NovelToon NovelToon
Ketika Takdir Berbicara

Ketika Takdir Berbicara

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / Perjodohan
Popularitas:108k
Nilai: 5
Nama Author: Yam_zhie

Hidup Zheana berubah di saat harus menggantikan sang Kakak menikah. Niken kabur di saat hari pernikahan dengan Khadafi.

Ibunya mengamuk dan malah menyalahkan Zheana atas apa yang terjadi. Zheana bahkan di maki dan di siksa ibunya, Khadafi yang tak tega melihat Zheana membawa dia pergi dari sana.

Mereka tinggal di Apartemen milik Khadafi yang sudah di persiapkan sebelumnya. Rupanya kelembutan Zheana mengubah hati Khadafi dan mulai mencintai istrinya. seperti yang di katakan Umi dan Abinya, jika ini adalah jalan Allah SWT untuk menunjukkan jodoh Khadafi.

Selama pernikahan tak semulus itu, karena ibunya Zheana masih terus membencinya. saat Zheana hamil, rupanya Niken kembali. Apakah Khadafi akan kembali kepada Niken?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Zheana 24

Pintu ruangan CEO tertutup rapat di belakang tubuh Zheana. Gadis itu menekan dadanya yang naik turun tak beraturan, berusaha menetralkan debar jantung yang serasa mau melompat keluar. Senyum tipis yang sempat terukir di bibirnya buru-buru disembunyikan saat ia melangkah masuk ke dalam lift service.

Begitu pintu lift terbuka di lantai 12, sesosok wanita dengan rambut dikuncir kuda dan memegang cangkir kopi langsung menghadangnya di lorong. Arin, teman terdekat Zheana di divisi marketing, menatapnya dengan mata membelalak curiga.

"Zhea! Kamu kok lama banget di atas?" bisik Arin seraya menarik lengan Zheana menjauh dari lalu lalang karyawan lain.

"Gimana? Kamu kena semprot Es Kutub nggak? Muka Pak Khadafy serem banget nggak tadi?"

Zheana tersentak kecil, refleks membetulkan letak id-card di dadanya untuk menutupi gugup.

"Nggak kok, Rin. Pak Khadafy cuma minta diperjelas beberapa detail di proposal. Terus... beliau juga rada teliti memeriksa angkanya, makanya agak lama."

Arin memicingkan matanya, mengamati rona merah yang masih tersisa di kedua pipi Zheana.

"Tapi muka kamu kok merah banget gitu? Kamu digalakkin ya sama beliau sampai mau nangis?"

"Nggak, Arin... ini cuma agak panas aja tadi di lorong," kilih Zheana seraya tertawa kecil yang dipaksakan.

"Udah ah, ayo balik ke kubikel, nanti Pak Bambang nyariin lagi."

Arin menghembuskan napas lega seraya merangkul bahu Zheana. "Syukurlah kalau kamu nggak apa-apa. Kamu tahu nggak, dari tadi pagi tuh seisi kantor pada ketakutan mau naik ke lantai atas. Gosip soal Pak Khadafy batal nikah itu beneran bikin aura satu gedung ini kayak mau kiamat. Tapi aneh ya, padahal lagi ada masalah pribadi sebesar itu, beliau kok tetep fokus dan profesional banget."

Zheana hanya tersenyum tipis, membiarkan Arin terus menceritakan berbagai spekulasi heboh para karyawan tanpa bermaksud menyanggah satu kata pun. Dalam hatinya, ada perasaan hangat yang membuncah setiap kali mengingat bagaimana pria dingin yang ditakuti satu gedung itu sebenarnya sangat lembut, protektif, dan begitu memperhatikannya saat mereka sedang berdua.

Saat mereka berdua kembali ke meja kerja masing-masing, ponsel di dalam tas kerja Zheana bergetar pelan. Sebuah notifikasi pesan masuk muncul di layar. Zheana melirik ke arah Arin yang sudah sibuk menatap layarnya sendiri, lalu membuka pesan tersebut dengan hati-hati.

Mas Khadafy:

'Makan siang nanti jangan keluar gedung. Pak Mamat akan antarkan makan siang untukmu ke lantai 12.'

Zheana menggigit bibir bawahnya, menahan rasa yang hinggap di dadanya. Jemarinya dengan cepat membalas.

Zhea:

"Mas Khadafy, jangan! Nanti teman-teman kantor, terutama Arin, curiga kalau ada yang anterin makanan khusus buat Zhea,"

Hanya butuh hitungan detik hingga balasan kembali masuk.

Mas Khadafy:

'Pak Mamat akan menitipkannya ke resepsionis atas nama katering langganan. Makan yang banyak, kamu tadi pagi cuma makan sedikit,'

Zheana menarik napas dalam, memandangi layar ponselnya dengan binar mata yang berbinar lembut. Rasa ragu dan cemas akan bayang-bayang masa lalu perlahan luruh, berganti dengan kepastian bahwa di balik dinding kaku gedung ini, ada seorang suami yang siap menjaganya dalam diam.

Sore harinya, tepat pukul lima, Zheana mengendap-endap menuju area basement P-2. Koridor sepi itu membuat langkah kakinya terdengar nyaring. Di sudut yang agak tersembunyi, sedan hitam milik Khadafy sudah menyala. Pak Mamat yang bersiap membukakan pintu seketika dihentikan oleh isyarat tangan Khadafy dari dalam.

Zheana dengan cepat meluncur masuk ke kursi samping pengemudi. Pintu tertutup rapat, mengisolasi mereka dari dunia luar. Suara mesin mobil yang halus mulai membelah jalanan ibu kota.

Di dalam mobil, kecanggungan mendadak menyergap. Khadafy yang telah melepas jasnya, kini hanya mengenakan kemeja biru gelap dengan lengan tergulung hingga siku. Aroma parfum maskulinnya memenuhi kabin, membuat Zheana tak berani menoleh sedikit pun. Ia terus menatap lurus ke kaca depan, meremas tali tasnya.

"Kenapa duduk sejauh itu?" suara bariton Khadafy memecah keheningan. Pria itu menyetir dengan satu tangan santai di kemudi.

"Aku tidak menggigit, Zheana."

"Eh.. nggak apa-apa, Mas," cicit Zheana pelan. "Zhea cuma... masih agak kaget sama kejadian seharian ini."

Khadafy meliriknya sekilas, sudut bibirnya terangkat tipis. "Kaget karena ucapan suami sendiri di kantor?"

Pipi Zheana seketika membara. "Mas Khadafy! Jangan dibahas di sini, ada Pak Mamat..."

"Pak Mamat berada di mobil kantor di belakang kita," sahut Khadafy tenang. "Ini mobil pribadiku. Hanya ada aku dan kamu."

Zheana makin salah tingkah. Ia menggigit bibirnya, mengalihkan pandangan ke luar jendela untuk menyembunyikan senyumnya yang mendadak ingin terukir.

Tiga puluh menit kemudian, mereka tiba di sebuah supermarket premium di kawasan Jakarta Selatan. Khadafy mengambil troli belanjaan, sementara Zheana berjalan agak canggung di sampingnya. Kombinasi ketampanan Khadafy yang berwibawa dan kesederhanaan Zheana menarik perhatian beberapa pengunjung lain.

"Mas... beneran mau belanja di sini?" bisik Zheana, melirik sekeliling. "Tempatnya ramai banget. Gimana kalau ada anak kantor yang lewat? Aku khawatir mereka akan membicarakan kamu, dan membuat nama kamu jadi jelek di kantor!"

"Kalau ada yang lihat, katakan saja kamu sedang menemani CEOmu belanja untuk keperluan kantor," goda Khadafy santai, mendorong troli mengikuti langkah Zheana menuju area bahan segar.

"Mana ada CEO belanja sayur sama staf juniornya!" sergah Zheana gemas, refleks mencubit pelan lengan kemeja Khadafy.

Begitu menyadari tindakan berani itu, Zheana buru-buru menarik tangannya dengan wajah memerah. "Maaf, Mas... Zhea refleks."

Khadafy bukannya marah, malah terkekeh halus. Tatapannya melunak tatkala memperhatikan Zheana yang mulai fokus memilih bahan makanan. Jemari lentik istrinya itu begitu lihai memilih sayuran segar, membandingkan kualitas daging, hingga memeriksa tanggal kedaluwarsa, menampilkan sisi alami seorang wanita yang sudah berganti status menjadi seorang istri.

"Mas Khadafy mau makan apa besok pagi?" tanya Zheana seraya mengangkat dua ikat bayam dan brokoli.

"Atau mau Zhea buatkan sup daging untuk makan malam nanti?"

Khadafy menghentikan langkah trolinya, menatap Zheana dari atas.

"Apa saja yang kamu masak, aku makan, Zhea. Asalkan kamu yang buat."

Kalimat sederhana itu sukses membuat Zheana mematung di depan rak sayur. Matanya berkedip bingung, beradu pandang dengan manik mata pekat Khadafy yang memancarkan kejujuran tanpa keraguan. Dan untuk pertama kalinya Khadafy merasa di hargai sebagai seorang suami dan pasangan. Zhea selalu bertanya apa yang dia suka dan dia mau. Sedangkan bersama dengan Niken harus selalu dia yang melayani dan bertanya. Bahkan selalu mengalah dengan hal yang lebih di sukai oleh Niken.

"Baiklah... Apa ada kebutuhan pribadi lain yang habis, Mas? Sabun, shampo? Kopi, Mas ada alergi tidak? atau...."

"Maaf aku banyak bertanya, karena khawatir malah membeli barang yang tidak di sukai sama Mas Khadafy..." tambah Zhea saat melihat Khadafy hanya diam saja dan mentap ke arahnya saat bertaya.

"Astagfirullah... Apa aku terlalu bawel dan terlalu senang sendiri sampai membuat Mas Khadafy tak nyaman?" batin Zhea saat melihat Khadafy berjalan dan berdiri di depan rak deretan biji kopi premium.

1
nely_48
justru ak yg khawatir sm km zhea,,semoga km n baby baik² az ya zheana,, biarin niken lg menjalani takdir nya sendiri
nely_48
mampus kau niken,, jd org ko jahat banget sih km mh niken, jd we d pertemukan sm adam yg sma jahat n bejad nya spt diri mu niken,, selamat menikmati kehancuran hidup mu niken
Ambu Rinddiany Thea
ya Allah kirain kena racun , udh parno duluan gara2 s niken jg s Adam 🤭
Fitria Syafei
kk cantik kereen 😍 kereen 🥰 terimakasih 😘
sunaryati jarum
Awalnya emak deg- degan ternyata firasat buruk dipikirkan Zheana, untuk Niken. Benar Zheana kebencian dan dendam nya padamu sekarang Niken mendapatkan karma tanpa perlu kamu dan Kadaffi mengotori tangan.Nak Kadaffi cuma mengawasi dan berjaga- jaga,tapi ada orang lain yang mungkin dendam pada Niken
sunaryati jarum
Benar kan dugaan emak jika Niken hanya dimanfaatkan Adam demi kepentingan sendiri.Mungkinkah Adam pernah dikecewakan Niken, hingga membalasnya dengan sadis.Sebenarnya sebagai sesama wanita emak kasihan Niken,dibalas begitu.Namun karena tabiatnya yg selalu merendahkan Zheana,emak ikut gregeten.Setelah ini semoga Irma ibunya sadar ,Niken dibawa berobat ke Pesykiater
ryuka
kesian kamu niken tapi emang orang jahat itu banyak sekali niken maka nya jangan bodoh
Oma Gavin
sungguh mengerikan pembalasan yg diterima niken mungkin adam sakit hati sama niken pernah ditolak atau dipermalukan
nely_48
silahkan niken sm adam merencanakan apapun,,, khadafy udh tau semua nya loh
nely_48
sok pak bagus msh nurut az sm s irma
nely_48
pantesan jd gila s niken, alih-alih jadi model d Paris malah hamil d gilir semua laki² ,,, bukan sukses mlah gila yg d dapat, boncos nasib mu niken
nining cahyaningrum
ceritanya enak alurnya jelas
david 123
adakah didunia nyata ibu kadung jahat seperti dg anak kandungx? Semoga tdk ya ....Amin ...miris...bila...ini kisah nyata...ya Thor
Fitria Syafei
syukurin senjata kena sendiri..makan ntuh TEMAN 😏 KK cantik mantaf 😍 kereen 🥰
Sri Angga
buah dr kejahatan mu terhadap zheana,,skg km di bls langsung oleh,,partner mu sndri .
ryuka
naahh kan malah udah hancur dluan kamu niken
Ambu Rinddiany Thea
halaaah sok pura pura niken ke ges benang mah beda cerita lain minta tolong tapi tuluuuy tuluy 🤣🤣🤣
sunaryati jarum
🤣🤣🤣 kau tidak akan bisa menghancurkan Zheana dan bayinya,Niken.Kamu malah hancur sendiri.Sudah gila hamil kembali.
nely_48: kasian km niken,, jauh² k Paris jd jablay yg ujung-ujungnya hamil,, lah plg k indo malah d jual demi rencana yg blm tentu berhasil,,
emang badan niken lbh cocok jd prlacur jual diri az ath cari uang yg banyak buat gaya hidup glamor
total 1 replies
Oma Gavin
bikin mati mengenaskan saja niken digilir 3 orang terus mati itu hukum setimpal buat psikopat gila seperti niken
sunaryati jarum
Pembicaraan kamu sudah didengar oleh orang orang Angga da Rian Tim keamanan Mumtaz, berkhayal lah akan berhasil Niken,agar delusimu makin parah
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!