.

Aku berdiri membeku di tengah ruangan, di depan meja yang sangat bersih itu. Buku putih kosong dari abad 21 yang baru saja memberiku rahasia terbesar, masih aku peluk erat di dalam jubah hitam Mbok yang kebesaran. Lentera kecilku bergoyang karena tanganku gemetar.

Pintu kayu hitam yang besar itu terbuka semakin lebar. Segara masuk dengan lentera besar di tangannya. Cahaya lentera itu menerangi wajahnya yang datar, tapi matanya menatapku dengan tatapan tidak percaya dan sedikit marah.

"Apa yang kau lakukan di sini malam-malam, Kahiyang Gayatri Ayuningtyas? Kau tahu tempat ini terlarang bahkan untuk permaisuri sekalipun?" tanyanya lagi, langkahnya mendekat.

Setiap langkahnya membuat lantai kayu tua itu berderit.

Aku menelan ludah. Otakku yang dari abad 21 yang biasanya cepat mencari alasan, malam ini buntu total. Bagaimana aku menjelaskan tentang buku putih yang bisa menulis sendiri ini? Bagaimana aku menjelaskan tentang Rania dari UGM 2023?

"Aku... aku..." Suaraku terbata.

Segara sudah sampai di depanku. Dia menatap jubah hitam kebesaran yang aku pakai, lalu menatap lentera kecilku, lalu menatap meja bersih di belakangku yang seharusnya berdebu tapi sangat bersih.

Matanya menyipit.

"Kau mencuri kunci perpustakaan ini dari mana?" tanyanya pelan.

Aku tidak bisa menjawab. Kunci naga itu masih menancap di gembok raksasa di luar pintu.

Segara menghela napas panjang. Dia tidak langsung membentakku atau menyuruh pengawal menyeretku ke penjara bawah tanah seperti yang dia lakukan pada Selir Jelita. Dia hanya meletakkan lentera besarnya di atas meja bersih itu.

Cahaya lentera besar itu membuat debu-debu beterbangan terlihat jelas.

"Kau tahu kenapa perpustakaan ini dilarang, Kahiyang?" tanyanya, suaranya tidak lagi marah, tapi lelah. Lelah seperti malam saat dia bercerita tentang luka di punggungnya.

Aku menggeleng pelan.

"Karena di sini ada semua catatan tentang permaisuri-permaisuri sebelum kau. Bagaimana mereka mati. Bagaimana mereka diracun. Bagaimana mereka gila. Ayahku melarang siapa pun membacanya, agar tidak ada yang takut menjadi permaisuri. Tapi aku yang melarang lebih keras, agar tidak ada yang tahu betapa gagalnya aku menjaga mereka," jawabnya pelan.

Dia duduk di kursi kayu di depan meja itu. Wajahnya terlihat sangat lelah di bawah cahaya lentera.

Aku masih berdiri memeluk buku putih itu di dalam jubahku. Buku itu terasa hangat, seperti ada detak jantung di dalamnya.

"Gusti Kaisar, saya... saya hanya ingin mencari buku tentang cara membuat parit yang lebih baik untuk desa. Saya tidak menemukan bukunya di paviliun, jadi saya..." Aku mencoba berbohong dengan alasan paling manusiawi yang bisa kupikirkan.

Segara menatapku. Tatapannya dalam.

"Kahiyang, kau pembohong yang buruk," katanya pelan, tapi ada senyum tipis di sudut bibirnya. Senyum tipis yang hanya aku yang bisa melihatnya. "Gaun tidurmu terlihat dari balik jubah Mbok itu. Dan kau membawa lentera sekecil itu untuk mencari buku tentang parit? Kau pikir aku bodoh?"

Wajahku merah padam. Ketahuan.

Aku menunduk. Tidak berani menatapnya.

Hening sejenak. Hanya suara jangkrik dari luar jendela kecil perpustakaan.

Lalu Segara berkata dengan suara yang sangat pelan, hampir seperti bisikan, "Apa yang kau sembunyikan di balik jubahmu itu, Kahiyang?"

Jantungku berhenti berdetak.

Buku putih itu. Dia melihatnya?

Aku memeluk jubahku lebih erat.

"Tidak ada, Gusti Kaisar. Hanya... hanya buku drainase yang sudah saya salin," jawabku, suaraku gemetar.

Segara tidak memaksa. Dia hanya menatapku lama, lalu mengangguk.

"Baiklah. Kalau kau bilang tidak ada, maka tidak ada. Aku percaya padamu," katanya.

Kata-kata itu... aku percaya padamu... membuat dadaku sesak. Setelah semua kebohonganku tentang keluarga Adiningrat, tentang obat warisan, dia masih bilang percaya padaku.

Dia berdiri dan berjalan menuju pintu.

"Ayo pulang. Di sini dingin dan berdebu. Kau bisa sakit. Dan jika kau sakit, siapa yang akan membuatkan teh mawar untukku besok pagi?" katanya dengan nada santai, tapi ngena sekali.

Aku mengangguk dan berjalan mengikutinya dari belakang, masih memeluk buku putih itu erat-erat di dalam jubahku.

Kami berjalan berdua di koridor istana yang sepi, hanya diterangi lentera besarnya. Tidak ada pengawal. Hanya aku dan dia.

Di tengah jalan, Segara tiba-tiba berhenti dan menoleh padaku.

"Kahiyang," panggilnya.

"Ya, Gusti Kaisar?"

"Buku apa pun yang kau ambil dari perpustakaan itu malam ini... jika buku itu membuatmu takut, jangan dibaca sendirian. Baca bersama aku. Mengerti?" katanya.

Aku membelalakkan mata. Jadi dia tahu aku mengambil buku?

Aku hanya bisa mengangguk dengan air mata yang hampir menetes.

Sesampainya di Paviliun Mawar, Segara tidak langsung pergi ke kamarnya. Dia mengantarku sampai ke depan pintu paviliun ku.

"Selamat malam, Permaisuri Mawar ku," bisiknya pelan, lalu berbalik dan berjalan menuju kamarnya yang hanya terpisah satu koridor.

Aku masuk ke dalam paviliun dengan napas terengah. Mbok masih tertidur pulas.

Aku mengunci pintu dan mengeluarkan buku putih itu dari balik jubahku dengan tangan gemetar.

Di bawah cahaya lentera kecilku, buku itu terbuka sendiri ke halaman berikutnya. Halaman yang tadinya kosong, kini terisi tulisan baru yang muncul dengan sendirinya.

Tulisan itu bukan tulisan Rania lagi. Tulisan itu adalah tulisanku sendiri. Tulisan tanganku yang jelek seperti cakar ayam.

Hari ke-21: Malam ini Segara memergokiku di Perpustakaan Terlarang. Tapi dia tidak marah. Dia bilang dia percaya padaku. Untuk pertama kalinya, aku merasa bersalah karena berbohong padanya tentang siapa aku sebenarnya.

Aku membeku. Tulisan itu adalah tentang apa yang baru saja terjadi malam ini. Buku ini menuliskan masa laluku yang baru saja terjadi, beberapa menit yang lalu.

Halaman berikutnya muncul lagi.

Hari ke-22: Besok Ibu Suri akan memanggilku ke Paviliun Melati untuk minum teh. Teh itu beracun. Jangan minum.

Aku menutup mulutku dengan kedua tangan agar tidak menjerit.

Besok Ibu Suri akan meracuniku?

Buku ini... buku ini bukan hanya surat dari abad 21. Buku ini adalah buku yang menuliskan masa depan.

Dan masa depanku besok, adalah teh beracun dari Ibu Suri.

Di luar jendela, bulan separuh masih menggantung. Angin malam bertiup dingin.

Tapi di dalam Paviliun Mawar ku, aku memeluk buku putih itu erat-erat, dengan jantung berdebar kencang. Bukan karena takut. Tapi karena untuk pertama kalinya sejak terdampar di sini, aku merasa ada seseorang dari abad 21 yang benar-benar mengerti aku.

Rania. Kakak dari masa depan yang meninggalkan pesan untukku.

Dan aku tahu, besok, aku harus menghadapi Ibu Suri. Dengan buku masa depan ini di tanganku.

Bersambung...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!