Setelah menjadi istri Ardiaz Kavian, Tya semakin tahu karakter orang-orang di keluarga besar Kavian. Sebagai seorang insan yang biasa hidup tenang meski ekonomi pas-pasan, kini dirinya harus terbiasa dengan pasang surut permasalahan di keluarga suami yang tidak kekurangan harta tapi miskin ilmu agama.
"Yang penting suami dan mertua baik, yang sirik biarkan saja berisik."
MENANTU IBU 2
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Me Nia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
34. Tentang Oma
Tya memilih menyimpan rasa was-was dalam hati. Dengan pertimbangan sikap Diaz yang setiap hari selalu menunjukkan bucin akut. Apalagi sekarang suasana hati sang suami baru saja membaik setelah ngobrol menjelaskan tentang keluarga dari pihak Ayah Hilman sambil ngopi. Kekhawatiran ini akan digenggam selama suaminya itu tidak menunjukkan kemunduran perhatian.
Mobil langsung masuk ke dalam garasi yang pintunya masih terbuka. Saatnya menyimpan dulu pembahasan tentang Oma yang katanya akan datang lusa. Jika disampaikan malam ini khawatir Ibu menjadi gelisah dan berujung susah tidur. Tya setuju dengan pendapat Diaz itu. Dari perhatiannya menjaga perasaan Ibu Suri, Tya bisa melihat jika Diaz sangat menyayangi ibunya.
Begitu masuk ke dalam rumah, terlihat sang mertua berada di sofa ruang keluarga sedang menonton televisi ditemani dua anabul Cumi dan Luna, Tya langsung menunjukkan beberapa kantong oleh-oleh yang dibawanya.
"Yang buat Ibu yang ini. Yang ini buat buat temanku Anya, ini buat pekerja di rumah. Kalau ini buat Mas Jordan, tadi aku nggak tahu pulangnya jadinya belum dikasihkan. Katanya besok pagi bakal ke sini anterin mobil Abey." Tya menjelaskan dengan riang setiap kantong yang berbeda, ada yang menggunakan kantong kain dan kantong kresek bening berlogo 'Dapur Bundanes'.
"Asyik ... makasih. Mau coba ini dulu ah." Suri mengambil satu cup aluminium foil dan mendekatkan ke hidung. "Hm ... Wangi tape."
"Itu prol tape toping kismis, Bu. Sengaja pilihkan kue yang nggak terlalu manis-manis sesuai selera Ibu."
Suri membulatkan telunjuk dan ibu jarinya sambil tersenyum lebar. Senang sekali menantunya itu sudah tahu banyak tentang selera dan hobinya. Selanjutnya mulai mencicipi prol tape dengan sendok yang tersedia.
Diaz tertawa karena Cumi dan Luna berlomba menciumi rahangnya. Padahal sengaja duduk di samping Tya tanpa memanggil dua kucing kesayangannya itu yang rebahan sambil mengibaskan ekor ke kiri dan ke kanan. Entah aromanya sudah diketahui sehingga si putih dan si abu kompak membuka mata lalu loncat dan berlomba menghampiri.
"Tahu aja bapaknya datang." Tya tertawa melihat agresifnya anak bulu yang ingin mencium Diaz. Sementara Suri terkekeh di tengah menikmati prol tape.
"Diaz, gimana update pabrik?"
"Ibu minumnya mau apa? Sekalian aku mau ke dapur nyimpen tas-tas ini." Tya mendahului bertanya sebelum Diaz menjawab.
"Air putih hangat aja, sayang."
"Siap." Tya beralih menatap Diaz. "Abey mau minum juga?"
Diaz menggeleng. "Udah kenyang sama kopi."
Tya beranjak ke dapur. Langkahnya berpapasan dengan Tuti yang baru keluar dari dapur. Langsung saja memberikan oleh-oleh yang dibawanya sambil menjelaskan agar dibagikan untuk seluruh pekerja termasuk security dan sopir.
Segelas air putih hangat disimpan di meja. Tya duduk di tempat semula sambil ikut menyimak penjelasan Diaz yang sudah didengarnya lebih dulu waktu di Bekasi. Sudah setengah jam duduk bersama bertiga, kemudian Tya lebih dulu pamit ke kamar setelah menguap satu kali. Alarm alami itu biasanya menjadi pertanda waktu menunjukkan pukul 21.00. Baginya menjadi waktunya tidur.
"Ibu juga mulai ikutan kayak Tya. Membiasakan tidur awal biar subuh segar. Udah yuk ah kita bubar. Disambung besok lagi ngobrolnya," ujar Suri yang kemudian melakukan peregangan sambil berdiri.
***
Tya baru kembali ke kamar lalu membuka ponsel di jam setengah tujuh pagi setelah selesai membantu Ibu Suri menyortir bunga mawar, bunga sedap malam, serta anyelir yang sudah layu dalam vas kaca berisi air. Hidungnya menjadi terbiasa dengan aroma wewangian alami yang awalnya ia sebut sebagai bau kunti. Memang terasa khasiatnya sebagai aromaterapi. Pernafasan terasa lega. Semerbak wanginya bak berada di dalam keraton.
"Bey, lihat! Ayah beneran transfer 10 juta." Tya menunjukkan layar ponselnya pada Diaz yang baru keluar dari walk in closet. Bukti transfer dari ayah mertuanya itu masuk 20 menit yang lalu.
"Ayah pasti serius sama ucapannya. Cuma sayang punya hobi jelek nggak bisa berkomitmen dengan satu wanita. Sekarang aja ke Surabaya mau nemuin daun muda. Hilang dua istri masih ada cadangan ketiga. Kayak gitu pengen rujuk sama Ibu. Insaf dulu baru aku bantu."
Tya melongo. Lalu berubah nyengir.
Aku laporan apa, jawaban Abey malah curhat keluarin unek-unek.
"Suamiku, kita doakan sama-sama ya. Semoga Ayah dapat hidayah. Kan Allah punya kuasa penuh bisa membolak balik hati manusia. Semangat!" Tya mengecup bibir Diaz yang memasang wajah masam.
"Kurang, sayang." Diaz menangkap tangan Tya yang hendak berlalu.
"Udah ah. Mau turun lagi." Tya menarik tangannya. Tapi yang ada malah badannya yang menubruk dada Diaz karena suaminya itu menarik tangannya lebih kuat. Sudah dipastikan tidak akan selamat dari serangan morning kiss.
Ini waktunya Diaz berbicara dengan Ibu Suri setelah isi piring ibunya terlihat sudah kosong. Di ruang makan yang diisi bertiga, ia juga menatap dulu Tya yang juga sudah selesai sarapan. Anggukan sang istri sebagai pertanda bisa dimulainya pembahasan.
"Bu, besok mau ada Oma ke sini."
"Oma?! Oma siapa?" Suri mengernyit.
"Oma Inka."
Suri urung memasukkan sebutir anggur merah ke mulutnya. Tangannya turun lagi ke meja, raut terkejut terlihat di wajahnya.
"Tadi malam selain mampir ke kafe, aku sama Tya juga mampir ke apartemen Ayah karena Ayah menelepon minta datang malam itu juga. Penting katanya." Diaz menceritakan garis besar percakapannya dengan sang ayah.
"Kok Ibu yang harus jelasin? Yang berhak cerita tuh ayahmu, Diaz. Dia kan anaknya." Suri melayangkan protesnya dengan wajah kesal. Ia menahan geram.
"Aku udah bilang gitu juga. Tapi Ayah bilang harus ke Surabaya pagi ini. Malah aku dan Tya ditugaskan buat jemput ke bandara. Tapi kemudian Ayah juga bilang bukan nggak mau jelasin ke Oma, tapi karena masih cinta sama Ibu. Berharap bisa rujuk." Diaz menggaruk pelipisnya tidak gatal melihat reaksi ibunya yang melotot. Untuk pembicaraan kalimat terakhir ini memang Tya tidak mendengarnya karena sang ayah membahasnya sambil berbisik di saat mau pulang.
Suri tertawa sinis setelah memelototi Diaz. Lalu geleng-geleng kepala. "Untung udah selesai makan. Kalau lagi ngunyah bisa-bisa muntah nih Ibu."
"Jadi gimana, Bu?"
"Soal apanya yang gimana?" Suri balik bertanya pada Diaz karena pertanyaan sang anak dinilai ambigu.
"Soal Oma mau ke sini besok. Katanya landing jam sepuluhan. Mau diterima atau ditolak? Kalau semisal Ibu keberatan Oma datang ke rumah kita, biar aku yang jelasin sama Oma. Ngobrolnya sambil ajak makan siang di resto."
Suri mengembuskan napas kasar. "Beri waktu Ibu untuk berpikir."
Dampak dari dialog yang terjadi di meja makan tadi, akhirnya Tya yang mendampingi kegiatan Ibu Suri harus melihat sang mertua lebih banyak diam di dalam mobil yang membawanya sidak ke beberapa toko emas. Keceriaan hanya ditampilkan saat berhadapan dengan manajer dan karyawan setiap toko. Tapi begitu masuk ke dalam mobil, wajah riang itu berubah murung yang menyiratkan banyak pikiran.
Joko, help! Aku harus hibur Ibu dengan cara apa ya?
ayooo jujur aja siapa tau Tya punya solusinya
waaahhhhhh pak Anwar keceplosan bilang beliau lagi ngurus perusahaan hahaha tenang Pak...Diaz sudah tau kok siapa Pak Husain yg sebenarnya
makasih kak Nia up nya 🙏🏻❤️
duuuhhhh super telat baca nya 🙈
sophia ini tampaknya punya pedoman maju terus pantang mundur, banyak jalan menuju roma. bener diaz mensing terbuka sama tya biar gak timbul masalah ke depannya. gazz buka2an lah sama tya. buka hati, pikiran dilanjutkan dgn buka2an yg lain2nya juga. 😄😄