NovelToon NovelToon
Komandan Galak Itu, Suamiku

Komandan Galak Itu, Suamiku

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Menikahi tentara / Dokter
Popularitas:23.2k
Nilai: 5
Nama Author: Eli Priwanti

Bagi Rahma Wulandari, Sakti Prawira adalah sosok kakak asuh masa kecilnya yang galak dan protektif. Namun, garis takdir mendadak berubah ketika impiannya menjadi dokter terancam kandas akibat kesulitan ekonomi. Satu-satunya jalan keluar yang ditawarkan orang tuanya adalah sebuah perjodohan. Demi masa depan, Rahma akhirnya pasrah. "Gak apa-apa deh nikah sama Kak Sakti, dia sudah aku anggap seperti kakaku sendiri!"

Di sisi lain, Sakti seorang Komandan TNI AD yang terkenal tegas, kaku, dan berhati dingin sejak ditinggal menikah oleh masa lalunya merasa tak habis pikir. "Kenapa aku harus menikah dengan gadis bau kencur dan masih ingusan itu?" protesnya keras. Baginya, menikahi sahabat adiknya sendiri adalah hal yang konyol.
Namun, titah orang tua tak bisa diganggu gugat. Pernikahan beda usia dan prinsip ini pun tetap terjadi.

Mampukah pernikahan yang terbentur perbedaan usia, prinsip, dan watak ini menumbuhkan benih-benih asmara?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eli Priwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 1

Langkah kaki Rahma terasa ringan saat memasuki halaman rumah. Di dalam tasnya, tertumpuk catatan kuliah kedokteran semester empat yang cukup menyita energinya seharian ini. Namun, rasa lelah itu mendadak menguap, digantikan oleh rasa sedih yang menghantam dada ketika ia membuka pintu rumah.

Di ruang tamu, sang ayah yakni Pak Salim sudah tergeletak tak sadarkan diri di lantai. Di sampingnya, Bu Rima menangis histeris sambil mengguncang-guncang tubuh suaminya.

"Bapak! Bapak bangun, Pak! Jangan tinggalin Ibu!" jerit Bu Rima memecah keheningan sore itu.

"Ibu! Ayah kenapa?!" Rahma menjatuhkan tasnya begitu saja. Kepanikan langsung merayapi seluruh tubuhnya. Sebagai mahasiswi kedokteran, teori-teori medis mendadak buyar di kepalanya saat melihat sang ayah yang terbujur kaku.

"Ibu, tenang dulu! Rahma panggil warga!"

Dengan suara bergetar, Rahma berlari keluar rumah, berteriak meminta bantuan tetangga setempat. Beruntung, beberapa warga dengan sigap membantu menggotong Pak Salim ke dalam mobil untuk segera dilarikan ke rumah sakit terdekat.

Di koridor rumah sakit yang dingin, waktu terasa berjalan begitu lambat. Rahma dan Bu Rima duduk berdampingan, tak putus-putus memanjatkan doa di depan ruang tindakan. Setelah tangis Bu Rima agak mereda, Rahma memberanikan diri untuk bertanya.

"Bu, sebenarnya kenapa dengan Ayah?" tanya Rahma, menatap ibunya dengan mata yang berkaca-kaca. "Bukankah sakit jantungnya Ayah sudah lama tidak kumat seperti ini? Pasti ada sesuatu yang disembunyikan dari Rahma, kan?"

Bu Rima menghela napas berat, air matanya kembali menetes. Bahunya bergetar hebat, tak sanggup lagi menyembunyikan badai yang sedang menimpa keluarga mereka.

"Neng... maafkan Ibu sama Bapak... hiks..." Bu Rima menggenggam erat tangan putrinya. "Sepertinya... kamu tidak bisa melanjutkan kuliahmu lagi, Neng."

"Apa?!" Rahma terhenyak, menatap sang ibu dengan tatapan tak percaya. Jantungnya mencelos. "Kenapa, Bu? Kenapa Rahma harus berhenti kuliah? Ibu tahu kan ini mimpi Rahma sejak dulu?"

"Ibu tahu, Neng, ibu tahu..."

Rahma mencoba mencerna situasi, mencoba menghubungkan titik-titik masalah yang belakangan ini terasa janggal. "Bu... apa ini ada hubungannya dengan usaha Ayah yang gulung tikar?"

Bu Rima akhirnya mengangguk pasrah.

"Iya, Neng. Bapakmu sudah berusaha semaksimal mungkin untuk mempertahankan pabrik tempe kita. Tapi harga kedelai semakin meroket, pabrik terus merugi. Bapak akhirnya terlilit banyak hutang dan tidak bisa menutup kerugian itu lagi. Bapak sampai stres berat dan terpaksa meminta bantuan sahabat lamanya di Jakarta."

Rahma mengernyitkan dahi. "Siapa, Bu? Apakah Pak Wirahadi?"

"Betul, Neng Rahma. Katanya besok Pak Wirahadi sekeluarga mau datang ke sini sekalian menjenguk kita. Sudah lama sekali juga keluarga mereka tidak berkunjung ke Bandung," jelas Bu Rima sambil mengusap sisa air matanya.

Rahma tampak bingung. "Tapi... Salma tidak mengatakan apa-apa padaku, Bu. Salma, anaknya Pak Wirahadi, kan satu kampus denganku. Ibu lupa, ya?"

Bu Rima tersenyum tipis, mencoba menghibur diri di tengah kemalangan mereka. "Siapa bilang ibumu ini lupa? Salma kan ngekos di dekat kampus. Tadinya Ibu sudah suruh dia tinggal di rumah kita saja, tapi dianya gak mau, katanya sungkan. Eh, tapi kamu juga sering menginap di kosannya, kan?"

"Iya, Bu. Kalau Rahma ada tugas kelompok atau pulang kemalaman dari kampus, pasti Rahma menginap di kosannya Salma," jawab Rahma lirih, pikirannya masih berkecamuk memikirkan nasib kuliahnya.

Ceklek.

Pintu ruang tindakan terbuka. Seorang dokter melangkah keluar, membuat Rahma dan Bu Rima langsung bangkit berdiri dengan cemas.

"Dokter, bagaimana keadaan ayah saya?" tanya Rahma cepat.

Dokter itu tersenyum menenangkan. "Ibu, Dek, alhamdulillah Pak Salim mengalami serangan jantung ringan dan kondisinya saat ini sudah berhasil kami selamatkan. Keadaannya berangsur stabil."

Mendengar hal itu, helaan napas lega serentak lolos dari dada Rahma dan Bu Rima. Namun, kalimat dokter selanjutnya kembali membuat mereka harus waspada.

"Hanya saja, tolong diingat ya. Pasien tidak boleh mendengar kabar buruk atau mengalami tekanan psikologis yang bisa membuat jantungnya kumat lagi. Usahakan pasien tetap tenang, buat pikirannya rileks, syukur-syukur kalau selalu dibuat bahagia," pesan Dokter sebelum berpamitan.

Rahma dan Bu Rima saling berpandangan. Di satu sisi mereka sangat lega karena Pak Salim selamat, namun di sisi lain, kenyataan pahit tentang kebangkrutan keluarga kini menjadi rahasia besar yang harus mereka simpan rapat-rapat demi nyawa sang ayah.

*

*

Keesokan harinya, aroma obat-obatan yang khas langsung menyambut keluarga Pak Wirahadi saat mereka melangkah menyusuri koridor rumah sakit. Bersama istrinya dan juga Salma, mereka bergegas menuju ruang rawat inap Pak Salim.

Begitu pintu kamar diketuk dan dibuka, senyum hangat langsung terbit dari wajah Rahma dan Bu Rima, bahkan Pak Salim yang masih terbaring lemah di ranjang tempat tidur pasien tampak sangat sumringah. Kedatangan kerabat baik dari Jakarta itu benar-benar menjadi penyejuk di tengah badai yang sedang mereka hadapi. Bagi mereka, keluarga Pak Wirahadi sudah seperti saudara kandung sendiri.

"Astaga, Salim... Kenapa bisa sampai seperti ini, Sahabatku?" Pak Wirahadi langsung melangkah lebar dan memeluk erat tubuh Pak Salim dengan hati-hati.

"Biasalah, Wir... Namanya juga mesin tua, sesekali minta diservis," gurau Pak Salim lemah, mencoba mencairkan suasana haru di antara mereka.

Setelah bersalaman dan mengobrol ringan sejenak dengan kedua orang tua Salma yang sudah Rahma anggap seperti orang tuanya sendiri, Rahma memberi kode kepada Salma. Ia merasa para orang tua butuh ruang yang lebih leluasa untuk membicarakan hal-hal yang penting, termasuk masalah pabrik yang sedang pelik.

"Ibu, Om, Tante... Rahma sama Salma izin ngobrol di luar sebentar ya, biar Ayah bisa istirahat juga," pamit Rahma sopan, yang langsung diangguki oleh Bu Rima.

Kedua gadis itu kini duduk beriringan di kursi tunggu yang berjejer di koridor depan kamar pasien. Suasana rumah sakit yang agak lengang membuat obrolan mereka terdengar santai.

Salma langsung menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi sambil melipat kedua tangan di atas dada. "Aku paling malas kalau mendengar obrolan Papah sama Mamah di dalam, pasti ujung-ujungnya wejangan lagi!" keluhnya sambil mengerucutkan bibir.

Rahma menoleh lalu menyenggol lengan sahabatnya itu sambil terkekeh.

"Kau itu memang selalu seperti itu, Salma. Paling tidak mau dinasihati, dasar keras kepala!" ejek Rahma.

Salma tidak membantah, ia malah menghembuskan napas panjang, lalu tiba-tiba teringat sesuatu. "Oh iya, Ma. kak Sakti juga nanti mau kesini. Setelah tugas empat tahun di Lebanon, akhirnya Kakak kesayanganku itu pulang juga!"

Mata Rahma berbinar mendengarnya.

"Wah, benar? Pasti seru ya ada kak Sakti!"

"Seru sih, cuma ya gitu..." Salma memasang wajah pasrah.

"Aku tahu," potong Rahma sambil tersenyum penuh arti. "Pasti kalau ada kak Sakti, kau tidak bisa bebas, kan? Kau tahu sendiri Kak Sakti dari dulu orangnya sangat protektif sama kita!"

Mendengar ucapan Rahma, memori masa kecil mereka mendadak berputar di kepala Salma. Sebuah senyuman jahil langsung terukir di wajahnya.

"Eh, kau masih ingat gak, Ma? Waktu aku sekeluarga masih tinggal di Bandung dan kita merupakan salah satu tetangga paling akur dan populer? Waktu itu kau jatuh ke got dekat kandang kambing Pak Haji Soleh, gara-gara kau menaiki sepedaku yang remnya sudah blong!"

Pipi Rahma langsung merona merah karena malu. "Ih, Salma! Kau masih ingat saja sama kejadian memalukan itu!"

"Masih ingatlah! Waktu itu kebetulan Mas Sakti baru pulang sekolah SMU. Kita yang masih bocah ingusan ini cuma bisa menangis di pinggir jalan. Kau menangis karena kakimu terluka, sedangkan aku menangis karena sepeda kesayanganku masuk got!" Salma terkekeh geli.

Seketika, tawa Rahma dan Salma pecah. Mereka tertawa terbahak-bahak di koridor, melupakan sejenak ketegangan yang terjadi sejak kemarin.

"Dan aku masih ingat banget sama perkataan kamu, Ma, pas kamu ditolong dan digendong sama kak Sakti. Kamu bilang gini sambil sesenggukan... 'Kak, hiks... hiks... nanti kalau Rahma sudah gede, Rahma mau jadi pengantinnya Kakak!' Salma menirukan suara tangisan Rahma kecil dengan nada mengejek yang kental.

Mendengar ejekan telak itu, wajah Rahma mendadak panas seperti terbakar.

"Salma! Cukup!"

Sebelum Rahma sempat mencubitnya, Salma sudah lebih dulu bangkit dan berlari menjauh ke arah pintu keluar koridor sambil tertawa puas.

"Salma, awas ya! Kau masih saja mengingat kata-kata konyol itu. Kau sangat menyebalkan!" teriak Rahma tertahan sambil ikut berlari mengejar sahabatnya.

"Kejar aku, Ma! Weeee!" ejek Salma sambil berbalik dan menjulurkan lidahnya jenaka.

Namun, tawa Salma mendadak terhenti saat tubuhnya hampir menabrak seseorang yang baru saja berbelok di ujung koridor. Di saat yang sama, langkah kaki Rahma langsung mengerem mendadak.

Waktu rasanya telah berhenti berputar bagi Rahma. Matanya terpaku, tak berkedip menatap sosok pria yang kini berdiri tegap di hadapan mereka. Pria itu bertubuh atletis dengan dada bidang yang dibalut seragam loreng hijau khas TNI AD. Parasnya begitu tampan, rahangnya tegas, sekilas mirip dengan jajaran aktor laga Korea, namun sorot mata dan garis wajahnya memancarkan ketegasan militer yang nyata.

"ka... kak Sakti?" ucap Rahma lirih, nyaris berbisik, terkesima oleh perubahan drastis sosok kakak asuh masa kecilnya yang kini telah menjelma menjadi seorang perwira yang gagah.

Bersambung...

1
Teh Euis Tea
sakti bilang aj udah cinta, pake acara gengsi segala, benar kt Salma klu udah di ambil orang baru deh nyesel
Teh Euis Tea
yg sabar Sakti km mah ganas main sosor aj
duhhh malu bgt ketahuan sm Salma, mau ngilang aj kelobang semut saking malunya🤣
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: ketangkap basah 🤣🤣🤣
total 1 replies
Nar Sih
kalau udah ada rsa suka pasti bntr lgi cinta datang nih
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: betul sekali, tinggal menunggu waktu saja kak
total 1 replies
Nar Sih
cemburu mu lucuu sakti ,dan bikin rahma sedih karena sikap mu
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: bener kak 🤣🤣🤣
total 1 replies
dewi rofiqoh
Benar tu sakti apa yang sama bilang, klo kamu gk segera ungkapkan rasamu pada rahma keburu diambil orang tu si rahma🤭🤭🤭
Ilfa Yarni
tau nih sakti klo suka bila g aja pake gengsian sgala liat Rahma akrab dgn laki2lain km cemburu hadeeh sakti
Uba Muhammad Al-varo
Sakti.......kena sama jebakan nya Salma,ayo jujur kamu sukakan, cintakan ke Rahma, jangan gengsi yang digedein /Joyful//Joyful//Joyful//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: betul 🤣🤣🤣
total 1 replies
Ilfa Yarni
hahahaha dasar sakti gengsi setinggi la git udah tau suka sama Rahma malah tidak mau mengakuinya
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: hooh Bun 🤣🤣🤣
total 1 replies
Patrick Khan
masih pagi wes delok sakti ambek rahma nag kasor🥱🥱🥱😁
Anonim
Aku suka
Anonim
🤭🤭🤭🤭
depoll_poll aje 😉😉😉
astagfirullah..
sakti u itu keterlaluan sekali SM s Rahma..
cemburu s cemburu tp sadar diri donk udh mantap blm hati u nya...
hahahaha kepergok s adik nya juga,,
gimna ya cerita selanjutnya...
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: /Facepalm//Facepalm//Facepalm/
total 1 replies
Anonim
❤️❤️❤️
depoll_poll aje 😉😉😉
cie cie yg sakit cemburu jugaa.. hahahaha
kepo ya kamu dengan keakraban Rahma dengan pria lain... hihihihihi
Anonim
😍😍😍
Patrick Khan
cemburu kan kau sakti🤣🤣
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: betoolll🤣
total 1 replies
Patrick Khan
q aja pengen bisa pakai motor gede lo..tp punya siapa yoan 🤣🤣🤣
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: apalagi aku kak, yg ada nyungsep 🤣🤣🤣
total 1 replies
Patrick Khan
aku lupa cara ciuman 🤣🤣🤣
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: weleh... masa iya lupa, kak 🤣🤣🤣
kocak nih 🤣🤣
total 1 replies
Nar Sih
gak usah cemburu sakti ,dr adnan cuma mau bicara sbntr dgn istri mu tentang wanita pujaan nya yg kebetulan profesor nya rahma di kmpus
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: betul 😄
total 1 replies
Nar Sih
wah ..rahma hebat lho bisa bwa motor besar suami nya👍
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: /Chuckle//Chuckle//Chuckle/
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!