IG: @hyacinthschia
Brooklyn dan Liam menikah karena perjodohan demi menyelamatkan keluarga Liam, meski hati pria itu tetap milik Helena. Selama beberapa tahun Brooklyn setia menjaga rumah tangga dengan cinta sendirian, hingga kembalinya Helena memicu perceraian di hari ulang tahunnya.
Brooklyn menghilang dan berubah menjadi agen rahasia, sementara Liam baru menyadari ketulusan Brooklyn serta kebohongan Helena setelah semuanya terlambat. Saat Liam diburu mafia, ia tak menyangka bahwa sosok yang ditugaskan melindunginya adalah mantan istrinya sendiri. Kini, di tengah bahaya yang mengintai, keduanya terpaksa berhadapan kembali dengan masa lalu yang belum selesai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hyacinthus Rainwood, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26: Damai, Namun Terasa Janggal
Pagi berikutnya, suasana canggung akibat pertengkaran semalam masih membekas jelas di antara Liam dan Helena. Mereka berdua menjalani rutinitas pagi dengan minim percakapan, saling menghindari kontak mata yang biasanya penuh kehangatan, digantikan oleh keheningan yang begitu berat dan tidak nyaman.
Namun ketegangan yang belum sepenuhnya reda itu justru kembali memuncak pada malam harinya, ketika hal sepele yang seharusnya tidak perlu diperdebatkan berubah menjadi pertengkaran baru yang jauh lebih intens dari sebelumnya.
Semuanya bermula ketika Liam pulang dari kantor dan mendapati AC di kamar tidur mereka disetel terlalu dingin sesuai preferensi Helena, membuat Liam yang memang sensitif terhadap suhu dingin merasa tidak nyaman sepanjang malam sebelumnya.
"Helena, bisakah kau menaikkan suhu AC-nya sedikit?" tanya Liam sambil melepas jasnya, mencoba memulai percakapan dengan nada yang lebih ringan dibandingkan ketegangan semalam. "Aku merasa kedinginan sepanjang malam kemarin."
"Aku yang lebih sering berada di kamar ini sepanjang hari, Liam," jawab Helena tanpa mengalihkan pandangan dari majalah mode yang sedang ia baca di ranjang. "Aku lebih nyaman dengan suhu yang lebih dingin."
"Tapi aku juga tidur di kamar yang sama, Helena. Setidaknya kita bisa mencari kompromi yang nyaman untuk kita berdua."
"Kenapa selalu aku yang harus mengalah?" balas Helena, mulai terdengar kesal dengan permintaan sederhana itu. "Kau selalu saja punya keluhan tentang segala hal belakangan ini, Liam. Pertama tentang belanjaanku, sekarang tentang suhu AC. Apa lagi yang akan kau keluhkan selanjutnya?"
Liam menghela napas, mencoba menahan kesabarannya yang sudah mulai teruji sejak beberapa hari terakhir. "Aku tidak mengeluh, Helena. Aku hanya meminta sedikit penyesuaian yang wajar."
"Ini rumahmu, tapi sepertinya aku yang selalu harus menyesuaikan diri dengan segala keinginanmu," ucap Helena sinis, akhirnya meletakkan majalahnya dengan gerakan kesal. "Dulu Brooklyn pasti selalu menuruti apa pun yang kau inginkan tanpa pernah membantah, bukan? Mungkin memang seperti itulah seharusnya seorang istri bersikap menurutmu."
Nama Brooklyn yang kembali disebut dengan nada sinis itu membuat sesuatu dalam diri Liam akhirnya meledak, kesabaran yang telah lama ia coba pertahankan sejak insiden lamaran gagal beberapa hari lalu kini benar-benar habis.
"Kalau begitu, mungkin aku memang seharusnya tidak pernah meninggalkannya," ucap Liam tanpa berpikir panjang, kata-kata itu keluar begitu saja dari mulutnya sebelum ia sempat menyadari betapa menyakitkannya kalimat tersebut bagi Helena. "Setidaknya Brooklyn tidak pernah membuat keributan hanya karena masalah suhu AC atau tas mahal!"
Wajah Helena seketika berubah pucat mendengar perkataan itu, matanya membelalak lebar penuh keterkejutan dan luka yang mendalam. "Beraninya kau mengatakan itu padaku! Setelah semua yang telah kukorbankan untuk kembali bersamamu, kau justru mengatakan bahwa kau menyesal meninggalkan mantan istrimu itu?"
"Aku tidak bermaksud seperti itu," Liam segera mencoba menarik kembali perkataannya, menyadari betapa jauh kata-kata itu telah melukai Helena. "Helena, aku hanya—"
"Tidak, aku sudah cukup mendengarnya!" bentak Helena, air mata mulai mengalir deras di pipinya, bercampur antara amarah dan luka yang begitu mendalam. "Aku sudah muak dengan semua ini, Liam! Kau terus membandingkanku dengan wanita itu, seolah aku tidak pernah cukup baik untukmu!"
Dengan gerakan cepat penuh emosi, Helena bangkit dari ranjangnya, meraih tas tangan dan jaketnya yang tergantung di kursi terdekat. "Aku akan pergi dari sini! Jika kau begitu merindukan Brooklyn, mungkin sebaiknya kau mengejarnya kembali dan meninggalkanku sendirian seperti yang selalu terjadi!"
"Helena, tunggu!" seru Liam, panik menyaksikan Helena yang benar-benar bersiap untuk pergi meninggalkan penthouse malam itu. Ia segera bangkit dan mengejar Helena yang sudah melangkah cepat menuju pintu depan.
"Lepaskan aku, Liam!" jerit Helena ketika Liam berhasil menangkap lengannya tepat sebelum ia mencapai pintu keluar, mencoba meronta dari genggaman tersebut. "Aku sudah tidak tahan lagi dengan semua perbandingan ini!"
"Helena, kumohon, dengarkan aku dulu," ucap Liam, suaranya penuh keputusasaan, menahan tubuh Helena agar tidak melangkah lebih jauh menuju pintu. "Aku minta maaf atas kata-kataku barusan. Aku tidak bermaksud membandingkanmu dengan Brooklyn seperti itu. Aku hanya sedang lelah dan frustrasi, dan aku melampiaskannya dengan cara yang salah."
Helena berhenti meronta, meski air mata masih mengalir deras di pipinya, tubuhnya masih gemetar oleh amarah dan luka yang begitu mendalam. "Kau benar-benar berpikir aku tidak sebanding dengannya, bukan? Kau menyesal telah memilihku."
"Tidak, itu tidak benar," bantah Liam, mencoba meyakinkan Helena meski jauh di lubuk hatinya, keraguan yang telah lama tersembunyi kini semakin sulit ia abaikan. "Aku sudah menunggu bertahun-tahun untukmu, Helena. Aku tidak akan menyerah begitu saja hanya karena pertengkaran kecil seperti ini."
Helena menatap Liam dengan mata yang masih berkaca-kaca, mencoba mencari ketulusan di balik permintaan maaf tersebut. "Kau berjanji tidak akan pernah membandingkanku dengannya lagi?"
"Aku berjanji," jawab Liam, meski suaranya terdengar sedikit ragu bahkan bagi telinganya sendiri. "Maafkan aku, Helena. Mari kita lupakan pertengkaran ini dan mulai lagi dari awal."
Perlahan, Helena membiarkan dirinya ditarik ke dalam pelukan Liam, meski tubuhnya masih terasa sedikit kaku menunjukkan bahwa amarah dan kekecewaannya belum sepenuhnya mereda. Mereka berdiri dalam diam untuk beberapa saat, saling berpelukan di tengah lorong penthouse yang sunyi, mencoba memperbaiki keretakan yang baru saja terjadi di antara mereka.
"Aku hanya ingin kita bahagia bersama, Liam," bisik Helena akhirnya, suaranya masih terdengar sedikit bergetar. "Aku sudah mengorbankan begitu banyak untuk kembali kepadamu. Aku tidak ingin semua pengorbanan itu sia-sia."
"Aku tahu," jawab Liam, mengelus punggung Helena dengan lembut, mencoba menenangkan wanita yang masih terisak pelan dalam pelukannya. "Kita akan memperbaiki semuanya. Aku janji."
Meski perdamaian itu akhirnya tercapai malam itu, dan mereka berdua kembali ke kamar tidur dengan suasana yang sedikit lebih tenang dibandingkan sebelumnya, ada sesuatu yang terasa begitu janggal dalam hati Liam yang tidak bisa ia jelaskan dengan jelas. Setiap kali ia menatap Helena yang kini tertidur di sampingnya dengan tenang, pikirannya justru dipenuhi bayangan Brooklyn—bagaimana wanita itu tidak pernah sekali pun mengancam untuk pergi hanya karena pertengkaran kecil, bagaimana ia selalu bertahan meski diperlakukan jauh lebih buruk dibandingkan situasi yang baru saja terjadi malam ini.
Liam berbaring dalam kegelapan, menatap langit-langit kamarnya dengan pikiran yang dipenuhi kebingungan yang semakin bertambah setiap harinya. Ia mencoba meyakinkan dirinya sendiri bahwa perdamaian yang baru saja terjadi adalah bukti bahwa hubungannya dengan Helena masih layak diperjuangkan, bahwa cinta yang telah lama ia simpan untuk wanita itu masih cukup kuat untuk mengatasi berbagai perbedaan dan pertengkaran yang mulai sering terjadi belakangan ini.