Rania menatap tubuh Rina yang terlihat begitu kurus kering seolah tidak memiliki daging, padahal bisa dibilang bahwa Rina memiliki porsi makan yang begitu banyak ketika sedang mengisi perut, namun entah ke mana semua makanan yang sudah masuk sehingga dia terlihat begitu kurus dan pucat.
"Kok Mbak punya air susu?" Rania bertanya dengan nada heran.
Namun pertanyaan itu tidak pernah Rina jawab, tentu saja membuat Rania semakin bingung sehingga dia memutuskan untuk mencari tahu Dan setelah sedikit demi sedikit mengetahui maka Rania yang menjadi sangat syok, terlebih lagi dia juga menyadari bahwa Rina sama sekali tidak memiliki bayi namun dia terus memiliki air susu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon novita jungkook, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 08. Kematian Rina
Rania mondar-mandir dengan perasaan tidak sabar karena dia sudah menunggu hampir sejam namun Rina tak kunjung keluar dari dalam kamar itu, mereka berencana hari ini ingin jalan-jalan agar Rina bisa sedikit mendapat hiburan dan tidak terlalu memikirkan apa yang ada di dalam rumah sehingga nanti dia biar tidak terlalu stres.
Namun ketika Rania sudah siap sejak tadi tapi ternyata Rina tak kunjung keluar dari kamar itu sehingga membuat Rania menjadi tidak sabar juga, menunggu seperti ini tentu saja membuat Rania begitu muat dan dia sudah tidak sabar ingin segera menggedor pintu kamar itu untuk melihat apakah Rina memang sudah selesai atau belum.
''Kak buruan, udh selesai apa belum sih?'' Rania menggedor pintu kamar itu.
''Lama banget Aku nunggu dari tadi di luar tapi tak kunjung keluar, lagi make up apa sih dari tadi kok belum juga selesai.'' Rania terus saja menggerutu kepada sang kakak.
Tidak ada jawaban sama sekali dari dalam kamar itu sehingga membuat Rania menjadi bingung kenapa kamar tersebut menjadi begitu sunyi sekali, seolah tidak ada penghuni di dalam tanah sehingga membuat dia penasaran dan ingin mendobrak apakah mungkin Rina sedang pingsan di dalam kamar itu karena dia juga menyadari bahwa keadaan Rina terlihat tidak sedang sehat.
Tubuh yang begitu kurus sehingga terlihat membutuhkan banyak vitamin serta kesehatan Rina yang memang terlihat sangat menurun sekali, bahkan itu bukan hanya kurus tapi sudah tinggal tulang belulang sehingga mata yang memandang terlihat begitu iba sekali ketika sedang melihat Rina, meski dia orang kaya namun tidak memancarkan kekayaan di dalam tubuh ini.
''Kak, kamu ndak apa apa kan?'' Rania kembali berteriak karena tidak ada jawaban dari dalam kamar itu.
''Oh tidak bisa ini kalau aku diam saja menunggu, pasti ada sesuatu yang tidak beres di dalam kamar.'' gumam Rania sambil mencari alat untuk membuka kamar tersebut.
Klaaaak.
Klaaaaak.
Klaaaak.
''Hahhh kena kan, susah pula membuka kamar ini ternyata.'' Rania menarik nafas lega karena berhasil membuka pintu tersebut.
Namun apa yang ada di dalam kamar itu membuat Rania menahan nafas, sebab saat ini Rina terbaring begitu saja di atas tempat tidur dengan keadaan pucat pasti dan mata mendelik seperti melihat sesuatu yang sangat menakutkan sekali, Rania berlari menghampiri dan ternyata Rina memang sudah tidak bernafas lagi.
''Kak! kamu kenapa seperti ini?" Rania menjerit kencang dan memeluk erat kepala Rina.
"A.. apa ini?" Rania tertegun karena tangan dia menyentuh sesuatu yang sangat hangat dari balik punggung Rina.
''Darah?!'' seketika mata Gadis itu membulat karena dia tidak menyangka bahwa darah sangat banyak.
Dia masih kebingungan karena dari mana darah itu berasal, Sebab di tubuh Rina sama sekali tidak ada luka sehingga tidak mungkin bila dia mengeluarkan darah sampai sebanyak itu, dan yang paling penting lagi Rina tidak ada memuntahkan sesuatu dari mulut, Jadi wajar saja bila Rania merasa kebingungan dengan asal muasal darah yang keluar itu.
''Ini darah dari mana?'' Rania sangat bingung dengan kejadian ini.
''Tidak mungkin!'' mata Rania menatap lurus pada kedua payudara milik Rina.
Tes.
Tes.
Bahkan darah itu juga sudah merembes sampai membasahi lantai, tangan Rania bergetar hebat ketika dia akan menyentuh kedua payudara milik Rina untuk memastikan terlebih dahulu Apakah memang itu berasal dari sana. ketika telah tersentuh maka hati Rania berdesir kencang, meski Rina sudah menikah namun setidaknya dia masih memiliki payudara yang terasa kenyal ketika disentuh oleh tangan namun ini sangat jauh berbeda sehingga membuat Rania merasa kebingungan.
''Ada apa ini?'' Ilham baru saja pulang dan dia kaget melihat keadaan sang istri dalam pelukan adik ipar dia.
''Mas tolong, tolongin Kak Rina sekarang.'' Rania Sudah menangis.
''Rin? Kamu kenapa bisa seperti ini!'' Ilham juga panik dan dia segera mengecek keadaan sang istri.
''Payudara Kak Rina mengeluarkan darah dan kemungkinan ada sesuatu penyakit yang sedang dia idap.'' Rania menjelaskan sambil menangis.
''A.. apa kamu bilang?'' Ilham saja merasa kaget dengan ucapan Rania barusan.
''Coba Mas Ilham periksa saja sekarang untuk lebih lanjut karena ini sejak tadi terus saja meneteskan darah.'' Rania menunjuk darah yang ada di atas lantai itu.
Maka dengan tangan bergetar Ilham membuka kaos yang sedang dipakai oleh sang istri agar dia bisa melihat kedua payudara milik Rina saat ini juga, ketika semua sudah terbuka maka mereka berdua menahan nafas karena tidak menyangka kalau keadaan Rina sudah sangat parah seperti itu dan mereka tidak pernah menyadarinya.
Rania sampai terduduk lemas karena dia tidak menyangka bahwa kakak tercinta sudah mengalami nasibnya sangat buruk seperti sekarang, tidak ada pikiran negatif karena selama ini memang banyak orang yang meninggal karena penyakit kanker payudara itu, jadi Rania juga berpikir tubuh Rina yang kurus kering karena mengidap penyakit mematikan.
''Kakaaaaaaak!'' Rania memeluk erat kaki Rina yang terjuntai di ranjang itu.
''Separah ini, jadi dia tidak pernah berdusta tentang rasa sakit yang sedang dia alami.'' Ilham membatin di dalam hati dia sendiri.
''Kenapa tidak pernah bercerita kepadaku tentang penyakit ini? Kenapa Kakak diam saja seperti itu!'' Rania sangat menyesali karena dia tidak bisa membantu.
''Ran, minta bantuan kepada para warga sekitar dan beri kabar pada mereka bahwa Rina sudah meninggal.'' Ilham menyuruh Rania untuk bergerak.
''Iya.... ya allah Kakak.'' Rania bangkit berdiri dan dia masih sambil menangis.
''Rin, Maafkan aku yang membuat kamu menjadi seperti ini.'' Ilham sedikit menyesali perbuatan dia kepada sang istri.
Dia saja merasa ngeri ketika melihat kedua payudara yang sebenarnya membusung montok itu namun sekarang justru membusuk dengan keadaan bolong, seluruh daging yang ada di sana terlihat berwarna biru kehitaman serta beberapa ada ulat juga yang menggerogoti sehingga membuat mata yang memandang akan terasa sangat menyeramkan sekali.
''Aku tak pernah mau kamu meninggal dengan cara seperti ini, tapi bila aku tidak mengambil tuyul itu maka kita terus saja hidup dalam kesengsaraan.'' Ilham mencium tangan sang istri.
''Maafkan aku juga yang malah menduakan dirimu karena tidak bisa untuk bersama dengan kamu.'' Sesal Ilham semakin dalam saja di dalam hati ini.
Sebab beberapa bulan terakhir dia memang tidak pernah menyentuh sang istri, karena Rina yang terus saja merini setiap malam menahan rasa sakit ketika tuyul itu datang untuk menyusui, belum lagi Ilham juga mencium aroma tubuh sang istri yang sangat amis sehingga membuat dia tidak bernafsu sama sekali.
Selamat siang, jangan lupa like dan komentar kalian semua bercerita autor Novita Jungkook ya.