NovelToon NovelToon
DUA WAJAH SATU HATI

DUA WAJAH SATU HATI

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Sistem / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:719
Nilai: 5
Nama Author: Kenzy Elbarra

Siang hari, aku cuma Maxy — pegawai biasa yang diam-diam mencintaimu.
Malam tiba, aku berubah jadi Roxy — sosok percaya diri yang berani berdiri di hadapanmu.

Kamu tersenyum pada Roxy, tapi tak pernah tahu kalau dia itu aku.
Sampai kapan aku harus menyembunyikan siapa diriku?
Dan nanti… saat kamu akhirnya memilih, siapa yang akan kamu pilih?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kenzy Elbarra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1

Jam tepat menunjukkan pukul lima sore. Sinar matahari mulai meredup menembus jendela kaca lantai tiga gedung perkantoran, jatuh tepat di atas meja kerja Maxy. Ia menghela napas panjang, menyandarkan punggung ke kursi. Matanya terlihat lelah — sisa begadang tiga hari menyelesaikan laporan yang seharusnya dikerjakan tim lain. Kemeja putih yang ia pakai kusut di sana-sini, ada noda kopi kering di saku kiri. Di parkiran, mobil tua yang sering mogok sudah menunggunya.

"Maxy, kok belum pulang?"

Ia menoleh. seorang perempuan berdiri di sana, membetulkan tali tas sambil menatapnya dengan senyum tipis yang selalu membuat jantungnya berdetak lebih cepat.

Namanya Shella.

Dua tahun, sudah dua tahun Ia mencintainya, tapi baginya Maxy hanyalah rekan kerja yang rajin, biasa, dan tidak menonjol.

"Masih beresin berkas," jawabnya pelan, menunduk berpura-pura merapikan tumpukan kertas agar tidak menatap matanya terlalu lama.

"Tiap hari pulang paling akhir,"

"Kerjaan nggak akan baik kalau dipaksa, besok kan masih bisa lanjut." kata Shella lembut melangkah mendekat.

"Kalau aku nggak kerjain, siapa lagi?" Maxy tersenyum tipis.

"Nggak ada yang mau ambil bagian yang 'kurang penting' kayak gini." Lanjutnya.

"Kamu terlalu baik, Maxy. Kenapa nggak pernah minta bagian lebih ringan? Kamu udah di sini dari awal perusahaan berdiri."

"Aku cukup di sini. Biasa aja sudah cukup buat aku."

"Kamu selalu bilang gitu." Shella menatapnya sejenak, lalu menghela napas pelan. "Ya sudah, aku duluan ya. cepat pulang, jangan maksain diri."

"Iya, hati-hati dijalan."

Aku memperhatikannya pergi sampai hilang di pintu. Jauh di lubuk hatiku, Aku menginginkan jauh lebih dari sekadar "cukup". Aku ingin menjadi orang yang bisa Shella banggakan. Tapi kenyataannya, Aku hanyalah pegawai administrasi bergaji pas-pasan.

Aku merapikan barang, berjalan menuju parkiran, dan menyalakan mobil tuaku yang berasap sedikit saat mesin menyala.

Aku tidak langsung ke rumah mewahku — kalau ada rekan kerja yang melihat, bisa timbul pertanyaan yang tidak siap Aku jawab.

"Vrooom" Aku menyetir memutar dulu, memastikan tidak ada yang mengikuti, lalu menuju kawasan perumahan elit kota itu.

Pukul enam kurang sepuluh menit, Aku memarkir mobil tua itu di garasi samping rumah mewah yang Aku beli setahun lalu — pakai uang sistem, saat Aku berwujud Roxy.

Rumah itu nyata. Perabotnya nyata. Semua yang ada di dalamnya milikku. Tapi saat jadi Maxy, ia menyembunyikan keberadaannya.

Lebih aman begini. Mungkin...

Tepat saat jarum jam menunjuk angka enam sore, sebuah getaran halus terasa di kepalaku. Di udara di depannya, muncul tulisan bercahaya yang melayang seperti hologram tipis.

DING!

Pergantian fase. Mode malam dimulai.

Saldo dana sistem tersedia untuk penggunaan selama fase malam.

Maxy memejamkan mata sejenak. Saat dibuka kembali, pantulan di cermin lemari menunjukkan perubahan. Wajah yang tadinya terlihat lelah dan biasa, kini tampak tajam dan tegas. Garis rahang lebih jelas, tatapan mata lebih dalam dan memancarkan kepercayaan diri yang tidak pernah ia miliki sebelumnya. Postur tubuhnya terasa lebih tegak, lebih mantap.

Ia bukan lagi Maxy si pegawai administrasi yang lelah. Ia adalah Roxy.

Sistem tidak mengubah benda-benda di sekitarnya. Rumah ini tetap sama, mobil di garasi tetap sama. Yang berubah hanya dirinya — penampilannya, auranya, dan aksesnya ke dana sistem yang hanya bisa dipakai selama fase malam ini berlangsung.

Aku membuka lemari khusus. Di sana tergantung pakaian-pakaian yang ku beli sendiri, pakai uang sistem, saat berwujud Roxy. Aku memilih kemeja hitam elegan yang pas di badan, sepatu kulit yang mengkilap. Lalu berjalan ke garasi utama, di mana sedan hitam mewah yang Aku beli dengan cara yang sama sudah menunggunya.

Aku masuk ke mobil, menyalakan mesin. "Bruumm" Suara halus dan bertenaga terdengar. Tujuannya restoran kecil di pusat kota — tempat Shella sering mampir makan malam sendirian.

"Kali ini Aku tidak akan bersembunyi di balik meja pojok. Kali ini Aku akan mendekat." gumamnya semangat.

Sesampainya di sana, mobil Shella sudah terparkir di sudut halaman. Jantungnya berdebar — bukan takut ketahuan, tapi karena harapan yang selalu tumbuh setiap kali mereka bertemu dalam wujud ini.

Aku melangkah masuk. Pemandu menyambut dengan senyum hormat, lalu mengantar ke meja yang tidak jauh dari tempat Shella duduk. Aku sengaja tidak langsung mendekat, memperhatikannya sejenak. Shella sedang menatap daftar menu dengan alis terkerut, seperti sedang memikirkan sesuatu yang berat.

"Hufft" Roxy mengambil napas dalam, lalu melangkah mendekat.

"Maaf mengganggu," ucapnya. Suaranya terdengar dalam, tenang, dan terkontrol — sangat berbeda dari nada bicara Maxy yang pelan dan tertahan. "Meja di bagian lain penuh. Bolehkah Aku duduk di sini?"

Shella mendongak, dan mata mereka bertemu. Ia tertegun sejenak, menatap wajah Roxy dengan tatapan bingung yang bercampur kekaguman yang tidak bisa ia sembunyikan.

"Tentu," jawabnya pelan, lalu menggeser tasnya ke sisi lain meja. "Silakan."

Roxy duduk di hadapannya. "Terima kasih. Aku Roxy."

"Shella." Wanita itu tersenyum balik, dan kali ini senyumnya terlihat lebih tulus, lebih terbuka dibandingkan saat berbicara dengan Maxy tadi. "Kamu juga makan sendirian?"

"Kebetulan saja," jawab Roxy.

"kamu sering makan di sini?"

"Lumayan sering. Masakannya enak, dan suasananya tenang." Shella menatapnya sejenak, lalu bertanya, "Kamu tinggal di sekitar sini?"

"Bekerja di sekitar sini," koreksinya lembut. "Tapi hari ini saya sengaja mampir ke sini. Kalau boleh tahu, apa yang membuatmu terlihat sedang memikirkan sesuatu yang berat?"

Shella tersenyum kecut. "Itu kelihatan ya?"

"Kamu menahan napas sedikit lebih lama saat menatap menu," ucap Roxy pelan.

"Dan alis kananmu sedikit terangkat. Biasanya itu tanda kamu sedang menimbang keputusan yang sulit."

Shella menatapnya lebih dalam. "Kamu memperhatikan Aku?"

"Aku memperhatikan orang yang terlihat sedang butuh seseorang untuk mendengarkan."

Ia menunduk menatap ujung jari-jarinya. "Ada masalah di kantor. Aku harus memutuskan sesuatu yang akan memengaruhi banyak orang. Dan Aku takut salah ambil keputusan."

"Keputusan yang sulit itu biasanya yang penting. Kamu takut salah karena kamu peduli. Itu bukan kelemahan, Shella. Itu tandanya kamu ingin bertanggung jawab."

Ia mendongak, ada kelegaan bercampur rasa percaya yang mulai tumbuh. "Kamu tahu, kadang Aku merasa sendirian. Banyak yang minta keputusan, tapi tidak banyak yang mengerti kenapa Aku butuh waktu untuk memutuskannya."

"Kamu tidak harus selalu memikirkannya sendirian. Keputusan berat terasa lebih ringan kalau dibicarakan dulu."

"Terima kasih, Roxy. Aneh rasanya, baru pertama kali kita bertemu, tapi Aku merasa nyaman bicara denganmu."

"Karena kamu tidak perlu berpura-pura di depan orang yang baru kamu kenal. Kamu bisa jadi dirimu sendiri."

Mereka mengobrol cukup lama — tentang pekerjaan, mimpi, hal-hal kecil yang sering terlewat karena terlalu sibuk. Semakin lama bicara, semakin Roxy sadar satu hal yang menyesakkan: Shella nyaman bersamanya sebagai Roxy — sosok yang tampil sempurna, punya jawaban, terlihat mapan. Tapi bagaimana dengan Maxy? Pria yang setiap hari duduk di sebelahnya, yang hidup dari gaji pas-pasan, yang harus berpura-pura tidak punya apa-apa?

Jam menunjukkan pukul sepuluh malam. Masih lama sampai fase malam berakhir jam enam pagi. Tapi ia memilih untuk pamit. Semakin lama bersama Shella sebagai Roxy, semakin berat rasanya saat harus kembali menjadi Maxy.

"Sudah cukup larut," katanya pelan. "Aku harus pulang."

Shella mengangguk, sedikit kecewa tapi tetap tersenyum. "Aku juga. Terima kasih sudah menemaniku makan, Roxy."

"Terima kasih sudah membiarkan Aku menemanimu."

Mereka berjalan keluar bersama. Udara malam terasa sejuk di kulit. Lampu-lampu kota menyala di kejauhan.

"Sampai jumpa lagi, Roxy."

"Iya."

Shella tersenyum sekali lagi, lalu masuk ke mobil dan melaju pergi. Roxy berdiri sendirian di parkiran menatap mobilnya yang menjauh hingga hilang di tikungan. Dadanya penuh sekaligus kosong. Shella jatuh hati pada sosok yang ia tampilkan. Bukan pada kehidupan ganda yang ia jalani.

Ia masuk ke mobil mewahnya, menyetir pulang. Di perjalanan, sebelum ia sempat menyalakan radio, hologram bercahaya muncul lagi di depannya, melayang di udara di balik kaca depan.

DING!

Keterikatan emosional terdeteksi.

Saldo dana sistem hanya tersedia saat fase malam.

Penggunaan aset sistem di fase siang diizinkan, namun pengeluaran tetap harus ditutup dari gaji/dana pribadi.

Hubungan ganda berisiko. Pengungkapan identitas dianjurkan pada waktu yang tepat.

Roxy menghela napas panjang, tidak berkata apa-apa. Sistem hanya mengingatkan, tidak memaksa. Aku tahu ini tidak bisa berlangsung selamanya, tapi juga tahu Aku belum siap.

Besok pagi jam enam, Aku akan kembali menjadi Maxy. Rumah dan mobil tidak akan hilang, tapi Aku harus kembali menyembunyikan siapa diriku.

Aku melanjutkan menyetir, membiarkan tulisan itu perlahan memudar dan hilang sendiri. Masih lama sampai ke rumah, dan pikiranku jauh lebih panjang dari perjalanannya.

Satu hal sudah pasti: malam ini Shella memintanya bertemu lagi. Dan entah sebagai siapa nanti, Aku harus menemukan waktu yang tepat. Dua wajah ini tidak bisa dijalankan selamanya..

 

1
Lylik Kurniawan
iya.. platform nya memang aneh.. masa beranda isinya cm top tier wkwkwk🤣🤣🤣🤣
Kenzy Elbarra
ceritanya bagus..tapi sayang gk dimunculin diberanda sama platform /Puke//Puke//Puke//Puke/
Lylik Kurniawan
😍😍😍😍😍😍😍
Lylik Kurniawan
Bagus. beneran fresh.. aku ksih bintang 5
Lylik Kurniawan
bagus dan beda. like this!!!😍😍😍
Kenzy Elbarra
hehehe 😍😍😍
Salwina Riyani
mewek gw ... 🤣🤣🤣🤣🤣
Salwina Riyani
😍🤭😍🤭🤭😍🤭😍😍
Salwina Riyani
wadidawwww... 😍
Salwina Riyani
heran.. pdhl ini novel bagus.. knpa msh sepi ya
Salwina Riyani
nusuukkkm
Salwina Riyani
seruuuuu.....!!! bener bener beda dari yang lain.. byee bye CEO... bosen gw ma alur CEO wkwkwk
Salwina Riyani
seruuuu.... 😍😍😍😍😍😍
Ma Xy
gasssss terussss kak...
Ma Xy
lanjutkan kaka.. saya suka🙏😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!