NovelToon NovelToon
Bunga Terakhir

Bunga Terakhir

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Nikahmuda / Rumah Tangga
Popularitas:316
Nilai: 5
Nama Author: Idents

Arhan Hamid harus belajar kehilangan, padahal ia belum pernah siap.

Satu kalimat dari dokter meruntuhkan seluruh dunianya — usia Anya, istrinya, tinggal 30 hari. Karena kanker.

Sejak hari itu, Arhan memilih memikul semuanya sendirian. Di depan Anya, ia tetap menjadi suami yang utuh. Yang tertawa paling keras, yang membuatkan teh paling hangat, yang mencintai lebih dari separuh jiwanya sendiri.

Padahal di dalam dadanya, ia hancur pelan-pelan.

Ia menutupi air mata dengan tawa. Menutupi takut dengan doa-doa yang ia bisikkan diam-diam setiap malam.

Mampukah Arhan tetap kuat ketika waktu terus menghitung mundur?

Dan di antara 30 hari yang tersisa, mungkinkah semesta masih menyisakan satu keajaiban untuk mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Idents, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13

Mendengar permintaan Anya itu, Arhan sangat terkejut.

Tiga puluh bunga.

Angka itu meluncur ringan dari mulut Anya. Tapi bagi Arhan, angka itu adalah vonis yang diucapkan Dokter Rendra di ruang pemeriksaan yang dingin itu. Tiga puluh hari.

Arhan tidak bergeming. Tubuhnya kaku di samping ranjang. Jaket tipis yang tadi ia pegang masih tergantung di tangannya. Matanya membelalak, napasnya tertahan.

Anya yang melihat reaksi itu mengernyit bingung.

"Han?" panggil Anya pelan.

Arhan masih diam.

"Arhan?" Anya memanggilnya lagi sambil menyentuh lengan Arhan.

Sentuhan itu menyadarkan Arhan. Ia tersentak kecil.

"Eh? Iya, An?" jawabnya gugup.

Anya menatapnya lekat. "Kamu kenapa? Kok terkejut begitu aku bilang 30 bunga?"

Arhan membuka mulut, tapi tidak ada suara yang keluar. Otaknya berputar cepat mencari alasan.

Anya memanggilnya dan menjelaskan kenapa terkejut dengan nada merajuk seperti kebiasaannya dulu.

"Kan 30 itu adalah tanggal kelahiranku, Han. 30 Desember. Kamu lupa ya?" kata Anya sambil memanyunkan bibirnya. "Makanya aku mau 30 bunga. Biar rumah kita wangi pas ulang tahunku nanti. Kamu jangan bilang kamu lupa tanggal lahirku sendiri?"

Arhan langsung teringat. Tentu saja ia ingat. Tanggal 30 Desember adalah tanggal yang ia lingkari merah di kalender setiap tahun. Tanggal dimana ia selalu memesan kue coklat kecil kesukaan Anya.

Bukan karena lupa. Tapi angka itu terasa menyakitkan baginya sekarang.

Dulu 30 Desember adalah hari untuk merayakan kelahiran. Sekarang 30 itu terasa seperti batas akhir. Vonis 30 hari itu bahkan tidak sampai ke bulan Desember.

"Enggak, An. Enggak lupa," kata Arhan dengan suara yang ia paksa terdengar normal. "Aku ingat. 30 Desember. Aku cuma kaget kamu mau 30 bunga sekaligus. Vas kita kan kecil. Takut tidak muat."

Anya tertawa kecil.

"Muat, Han. Kita taruh di dua vas. Satu di ruang tamu, satu di kamar," kata Anya.

Arhan mengangguk cepat.

"Iya, iya. Muat. Pasti muat," katanya.

Lalu bergegas Arhan mengelak. Ia tidak mau Anya melihat matanya yang sudah mulai berkaca-kaca lagi. Ia harus keluar dari kamar itu walau hanya semenit.

"Ya sudah, kamu tunggu di sini dulu ya, An. Aku mau ambil kursi roda di gudang. Biar kamu tidak capek jalan ke apotek dan toko bunga nanti," kata Arhan.

Anya mengangguk. "Iya, Han. Aku tunggu."

Arhan berjalan cepat keluar dari kamar. Ia melewati ruang tamu, membuka pintu kecil yang menuju ke gudang di samping dapur. Gudang itu sempit, berdebu, penuh kardus bekas.

Di gudang Arhan kembali menahan tangis.

Ia bersandar di dinding yang dingin. Kursi roda hitam, beberapa hari lalu tersimpan. Saat Anya berada di rumah sakit, ada di sudut, tertutup kain. Arhan tidak langsung mengambilnya. Ia berdiri diam.

Ia menutup mulutnya dengan kedua tangannya, menahan isak yang ingin keluar. Bahunya bergetar. Tangis yang ia tahan sejak Suster Lia datang tadi pagi, semua ia keluarkan di gudang berdebu itu.

Namun tidak lama. Ia tidak bisa lama-lama. Anya menunggu di kamar.

Ia mengusap wajahnya kasar dengan lengan bajunya. Ia menarik napas panjang beberapa kali. Ia memastikan matanya tidak terlalu merah.

Kemudian ia membuka kain penutup kursi roda itu. Debu beterbangan. Ia mendorong kursi roda itu keluar dari gudang.

Ia kembali ke kamar Anya.

Anya masih duduk di tepi ranjang, menatap jendela.

"Han, sudah?" tanya Anya.

"Sudah, An. Ayo," kata Arhan.

Ia membantu Anya duduk di kursi roda. Gerakannya pelan, sangat hati-hati. Ia memegang lengan Anya, menuntunnya berdiri sebentar, lalu mendudukkannya di kursi roda hitam itu. Anya terlihat ringan, terlalu ringan.

Lalu ia memakaikannya topi dan mantel. Topi rajut krem yang menutupi kepalanya dan mantel tebal abu-abu muda agar Anya tidak kedinginan.

"Pakai topinya yang benar ya, An," kata Arhan sambil merapikan topi itu.

"Terima kasih, Han," kata Anya pelan.

Arhan mendorong kursi roda itu keluar dari rumah. Pintu rumah ia kunci.

Mereka pergi ke toko bunga. Selama perjalanan Arhan tidak banyak bicara. Jalanan kompleks di pagi hari cukup sepi. Matahari sudah naik, angin masih dingin. Arhan mendorong kursi roda dengan pelan, tangannya mencengkeram pegangan dengan erat.

Sedangkan Anya seolah seperti merindukan dunia luar. Matanya berbinar melihat sekeliling. Ia menatap pohon-pohon di pinggir jalan, anak-anak yang main sepeda, kucing oranye yang tidur di atas pagar.

"Han, lihat deh, pohon mangga di ujung itu sudah berbuah lagi ya," kata Anya sambil menunjuk.

"Iya, An," jawab Arhan singkat.

"Udara pagi enak ya, Han. Sudah lama aku tidak keluar pagi begini," kata Anya sambil menarik napas panjang.

"Iya, enak," jawab Arhan lagi.

Toko bunga itu tidak jauh. Hanya lima menit dari rumah. Toko kecil tapi penuh warna. Dari luar sudah terlihat berbagai macam bunga di dalam ember berisi air. Papan namanya bertuliskan "Toko Bunga Nisa".

Di toko bunga, pemilik toko Ibu Nisa sudah mengenal mereka, terutama Anya adalah pelanggannya.

Melihat Arhan mendorong kursi roda Anya masuk, Ibu Nisa yang sedang menyiram bunga langsung menghentikan kegiatannya.

"Anya! Arhan!" sapa Ibu Nisa kaget dan senang. Ia berjalan cepat mendekati mereka. "Aduh, Anya, sudah lama tidak kelihatan. Apa kabar, Nak?"

Anya tersenyum lebar.

"Baik, Bu Nisa. Kangen bunga-bunga Bu Nisa makanya kesini," kata Anya.

Ibu Nisa menatap Anya dari atas sampai bawah. Ibu Nisa tau kalau Anya sakit. Berita tentang sakitnya Anya sudah menyebar di antara tetangga. Wajah Anya yang pucat, tubuhnya yang kurus di kursi roda, topi rajut yang menutupi kepalanya, semua itu membuat Ibu Nisa langsung mengerti. Matanya berkaca-kaca sebentar, tapi ia cepat memasang senyum lagi.

"Bu Nisa kangen Anya juga," kata Ibu Nisa sambil mengelus bahu Anya lembut.

Arhan hanya mengangguk pelan. "Pagi, Bu Nisa."

"Pagi, Han. Mau cari bunga apa hari ini?" tanya Ibu Nisa.

Anya menatap deretan bunga di depannya. Dari mawar merah, lily kuning, krisan ungu, sampai melati putih.

Anya meminta 30 bunga berbagai warna.

"Bu Nisa, saya mau 30 bunga ya. Yang warna-warni. Campur saja. Mawar merah, lily kuning, krisan ungu, yang pink itu juga mau. Pokoknya yang cantik-cantik, Bu," kata Anya dengan semangat.

Ibu Nisa terkejut. "30 bunga, Anya? Banyak sekali. Ada acara apa, Nak?"

"Tidak ada acara, Bu. Saya cuma mau rumah wangi. 30 bunga, ya Bu," jawab Anya.

Ibu Nisa menatap Arhan, meminta persetujuan. Arhan yang berdiri di belakang kursi roda hanya mengangguk pelan.

"Ya sudah, Bu Nisa pilihkan yang paling segar ya," kata Ibu Nisa sambil mulai mengambil gunting dan memotong bunga satu per satu.

Anya memperhatikan Ibu Nisa memotong bunga dengan telaten. Satu per satu bunga itu diletakkan di meja kayu.

Saat Ibu Nisa sudah menghitung 29 bunga di meja, Anya berkata lagi dengan suara yang lebih pelan.

"Bu Nisa," kata Anya.

"Iya, Anya?"

"Yang terakhir... saya mau bunga warna putih, Bu."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!