Clara Nagendra, siswi berprestasi dengan senyum tempelan sempurna, hidup dalam rumah dingin yang hanya memuja adiknya, Thea. Di balik nilai 98 dan piala emas, ia menyembunyikan gagal ginjal kronis stadium 4 dalam diary biru lusuhnya. Hanya Nenek Kamila dan tiga sahabatnya yang melihat lukanya. Pertemuannya dengan Kim Seokjin, ketua geng motor yang ditakuti, mengubah segalanya. Dari musuh jadi rumah. Dari taman belakang yang bersih hingga janji rumah kecil bernomor 7 di Lembang, Clara akhirnya menemukan tempat pulang — bukan gedung, melainkan pelukan yang tidak menuntutnya sempurna. Sebuah kisah tentang luka yang tak terlihat, cinta yang menjadi tempat istirahat, dan rumah yang tertinggal namun tetap menyala.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja Juliani Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 15 — Thea Selalu Lebih Penting
Hari itu rumah Nagendra rame lagi. Tapi rame yang gak enak.
Jam 5 pagi, Thea muntah-muntah. Terus demam tinggi. Badannya lemes.
Mama Vania langsung panik setengah mati. Teriak-teriak manggil Papa Faizan. Papa langsung nelpon dokter keluarga. Nenek Kamila yang lagi sholat subuh langsung batal, lari ke kamar Thea.
Satu rumah heboh. Cuma satu orang yang diem di depan kamar mandi sambil megangin perutnya yang juga mual.
Clara.
Clara juga dari semalem mual. Gara-gara obatnya telat diminum. Tapi gak ada yang nanya. Semua fokus ke Thea.
"Thea, sayang, minum dulu. Dikit aja," Mama Vania suapin Thea air putih sambil nangis.
Papa Faizan bolak-balik nelpon ambulans. Padahal Thea cuma demam sama muntah, belum sampe harus ambulans. Tapi di rumah ini, kalau Thea sakit, levelnya selalu gawat darurat.
Clara berdiri di depan pintu kamar Thea. Mau masuk, bantuin.
"Ma, butuh apa? Aku bantuin ambil handuk?"
Mama Vania noleh. Mukanya kesel.
"Clara, kamu jangan di sini dulu! Bikin sempit! Sana siapin bubur buat Thea!"
Clara angguk. Jalan ke dapur. Bikin bubur.
Nenek Kamila ngikutin dari belakang. "Biar Nenek aja yang bikin, Ra. Kamu duduk dulu. Muka kamu pucet."
"Gak apa, Nek. Aku bisa."
Clara bikin bubur. Tangannya gemeter karena dia juga belum makan dari semalem. Mual.
Pas bubur jadi, dia anterin ke kamar Thea.
Thea lagi tiduran di pangkuan Mama. Papa di sampingnya mijitin kaki Thea.
Clara nyodorin bubur. "Ma, buburnya udah jadi."
Mama ambil tanpa ngeliat Clara. "Taruh aja di meja."
Clara taruh. Mau keluar, tapi Papa manggil.
"Clara."
"Iya, Pah?"
"Kamu hari ini sekolah gak?"
Clara angguk. "Masuk, Pah. Ada try out lagi."
"Ya udah, jangan telat. Jangan bikin masalah di sekolah. Nilai kamu kemarin 98 kan? Turun lagi? Harusnya 100. Kamu tuh kakak, harus kasih contoh ke Thea. Thea lagi sakit gini, kamu jangan nambahin beban Mama Papa dengan nilai turun."
Clara diem. Ngeremas ujung baju.
Padahal dia baru aja bikin bubur jam 5 pagi sambil nahan mual.
"Iya, Pah."
"Udah sana siap-siap sekolah. Biar Mama yang jagain Thea."
Clara keluar kamar. Jalan ke kamarnya. Tutup pintu pelan.
Di dalem kamar, dia duduk di lantai. Punggung nyender ke kasur.
Dia denger dari luar, Mama ngomong manja ke Thea, "Sayang, makan dikit ya, biar cepet sembuh. Mama di sini kok."
Suara yang gak pernah dia denger buat dia.
Dia buka diary biru. Nulis cepet, tangannya gemeter.
Thea sakit lagi. Rumah heboh lagi.
Gue bikin bubur jam 5 pagi sambil mual, gak ada yang bilang makasih.
Papa cuma bilang "jangan bikin masalah, nilainya harus 100".
Padahal gue juga mual dari semalem. Tapi gak ada yang nanya.
Thea selalu lebih penting. Selalu.
Gue ngerti Thea adek gue, gue sayang dia. Tapi kadang gue pengen juga diperhatiin kayak gitu sekali aja. Sekali aja.
Clara berangkat sekolah. Jalan kaki. Gak ada yang nganterin karena semua fokus ke Thea.
Di sekolah, dia telat 10 menit. Bu Wati ngomel dikit, tapi biarin masuk.
Mutiara langsung nyamperin.
"Ra, lo gapapa? Muka lo pucet banget. Tadi Nenek lo bilang Thea sakit?"
Clara angguk. "Iya, dari subuh."
"Terus lo gimana? Lo kan juga masih demam kemarin?"
"Gue gapapa. Udah biasa."
Jam istirahat, Clara gak ke kantin. Duduk di kelas sendirian. Nunduk.
Seokjin lewat koridor kayak biasa. Ngeliatin dari jendela. Ngeliat Clara nunduk sendirian.
Dia masuk kelas 11. Gak peduli anak-anak lain ngeliatin.
"Clara," panggilnya pelan.
Clara noleh. Matanya merah.
"Lo kenapa lagi?"
Clara geleng. "Gapapa, Kak."
"Boong. Muka lo kayak abis nangis."
Clara diem. Terus tiba-tiba jebol. Nangis pelan. Gak sesenggukan, cuma air mata netes terus.
Seokjin panik. Duduk di bangku depan Clara, balik badan biar bisa ngeliatin Clara.
"Thea sakit lagi," bisik Clara. "Dari subuh. Satu rumah heboh. Gue bikin bubur, gak ada yang bilang makasih. Papa malah bilang gue jangan bikin masalah, nilai harus 100. Padahal gue juga sakit dari semalem, Kak. Tapi gak ada yang nanya."
Seokjin dengerin. Gak motong.
"Gue tau Thea adek gue, gue harus ngalah. Tapi capek, Kak. Tiap Thea sakit, gue jadi invisible. Kayak gak ada di rumah itu. Padahal gue ada."
Seokjin ngeluarin tisu dari saku. Kasih ke Clara.
"Gue ngerti rasanya jadi invisible," katanya pelan. "Gue juga gitu di geng kadang. Kalau gak berantem, gak dianggap."
Clara ngusap air mata.
"Lo udah cukup kok, Ra. Lo udah bikin bubur jam 5 pagi sambil sakit. Itu udah lebih dari cukup. Kalau mereka gak liat, bukan salah lo."
Clara nangis lagi. Tapi kali ini lega dikit.
Sorenya, Clara pulang. Rumah masih rame. Dokter keluarga dateng. Periksa Thea.
Clara masuk pelan. Naruh sepatu rapi. Gak ada yang nyapa.
Di dapur, Nenek Kamila lagi cuci piring. Ngeliat Clara pulang, langsung nyamperin.
"Ra, kamu udah makan?"
Clara geleng.
"Sini, Nenek sisain ayam goreng sama sop. Makan dulu gih."
Clara duduk di dapur. Makan pelan. Nenek duduk di sebelahnya.
"Ra, Nenek tau kamu capek," bisik Nenek. "Nenek liat kamu bikin bubur subuh-subuh tadi sambil nahan mual. Nenek liat kamu berangkat sekolah jalan kaki padahal pucet."
Clara berhenti makan. Ngeliatin Nenek.
"Nenek aja yang liat ya, Nek?"
Nenek angguk. Matanya berkaca-kaca. Ngelus kepala Clara.
"Nenek liat semuanya, sayang. Kamu tuh kuat banget. Tapi kalau capek, bilang Nenek ya. Jangan ditahan sendiri."
Clara nangis lagi di dapur. Dipeluk Nenek.
Di ruang tengah, Mama Vania masih mijitin Thea. Papa Faizan masih nelponin dokter lain buat second opinion.
Gak ada yang tau di dapur, anak pertama mereka lagi nangis dipelukan Neneknya karena ngerasa gak pernah cukup penting.
Malamnya, Clara di kamar. HP geter.
Seokjin: Thea gimana?
Clara: Udah mendingan. Demamnya turun.
Seokjin: Terus lo gimana? Lo udah makan?
Clara kaget. Kok bisa tau dia belum makan?
Clara: Udah. Tadi sama Nenek.
Seokjin: Bagus. Jangan lupa obatnya. Yang di tas Mutiara.
Clara: Iya bawel.
Seokjin: Gue bawel karena lo gak pernah jaga diri sendiri. Selalu jagain orang lain.
Clara baca chat itu. Lama.
Dia ngerasa, di rumah yang rame ini, cuma dua orang yang nanya dia udah makan apa belum. Nenek Kamila sama Seokjin.
Padahal Thea selalu lebih penting buat semua orang.
Tapi buat dua orang itu, Clara yang paling penting.
Clara nulis lagi di diary.
Hari ini Thea sakit. Rumah heboh.
Gue ngerasa invisible lagi.
Tapi Nenek liat gue. Seokjin liat gue.
Mungkin gak apa-apa kalau cuma dua orang yang liat gue. Asal mereka liat gue bener-bener.
Thea selalu lebih penting buat Mama Papa. Tapi buat Nenek sama Seokjin, gue penting.
Itu aja udah cukup buat hari ini.
Clara tutup diary. Di luar kamar, suara Thea nangis manja minta digendong Mama masih kedengeran.
Clara tarik selimut. Coba tidur.
Besok harus ranking 1 lagi. Harus sempurna lagi. Biar Papa gak bilang dia beban.
Padahal hari ini aja, jadi Clara yang keliatan aja udah berat banget.