NovelToon NovelToon
Ketika Takdir Berbicara

Ketika Takdir Berbicara

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / Perjodohan
Popularitas:21k
Nilai: 5
Nama Author: Yam_zhie

Hidup Zheana berubah di saat harus menggantikan sang Kakak menikah. Niken kabur di saat hari pernikahan dengan Khadafi.

Ibunya mengamuk dan malah menyalahkan Zheana atas apa yang terjadi. Zheana bahkan di maki dan di siksa ibunya, Khadafi yang tak tega melihat Zheana membawa dia pergi dari sana.

Mereka tinggal di Apartemen milik Khadafi yang sudah di persiapkan sebelumnya. Rupanya kelembutan Zheana mengubah hati Khadafi dan mulai mencintai istrinya. seperti yang di katakan Umi dan Abinya, jika ini adalah jalan Allah SWT untuk menunjukkan jodoh Khadafi.

Selama pernikahan tak semulus itu, karena ibunya Zheana masih terus membencinya. saat Zheana hamil, rupanya Niken kembali. Apakah Khadafi akan kembali kepada Niken?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Zheana 24

Pintu ruangan CEO tertutup rapat di belakang tubuh Zheana. Gadis itu menekan dadanya yang naik turun tak beraturan, berusaha menetralkan debar jantung yang serasa mau melompat keluar. Senyum tipis yang sempat terukir di bibirnya buru-buru disembunyikan saat ia melangkah masuk ke dalam lift service.

Begitu pintu lift terbuka di lantai 12, sesosok wanita dengan rambut dikuncir kuda dan memegang cangkir kopi langsung menghadangnya di lorong. Arin, teman terdekat Zheana di divisi marketing, menatapnya dengan mata membelalak curiga.

"Zhea! Kamu kok lama banget di atas?" bisik Arin seraya menarik lengan Zheana menjauh dari lalu lalang karyawan lain.

"Gimana? Kamu kena semprot Es Kutub nggak? Muka Pak Khadafy serem banget nggak tadi?"

Zheana tersentak kecil, refleks membetulkan letak id-card di dadanya untuk menutupi gugup.

"Nggak kok, Rin. Pak Khadafy cuma minta diperjelas beberapa detail di proposal. Terus... beliau juga rada teliti memeriksa angkanya, makanya agak lama."

Arin memicingkan matanya, mengamati rona merah yang masih tersisa di kedua pipi Zheana.

"Tapi muka kamu kok merah banget gitu? Kamu digalakkin ya sama beliau sampai mau nangis?"

"Nggak, Arin... ini cuma agak panas aja tadi di lorong," kilih Zheana seraya tertawa kecil yang dipaksakan.

"Udah ah, ayo balik ke kubikel, nanti Pak Bambang nyariin lagi."

Arin menghembuskan napas lega seraya merangkul bahu Zheana. "Syukurlah kalau kamu nggak apa-apa. Kamu tahu nggak, dari tadi pagi tuh seisi kantor pada ketakutan mau naik ke lantai atas. Gosip soal Pak Khadafy batal nikah itu beneran bikin aura satu gedung ini kayak mau kiamat. Tapi aneh ya, padahal lagi ada masalah pribadi sebesar itu, beliau kok tetep fokus dan profesional banget."

Zheana hanya tersenyum tipis, membiarkan Arin terus menceritakan berbagai spekulasi heboh para karyawan tanpa bermaksud menyanggah satu kata pun. Dalam hatinya, ada perasaan hangat yang membuncah setiap kali mengingat bagaimana pria dingin yang ditakuti satu gedung itu sebenarnya sangat lembut, protektif, dan begitu memperhatikannya saat mereka sedang berdua.

Saat mereka berdua kembali ke meja kerja masing-masing, ponsel di dalam tas kerja Zheana bergetar pelan. Sebuah notifikasi pesan masuk muncul di layar. Zheana melirik ke arah Arin yang sudah sibuk menatap layarnya sendiri, lalu membuka pesan tersebut dengan hati-hati.

Mas Khadafy:

'Makan siang nanti jangan keluar gedung. Pak Mamat akan antarkan makan siang untukmu ke lantai 12.'

Zheana menggigit bibir bawahnya, menahan rasa yang hinggap di dadanya. Jemarinya dengan cepat membalas.

Zhea:

"Mas Khadafy, jangan! Nanti teman-teman kantor, terutama Arin, curiga kalau ada yang anterin makanan khusus buat Zhea,"

Hanya butuh hitungan detik hingga balasan kembali masuk.

Mas Khadafy:

'Pak Mamat akan menitipkannya ke resepsionis atas nama katering langganan. Makan yang banyak, kamu tadi pagi cuma makan sedikit,'

Zheana menarik napas dalam, memandangi layar ponselnya dengan binar mata yang berbinar lembut. Rasa ragu dan cemas akan bayang-bayang masa lalu perlahan luruh, berganti dengan kepastian bahwa di balik dinding kaku gedung ini, ada seorang suami yang siap menjaganya dalam diam.

Sore harinya, tepat pukul lima, Zheana mengendap-endap menuju area basement P-2. Koridor sepi itu membuat langkah kakinya terdengar nyaring. Di sudut yang agak tersembunyi, sedan hitam milik Khadafy sudah menyala. Pak Mamat yang bersiap membukakan pintu seketika dihentikan oleh isyarat tangan Khadafy dari dalam.

Zheana dengan cepat meluncur masuk ke kursi samping pengemudi. Pintu tertutup rapat, mengisolasi mereka dari dunia luar. Suara mesin mobil yang halus mulai membelah jalanan ibu kota.

Di dalam mobil, kecanggungan mendadak menyergap. Khadafy yang telah melepas jasnya, kini hanya mengenakan kemeja biru gelap dengan lengan tergulung hingga siku. Aroma parfum maskulinnya memenuhi kabin, membuat Zheana tak berani menoleh sedikit pun. Ia terus menatap lurus ke kaca depan, meremas tali tasnya.

"Kenapa duduk sejauh itu?" suara bariton Khadafy memecah keheningan. Pria itu menyetir dengan satu tangan santai di kemudi.

"Aku tidak menggigit, Zheana."

"Eh.. nggak apa-apa, Mas," cicit Zheana pelan. "Zhea cuma... masih agak kaget sama kejadian seharian ini."

Khadafy meliriknya sekilas, sudut bibirnya terangkat tipis. "Kaget karena ucapan suami sendiri di kantor?"

Pipi Zheana seketika membara. "Mas Khadafy! Jangan dibahas di sini, ada Pak Mamat..."

"Pak Mamat berada di mobil kantor di belakang kita," sahut Khadafy tenang. "Ini mobil pribadiku. Hanya ada aku dan kamu."

Zheana makin salah tingkah. Ia menggigit bibirnya, mengalihkan pandangan ke luar jendela untuk menyembunyikan senyumnya yang mendadak ingin terukir.

Tiga puluh menit kemudian, mereka tiba di sebuah supermarket premium di kawasan Jakarta Selatan. Khadafy mengambil troli belanjaan, sementara Zheana berjalan agak canggung di sampingnya. Kombinasi ketampanan Khadafy yang berwibawa dan kesederhanaan Zheana menarik perhatian beberapa pengunjung lain.

"Mas... beneran mau belanja di sini?" bisik Zheana, melirik sekeliling. "Tempatnya ramai banget. Gimana kalau ada anak kantor yang lewat? Aku khawatir mereka akan membicarakan kamu, dan membuat nama kamu jadi jelek di kantor!"

"Kalau ada yang lihat, katakan saja kamu sedang menemani CEOmu belanja untuk keperluan kantor," goda Khadafy santai, mendorong troli mengikuti langkah Zheana menuju area bahan segar.

"Mana ada CEO belanja sayur sama staf juniornya!" sergah Zheana gemas, refleks mencubit pelan lengan kemeja Khadafy.

Begitu menyadari tindakan berani itu, Zheana buru-buru menarik tangannya dengan wajah memerah. "Maaf, Mas... Zhea refleks."

Khadafy bukannya marah, malah terkekeh halus. Tatapannya melunak tatkala memperhatikan Zheana yang mulai fokus memilih bahan makanan. Jemari lentik istrinya itu begitu lihai memilih sayuran segar, membandingkan kualitas daging, hingga memeriksa tanggal kedaluwarsa, menampilkan sisi alami seorang wanita yang sudah berganti status menjadi seorang istri.

"Mas Khadafy mau makan apa besok pagi?" tanya Zheana seraya mengangkat dua ikat bayam dan brokoli.

"Atau mau Zhea buatkan sup daging untuk makan malam nanti?"

Khadafy menghentikan langkah trolinya, menatap Zheana dari atas.

"Apa saja yang kamu masak, aku makan, Zhea. Asalkan kamu yang buat."

Kalimat sederhana itu sukses membuat Zheana mematung di depan rak sayur. Matanya berkedip bingung, beradu pandang dengan manik mata pekat Khadafy yang memancarkan kejujuran tanpa keraguan. Dan untuk pertama kalinya Khadafy merasa di hargai sebagai seorang suami dan pasangan. Zhea selalu bertanya apa yang dia suka dan dia mau. Sedangkan bersama dengan Niken harus selalu dia yang melayani dan bertanya. Bahkan selalu mengalah dengan hal yang lebih di sukai oleh Niken.

"Baiklah... Apa ada kebutuhan pribadi lain yang habis, Mas? Sabun, shampo? Kopi, Mas ada alergi tidak? atau...."

"Maaf aku banyak bertanya, karena khawatir malah membeli barang yang tidak di sukai sama Mas Khadafy..." tambah Zhea saat melihat Khadafy hanya diam saja dan mentap ke arahnya saat bertaya.

"Astagfirullah... Apa aku terlalu bawel dan terlalu senang sendiri sampai membuat Mas Khadafy tak nyaman?" batin Zhea saat melihat Khadafy berjalan dan berdiri di depan rak deretan biji kopi premium.

1
Oma Gavin
khadafi the best suami idaman jgn sampai goyah zheana apapun yg terjadi tetap percaya khadafi dan selalu jujur sama suami jgn dipendam sendiri
ryuka
kamu tlalu baik zhes
falea sezi
lemah menye menye🤣gk. suka karakter zhe
Fitria Syafei
nah ..nah ..kan ..posisi Zheana mau di tukar KK 🙄 KK cantik kereen 😍 kereen 🥰
Siti Kamisah Hasnul
plizz buat zheana jangan terlalu lemah thor....masa mudah kali diintimudasi sama direndahkan
Ambu Rinddiany Thea
jangan d dengerin suara suara ghoib ya zhea , tp dengerin apa kata hati dan suami kamu , lagian emak bapanya Khadafi jg kaga mau lah besanan dan punya mantu modela jenglot ma dajal.. mening kamu sok ngomong jujur ma suami kamu apa yg d omongin nene lampir tadi ..
Sri Angga
zheana terlalu cengeng Kadafi tidak punya ketegasan
sunaryati jarum
Emak nggak suka karakter Zhea yang lemah. Kamu tidak salah , bangkit dan lawan ibu tirimu. Kamu punya penghasilan sendiri,rumah yang di tempati nenek sihir dan Niken itu rumah ayahmu.Semoga Kadaffi menyusul dan melihat perlakuan mama Niken pada Zheana
Ade Chubi: author nya yg bikin Zhea lemah 😁😁
total 1 replies
sunaryati jarum
Makin lama.kalian dekat, dan jadi suami istri seutuhnya.Kslian ini malah pacaran halal.Seperti putra emak, kenalan ,dilamar dan langsung dinikahi, pacarannya halal seperti harapan emak.
ryuka
aduuhhh khadafy semoga kamu cepwt tau klo zhea di tekan sma emak lampir
sunaryati jarum
Ya jelas beda,beda orang tua.Didikan Zhea dari bapaknya sesuai syariat agama yang diyakini.Lha Niken kan model yang terbiasa memamerkan tubuhny..
ryuka
bapak kamu juga kok lemah bgt sihh sma istri kurang sjar kaya gitu
ryuka
duuhhh zheeaaaa kamu tuhhh berharga jgn dengerin omongan mak lampir itu
sunaryati jarum
Kalian berjodoh Zhea ,terima perlakuan manis suamimu . Bersyukurlah kamu di rumah ayahmu diperlukan seperti pembantu sekarang kamu sedikit diratukan
Oma Gavin
zheana sekalian aja kamu manfaatkan khadafi sekarang kamu istri sah nya buat kamu hamil itu balas dendam tercantik buat bu irma biarkan keluarga khadafi yg menghadapi sikap bu irma dari pada kamu cuma dituduh lebih baik sekalian dimanfaatkan
ryuka
eaaaaaa... pelan pwlan tapi pasti ya khadafy 🤣🤭🤭🤭🤭🤭
Yam_zhie: iya atuh... 🤣
total 1 replies
nely_48
khadafy shok lah, zhea org baru sehari dekat sm dia malah zhea yg paling efort perhatian semua kebutuhan nya khadafy,, lah apa kabarnya niken yg pacaran 2th dia apa pernah nanyain makana kesukaan khadafy, paling jg klau tlp minta uang buat shoping
Ninik Sumarni
kak jangan pisahkan mereka
Fitria Syafei
wow mereka KK dan semoga kedepannya mereka selalu bersama dan bersatu 🫠 KK cantik mantaf 🥰 terimakasih 😍
Ambu Rinddiany Thea
hayoooh we bahas zheaaa ke bisi murka gera s Khadafi saking ku bosen ngabejaaan .. jalani we hela da s niken balik mah samemeh nepi k s khadafi ge , yeh emak2 netijen siap terjun payung terjun bebas ..🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!