NovelToon NovelToon
MODEL RAHASIA TEMAN KAKAK

MODEL RAHASIA TEMAN KAKAK

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: MissSHalalalal

Hayden menghentikan langkahnya tepat di tepi podium. Tatapannya menelusuri tiap lekuk tubuh Aluna. Pria itu mengulurkan tangannya, seolah-olah hendak membenarkan letak kain selendang yang tersingkap di atas paha Aluna.

Namun, gerakan jemari Hayden tidak berhenti di sana. Jemarinya yang dingin dan kasar bergeser perlahan, sengaja menyapu permukaan kulit halus Aluna, bergerak semakin naik menyentuh area yang tertutup selendang putih tipis itu.

Sentuhan asing dan lancang itu seketika meletupkan amarah Aluna.

"Jangan sentuh!"

Aluna menepis tangan Hayden dengan kibasan keras. Dalam sekejap, gadis itu menarik kain selendang untuk menutupi dadanya, merapatkan kedua kakinya, dan mundur ke sudut podium. Matanya yang sembab menatap Hayden dengan kilatan amarah yang membara.

"Jaga tanganmu, Hayden!" bentak Aluna dengan suara bergetar hebat, napasnya memburu cepat oleh kombinasi rasa takut dan murka. "Aku di sini cuma jadi model lukisanmu! Aku menjual posisiku sebagai model untuk melunasi _

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MissSHalalalal, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

15

Lampu-lampu koridor Rumah Sakit Medika mulai menyala terang, menggantikan remang sore yang berangsur gelap. Di Ruang Melati, suasana terasa jauh lebih hangat dari biasanya.

Suster Maya tengah berdiri di samping ranjang Romeo, memeriksa tetesan infus sambil sesekali tertawa kecil.

"Mas Romeo ini kalau disuruh minum obat susah luar biasa, ya," goda Suster Maya seraya merapikan letak selimut Romeo. "Padahal badannya tinggi besar begini, tapi takutnya sama pil pahit melebihi anak kecil."

Romeo tetap mempertahankan raut wajahnya yang datar. "Saya bukan takut pahit, Suster Maya. Hanya saja ukuran obatnya terlalu besar. Rasanya seperti menelan batu."

"Ada-ada saja alasannya," Suster Maya terkekeh sambil menggelengkan kepala. "Pokoknya nanti malam obatnya harus diminum sampai habis, ya. Kalau tidak, saya adukan ke Mbak Aluna."

"Ekhem."

Suara deheman berat mendadak terdengar dari arah pintu. Suster Maya terkejut dan seketika berbalik. Di ambang pintu, berdiri seorang pria berpostur jangkung dengan setelan jas gelap yang begitu elegan. Aura dominan dari sosok Hayden Mahendra seketika membekukan seloroh canda di ruangan itu.

"Tuan Hayden," panggil Suster Maya seraya menundukkan kepala sopan.

Hayden melangkah masuk tanpa suara, kedua tangannya terbenam di dalam saku celana. Pandangannya menyapu Suster Maya sejenak sebelum beralih menatap Romeo.

"Bagaimana kabarmu hari ini, Romeo?" tanya Hayden.

"Sudah jauh lebih baik, Hayden. Tekanan darah dan kondisiku stabil hari ini," jawab Romeo datar, tetap tenang meski terbaring di ranjang.

"Bagus kalau begitu," balas Hayden singkat.

Suster Maya yang merasa atmosfer mendadak kaku segera mengambil papan catatannya. "Kalau begitu, saya permisi dulu, Mas Romeo, Tuan Hayden. Jika ada yang dibutuhkan, silakan tekan bel di atas ranjang."

Setelah mendapat anggukan singkat dari Hayden, Suster Maya bergegas melangkah keluar.

Hayden berjalan mendekat, menarik kursi di sisi ranjang lalu duduk menyilang kaki. "Di mana Aluna?" tanyanya kasual.

"Dia sedang kuliah," sahut Romeo menyandarkan punggung pada bantal. "Tadi pagi-pagi sekali sudah berangkat karena ada kelas jam delapan. Katanya dosennya sangat ketat, jadi harus datang tepat waktu."

Romeo mengatakan hal itu dengan penuh kepastian. Namun di balik wajah dingin Hayden, rahang pria itu mengeras rapat. Hayden tahu betul seluruh jadwal kuliah Aluna—dan ia tahu pasti bahwa hari ini jurusan Aluna sama sekali tidak ada jadwal.

Gadis kecil itu membohongi kakaknya sendiri demi menghindariku, batin Hayden dingin.

"Begitu," sahut Hayden singkat, menahan amarahnya dengan rapi.

Romeo menatap Hayden lekat-lekat. "Hayden, ada satu hal yang ingin aku tanyakan."

"Apa itu?"

"Soal biaya rumah sakit ini... pihak administrasi bilang seluruh tagihan operasi, kamar, hingga obat-obatan sudah ditanggung oleh sebuah yayasan donor bernama Mahendra Foundation," ujar Romeo menatap lurus iris mata Hayden. "Apakah yayasan itu ada hubungannya denganmu?"

"Tidak," jawab Hayden lugas tanpa ragu. "Itu yayasan sosial milik keluarga yang dikelola tim manajemen terpisah. Mereka punya program bantuan medis tahunan untuk kasus darurat seperti dirimu. Aku hanya memberikan rekomendasi nama berkasmu agar diproses lebih cepat oleh kurator, lagipula kau karyawan Mahendra Group."

Hayden menyandarkan punggungnya, mengibas-ibaskan tangan pelan. "Jadi kau tidak perlu memikirkan soal biaya atau merasa berutang. Fokus saja pada pemulihanmu."

Romeo menghela napas panjang lalu mengangguk pelan. "Terima kasih, Hayden. Tanpa bantuan rekomendasimu, aku tidak tahu bagaimana nasibku dan Aluna."

"Tidak perlu sungkan," balas Hayden datar.

*

Denting gagang pintu mendadak memecah keheningan. Pintu terdorong terbuka dan sosok Aluna muncul di ambang pintu. Senyum lega di paras cantiknya seketika membeku total begitu matanya menangkap sosok Hayden.

"Aluna?" panggil Romeo heran. "Kamu sudah pulang, Na? Bukannya baru jam satu siang? Katanya tadi ada kuliah sampai sore?"

Dada Aluna berdegup kencang secara brutal. Ia meremas tali ranselnya kuat-kuat. "I-iya, Kak... Dosen kelas siang tiba-tiba ada halangan mendadak, jadi... kuliahnya dibatalkan dan diganti tugas mandiri. Makanya Aluna langsung balik."

"Oh, begitu..." Romeo mengangguk percaya. "Pas sekali, di sini ada Hayden."

Hayden berdiri dari kursinya, membenahi letak kancing jasnya. "Kebetulan yang sangat menyenangkan, Aluna. Aku baru saja membicarakan perkembangan pemulihan kakakmu."

Hayden melangkah pelan mendekati Aluna. Saat berdiri tepat di sampingnya, Hayden menundukkan kepala sedikit.

"Kebohongan yang sangat rapi untuk seorang gadis polos, Aluna," bisik Hayden amat pelan di pucuk telinganya. "Tapi kau lupa... tidak ada satu pun gerakanmu yang bisa terlepas dari jangkauanku."

Aluna menahan napas, matanya membelalak horor. Sebelum ia sempat merespons, Hayden kembali berbicara pada Romeo dengan nada santai.

"Aku ada urusan penting, Romeo," kata Hayden. "Aku permisi dulu. Jika ada kebutuhan mendadak, minta adikmu menghubungi nomor sekretarisku."

"Terima kasih banyak atas waktumu, Hayden. Hati-hati di jalan," balas Romeo tulus.

Hayden mengangguk singkat, memberikan satu lirikan tajam pada Aluna sebelum melangkah keluar. Begitu sosok pria itu menghilang, Aluna menyandarkan punggungnya di pintu yang tertutup rapat, menghembuskan napas panjang yang tersengal.

*

Pintu Ruang Melati tertutup rapat, menyisakan keheningan yang menyesakkan dada Aluna. Tubuhnya bersandar lemas pada daun pintu usai ditinggalkan Hayden.

"Na? Kamu kenapa? Kok mukanya pucat sekali?" suara Romeo memecah lamunan Aluna.

Aluna tersentak kecil, lalu cepat-cepat menegakkan tubuhnya dan memoles senyum manis. Ia melangkah mendekati ranjang dan menaruh ranselnya di meja nakas. "Nggak apa-apa, Kak. Aluna cuma agak capek aja tadi jalan cepat-cepat dari halte bus."

"Kan ada Suster Maya sama dokter, Na. Kamu jangan terlalu memaksakan diri," tutur Romeo lembut. "Nanti kalau kamu sakit, Kakak malah makin kepikiran."

"Aluna kuat, Kak," jawab Aluna mantap seraya menggenggam jemari kakaknya.

Di dalam hatinya, tekad Aluna kian bulat. Bisikan mengancam dari Hayden tadi tidak membuat mentalnya runtuh. Ia sudah memiliki pekerjaan di Lumière Coffee & Eatery. Esok malam adalah shift pertamanya. Apapun yang direncanakan Hayden, Aluna berjanji tidak akan menyerah.

Malam harinya, di sebuah gedung perkantoran pusat bisnis, Hayden berdiri di dekat dinding kaca raksasa kantornya. Di tangannya, gelas kristal berisi whisky diayunkan pelan, membuat es batu di dalamnya berdenting.

Dua ketukan di pintu memecah kesunyian ruangan.

"Masuk," komando Hayden datar tanpa berbalik.

Rendra, orang kepercayaan Hayden, melangkah masuk dengan tegap. "Tuan Mahendra, laporan mengenai Nona Aluna sudah selesai disusun."

Hayden menyesap minuman di tangannya, lalu memutar tubuhnya. "Katakan."

Rendra membuka map hitam yang dibawanya. "Hari ini Nona Aluna tidak menghadiri perkuliahan."

Dahi Hayden bertaut tipis.

"Sekitar pukul dua belas siang, Nona Aluna mendatangi Lumière Coffee & Eatery di Jalan Veteran dan diwawancara oleh pemiliknya, Ibu Diana," lanjut Rendra. "Nona Aluna diterima bekerja sebagai server dan kasir untuk shift malam, mulai besok pukul enam sore hingga dua belas malam."

Brak!

Hayden menghantamkan gelasnya ke atas meja jati cukup keras. Sudut bibirnya terangkat, mengulas senyum miring yang dingin. Gadis itu benar-benar berniat melepaskan diri darinya.

"Menjadi pelayan kafe hanya demi menghindari perjanjian denganku..." gumam Hayden seraya tertawa kaku. "Kau sangat lugu, Aluna."

Hayden berjalan mendekati dinding kaca kembali, menyilangkan kedua tangannya di dada. Kebohongan Aluna pada Romeo tadi siang, hingga keberaniannya menepis tangannya di studio, makin membakar dorongan gila di dalam dadanya.

"Beli kafe itu besok pagi," perintah Hayden dingin.

Rendra tertegun sejenak. "Maksud Tuan... Lumière Coffee & Eatery?"

"Beli seluruh sahamnya. Lipat gandakan harganya jika pemiliknya menolak," tegas Hayden tanpa ruang bantahan. "Ubah kepemilikannya atas namaku sebelum pukul lima sore besok. Buat pemilik lamanya tetap bekerja di sana sebagai manajer tanpa mengubah aturan kafe."

Hayden menatap Rendra dari sudut matanya dengan kilatan tajam.

"Aku ingin saat Aluna melangkahkan kakinya besok malam... dia menyadari bahwa tempat yang ia sangka sebagai ruang kebebasannya, tak lebih dari sekadar sangkar baru yang sudah kukuasai."

*

*

*

1
Mita Paramita
🔥🔥🔥
Mia Camelia
Hayden makin gak bisa melepaskan Aluna nih🤭
𝐀⃝🥀Weny
baru aja baca, udah disuguhin Bombay banyak sama othor😭
Mia Camelia
siap thor 😁penasaran nih visual ny gimana😂
diga pues
+21☻️☻️☻️
diga pues
☻️☻️☻️
diga pues
serigala☻️
diga pues
ugh☻️
Mia Camelia
hayden obsesif banget ini mah ke aluna🤭
sukaa banget nih sama modelan ky hayden 😁
diga pues
ugh🌚
Ita Putri
haduuhh
bahaya Aluna
sudah dong Hayden kasihan aluna
Mia Camelia
lanjut thor😁
Mita Paramita
Thor nih novelnya sampai tamat kn? gak kayak novel kemarin yang dihapus? padahal lagi seru cerita ny
Mita Paramita: siap Thor 🔥🔥🔥🔥
semangat Thor 🔥🔥🔥
total 2 replies
Mia Camelia
seru banget thor😁😁😁
MissSHalalalal: terimakasih kak🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!