NovelToon NovelToon
Teror Arwah Ci Sepi

Teror Arwah Ci Sepi

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Misteri / Balas Dendam
Popularitas:545
Nilai: 5
Nama Author: Soobin Chan

Sekuel keempat dari buku Sebelumnya: 'Cinderela Ubi Rebus, Kutukan Mbah Golok Sakti dan Skandal Jus Jeruk: Istri Sang CEO'.

Menghadapi operasi bedah jantung? dr. Rahsya ahlinya. Tapi dipaksa jadi bidan sapi persalinan tengah malam oleh preman kampung berkolor tali rafia? Itu bencana!

Liburan tenang Rahsya di Desa Ci Sepi berubah total menjadi arena pawai hantu sejak ia menolong seorang anak kecil bernama Nathan.

Di tengah kekacauan mistis dan hilangnya para warga secara tragis, hadir Amel—gadis berisik yang selalu merepotkan namun berhasil mengacaukan detak jantung dokternya. Bisakah sang dokter rasional bertahan hidup, atau jiwanya akan tertinggal di dimensi lain telaga?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6. ANTARA MISTIS DAN MASA LALU PART 2

"Kakak lebih tua dua tahun dari aku. Jadi enggak sopan kalau aku cuma panggil nama."

Rahsya mangut-mangut, sedikit terkejut karena Kinan tahu detail usianya. "Gitu ya? Kirain kita seumuran," sahutnya sambil tersenyum kikuk.

Gadis itu hanya mengangguk pelan, lalu berdiri dari tepi ranjang. Gerakannya sangat anggun, nyaris tanpa suara di atas lantai kayu. "Terima kasih banyak ya, Kak. Maaf sudah merepotkan. Aku mau pamit pulang sekarang."

"Eh, tunggu!"

Rahsya refleks menahan lengan Kinan, namun tangannya hanya menyentuh kain dress hitam yang terasa sedingin es. Ia segera menyambar ponsel dan jaket tebalnya di sandaran kursi.

"Ini sudah malam sekali, Kinan. Enggak baik gadis secantik kamu berkeliaran sendirian. Biar saya antar."

"Enggak usah, Kak. Aku bisa pulang sendiri," tolak Kinan halus. Ia melangkah menuju pintu yang entah sejak kapan sudah tidak terkunci.

"Saya cuma khawatir, Kinan. Tolong... izinkan saya antar kamu sampai depan rumah," desak Rahsya sungguh-sungguh. Sifat protektifnya bangkit, mengalahkan rasa kantuk dan trauma horornya semalam.

Kinan terdiam sejenak di ambang pintu, menatap lorong vila yang remang-remang. "Beneran? Rumah aku agak jauh soalnya."

"Iya, enggak apa-apa. Sejauh apa pun akan saya antar. Saya punya motor, pasti cepat sampai," Rahsya memamerkan kunci motornya dengan penuh percaya diri.

Kinan menggeleng pelan, senyum misterius kembali terukir di bibirnya yang tipis. "Kayaknya motor enggak bisa lewat deh, Kak. Soalnya harus melewati pematang sawah, jalannya licin, takut Kakak kecebur."

"Oh, begitu ya? Kalau begitu kita jalan kaki saja."

Rahsya meletakkan kembali kuncinya di atas meja. Ia melirik jam dinding yang menunjukkan pukul sepuluh malam lewat sedikit. Udara di luar pasti sedang menusuk tulang, dan rute melewati sawah di Desa Ci Sepi bukanlah hal yang menyenangkan saat gelap gulita.

Namun, bagi Rahsya, keselamatan Kinan adalah prioritas utama. Ia tidak peduli jika harus bertemu lagi dengan "kepala jatuh" di telaga atau gangguan gaib lainnya, selama ia bisa berjalan di samping gadis impiannya ini.

"Ini, pakai jaket saya, Kinan. Udara malam di Ci Sepi cukup tajam untuk membuat orang masuk angin. Saya tidak mau kamu jatuh sakit setelah saya obati," ujar Rahsya lembut sembari menyampirkan jaket outdoor tebalnya ke bahu kecil Kinan sebelum mereka melangkah keluar kamar.

Kinan sempat ragu. Jemarinya menyentuh bahan jaket itu sejenak sebelum akhirnya menyelipkan lengannya ke dalam.

"Terima kasih, Kak," ucapnya singkat, suaranya nyaris telanjur tertelan keheningan koridor vila.

Mereka pun berjalan beriringan, keluar dari gerbang vila yang berderit pelan, menembus kabut tipis yang mulai merayap di area persawahan.

Rahsya berjalan selangkah di depan, tangan kanannya sigap mengarahkan senter ponsel ke jalan setapak yang licin dan berlubang, memastikan Kinan tidak tersandung.

"Kinan, apa kamu tadi tidak takut datang ke vila saya sendirian? Jalanan ini kan gelap sekali," tanya Rahsya, mencoba memecah kesunyian yang mulai terasa menekan.

"Enggak, Kak. Aku sudah biasa," jawab Kinan datar tanpa menoleh. Langkah kakinya terdengar sangat ringan di atas tanah basah, nyaris tak berbunyi.

"Lain kali, jangan nekat keluar malam-malam lagi seperti tadi ya. Saya benar-benar khawatir," sambung Rahsya dengan nada protektif yang tulus.

Kinan terkekeh pelan. Suara tawanya terdengar bening namun menyisakan gema yang aneh di tengah ladang jagung yang sunyi.

"Hmm... iya. Aku usahakan, tapi tidak bisa janji," sahutnya misterius, membuat jantung Rahsya berdesir hebat. Namun, perasaan senang itu perlahan berganti menjadi waswas.

Rahsya menyadari rute yang mereka lalui; melewati hamparan sawah, menyisir perkebunan jati yang pohon-pohonnya tampak seperti raksasa hitam, dan... telaga. Ingatannya tentang kejadian kepala jatuh semalam mendadak berputar kembali seperti film horor di kepalanya.

"Kinan, ini benar jalan ke rumahmu? Masih jauh?" tanya Rahsya dengan suara sedikit bergetar. Bulu kuduknya meremang saat aroma melati kembali menguar kuat, bercampur bau air telaga yang tenang.

"Iya, benar Kak. Sudah dekat, kok. Itu, rumahnya kelihatan dari sini," Kinan menunjuk ke arah sebuah bangunan kayu sederhana yang berdiri tepat di pinggir telaga, di bawah bayangan pohon beringin raksasa.

Rahsya tertegun. Ia mengucek matanya berkali-kali. Seingatnya, saat ia lewat bersama Pak Udin dini hari tadi, tidak ada bangunan apa pun di sana selain semak belukar.

'Apa mungkin ini rumah bedah rumah yang dibangun kilat dalam semalam?' pikir Rahsya, berusaha tetap logis meski hatinya berteriak bahwa ada sesuatu yang salah.

"Sudah sampai, Kak. Makasih banyak ya, sudah repot-repot mengantarku pulang,"

Kinan melepas jaket Rahsya dan menyerahkannya kembali. Kulit tangan Kinan yang sempat bersentuhan dengan Rahsya terasa sedingin batu es.

"Iya... sama-sama," sahut Rahsya linglung sembari menerima jaketnya yang kini terasa agak lembap.

"Kakak mau mampir dulu?" tawar Kinan lembut. Ia berdiri di ambang pintu rumah kayu yang sama sekali tidak berpenerangan itu.

Rahsya menatap rumah itu, lalu beralih ke air telaga yang hitam pekat di belakangnya. "Enggak, terima kasih. Saya... saya pamit pulang saja sekarang," tolaknya halus, insting bertahan hidupnya mendadak aktif kembali.

"Hmm, ya sudah. Hati-hati di jalan ya, Kak,"

Kinan melambaikan tangan dengan gerakan lambat, sebelum tubuhnya hilang tertelan kegelapan di dalam pintu rumah.

Rahsya berbalik dan berjalan cepat, nyaris berlari. Anehnya, perjalanan pulang kali ini terasa sangat singkat dan sunyi tanpa gangguan gaib sedikit pun.

Namun, sesampainya di depan vila, Rahsya membeku saat ia tanpa sengaja menunduk melihat jaket yang ia pegang. Di bagian leher jaket itu, terdapat bercak darah segar yang masih basah, tepat di posisi yang sama dengan luka Kinan yang baru saja ia perban.

"Ya ampun, sepertinya luka di lehernya tergesek kerah jaket ini sampai merembes lagi," gumam Rahsya dalam hati, jemarinya menyentuh noda merah yang masih hangat di kain jaketnya.

Perasaan khawatir dan simpati pada Kinan membuat detak jantungnya belum juga normal.

Namun, lamunan romantis-horor itu pecah seketika saat ia melangkah masuk ke ruang tengah.

"Dari mana saja, Kak?"

Suara cempreng Amel menggelegar, memecah kesunyian vila. Gadis itu berdiri di dekat tangga dengan wajah ditekuk, matanya yang bulat menatap Rahsya penuh selidik—persis seperti istri yang sedang melabrak suaminya yang pulang kemalaman.

"Bukan urusan kamu!" jawab Rahsya ketus. Ia terus melangkah tanpa sudi menoleh sedikit pun, menganggap kehadiran Amel tak lebih dari pajangan dinding yang berisik.

"Kok gitu sih? Aku ini khawatir tahu! Malam-malam begini habis kelayupan ke mana, sih?"

Amel tak menyerah. Ia mengekor di belakang Rahsya, langkah kaki mungilnya berusaha mengimbangi langkah panjang sang dokter menuju dapur.

Rahsya yang sudah lelah lahir batin langsung menyambar pintu kulkas, membukanya dengan sentakan kasar hingga botol-botol di dalamnya berdenting. Ia mengeluarkan sebotol air mineral dingin, lalu membanting pintu kulkas hingga menimbulkan suara dentuman keras yang membuat Amel tersentak kaget di tempatnya.

Glek! Glek! Glek!

Rahsya menenggak air itu dengan rakus, jakunnya naik-turun sementara sisa air membasahi sudut bibirnya. Ia sama sekali tidak mempedulikan Amel yang kini berdiri mematung sambil meremas ujung hoodie-nya.

Amel menelan saliva dengan susah payah, nyalinya sedikit menciut melihat aura gelap yang dipancarkan Rahsya.

"Kakak kenapa sih judes banget? Padahal aku nanya baik-baik lho..." cicitnya pelan.

Buk!

Rahsya menghentakkan botol itu ke atas meja marmer dapur dengan bunyi yang cukup mengintimidasi. Ia berbalik, mencondongkan tubuhnya ke arah Amel hingga gadis itu mundur selangkah.

"Kalau saya bilang saya habis mengantarkan cewek cantik pulang, kamu mau apa?" tantang Rahsya dengan nada rendah yang provokatif.

Wajah Amel seketika berubah. Ada rasa kecewa yang terpancar di matanya, namun rasa penasaran jauh lebih mendominasi.

"Cewek cantik? Siapa, Kak? Warga sini?"

Rahsya tidak menjawab dengan gamblang. Ia justru menyunggingkan seringai tipis yang terlihat sangat menyebalkan sekaligus tampan di saat bersamaan. Ia melangkah melewati Amel, sengaja menyenggol bahu gadis itu pelan sebelum berbisik tepat di samping telinganya.

"Kamu nggak perlu tahu. Ra-ha-sia..."

Setelah mengucapkan kata itu dengan penekanan di setiap sukunya, Rahsya melenggang pergi meninggalkan Amel yang masih mematung di dapur dengan mulut menganga dan kepalan tangan yang gemas.

"Cewek cantik, huh!"

Amel bersedekap dada di tengah dapur yang sepi.

"Cantikan juga aku ke mana-mana!" cerocosnya dengan bibir mengerucut, lalu mengibaskan rambut hitam panjangnya dengan gaya dramatis sebelum menghentakkan kaki masuk ke kamarnya.

Sementara itu, di lantai atas...

Kekakuan Rahsya sebagai dokter spesialis jomblo karatan runtuh seketika. Begitu pintu kamar terkunci, ia langsung menjatuhkan tubuh ke ranjang dan menarik selimut hingga menutupi seluruh wajahnya.

Di balik kain tebal itu, Rahsya tak henti-hentinya mengulas senyum lebar—jenis senyum yang bisa membuat pasiennya mengira sang dokter sedang keracunan gas tertawa.

Kedua kakinya menendang-nendang udara di balik selimut, menciptakan gundukan kain yang bergerak-gerak heboh.

"Ternyata jodoh emang nggak ke mana!" bisiknya dengan nada euforia yang tertahan.

Rahsya benar-benar tidak menyangka bahwa jatuh cinta setelah sepuluh tahun menanti akan membuatnya bertingkah sedikit gila.

Bayangan wajah Kinan yang imut, suara lembutnya, hingga kenangan "kado bebek" itu berputar-putar di kepalanya seperti komedi putar.

"Jadi nggak sabar ingin ketemu dia lagi besok..." gumamnya perlahan, memeluk guling erat-erat seolah itu adalah pengganti sosok Kinan.

****

Ternyata benar, cinta bisa membuat siapa saja buta, termasuk seorang dokter rasional seperti Rahsya. Pagi ini, ia tidak lagi tampak lesu atau uring-uringan seperti kemarin. Wajahnya cerah, bahkan ia sesekali bersenandung kecil.

Pak Udin yang berjalan di sampingnya sampai harus berkali-kali melirik heran, merasa ada yang tidak beres dengan "tabib ajaib" ini.

"Lagi bahagia ya, Pak Dokter? Senyumnya sampai telinga tuh," goda Pak Udin saat mereka menyusuri jalan setapak menuju rumah tetangganya.

Rahsya tersentak, buru-buru mengubah ekspresinya menjadi datar meski matanya tetap berbinar.

"Nggak, Pak. Saya biasa-biasa saja,"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!