NovelToon NovelToon
Mendadak Menikah

Mendadak Menikah

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Diam-Diam Cinta / Mengubah Takdir
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Billa Hamkah

Reyhan Ilham, cowok 19 tahun yang sekarang sedang sibuk bekerja menjadi pramuniaga minimarket, suka nongkrong di bengkel teman karena hobi mekanik, sayangnya gak lanjut kuliah karena tidak ada uang.

Suatu hari pergi liburan ke Bandung ke rumah temannya, tapi saat datang dengan status bujang tapi saat pulang malah berstatus menikah. Kok, bisa? Rey saja tidak mengerti kenapa? Kehidupan dia saja sebelumnya sudah pas-pasan, eh ditambah sekarang harus memberi makan satu orang lagi, semakin kekurangan uang dia.

Bagaimana sih, rasanya menjadi Reyhan, tiba-tiba mempunyai seorang istri saat masih muda dan melarat? Apakah pernikahan dia akan langgeng atau berhenti di tengah ja

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Billa Hamkah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rumah

**

"Kamu saya pecat!"

Dion menghela nafas berat, lalu menunduk sekedar memberi hormat kemudian pergi ke ruangan karyawan untuk mengambil barang-barangnya, kemudian pergi dari tempat ini.

"Dia emang ceroboh, masa udah rusakin 3 mesin dalam 3 bulan kerja, bikin rugi perusahaan."

"Anaknya lemot."

"Iya, kalau dikasih tahu susah ngerti, terus sering salah lagi."

"Kerjanya juga lama, bikin kita gak capai target."

Dion hanya terus menunduk, berusaha terus berjalan melewati beberapa orang pekerja yang terus membicarakannya. Harusnya dia sudah terbiasa, bukan? Tapi kenapa rasanya masih selalu sakit.

Lagi-lagi, dia dipecat dari kesekian tempatnya bekerja. Apa memang dia setidak kompeten itu sampai berkali-kali dia sering melakukan kesalahan kemudian dipecat? Ini bukan mau dia, sebisa mungkin setiap bekerja dia selalu berhati-hati dan tidak membuat masalah. Tapi kalian percaya, jika di dunia ini ada orang yang terlahir ceroboh? Dia sudah berusaha mengurangi tapi tidak bisa menghilangkannya. 

Sekarang, dia harus bekerja dimana lagi? Uang kontrakan sudah menunggak dua bulan, hutang di warteg sudah banyak.

Drttt drtt drtt

Entah kenapa, Dion merasa malas untuk mengangkat telepon, dia seolah tahu siapa yang meneleponnya ini pasti akan semakin membuat pundaknya semakin berat oleh beban lagi.

"Halo, assalamualaikum."

"Waalaikumsalam salam Mas, ibu batuk darah lagi, mau dibawa ke puskemas sudah tidak ada uang, uang kiriman mas kemarin sudah habis aku bayarin sekolah sama ... bayarin hutang bapak ...."

Dion menghela napas berat. "Aku kirimin, tolong bawa dan jaga ibu, yah?"

"Iya Mas, sekarang yah, Mas!"

Dion mengangguk, buru-buru menggeleng saat sadar adeknya tidak akan melihat. "Iya, Ibu bisa diajak ngomong sekarang?"

"Gak bisa Mas, sesek katanya. Tolong kirim sekarang yah, Mas!"

"Ok, Mas tutup mau kirim uang dulu. Assalamualaikum."

"Waalaikumsalam Mas."

Dion kemudian mengecek sisa saldonya, kemudian mengirimkan semuanya hanya menyisakan untuk dia makan selama dua hari. Kedepannya bagaimana nanti saja, dia sudah pusing.

Dion memang perantau di sini, aslinya dia orang Jawa. Dulu, dia bisa bersekolah SMA di kota, dia dibiayai om dan tantenya dari pihak ibu sampai lulus. Setelah lulus, baru dia kos sendiri dan menanggung semuanya sendiri termasuk biaya hidup keluarganya.

"Akh ... sialan!"

Dia bukan berasal dari keluarga berada, malah bisa dibilang keluarga miskin. Bapaknya tukang mabuk dan judi, sehari-hari kerjanya tidur, makan, marah-marah sama ibu meminta uang untuk mabok dan berjudi. Sekarang, dia sedang di kantor polisi karena mencuri motor tetangga dan meninggalkan banyak hutang yang harus Dion bayar.

Ibunya bekerja di kebun orang, jika ada yang menyuruh. Terkadang, bekerja di sawah orang juga. Dulu, mereka masih  mempunyai kebun dan sawah sendiri walau tidak luas. Sekarang sudah habis terjual oleh bapak. Dion sampai sekarang tidak mengerti, apa alasannya masih bertahan sebagai suami yang seperti itu? Peran dia sebagai suami dan bapak tidak pernah ada, malah termasuk sudah menjadi beban  keluarga.

Dia masih mempunyai seorang adik perempuan yang masih kelas 1 SMA. Semenjak lulus, Dion sudah menjadi tulang punggung keluarga membiayai semuanya termasuk pengobatan ibu yang baru-baru ini ketahuan mempunyai penyakit TBC.

Dia lelah pasti, tapi mau bagaimana lagi, kalau dia menyerah, keluarganya bagaimana? Jadi, terpaksa dia harus bertahan apapun yang terjadi. Lalu, sekarang bagaimana? Dia sudah dipecat dari pekerjaan, secepatnya dia harus segera mencari kerja, apapun itu.

"Mau jadi batu aja, biar gak ada beban, paling diduduki pantat gede aja."

**

"Bus-nya mana lama amat, kesel!"

Reyhan hanya menghela napas, melirik sesaat malas menanggapi ocehan makhluk kasat mata di sampingnya soalnya ini sudah yang kesekian pertanyaan itu dilontarkan dan sudah kesekian kalinya Reyhan menjawabnya, jika dijawab paling nanti lima menit lagi akan bertanya lagi.

"Rey! Naik grab aja ayo!" Ayana menarik-narik ujung kemeja Reyhan.

"Mahal Ay, lumayan kan uangnya buat jajan di sana," jawab Reyhan berusaha sabar, aslinya dia mau mereog.

Ayana hanya kembali cemberut, memalingkan wajah ke arah lain, tidak mau melihat ke arah lelaki yang perhitungan soal ongkos mobil ke Bandung. Memang sih, uangnya lebih berhemat tapi ini sudah satu jam menunggu bus tapi belum datang juga.

"Sabar, orang sabar makin cantik." Reyhan mengusap lembut kepala Ayana, biasanya jika begini langsung luluh. Tapi kali ini, Ayana masih cemberut.

Reyhan beralih mengusap berulang pipi Ayana yang sudah merah kerena cuacanya yang panas. Dia tidak berhenti sampai Ayana luluh dan tidak marah-marah lagi.

"Rey, itu busnya, kan?" Ayana melonjak kesenangan saat melihat sebuah bus yang akan melaju ke arah mereka.

Reyhan mengangguk, ikut tersenyum. "Iya."

Kemudian mereka menyetop busnya . Sekarang, mereka telah duduk di kursi bus dengan perasaan sudah tenang.

Setelah pembicaraan waktu itu kurang lebih tiga minggu yang lalu, akhirnya hari ini mereka pergi ke Bandung untuk mengunjungi keluarga paman Ayana. Dari semalam, Ayana sudah terlihat gelisah dan Reyhan tahu alasannya apa. Wanita itu merindukan pamannya, suasana di sana, tapi disatu sisi dia takut bertemu orang jahat itu lagi. Reyhan hanya berusaha meyakinkan Ayana, bahwa sekarang dia tidak perlu takut, ada dia yang selalu bersamanya dan akan selalu menjaganya.

Waktu beberapa jam ditempuh mereka dengan banyak tertidur sampai mereka sampai di stasiun Bandung, kemudian naik angkot lagi untuk sampai ke desa tempat tinggal Ayana.

Langkah Ayana terhenti, saat tepat di depan pagar bambu rumah pamannya. Reyhan yang menggenggam tangannya, terus mengelus jari-jari Ayana berusaha menguatkan. Rumahnya masih terlihat sepi, hanya ada beberapa orang yang berlalu lalang. Mungkin karena sudah sore, sudah pada pulang. Alasan mereka datang karena menghadiri pernikahan sepupu Ayana lusa, anak perempuan pamannya.

"Neng Ayana!" teriak seorang Ibu yang melihat mereka. "Akhirnya datang juga. Masuk Neng, ayo atuh!"

Ayana melihat Reyhan, dibalas anggukan. Kemudian mereka melangkah masuk.

Mungkin karena teriakan satu ibu ini tadi, beberapa ibu-ibu lainnnya juga melihat mereka. Bahkan, keluarga paman juga keluar dari rumah termasuk dia, membuat langkah Ayana terhenti.

"Neng, kamu datang juga. Paman sudah menunggu dari kemarin." Paman menghambur memeluknya. "Betah banget di kota, sampai lupa pulang, yah?"

Ayana hanya tersenyum, balas membalas pelukan pamannya. "Maaf, aku sama A Reyhan kan kerja, ini aja nunggu libur baru bisa pulang sekalian ambil cuti."

Paman mengurai pelukan mereka, balik menepuk pundak Reyhan. "Selamat datang, terimakasih sudah menjaga Ayana. Ayo, kalian masuk, pasti capek."

"Nak, ayo pada masuk!" teriak Bibi yang sudah masuk duluan ke dalam diikuti kedua anaknya.

Mereka juga akhirnya masuk, kemudian duduk di sofa di ruang tamu. Bibi datang membawa minuman dan beberapa cemilan, kemudian ikut duduk bersama di sofa.

Ayana terus menggenggam erat tangan Reyhan, saat menyadari tatapan intens dari sepupu lelakinya. Reyhan menyadarinya juga, terus meyakinkan Ayana bahwa dia bersama Reyhan akan aman lewat genggamannya.

"Ayo diminum sama dimakan cemilannya," ujar bibi. "Bibi senang melihat kamu baik-baik saja."

Ayana menyelesaikan minuman dulu sebelum membalas bibi. "Alhamdulillah Bibi, aku senang dan baik-baik aja di sana karena ada A Reyhan yang jagain aku."

Reyhan tidak terkejut atas panggilan Ayana, karena mereka sudah membicarakan ini sebelum berangkat. Di kampung akan terdengar aneh, jika memanggil suami dengan sebutan nama langsung.

"Makasih yah Nak Reyhan, sudah jagain Ayana. Dari awal paman melepaskan Ayana, saya yakin tidak salah melepaskan Ayana sama kamu karena kamu itu pasti pria baik-baik."

Reyhan menelan makanannya dulu. "Itu sudah menjadi kewajiban saya menjaga Ayana karena saya suaminya."

"Kamu pulang naik angkutan umum?" tanya Ajeng sepupunya yang akan menikah, Ayana hanya mengangguk. "Aku loh mau menikah sama A Bagus anak dari orang terkaya di kampung ini, keluarga mereka punya mobil banyak."

Ayana hanya mengangguk. "Alhamdulillah, kalau begitu ikut senang aku."

Reyhan hanya memperhatikan interaksi mereka yang terlihat tidak sehat di mata Reyhan sambil terus mengunyah makanannya.

"Neng, katanya di kota kamu gak pernah ketemu Bayu? Sibuk, setiap diajak ketemu?" tanya Bibi membuat Ayana jadi terpaksa melihat ke sepupu lelakinya itu yang tengah menyeringai.

"Kita susah libur Bi, libur kerjanya jarang jadi mohon maaf kalau belum ada waktu saat itu untuk bertemu a Bayu," jawab Reyhan untuk menggantikan Ayana yang terdiam.

"Ya sudah, tidak apa-apa Bu, tidak udah dibahas. Mereka kan sibuk bekerja," jawab Paman.

"Iya tidak apa-apa Pak, tapi lain kali luangkan waktu untuk bertemu saudara saat sedang di perantauan supaya bisa saling menjaga."

"Iya Bi, maaf lain kali Ayana akan meluangkan waktu untuk menemui A Bayu saat nanti di kota."

"Iya, Aa mau main ke kosan kamu Neng untuk melihat apakah kamu baik-baik saja apa tidak setelah menikah," jawab Bayu dengan seringainya yang hanya dilihat oleh Ayana dan Reyhan.

Entah kenapa, Ayana tahu maksudnya dari perkataan sepupunya itu bukan untuk sebuah hal baik. Dia takut.

"Saya pastikan Ayana akan selalu baik-baik saja saat bersama saya," jawab Reyhan mengakhiri obrolan singkat sore itu di ruang tamu, karena setelah itu paman mempersilahkan mereka untung beristirahat di kamar.

Ayana langsung memeluk Reyhan saat mereka sudah sampai kamar dengan tubuh yang gemetar. Reyhan balik memeluk wanita itu sampai merasa tenang.

"Gak papa ada aku, kamu akan selalu aman."

Ayana hanya terisak dalam pelukan lelaki yang entah kenapa sudah menjadi tempat ternyamannya, tanpa sadar perlahan Reyhan sudah menjadi rumahnya.

Reyhan menggendong Ayana di depan, membawa gadis itu untuk duduk di pangkuannya, sedang dia duduk menyandar di kasur.

"Pegel Ay, sambil duduk aj," kata Reyhan sebelum Ayana bertanya. "Kamu sekarang udah aman kok, kan ada aku. Besok jangan jauh-jauh dari aku, ok?"

Ayana mengangguk dalam pelukannya. Benar kata Reyhan, sekarang dia sudah merasa aman, seakan jika ada hal buruk yang akan terjadi di depan sana dia sudah pasti akan baik-baik saja selama ada Reyhan. Sejak kapan yah, Reyhan menjadi orang yang sangat berarti untuknya?

"Rey," panggil Ayana setelah tangisnya sudah reda.

"Apa?"

"Jangan pergi, yah?"

Setelah mengatakan itu, Ayana merapatkan pelukannya. Dia malu, tentu saja.

Cup

Reyhan mencium kening Ayana. "Pergi kemana? Kan, rumahnya di sini."

Deg

"Kamu juga."

"Apa?"

"Rumah aku."

##

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!