NovelToon NovelToon
SISTEM IQ TAK TERBATAS

SISTEM IQ TAK TERBATAS

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Mengubah Takdir / Anak Genius
Popularitas:12.1k
Nilai: 5
Nama Author: Nissa Safira

Tommy Nugroho adalah siswa kelas 2 SMA yang harus tinggal kelas dan selalu menjadi bahan tertawaan karena nilai-nilainya yang hancur berantakan.

Kehidupannya yang menyedihkan dan penuh ejekan berubah drastis pada suatu malam ketika sebuah layar biru misterius muncul di kamarnya dan memberinya Sistem IQ Tak Terbatas.

Alih-alih memamerkan kejeniusan barunya yang kini mampu memecahkan masalah tersulit dalam hitungan detik, Tommy memilih untuk tetap berpura-pura menjadi murid bodoh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nissa Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5

Tap! Tap! Tap!

Suara langkah kaki Tommy terdengar berat menyusuri lorong sekolah yang sepi.

Ia berjalan mengekor tepat di belakang punggung lebar Pak Darmawan.

Jantung remaja itu berdetak sangat kencang hingga rasanya hampir melompat keluar dari dadanya.

Keringat dingin mulai membasahi telapak tangannya yang sedari tadi mengepal kuat.

"Masuk," perintah Pak Darmawan singkat saat mereka tiba di depan pintu ruang guru.

Ceklek.

Suara gagang pintu yang diputar terdengar seperti vonis hukuman mati di telinga Tommy.

Ruang guru kebetulan sedang kosong melompong karena hampir semua guru sedang mengajar di kelas masing-masing.

Hanya suara putaran kipas angin tua di langit-langit yang mengisi keheningan ruangan tersebut.

Pak Darmawan berjalan menuju meja kerjanya yang penuh dengan tumpukan kertas tugas.

Guru matematika itu duduk di kursi putarnya dan menatap Tommy dengan pandangan yang sangat dingin.

"Duduk," ucap Pak Darmawan sambil menunjuk sebuah kursi kayu di depan mejanya.

Tommy menarik napas panjang untuk menenangkan diri sebelum mendaratkan tubuhnya di kursi itu.

Ia menundukkan kepalanya, tidak berani menatap mata tajam pria paruh baya di hadapannya.

Srak.

Suara kertas ditarik dari dalam laci meja memecah keheningan yang mencekam.

Pak Darmawan meletakkan sebuah amplop putih resmi dengan kop surat sekolah tepat di depan Tommy.

"Kamu tahu apa isi surat ini, Tommy?" tanya guru itu dengan nada datar tanpa emosi.

Tommy menatap amplop putih itu dengan tangan sedikit gemetar.

"Tidak, Pak," jawab Tommy pelan.

"Ini adalah Surat Peringatan Ketiga, sekaligus surat rekomendasi pengembalian siswa kepada orang tua."

Deg!

Dunia Tommy seakan berhenti berputar mendengar kalimat yang baru saja diucapkan gurunya.

Pengembalian siswa kepada orang tua adalah bahasa halus dari pemecatan atau dikeluarkan dari sekolah.

"Bapak sudah membicarakan hal ini dengan kepala sekolah dan guru bimbingan konseling." Pak Darmawan melipat kedua tangannya di atas meja.

"Melihat rekam jejak nilaimu yang tidak pernah membaik, kami merasa sekolah ini sudah tidak bisa lagi membantumu."

Tommy menggigit bibir bawahnya kuat-kuat untuk menahan air mata yang mulai menggenang.

"Tolong, Pak," ucap Tommy dengan suara bergetar. "Beri saya satu kesempatan lagi."

"Kesempatan?" Pak Darmawan mendengus sinis.

"Kamu sudah pernah tidak naik kelas satu kali, Tommy, dan itu adalah kesempatan keduamu."

Pria itu menunjuk ke arah tumpukan kertas ulangan di sudut mejanya.

"Bapak sudah mengajar selama dua puluh tahun, dan bapak tahu mana siswa yang lambat belajar dan mana yang memang sudah tidak punya harapan."

Perkataan tajam itu menusuk tepat di ulu hati Tommy.

"Bawa pulang surat itu," perintah Pak Darmawan tanpa belas kasihan.

"Minta ibumu menandatanganinya, dan besok kamu tidak perlu lagi datang ke sekolah ini."

Tommy menatap amplop putih di atas meja itu dengan perasaan hancur yang luar biasa.

Bayangan wajah ibunya yang lelah sehabis menjahit semalaman penuh langsung berkelebat di benaknya.

Ibunya selalu tersenyum setiap kali menyisihkan uang receh demi receh untuk membayar uang gedung sekolahnya.

Ibunya selalu membanggakan dirinya di depan para tetangga meski ia tahu anaknya bodoh.

Jika ia pulang membawa surat pemecatan ini, ibunya pasti akan sangat hancur dan kecewa.

"Tidak," gumam Tommy pelan namun terdengar tegas.

Pak Darmawan mengerutkan keningnya mendengar penolakan tersebut.

"Apa kamu bilang?" tanya guru itu dengan nada sedikit tinggi.

Tommy perlahan mengangkat kepalanya, dan untuk pertama kalinya hari ini ia menatap langsung ke mata Pak Darmawan.

Mata sayu yang biasanya penuh ketakutan itu kini memancarkan tekad yang belum pernah terlihat sebelumnya.

"Saya tidak akan membawa surat ini pulang, Pak," ucap Tommy dengan suara yang jauh lebih stabil.

Pak Darmawan tertawa hambar mendengar jawaban muridnya itu.

"Ini bukan tawaran, Tommy, ini adalah keputusan final dari pihak sekolah."

"Keputusan itu didasarkan pada nilai saya yang hancur, bukan?" balas Tommy cepat.

"Lalu bagaimana jika saya bisa membuktikan bahwa nilai saya tidak akan hancur lagi?"

Pak Darmawan menatap Tommy dengan pandangan meremehkan dari atas sampai bawah.

"Omong kosong macam apa yang sedang kamu bicarakan ini?"

"Saya ingin membuat kesepakatan dengan Bapak," ucap Tommy tanpa ragu sedikit pun.

Guru matematika itu menyandarkan punggungnya ke kursi sambil menaikkan sebelah alisnya.

Ia merasa terhina karena seorang murid paling bodoh di sekolah berani menawar keputusan mutlaknya.

Tetapi di sisi lain, ia merasa sedikit penasaran dengan keberanian mendadak anak ini.

"Kesepakatan apa?" tanya Pak Darmawan dengan nada menantang.

"Berikan saya satu soal matematika." Tommy menunjuk laci meja gurunya.

"Soal tersulit yang Bapak miliki, soal yang bahkan tidak bisa dijawab oleh juara kelas sekalipun."

Pak Darmawan terdiam mendengar tantangan gila tersebut.

"Jika saya gagal menyelesaikannya dalam waktu lima belas menit, saya sendiri yang akan mengambil tas saya dan keluar dari sekolah ini hari ini juga tanpa perlu disuruh," lanjut Tommy dengan mantap.

"Tetapi jika saya berhasil menyelesaikannya..." Tommy menunjuk amplop putih di atas meja. "Bapak harus merobek surat itu sekarang juga di depan mata saya."

Keheningan seketika menyelimuti ruang guru yang sepi itu.

Pak Darmawan menatap tajam ke arah Tommy untuk mencari jejak keraguan atau kebohongan.

Tetapi ia tidak menemukan apa-apa selain sorot mata yang sangat tajam dan percaya diri.

"Kamu benar-benar sudah gila," desis Pak Darmawan tidak percaya.

"Kamu bahkan tidak bisa menjawab soal dasar anak SMP kemarin siang."

"Itu kemarin, Pak," potong Tommy dengan tenang. "Sekarang buktikan saja, apakah Bapak berani menerima tantangan dari murid bodoh ini atau tidak?"

Pak Darmawan merasa harga dirinya sebagai guru matematika paling ditakuti baru saja diinjak-injak.

"Baik," ucap Pak Darmawan dengan suara berat menahan marah.

Pria itu menarik selembar kertas kosong dari lacinya dengan kasar.

"Bapak akan memberikanmu soal ujian Olimpiade Sains Nasional tingkat provinsi tahun lalu."

Brak!

Pak Darmawan meletakkan kertas itu beserta sebuah pulpen di depan Tommy.

"Soal ini mengandalkan logika tingkat tinggi dan penguasaan kalkulus lanjutan." Guru itu tersenyum meremehkan. "Bahkan Bapak yakin kamu tidak akan mengerti apa maksud dari pertanyaannya."

Pak Darmawan mulai menuliskan sebuah persamaan matematika yang sangat panjang di atas kertas tersebut.

Deretan angka, huruf, dan simbol-simbol rumit memenuhi setengah halaman kertas dalam sekejap.

1
Adelina Lin
thor, buat Clarissa dan keluarganya juga prof. handoko dipermalukan diacara Olimpiade, dan titel juara Clarissa di cabut, karena dia memenangkan oliampide yang dulu pun tidak jujur.
Wega Luna
kadang lelucon konyol selain untuk menghibur bisa jadi pisau bermata dua,aku sering memakai lelucon konyol untuk membungkam orang tua wali murid yang gengsinya gede ,teman yang sok pamer atau sok pintar, atau orang yg ngerasa dirinya itu spesial,,,🤣🤣🤣🤣
Nissa Safira: WKWKWK KAKAK INI SENIORNYA TOMMY SIH😂🤣
Bener banget kak, saya setuju banget sih!
Lelucon konyol itu senjata paling ampuh buat ngadepin orang yang gengsinya selangit. Kalau kita ladenin serius, kita capek. Kalau kita bales pakai joke receh tapi logikanya nusuk, yang gengsi gede itu yang malah keliatan bodoh sendiri.
Tommy itu emang saya inspirasikan dari orang-orang kayak kakak ini kak, yang di luar keliatan cengengesan, tapi otaknya muter cepet buat ngebalikin analogi lawan😎🔥
total 1 replies
Wega Luna
secangkir kopi untuk Tommy👍👍👍
Wega Luna: gas ,,,,aku jadi penasaran🤣🤣🤣🤣🤣🤣
total 2 replies
Wega Luna
🤣🤣🤣🤣🤣🤣100 tom ,,,,👍
Night Watcher
ini outhor yg baik dan berfikiran maju, mau menerima kritik sekalipun pedas dgn lapang hati.
lanjut thor, tak sukreb deh outhor yg begini.
Nissa Safira: Waaaah makasih banyak kak 😭🙏
Seneng banget. Soalnya buat saya, pembaca yang mau komen pedes jujur itu berharga banget kak.
Kritik pedesnya kakak yang bikin novel ini bisa maju. Jadi jangan kapok komen pedes lagi ya kak!🥰🙏🙏
total 1 replies
Night Watcher
di bab² olympiade ini jujur sangat gak masuk akal, jd bikin bosen.
ini ajang olympiade, kenapa sempat terjadi perdebatan antara 2 peserta yg satu regu mewakili satu sekolah, tentang cara menjawab pertanyaan. ditambah setiap ahir jawapan ada kata "pak" dr tomi.
ini lebih cocok kalo di ajang diskusi di kelas.
Nissa Safira: Wah makasih banget kak udah jujur, ini masukan paling berharga buat saya 🙏
Bener kak, saya akui bab olimpiade ini memang agak maksa. Harusnya kan cerdas-cepat, Teng! Jawab! Teng! Jawab selesai, bukan malah debat satu regu di atas panggung 😅
Jujur niat saya pengen nunjukin kocaknya Tommy, tapi saya kebablasan naruh dramanya di tengah lomba, jadinya kesannya kayak diskusi kelas, bukan olimpiade kota. Maaf ya kak bikin bosen🙏🙏🙏
Makasih udah diingetin kak🤝🙏
total 1 replies
Night Watcher
mana ada diacara beginian peserta sempet bercakap² soal kecepatan ngitung...
Nissa Safira: HAHAHA bener banget kak 😅🙏
Iya kak kalau di olimpiade beneran mah, jangankan ngobrol, napas aja harus dihemat ya kak, waktunya mepet banget.
Itu aku sengaja lebay-in dikit kak biar dramanya dapet. Soalnya kalau aku tulis realnya:
Teng! Jawaban 8,55 jam. Benar.
Udah gitu doang, kan kempes kak gak ada greget keselnya si Leo 😂
Anggep aja itu adegan slow-motion ala film kak, di dunia nyata cuma 2 detik, tapi di novel aku lambatin biar pembaca bisa ngerasain Nadin yang otaknya udah mau meledak denger alesan ngawur Tommy.
Makasih koreksinya kak🤝🙏🙏
total 1 replies
Night Watcher
45 kyknya bukan ukuran kecil utk standar kaki org indo deh...
logis dikit kelesss..😇😇
Night Watcher
awas, ntar kepalanya melayang sendiri..🤭🤭🤭
Night Watcher
kok kakak kelas? kan sama² kls 12?
Night Watcher
tadi pas bell masuk, listrik padam. jd utk belnya mukul velg mobil yg digantung..🤭🤭🤭
Nissa Safira: WKWKWK IDE BAGUS KAK🤣🤣🤣
Kringgg! = bel listrik normal
Teng! Teng! Teng! = pas listrik padam, Pak Satpam mukul velg mobil yang digantung di pos satpam pake kunci inggris 😂
Makasih kak idenya! Mulai bab besok kalau ada tulisan Teng Teng Teng berarti di sekolah lagi mati lampu ya kak! Detailnya dapet banget!🤣🤣🤣
total 1 replies
Night Watcher
kadang "kringgg" kadang "teng tenggg"..🤭🤭
Nissa Safira: HAHAHA ketahuan deh 🤣 kamu udah jeli banget sih kak🤣🤣
Iya kak, itu aku yang typo pas nulis kebut-kebutan, kadang bel listrik tulisnya Kringgg! kadang bel manual tulisnya Teng Teng Teng! niatnya mau bedain bel kelas sama bel upacara, tapi malah jadi bikin bingung ya kak.
Makasih udah diingetin kak😅😅
total 1 replies
Night Watcher
duh... sayang banget, sistemnya masih manual.. gak matic ehh gak otomatis terpasang..🤭🤭
Nissa Safira: HAHAHA Iya kak, sengaja aku bikin sistemnya manual, gak matic🤣🤣
Kalau otomatis kepasang terus, Tommy jadi OP gak ada obat kak, 1 detik langsung dewa hacker. Gak seru dong, musuhnya belum sempet napas udah kalah😅
Jadi di novel ini sistemnya kayak alat tukang kak, dipasang kalau dibutuhin aja. Contohnya pas di warnet Berkah Net itu, dia aktifin Kriptografi Dasar dulu baru otaknya ngebut. Kalau dia lagi di kelas pura-pura bodoh, skillnya dia matiin biar akting begonya natural 100%.
Makanya Tommy harus mikir dulu "aku butuh skill apa nih buat lawan musuh ini?" bukan sistem yang mikirin buat dia. Biar kesannya dia yang ngendaliin sistem, bukan sistem yang ngendaliin dia💪🙏🙏
total 1 replies
Wega Luna
jujur otak aku emang GK ber-IQ 140 tapi pura pura bodoh itu keahlian ku🤣🤣🤣🤣🤣,jadi tahu mana yg bener bener baik atau gk🤣🤣🤣🤣lebih suka praktek langsung daripada teori, lanjutkan tom ,,,aku mendukungmu👍🤣🤣
Nissa Safira: HAHAHA kak ini komen paling jujur se-Indonesia! 🤣🤣🤣
Setuju banget kak, pura-pura bodoh itu skill dewa tau! Soalnya pas kita pura-pura bego, baru keliatan mana temen yang beneran baik kayak Nadin, mana yang toxic kayak Clarissa.
Tommy juga gitu kak, dia IQ 140 tapi sengaja jadi peringkat 31 biar bisa ngamatin semua. Orang pinter teori banyak, tapi yang jago praktek langsung di lapangan kayak kakak & Tommy itu yang paling bahaya 😎🙏🤣🤣
total 1 replies
Rifqy Channel
saya memohon kakak untuk bisa di publik Tommy itu supaya gak pura-pura bodoh lagi. biarkan untuk segera diungkapkan dan ikut serta Olimpiade dan juga ubah pura-pura nya. aku udah bosen kalo pura-pura terus. saya mau Tommy segera di ungkap aslinya😭🙏😭
Nissa Safira: Halo kak, terima kasih banyak udah baca sampai sejauh ini dan kasih masukan jujur! 🙏
Aku paham banget rasa bosennya kalau Tommy pura-pura terus. Justru itu yang mau aku bangun kak.
Kalau dia diungkap sekarang pas IQ 117, efeknya cuma "oh pinter". Tapi kalau dia diungkap nanti pas IQ 150+ di depan ribuan orang di Olimpiade kota, efeknya bakal "GILA MERINDING".
Aku lagi nabung rasa sakit hatinya biar nanti pas payback rasanya 10x lebih puas. Sabar sedikit lagi ya kak, panggung kota sudah dekat. Topengnya akan retak di sana🤣🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!