Nara Askiya, gadis cantik yang memiliki tubuh tinggi dan menawan, tak salah jika banyak laki-laki yang mendambakannya, ia terkenal sopan anggun dan cerdas, berprofesi sebagai seorang pengawas di sebuah mall terkenal di kota itu.
namun nasib hidupnya tak se indah gambaran dirinya, ketika ia menikah dengan kekasih yang ia cintai dan sangat ia dambakan.
penghianatan mengubah hidupnya saat acara ijab akan di laksanakan, ia harus menelan kepahitan saat tahu sang kekasih pergi meninggalkannya tanpa aba-aba tanpa ucapan tanpa penjelasan.
Namun, di tengah kepedihan itu... ada seorang laki-laki gagah yang rela menutupi malu keluarganya di hari yang seharusnya bahagia bagi Nara, semua sempat mendapat perdebatan namun akhirnya Nara menerima laki-laki itu' dialah Deon Satya, laki-laki yang tak Nara ketahui adalah seorang pemilik mall tempatnya bekerja yang hidupnya memilih sederhana. bagaimana kehidupan Nara dan Deon usai menikah tanpa rasa cinta dan mengenal? apakah Nara akan menerima Deon...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dina Sen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jebakan sang mamah
Aroma masakan membuatnya melangkah menuju dapur.
“Wah, kamu masak apa?”
Deon menoleh.
“Telur dadar, tumis sayur, sama nasi. Sederhana saja.”
Nara mendekat dan mengintip wajan.
“Wah, ternyata kamu bisa masak juga.”
Deon mengangkat alis.
“Memangnya kamu pikir aku enggak bisa?”
Nara tersenyum jahil.
“Enggak tahu. Soalnya tadi di pasar kamu hampir pingsan gara-gara bau ayam.”
Deon langsung menoleh tajam.
“Ra!”
Nara tertawa.
“Maaf, maaf!”
Deon menggeleng, tetapi sudut bibirnya ikut terangkat.
“Sudah, duduk sana. Sarapannya sebentar lagi siap.”
Nara menurut. Ia duduk di kursi dekat meja makan sambil memperhatikan Deon yang sibuk menyiapkan hidangan.
Pemandangan sederhana itu terasa asing sekaligus menyenangkan baginya.
Dulu, ia hanya membayangkan akan menjalani pagi seperti ini bersama Arka. Namun kenyataannya, laki-laki yang kini berdiri di dapur dan menyiapkan sarapan untuknya adalah Deon.
Laki-laki yang dahulu tidak pernah ia pikirkan akan menjadi bagian dari hidupnya.
“Ra, jangan melamun,” tegur Deon sambil meletakkan sepiring telur dadar di meja.
Nara tersentak.
“Eh, iya.”
Deon duduk di hadapannya.
“Ada yang kamu pikirkan?”
Nara menatapnya sebentar, lalu menggeleng.
“Enggak. Aku cuma merasa... aneh.”
“Aneh bagaimana?”
Nara tersenyum kecil.
“Enggak pernah membayangkan bakal sarapan seperti ini sama kamu.”
Deon terdiam sesaat, lalu menunduk untuk menyembunyikan senyumnya.
“Kalau begitu, biasakan saja.”
Nara mengangkat wajah.
“Memangnya kamu mau setiap hari masak?”
“Kalau aku sempat, kenapa enggak?”
Nara tersenyum lebih lebar.
Untuk pertama kalinya sejak menikah, ia bisa membayangkan bahwa kehidupan bersama Deon mungkin tidak akan seburuk yang sempat ia takutkan.
Mereka mulai sarapan sambil sesekali berbincang ringan. Deon beberapa kali mengingatkan Nara agar makan dengan cukup, sedangkan Nara menggodanya karena terlalu cerewet.
Namun di balik suasana hangat itu, Deon menyimpan satu harapan yang tidak berani ia ucapkan.
Ia ingin suatu hari nanti, ketika Nara memikirkan rumah, perempuan itu tidak lagi teringat pada seseorang yang pernah meninggalkannya.
Ia ingin menjadi orang yang membuat Nara tersenyum ketika membuka mata setiap pagi.
Dan tanpa Deon sadari, harapan itu perlahan mulai menemukan jalannya.
Sebab pagi itu, di antara sarapan sederhana dan percakapan kecil mereka, Nara mulai melihat Deon bukan hanya sebagai laki-laki yang telah menyelamatkannya dari penghinaan pada hari pernikahan.
Melainkan sebagai seseorang yang mungkin, suatu hari nanti, benar-benar bisa ia cintai.
...
Waktu mulai siang Nara sudah lebih dulu berangkat, sementara Deon kini sendiri di rumah. Seperti biasa ia mulai membuka laptop miliknya untuk memantau Nara di Mall.
Tidak ada yang mencurigakan, Nara aman dan nampak ceria dengan teman-teman kerjanya, sapa hangat mengulas di wajahnya pada setiap pengunjung mall yang bertanya.
Deon menghela nafas lega. "syukurlah setidaknya dia baik-baik saja."
Deon bersandar di bangku sofa ruang tengah, ia terus memperhatikan Nara. Namun tak lama kemudian, ponsel miliknya berdering sang mamah menelpon. Ia segera menutup laptop dan mengangkat telepon dari sang mamah.
Wajah Deon berubah serius.
Ia menatap layar ponselnya, melihat nama sang mamah tertera di sana. Sejenak ia mengembuskan napas sebelum menjawab panggilan itu.
“Ya, Mah?”
“Deon, kamu sekarang di mana?” tanya mamahnya tanpa basa-basi.
“Di rumah. Memangnya kenapa?”
“Mamah mau kamu datang ke rumah sekarang. Ada yang perlu kita bicarakan.”
Deon langsung memejamkan mata. Ia sudah bisa menebak apa yang hendak dibicarakan ibunya. Belakangan ini, kedua orang tuanya selalu berusaha mencarikan perempuan untuk dijadikan istrinya, seolah pernikahannya dengan Nara tidak pernah terjadi.
“Kalau soal perjodohan lagi, Deon enggak bisa, Mah. Deon sudah menikah.”
“Justru karena itu kamu harus datang! Mamah mau membicarakan masalah ini baik-baik.”
Deon mengusap wajahnya. Sejujurnya, ia malas berdebat dengan orang tuanya. Namun, sebelum sempat menolak, suara sang mamah kembali terdengar.
“Kalau kamu tidak mau datang, Mamah akan melaporkan kamu!”
Deon mengernyitkan dahi.
“Melaporkan Deon? Atas tuduhan apa, Mah?”
“Karena kamu menyembunyikan seorang perempuan dan memaksanya tinggal bersamamu! Mamah bisa melaporkanmu dengan alasan perempuan itu dipaksa!”
Deon langsung terduduk tegak. Rahangnya mengeras mendengar tuduhan yang menurutnya keterlaluan itu.
“Ya ampun, Mah! Tega sekali Mamah bicara seperti itu kepada Deon.”
“Kalau kamu tidak mau membuat Mamah berpikir macam-macam, datanglah ke rumah!”
“Nara bukan perempuan simpanan, Mah!” tegas Deon. “Dia istri Deon yang sah. Kami menikah secara resmi, dan Nara tidak pernah dipaksa untuk tinggal bersama Deon. Dia menerima pernikahan ini atas keputusannya sendiri setelah mempertimbangkannya. Kenapa Mamah tega sekali merendahkan istri Deon seperti itu?”
Hening sejenak di seberang telepon.
“Pokoknya, kamu harus datang dulu. Mamah tunggu.”
Sambungan telepon terputus begitu saja.
Deon menatap layar ponselnya dengan kesal. Ia ingin mengabaikan panggilan itu, tetapi ia tahu ibunya tidak akan berhenti sebelum mendapatkan apa yang diinginkannya.
Dengan berat hati, Deon bangkit dari sofa.
“Baiklah, Mah. Kali ini Deon turuti kemauan Mamah. Tapi jangan harap Deon akan mengubah keputusan Deon untuk tetap bersama Nara.”
Ia mengambil kunci mobil, lalu berangkat menuju rumah orang tuanya.
Sekitar tiga puluh menit kemudian, mobil Deon memasuki halaman rumah besar milik keluarganya.
Melihat bangunan megah itu, Deon justru merasa tidak nyaman. Rumah tersebut menyimpan terlalu banyak kenangan tentang pertengkaran, tuntutan, dan keinginan orang tuanya yang selalu bertentangan dengan pilihannya.
Sejak memutuskan tinggal bersama Oma Shu Fen, ia memang jarang datang ke sana, kecuali untuk urusan yang benar-benar penting.
Deon mematikan mesin mobil, kemudian turun dan melangkah masuk.
Begitu melewati pintu utama, pandangannya langsung tertuju pada seorang perempuan cantik yang duduk di ruang tamu.
Alexa.
Perempuan keturunan Tionghoa itu mengenakan gaun sederhana berwarna krem. Rambut panjangnya tertata rapi, sementara senyum manis langsung menghiasi wajahnya ketika melihat Deon.
“Deon!” sapanya ramah. “Akhirnya kamu datang juga.”
Deon menghentikan langkahnya.
Dalam hati, ia langsung menghela napas panjang.
Pantas saja Mamah menyuruhku datang. Ternyata perempuan ini sudah ada di sini.
“Hai, Alexa,” jawabnya singkat.
Kedua orang tuanya segera menyambutnya dengan wajah penuh keramahan.
“Nah, begitu dong. Anak Mamah akhirnya pulang juga,” ujar mamahnya sambil tersenyum.
Ayahnya ikut mengangguk. “Duduklah dulu, Deon. Kami sudah menunggumu.”
Deon membalas dengan senyum tipis. Ia mengenal betul sikap kedua orang tuanya. Keramahan seperti ini biasanya muncul ketika mereka memiliki maksud tertentu, terlebih sekarang Alexa berada di tengah-tengah mereka.
“Deon, apa kabar? Kamu kelihatan lebih kurus,” kata Alexa, mencoba membuka percakapan.
“Baik,” jawab Deon seperlunya.
Alexa masih tersenyum, seolah tidak menyadari bahwa laki-laki di hadapannya sama sekali tidak menunjukkan antusiasme.