Keira Maharani kehilangan rumah setelah konflik besar membuat keluarganya mengusirnya. Di tengah hidup yang serba terbatas, hanya Davin Pratama yang tetap berada di sisinya. Davin memberinya tempat tinggal, makanan, dan rasa aman yang membuat Keira percaya bahwa cintanya adalah satu-satunya hal yang masih ia miliki. Namun perlahan, perhatian Davin berubah menjadi batasan. Keira mulai kehilangan kebebasan, kesempatan bekerja, bahkan keberanian untuk menyuarakan perasaannya. Saat hubungan mereka semakin dipenuhi rahasia dan luka, Keira mulai bertanya: apakah ia masih bertahan karena cinta, atau karena takut hidup sendirian? Sebab ketika cinta yang selama ini ia perjuangkan mulai menghancurkan dirinya, Keira harus memilih—tetap bertahan, atau akhirnya menyelamatkan dirinya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon My Chubby, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 18
Pagi di Jalan Melati selalu dimulai dengan suara bising mesin motor yang memecah embun, disusul aroma uap air dari cucian baju tetangga yang menjemur di sepanjang gang sempit.
Di dalam kamar kos berukuran tiga kali tiga meter itu, Keira menyambut pagi dengan secangkir teh hangat yang ia seduh sendiri menggunakan kompor portabel kecil di sudut ruangan.
Buku sketsa bersampul hitam tergeletak di atas meja, terbuka pada halaman kosong yang baru. Di sebelah buku itu, layar ponsel retaknya menyala redup, menampilkan aplikasi portofolio anonim yang kini telah menjadi bagian dari napas hari-harinya.
Sudah sebulan lebih sejak unggahan pertamanya tentang botol bunga. Akun @k_garismin tidak lantas menjadi magnet perhatian publik; jumlah pengikutnya masih berkisar di angka puluhan. Namun, dalam seminggu terakhir, ada sebuah perubahan kecil yang membuat jantung Keira berdegup lebih kencang dari biasanya.
Selain obrolan ringan dengan @art_enam tentang teknik arsiran silang, sebuah akun lain dengan nama pengguna @ruang_terbuka meninggalkan pesan langsung (direct message) yang masuk ke kotak masuk digitalnya.
“Halo, Kak. Suka banget sama gaya ilustrasi sketsa arsitektur minimalisnya. Boleh tahu, apakah Kakak menerima pesanan pembuatan ilustrasi custom untuk cover buku catatan atau zine independen? Ada proyek kecil yang mungkin cocok sama gaya goresan Kakak.”
Pesan itu dibaca Keira berulang-ulang, seolah ia ingin memastikan bahwa huruf-huruf di layar ponselnya tidak bergeser atau sekadar ilusi pagi hari.
Pesanan custom. Seseorang ingin membayar karyanya.
Sensasi aneh langsung merambati dada Keira—campuran antara antusiasme yang membuncah dan rasa takut yang mencengkeram. Selama ini, angan-angan untuk memiliki penghasilan mandiri baru sebatas wacana abstrak yang ia dengar dari cerita Bu Rina.
Kini, ketika kesempatan itu mengetuk pintunya secara nyata, sekujur tubuhnya mendadak terasa kaku.
Apakah aku bisa? Bagaimana kalau hasilnya mengecewakan? Bagaimana kalau aku tidak sanggup memenuhi tenggat waktu mereka?
Berbagai keraguan berkelebat di kepalanya, menuntutnya untuk segera menolak atau mengabaikan pesan tersebut. Suara kecil dari masa lalunya suara yang selalu meyakinkan dirinya bahwa ia tidak punya kemampuan apa pun di luar urusan domestik kembali berbisik tajam.
Namun, jemari Keira tidak langsung menghapus pesan itu. Matanya melirik ke arah tumpukan buku diktat kuliah, lalu ke arah sudut kamar tempat ia biasa menghabiskan waktu berjam-jam dalam kesunyian.
Bayangan wajah Amara yang tersenyum riang di kafe beberapa hari lalu, serta kehangatan kecil setiap kali @art_enam memuji goresan garisnya, perlahan-lahan meredakan kepanikan di dadanya.
Ia tidak harus langsung menerima tawaran besar. Ia bisa memulainya dengan menjawab secara hati-hati.
Dengan napas yang sedikit tertahan, Keira mengetik balasannya:
“Halo, terima kasih banyak apresiasinya. Untuk saat ini aku masih tahap belajar dan belum pernah bikin proyek komersial, tapi boleh tahu detail proyek zine-nya seperti apa?”
Begitu tombol kirim ditekan, ada kelegaan luar biasa yang mengalir di dalam dadanya. Ia belum mengambil keputusan besar. Ia tidak melompati dinding pembatas secara gegabah. Ia hanya membuka celah pintu sedikit lebih lebar untuk melihat apa yang ada di luar sana.
Siang harinya, kesibukan digital itu harus ia simpan rapat-rapat ketika suara ketukan ringan terdengar di pintu kayu kos.
Keira buru-buru meletakkan ponselnya di atas tumpukan buku, merapikan letak kerudungnya, lalu membukakan pintu. Di luar, Bu Rina berdiri membawa sebungkus keripik singkong buatan kampung halaman yang dikirim keluarganya.
"Mbak Keira, lagi santai ya? Nih, camilan buat temen ngeteh sore," sapa Bu Rina ramah.
"Eh, Bu Rina. Repot-repot terus, terima kasih banyak ya, Bu," balas Keira tersenyum tulus, menerima bungkusan keripik tersebut.
"Sama-sama, Mbak. Oh ya, cuaca mendung begini enakan di dalam kamar ya, hangat," kata Bu Rina sambil melirik sekilas ke dalam ruangan.
"Ngomong-ngomong, kemarin saya lihat Mbak Keira jalannya kelihatan ceria banget pas pulang dari stasiun bareng temennya. Senang deh kalau lihat anak muda main ke luar, jangan di kamar terus kayak biksu meditasi."
Keira tertawa pelan, merasa pipinya sedikit hangat.
"Iya, Bu. Kemarin kebetulan ketemu teman lama, jadi ngobrol agak lama."
"Baguslah! Sesekali hirup udara luar. Kota Bimantara ini banyak tempat seni yang bagus lho, Mbak. Dulu anak saya kalau suntuk suka main ke galeri seni dekat alun-alun kota... apa itu namanya, Galeri Senja ya kalau gak salah?"
Mendengar nama galeri itu disebut secara spontan oleh Bu Rina, napas Keira seolah tertahan sesaat. Namun, ia berusaha menjaga suaranya tetap stabil.
"Oh... iya, Bu. Pernah dengar juga."
"Nah, kapan-kapan coba main ke sana kalau ada waktu luang. Biar mata dan pikirannya makin fresh!" pesan Bu Rina riang sebelum pamit kembali ke kamarnya.
Keira menutup pintu kembali, menguncinya, lalu bersandar pelan pada daun pintu kayu tersebut.
Penyebutan Galeri Senja oleh Bu Rina di hari yang sama saat ia mendapatkan pesan penawaran ilustrasi dari @ruang_terbuka terasa seperti sebuah kebetulan yang ganjil. Seolah semesta sedang menyusun potongan-potongan puzzle kecil di sekitarnya, mengingatkannya bahwa dunia di luar sana terus bergerak dan memanggilnya untuk ikut melangkah.
Menjelang petang, suara deru motor matic Davin terdengar memasuki halaman kos. Ketukan tiga kali di pintu menyusul sesudahnya.
Keira dengan sigap merapikan meja, memastikan ponsel retaknya tenggelam di bawah tumpukan diktat, lalu menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan degup jantungnya. Ia membuka pintu dan mendapati Davin berdiri di sana dengan senyuman lelah sambil membawa sekotak martabak manis.
"Sore, Sayang," sapa Davin lembut, langsung merengkuh Keira ke dalam pelukannya.
"Hari ini di kantor lumayan bikin pusing lagi, tapi puji tuhan urusan data anggaran cabang Bandung mulai ada titik terang."
Mendengar nama proyek itu disebut, Keira mengangguk tenang sambil membalas pelukan kekasihnya. Di permukaan, ia tetaplah perempuan penurut yang menyambut kepulangan Davin dengan penuh kehangatan.
Namun, di dalam saku bajunya, ponsel retak itu terasa hangat menyimpan sebuah rahasia kecil tentang pesan yang baru saja ia balas, sebuah langkah pertama yang ia ambil di atas ubin basah kehidupan yang mulai berani ia hadapi sendiri.