NovelToon NovelToon
DUA WAJAH SATU HATI

DUA WAJAH SATU HATI

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Sistem / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:726
Nilai: 5
Nama Author: Kenzy Elbarra

Siang hari, aku cuma Maxy — pegawai biasa yang diam-diam mencintaimu.
Malam tiba, aku berubah jadi Roxy — sosok percaya diri yang berani berdiri di hadapanmu.

Kamu tersenyum pada Roxy, tapi tak pernah tahu kalau dia itu aku.
Sampai kapan aku harus menyembunyikan siapa diriku?
Dan nanti… saat kamu akhirnya memilih, siapa yang akan kamu pilih?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kenzy Elbarra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 16

Hari Minggu pagi, langit cerah tanpa awan, ""Sshhhhhhh" angin berhembus lembut membawa aroma tanah basah dan kesegaran yang jarang terasa di tengah kota.

Jam menunjukkan pukul enam pagi lebih sepuluh menit.

Aku sudah menunggu di depan rumah Shella, bersandar pada mobil sedan tua yang catnya sudah agak pudar di beberapa bagian, kaca jendelanya kadang berdecit kalau diturunkan, tapi mesinnya masih setia menderu.

Aku sudah merawat mobil ini semalaman — memastikan oli cukup, ban terisi udara dengan baik, dan membersihkan kursi sampai tidak ada debu sama sekali. Bukan karena mewah, tapi karena ini satu-satunya yang aku punya, dan aku ingin Shella merasa dihargai, bukan diistimewakan.

"Kraaaaaang..!" Pintu pagar rumah terbuka. Shella keluar, mengenakan pakaian yang sederhana tapi terlihat segar — kaos putih longgar, celana pendek kain, dan tas selempang kecil di bahu. Saat melihat mobilku, dia tidak meringis, tidak menoleh ke lain arah, malah tersenyum lebar dan melambai.

"Wah, siap berangkat ya?" serunya sambil mendekat.

Aku tersenyum canggung, dengan tangan meremas ujung kemeja sebentar sebelum membukakan pintu penumpang. "Maaf ya... mobilnya tua. Nggak sehalus yang Bapak Arif punya." ucapku pelan.

"Tap" Shella naik ke dalam, menutup pintu dengan lembut. "Siapa bilang harus mewah buat jalan-jalan? Yang penting nyamannya, bukan harganya. Ayo, gas!"

"Huuh.." Aku menghela napas lega, melingkarkan senyum di bibir, lalu masuk ke kursi pengemudi.

Mesin menyala dengan suara yang sedikit kasar, tapi mantap. "Broooom" Mobil meluncur perlahan meninggalkan gang perumahan, menuju jalan raya yang mulai ramai kendaraan wisatawan yang juga menuju pantai.

Perjalanan memakan waktu hampir dua jam. Di sepanjang jalan, kami ngobrol santai — soal lagu yang diputar di radio, soal kenangan masa kecil ke pantai, soal makanan yang paling enak kalau di tepi pantai.

Shella bercerita kalau dulu ayahnya sering mengajaknya ke pantai yang sama ini, membangun istana pasir bersama, lalu makan jagung bakar di pinggir ombak.

"Dulu aku selalu minta dibikinin istana yang paling tinggi," katanya sambil tertawa.

"Ayah bilang, kalau istananya lebih tinggi dari aku, aku boleh minta apa aja." lanjutnya.

Aku tersenyum mendengarnya.

"Terus kamu minta apa?" tanyaku penasaran.

"Es krim tiga rasa," jawab Shella sambil tertawa kecil.

"Sederhana banget ya? Tapi sampai sekarang, rasanya belum ada yang bisa ngalahin enaknya es krim itu di pinggir pantai." imbuhnya.

Mataku melirik tas di kursi belakang sebentar, di mana ada bungkusan kecil yang sudah Aku siapkan dari kemarin.

"Nanti lihat saja, hari ini kamu akan bisa mendapatkan rasa yang sama itu." gumamku dalam hati.

Sesampainya di pantai, kami mencari tempat yang agak teduh di bawah pohon kelapa, tidak terlalu dekat dengan keramaian penjual, tapi juga tidak terlalu sepi. "Sraaaak" menggelar tikar di atas pasir putih yang hangat terkena sinar matahari pagi. "Byuuuuuur..!" Suara ombak berdebur ritmis, menenangkan seolah membasahi segala beban yang kami bawa dari kota.

"Mau langsung main air dulu, atau istirahat sebentar?" tanyaku sambil meletakkan tas ranselnya di sudut tikar.

Shella menatap ke arah air laut yang berwarna biru muda di tepian, makin tua menjauh ke tengah.

"Aku ganti baju dulu ya pakai pakaian renang." jawab Shella sembari menyiapkan baju renangnya yang diambil dari tas.

"Silakan. Aku jaga barang-barang di sini," jawabku sambil mengangguk.

Shella berjalan menuju kamar bilas tidak jauh dari situ. Aku duduk di tepi tikar, memandang ombak sambil menyusun rencana kejutan kecil yang sudah dia siapkan satu per satu.

"Aku tidak bisa beli kalung berlian atau makan malam di restoran mewah. Tapi aku bisa kasih hal-hal yang Shella simpan di hati selama ini" gumamku pelan.

Tak lama kemudian, Shella berjalan kembali.

"Tap.. tap..tap" Langkah kakinya pelan di atas pasir, seolah setiap langkah membawa getaran yang mengubah suasana di sekitar mereka.

Pakaian renang yang dikenakannya pas di tubuh, menonjolkan lekuk tubuh yang langsing namun tetap terlihat lembut — bahu yang halus, lengan yang jenjang, pinggang yang ramping, dan garis kaki yang mulus memanjang ke arah pasir. Kulitnya terlihat cerah dan bersih, berkilau samar terkena sinar matahari yang makin meninggi.

Dia terlihat cantik, bukan karena pakaian atau aksesoris, tapi karena dia terbebas dari pakaian kerja yang kaku, terbebas dari tuntutan harus tampil sempurna. Dia terlihat alami, segar, dan penuh kehidupan.

Aku tertegun sejenak, mataku tak bisa tidak memandang, "Dug..dug" Jantungku berdebar kencang, bukan karena nafsu, tapi karena kagum. Aku sadar kalau sedang melihat seseorang yang sangat berharga, bukan sekadar dari luar, tapi dari dalam. "Srek" aku buru-buru menunduk sedikit, menyembunyikan kekaguman yang mungkin terlalu terlihat di mataku.

Shella menyadari tatapan itu, dan bukannya tersinggung, malah tersenyum malu sambil merapikan rambut yang tergerai di bahu.

"Kenapa? Aneh ya?" tanya Shella dengan pipi yang merona.

"Eh, Enggak... sama sekali enggak aneh," jawabku pelan, menatap matanya dengan tulus.

"Kamu terlihat cantik banget, Shella. Seperti... seperti pantai ini memang diciptakan biar kamu cocok di sini." imbuhku pelan penuh kekaguman.

Wajah Shella memerah pelan, senyumnya melebar. "Kamu bisa aja ngomong manis kalau."

"Bukan manis... cuma jujur," jawabku tenang. "Ayo, kita jalan ke tepian?"

Kami berjalan berdampingan di garis batas air dan pasir. "Sraasshhh" Ombak menyapu kaki kami berdua, dingin dan segar, membuat mereka tertawa kecil saat air yang makin tinggi hampir membasahi celana. kami berlari kecil menjauh saat ombak datang, "Splash" lalu kembali mendekat saat air surut, seperti bermain dengan alam itu sendiri.

Setelah puas bermain air, kami kembali ke tikar. Shella duduk bersila, menyeka rambut yang basah dengan handuk kecil. "Krusak" Aku merogoh tas ranselku, mengeluarkan bungkusan yang kubawa dari rumah.

"ini.. Untukmu" kataku sambil menyodorkan bungkusan itu.

Shella menerimanya dengan bingung, lalu membukanya perlahan. "krusak" Di dalamnya ada dua buah jagung bakar yang masih hangat, dibungkus kertas agar tetap terjaga suhunya.

"Kamu bawa dari rumah?" tanya Shella penuh keterkejutan.

"Iya. Aku bakar sendiri di dapur pagi-pagi tadi. Pakai bumbu yang mungkin kamu suka, manis sedikit pedas. Kalau salah, maaf ya," jawabku sambil tersenyum malu.

Shella menggigit ujung jagung itu, matanya membelalak senang. "Wah... ini enak banget! Bumbunya pas banget! Persis kayak yang dijual di pantai ini dulu waktu aku kecil."

"Syukurlah kalau kamu suka," jawabku lega.

"Aku cuma ingat kamu pernah bilang suka yang manis-pedas, jadi aku coba racik sendiri. Nggak sehebat penjual, tapi aku coba." lanjutku sembari menggaruk kepala yang tidak gatal.

"Kamu perhatian banget ya, Maxy. Hal kecil kayak gini aja kamu ingat," katanya sambil terus mengunyah dengan nikmat.

"Banyak orang yang lupa kalau hal kecil itulah yang paling bikin hati senang." imbuhnya lembut.

Saat matahari mulai mendekati puncak, suhu udara makin terasa panas.

"Krusak" Aku kembali mengeluarkan sesuatu dari tas — sebuah topi pantai sederhana berwarna biru muda, dan sebotol air minum yang sudah didinginkan di kulkas semalam.

"ini, dipakai ya" kataku sambil menyodorkan topi itu. "Biar nggak kepanasan. Aku perhatikan tadi kamu sering pegang dahi, kayaknya silau."

Shella menerima topi itu, "Pluk" memakainya di kepala dengan sedikit miring ke samping.

"Kamu ini beneran deh... kayak punya mata di mana-mana. Makasih ya, aku beneran butuh banget." ucap Shella penuh terimakasih.

Kami duduk bersandar pada batang pohon kelapa, membiarkan angin membelai rambut dan pakaian kami. "Slaawshhhh" Shella menceritakan impiannya suatu hari nanti ingin membuka kedai kecil di tepi pantai seperti ini — menjual makanan sederhana, bukan yang mahal, tapi yang bikin orang merasa seperti di rumah sendiri.

"Bukan soal untung besar," jelasnya. "Tapi biar tiap hari bisa lihat ombak, dengar suara air, dan ngobrol sama orang yang datang dari mana aja." lanjutnya penuh semangat.

Aku mendengarkan dengan saksama, tidak memotong, tidak menertawakan, tidak menyela dengan nasihat soal modal atau untung-rugi.

"Itu impian yang indah, Shella. Kalau kamu beneran mau, aku bantu sebisaku. Bantu cat dinding, bantu susun meja, apa aja yang aku bisa." ucapku pelan sambil tertawa kecil.

Shella menatapnya lekat-lekat, matanya berkilau terkena sinar matahari.

"Kamu serius?" tanyanya.

"Serius. Bukan janji manis, cuma tawaran tulus. Aku nggak bisa kasih modal besar, tapi tenaga dan waktuku aku punya cukup banyak," jawabku tulus.

Mata Shella berkaca-kaca pelan, dia tersenyum lebar.

"Kamu beneran beda ya, Maxy. Banyak orang bilang 'bisa bantu' tapi cuma di mulut. Rata-rata cuma pakai uang atau barang, tapi kamu rela melakukan dengan dirimu sendri" ucap Shella sedikit kagum.

"Karena memang itu yang aku punya, hehehe," jawabku sembari menatap jauh ke arah pantai.

Menjelang sore, matahari mulai turun ke arah barat. Pasir yang tadinya panas kini terasa hangat dan lembut di telapak kaki. Aku berdiri, "krusak" merogoh tas sekali lagi, kali ini mengeluarkan kotak kecil yang dibungkus kertas kado sederhana.

"Ini khusus aku buat untukmu Shella, paling kecil, tapi yang paling lama aku persiapkan," kataku sambil menyodorkan kotak itu.

"Tap" Shella menerimanya dengan tangan yang sedikit gemetar, membuka bungkusnya pelan-pelan.

Di dalamnya tidak ada cincin berlian atau perhiasan mahal. Ada sepotong batu halus yang sudah dipoles, diukir sederhana bentuk bunga matahari di permukaannya, dan diikat tali kulit sederhana jadi kalung.

"Aku ambil batu ini di pantai lain, waktu aku lari pagi minggu lalu. Terus aku halusin sendiri, ukir sendiri" ucapku lirih.

"Nggak rapi, aku tahu..." kepalaku menunduk sedikit, takut dinilai jelek.

"Tapi aku ingat kamu suka bunga matahari. Dan aku pengen kamu punya sesuatu yang... dari aku, bukan dibeli pakai uang, tapi dari waktu dan tenaga aku sendiri." ucapku dengan suara gemetar.

Shella mengangkat batu itu ke arah cahaya matahari sore, "Ting" menatap ukiran yang sederhana namun jelas bentuknya. Matanya berkaca-kaca, bibirnya gemetar pelan.

"Maxy... ini... ini lebih berharga dari apa pun yang pernah dikasih ke aku," katanya dengan suara yang tercekat.

"Bukan karena mahal, tapi karena kamu buat sendiri. Kamu luangin waktu, kamu pikirin, kamu kerjain... itu yang bikin mahal, bukan harganya." lanjutnya dengan mata berkaca-kaca.

Dia memakai kalung itu di leher, batu itu jatuh tepat di tengah dada, terlihat sederhana namun bermakna. Lalu dia menatapku, matanya menatap dalam seolah melihat lebih dari sekadar wajah di depannya.

"Makasih ya, Maxy. Hari ini... hari ini beneran hari yang indah. Aku nggak nyangka bisa senang sesederhana ini. Nggak perlu tempat mewah, nggak perlu mobil mewah, nggak perlu makanan mahal. Cuma jalan bareng, ngobrol, makan jagung bakar, lihat ombak... dan aku udah senang banget."

"Huuufft" Dia menarik napas dalam-dalam, membiarkan udara laut mengisi dadanya, lalu tersenyum lebar ke arahku.

"Kamu bikin aku ngerasa berharga, Maxy. Bukan karena aku diistimewakan, tapi karena aku dilihat, didengar dan dihargai apa adanya."

DING!

PEMBERITAHUAN SISTEM

Hubungan dengan Maxy: 50% (+23%)

Hubungan dengan Roxy: 26% (Stagnan)

Sumber: Kejujuran penuh tanpa topeng, perhatian detail yang konsisten, usaha nyata tanpa uang, momen emosi mendalam yang murni sebagai Maxy. Lompatan besar karena Shella merasa dilihat dan dihargai apa adanya.

Langit makin gelap, lampu-lampu pinggir pantai mulai menyala satu per satu. Kami berjalan kembali ke mobil, langkah pelan seolah sama-sama tidak ingin hari ini berakhir.

Di perjalanan pulang, Shella tertidur sebentar di kursi penumpang, napasnya teratur dan tenang. Aku sesekali melirik ke samping, tersenyum sendiri melihat wajah yang tenang itu.

"Dan hari ini, di pantai itu, aku merasa untuk pertama kalinya... mungkin aku tidak kalah. Aku tidak harus mengalahkan siapa pun, tapi hanya perlu menjadi diriku sendiri" gumamku dalam hati yang kini terasa lebih hidup.

Sesampainya di depan rumah Shella, dia terbangun saat mobil berhenti. Matanya masih sedikit mengantuk, tapi senyumnya masih sama hangatnya seperti sepanjang hari tadi.

"Udah sampai ya?"

"Iya. Hati-hati masuk ya," kataku pelan.

Shella tidak langsung turun. Dia menatapku sebentar, lalu mengulurkan tangan memelukku sebentar — pelukan yang tulus, hangat, dan penuh terima kasih tanpa kata-kata. Aku membalas pelukan itu pelan, dengan hati berdebar kencang tapi tenang.

"Makasih ya, Maxy. Ini hari terbaik yang pernah aku alami lama ini," bisiknya pelan di telingaku sebelum melepaskan pelukan dan turun dari mobil.

"Minggu depan kalau bisa... kita ke sini lagi ya?" ajaknya penuh harap.

Aku tersenyum lebar, tulus sekali. "Boleh. Aku tunggu kabar kamu." jawabku lembut penuh semangat.

Shella melambaikan tangan di depan pintu pagar, sampai mobilku melaju menjauh. Kalung batu ukir bunga matahari masih tergantung di lehernya, "Ting" berkilau samar di bawah lampu jalan.

Aku menyetir pulang dengan hati yang ringan, meski tahu Roxy masih menunggu di ujung malam. Tapi untuk saat ini, di jalan pulang yang sunyi itu, aku cuma Maxy. Dan itu sudah cukup.

 

1
Lylik Kurniawan
iya.. platform nya memang aneh.. masa beranda isinya cm top tier wkwkwk🤣🤣🤣🤣
Kenzy Elbarra
ceritanya bagus..tapi sayang gk dimunculin diberanda sama platform /Puke//Puke//Puke//Puke/
Lylik Kurniawan
😍😍😍😍😍😍😍
Lylik Kurniawan
Bagus. beneran fresh.. aku ksih bintang 5
Lylik Kurniawan
bagus dan beda. like this!!!😍😍😍
Kenzy Elbarra
hehehe 😍😍😍
Salwina Riyani
mewek gw ... 🤣🤣🤣🤣🤣
Salwina Riyani
😍🤭😍🤭🤭😍🤭😍😍
Salwina Riyani
wadidawwww... 😍
Salwina Riyani
heran.. pdhl ini novel bagus.. knpa msh sepi ya
Salwina Riyani
nusuukkkm
Salwina Riyani
seruuuuu.....!!! bener bener beda dari yang lain.. byee bye CEO... bosen gw ma alur CEO wkwkwk
Salwina Riyani
seruuuu.... 😍😍😍😍😍😍
Ma Xy
gasssss terussss kak...
Ma Xy
lanjutkan kaka.. saya suka🙏😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!