Dianggap sampah tanpa bakat. Dikhianati oleh seniornya sendiri. Dan dipaksa menyaksikan kematian sang guru di depan mata.
Hiraisin hanyalah murid terbuang di Sekte Awan Putih yang dianggap tak punya masa depan karena meridian tubuhnya terluka. Namun, di tengah gempuran brutal pasukan Raja Kegelapan, darah Hiraisin menetes di atas hulu pedang patah berkarat—membangunkan rahasia purba yang lama tertidur.
Segel di tubuhnya hancur. Petir dari langit menyambar, membakar meridiannya dan membangkitkan legenda yang telah lama punah: Pedang Kilat.
Kini, dengan luka pengkhianatan di dada dan percikan listrik yang sanggup merobek malam, Hiraisin memulai perjalanan darah. Di hadapannya berdiri jutaan pengikut iblis, para jenderal mengerikan, dan Raja Kegelapan yang menguasai takhta dunia.
Satu tebasan telah lahir. Dan kegelapan tak akan pernah sama lagi.
"Saat dunia dikuasai bayang-bayang, kilat adalah satu-satunya keadilan."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Astrius, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menerjang Badai Hitam & Monster Laut Purba
Baru tiga jam kapal Bahari Purba membelah gelombang laut lepas, pemandangan dunia manusia di belakang mereka telah sirna sepenuhnya. Langit siang yang seharunya cerah berawan kini tertutup total oleh gumpalan awan hitam pekat beracun yang menggantung sangat rendah, membiaskan petir-petir liar berwarna keunguan tanpa henti.
Air laut di sekeliling kapal bukan lagi berwarna biru, melainkan hitam pekat bagaikan tinta yang memancarkan bau belerang menusuk hidung. Setiap kali percikan gelombang menghantam lambung kapal, cairan asam pekat itu memercik dan menimbulkan kepulan asap tebal bertoksin. Tanpa lapisan Sisik Naga Laut Kuno yang menyelimuti lambung Bahari Purba, kayu biasa pasti sudah meleleh menjadi bubur dalam hitungan menit.
BOOOM!
Sebuah gelombang raksasa setinggi tiga puluh meter mendadak bergulung dari arah depan, menghempas Bahari Purba hingga terangkat tinggi sebelum menghempaskannya kembali ke celah gelombang yang curam.
"Pegang pegangan kalian!" teriak Kapten Roderick memecah suara raungan badai. Lengan besinya menggenggam erat roda kemudi kayu, urat-urat di lehernya menegang saat ia bermanuver menembus ombak yang tak menentu. "Kita sudah memasuki zona terluar Lautan Hitam! Badai di sini dikendalikan oleh energi kegelapan yang sangat tidak alami!"
Liora berdiri di samping tiang utama, jemarinya memegang erat utas tali tambang seraya matanya memancarkan pendar perak. "Roderick benar, Hiraisin! Ada gangguan sihir yang amat pekat di dasar air. Seseorang—atau sesuatu—sedang sengaja memutar arus laut ini untuk mengarahkan kita ke jurang!"
Hiraisin berdiri tegap di anjungan terdepan kapal. Rerintihan angin badai yang mampu merobek pakaian pengelana biasa seolah membelok dengan sendirinya saat menyentuh aura Puncak Jiwa Pedang yang melingkupi fisiknya.
Matanya yang menyala ungu keemasan menembus kegelapan air laut yang hitam pekat. Di dasar samudera yang sangat dalam, ia merasakan sebuah kehendak buas yang amat raksasa sedang terbangun.
"Mereka sudah menyambut kedatangan kita," ucap Hiraisin datar namun suaranya terdengar jernih mengalahkan deburan ombak.
GLURRRRB!
Tiba-tiba, permukaan air laut di sekeliling Bahari Purba membual hebat bagaikan air dalam kuali mendidih. Puluhan lingkaran Runa Hitam muncul memancar dari dalam air, membentuk kubah sihir yang mengunci kapal Roderick di tengah pusaran air yang mengamuk.
Dari balik lingkaran-lingkaran sihir tersebut, melayang keluar belasan sosok berpakaian jubah hitam dengan topeng tulang ikan raksasa. Mereka adalah para penyihir dari Pasukan Pasang Hitam—sekte pemuja Abyss yang menguasai wilayah perairan.
"Hahaha! Pria tua Roderick dan dua tikus daratan!" raung pemimpin penyihir pasang hitam yang melayang di atas papan batu obsidian peluncur. "Kalian nekat memasuki wilayah kekuasaan Komandan Morvath! Berikan jiwa kalian untuk makanan penguasa samudera ini!"
Para penyihir itu secara serentak merentangkan tangan mereka, menancapkan belati tulang beracun ke dada mereka sendiri sebagai tumbal darah.
ROOOOOOOOOAAAR!
Suara raungan purba yang menggetarkan fondasi laut menggema mendalam dari bawah dasar air. Samudera hitam di depan Bahari Purba terbelah dua saat sebuah makhluk raksasa bernapas keabadian melompat keluar melintasi udara.
Panjangnya melampaui seratus meter—sebuah wujud mengerikan campuran antara ular naga laut dan belut purba. Tubuhnya dibungkus oleh kepingan zirah obsidian hitam yang ditumbuhi teritip beracun, sementara kepalanya memiliki enam mata merah menyala dengan ribuan taring tajam berisikan cairan asam mematikan.
Dialah monster laut purba tingkat tinggi: Leviathan Abyss!
"Demi para dewa..." bisik Kapten Roderick dengan wajah memucat. "Itu... itu monster yang membantai seluruh armadaku sepuluh tahun lalu!"
Monster raksasa itu mengibaskan ekornya yang tebal, menciptakan gelombang hantaman angin pekat yang menghantam lurus ke arah Bahari Purba.
KRRRRRRRAK!
Meskipun Sisik Naga Laut Kuno pada hull kapal tidak meleleh oleh asam, kekuatan dampak kinetik raksasa dari serangan Leviathan membuat rusuk-rusuk kayu bagian dalam kapal retak hebat. Air laut berwarna hitam mulai menyembur masuk melintasi celah geladak bawah.
"Kapal ini tidak akan tahan dua kali hantaman lagi!" jerit Roderick berusaha mempertahankan posisi kemudi.
"Aku akan menahan kebocoran lambungnya!" seru Liora. Gadis tabib itu melompat ke tengah geladak, mengibaskan kedua tangannya hingga puluhan jarum perak berpelindung energi menyembur keluar, menancap tepat di celah-celah kayu yang retak. "Teknik Jarum Pemurni: Formasi Pasak Perak!"
Pendar cahaya perak menyelimuti kerangka kayu kapal, mengikat kembali serat-serat kayu yang patah dan menahan laju air beracun secara sementara. Namun Liora menumpahkan banyak tenaga batin, dahinya dibasahi keringat dingin saat menahan tekanan gelombang.
Leviathan Abyss kembali meraung buas. Enam matanya memancarkan pendar merah haus darah seraya ia membuka rahang raksasanya lebar-lebar. Dari dalam kerongkongannya, gumpalan bola api asam berwarna ungu kehitaman berdiameter sepuluh meter memadat, siap disemburkan untuk menghancurkan Bahari Purba menjadi debu.
"Mati kalian semua!" jerit para penyihir Pasang Hitam histeris.
"Hiraisin! Cabut pedangmu!" teriak Roderick panik seraya menunjuk ke arah monster di udara.
Hiraisin menyentuh hulu Pedang Kilat Purba di punggungnya. Namun, ia tidak langsung mencabutnya untuk melakukan tebasan melayang. Ia melihat ke sekeliling—air laut hitam beracun telah menggenangi sekeliling kapal, dan sifat dasar air adalah konduktor energi yang teramat sangat kuat.
"Bocah! Apa yang kau tunggu?!" jerit Roderick lagi. "Gunakan petirmu untuk menghancurkan monster itu!"
"Jika aku melepaskan tebasan petir biasa di atas permukaan air laut ini," balas Hiraisin tenang, "daya hantar air akan merambatkan sengatan listrik puluhan ribu volt secara acak. Kapal ini dan kalian berdua akan ikut terpanggang menjadi abu sebelum petir itu menyentuh targetnya."
Roderick tertegun, wajahnya kaku ketakutan. "Lalu... lalu apa yang harus kita lakukan?! Kita tidak bisa bertarung di dalam air!"
Hiraisin menatap Leviathan Abyss yang mulai menembakkan bola api asam raksasa itu ke bawah.
"Petir biasa memang merusak secara liar tanpa membedakan kawan atau lawan," bisik Hiraisin seraya melangkah maju hingga ujung kaki boots-nya menyentuh permukaan air laut yang tergenang di geladak. "Namun Petir Purba milikku... mengalir mengikuti setiap jengkal kehendak jiwaku."
SZZZZZT!
Hiraisin mencabut Pedang Kilat Purba dari sarungnya.
Bilah perak kehitaman sepanjang empat kaki itu memancarkan pendar cahaya ungu keemasan yang teramat sangat menyilaukan. Tanpa merusak selembar papan kapal, Hiraisin menancapkan ujung bilah pedangnya lurus menembus lantai geladak hingga menembus masuk ke dalam air laut hitam di bawah kapal.
"Meridian Kilat Purba: Penyelarasan Samudera."
BOOOOOOOOOOM!
Bukan ledakan guntur liar yang membakar udara, melainkan sebuah gelombang getaran energi transenden murni yang menyebar secara halus di dalam air laut.
Seketika itu juga, permukaan air laut hitam di sekeliling Bahari Purba dalam radius lima ratus meter mendadak berubah warna menjadi bening keemasan!
Hiraisin tidak menembakkan petirnya ke udara; ia menggunakan air laut sebagai media perantara yang sempurna. Melalui intuisi Puncak Jiwa Pedang, ia mengisolasi area di sekitar kapal Bahari Purba dengan sebuah lapisan pelindung insulasi petir gaib, sementara seluruh aliran listrik purba meledak mengalir mengikuti jalur kordinat yang ia tentukan secara presisi di dalam air!
"Jurus Pedang Kilat Purba: Arus Petir Samudera!"
FLASH-FLASH-FLASH-FLASH!
Jutaan jalur kilat emas berbentuk akar pohon raksasa merambat dari dasar air dengan kecepatan cahaya, meluncur lurus menyusuri gelombang dan menerjang naik menembus tubuh Leviathan Abyss serta belasan penyihir Pasang Hitam di udara!
"APA-APAAN INI?!" jerit para penyihir saat tubuh mereka tersetrum secara instan oleh kilat ungu keemasan dari bawah air. Lingkaran sihir mereka pecah berkeping-keping, dan tubuh mereka meledak menguap menjadi debu hitam sebelum sempat berteriak memohon ampun.
Sementara itu, energi petir yang merambat masuk ke dalam tubuh Leviathan Abyss tidak menghancurkan zirah obsidian luarnya dari luar. Energi itu meresap menembus kulit tebalnya, memusatkan daya ledak ratusan ribu volt tepat di dalam organ dalam dan inti kehidupan monster raksasa tersebut!
GRAAAAGH...!
Raungan Leviathan Abyss mendadak berubah menjadi rintihan kesakitan yang memilukan. Dari enam matanya, mulutnya, dan celah-celah zirahnya, memancar semburan pendar cahaya ungu keemasan yang membakar tubuhnya dari dalam.
BOOOOOOOOM!
Monster laut raksasa sepanjang seratus meter itu meledak hancur di udara! Jutaan pecahan zirahnya runtuh menimpa air laut bagaikan hujan batu, sebelum akhirnya seluruh sisa daging dan sihir hitamnya menguap habis disucikan oleh hawa guntur murni milik Hiraisin.
Bola api asam raksasa yang sempat ditembakkan monster itu melenyap tak berbekas, tertelan oleh gelombang shockwave petir yang membumbung tinggi ke langit.
Gumpalan awan hitam beracun di atas area pertarungan mendadak terbelah lebar, membiarkan pendar cahaya mentari sore menerobos jatuh menyinari kapal Bahari Purba.
Air laut yang tadinya berwarna hitam pekat di sekeliling kapal perlahan-lahan kembali menjadi jernih dan tenang. Tidak ada satu pun kuli atau awak kapal yang terluka oleh sengatan petir. Kapal Bahari Purba melayang dengan aman di atas permukaan air yang telah disucikan.
Keheningan total melingkupi lautan.
Kapten Roderick terduduk lemas di dekat roda kemudi, sepasang matanya menatap Hiraisin dengan rasa takjub dan hormat yang belum pernah ia rasakan sepanjang hidupnya. "Mengendalikan konduksi petir di dalam air laut... tanpa melukai satu pun orang di atas kapal... Kau... kau benar-benar dewa pedang!"
Liora mendesah lega, menarik kembali jarum-jarum peraknya. Wajahnya tersenyum anggun saat menatap Hiraisin yang perlahan menyarungkan kembali Pedang Kilat Purba ke punggungnya.
"Penguasaan elemenmu telah mencapai tahap keharmonisan sempurna, Hiraisin," puji Liora tulus.
Hiraisin memegang hulu pedangnya, merasakan getaran halus yang semakin kuat terpancar dari dasar laut.
"Monster itu hanya penjaga gerbang luar," ucap Hiraisin seraya menunjuk ke arah depan.
Beberapa ratus meter di depan kapal mereka, permukaan air laut yang telah jernih kini membentuk sebuah pusaran air raksasa berdiameter satu mil yang berputar dengan tenang. Di dasar pusat pusaran air tersebut, tampak pendar cahaya biru gelap yang membendung air laut—sebuah kubah pelindungan kuno yang menyembunyikan kerajaan bawah air.
"Pusaran Air Purba..." bisik Kapten Roderick seraya bangkit berdiri. "Gerbang menuju wilayah Suku Duyung Kelam dan Istana Bawah Air."
"Kapten Roderick, kemudikan kapal masuk ke dalam pusaran itu," perintah Hiraisin tegas seraya menatap lurus ke dasar jurang laut. "Saatnya kita merebut Artefak Kedua."