Hazella Adeline, atau Hazel, adalah gadis 19 tahun yang dikenal sebagai bad girl. Meski keras kepala dan berani, Hazel sebenarnya memiliki hati yang sangat baik. Saat pindah sekolah, Hazel harus tinggal di rumah kakaknya, Cateline, yang ternyata sudah menikah selama dua tahun dengan seorang pria bernama Sagara. Namun, Sagara jauh dari bayangan Hazel tentang seorang suami. Ia terlihat penakut, mudah menangis, selalu mengalah, dan sering menjadi sasaran amarah Cateline. Hazel pun selalu membelanya hingga tanpa sadar mulai menyukai pria itu. Hazel tahu perasaannya salah karena Sagara adalah suami kakaknya. Ia berusaha menahannya. Hingga sebuah rahasia perlahan terbongkar. Sagara ternyata mengalami amnesia dan tidak mengingat siapa dirinya sebelum kecelakaan. Tak ada yang tahu bahwa sebelum kehilangan ingatan, Sagara adalah mafia paling kejam sekaligus salah satu pria terkaya di dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mejiku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
23
Angin laut yang kencang membelah kegelapan malam, membawa aroma garam yang pekat dan hawa dingin yang menusuk hingga ke dalam tulang.
Mobil SUV hitam itu berhenti tepat di tepi tebing jurang lautan lepas. Dua pengawal berbadan besar menyeret Hazel keluar dari dalam mobil. Rambut panjang Hazel berantakan diterpa angin malam, dan gaunnya yang robek di bagian punggung memperlihatkan luka lebam serta darah kering yang membeku.
Hazel tidak memberontak. Tubuhnya yang lemas dibiarkan terseret di atas tanah berbatu. Pandangan matanya kosong, menatap deburan ombak raksasa yang menghantam bebatuan karang tajam puluhan meter di bawah sana.
"Apakah... aku beneran berakhir di sini?" bisik Hazel nyaris tak terdengar, suaranya parau dan hilang disapu deru angin laut.
Sebuah senyuman tipis yang teramat lirih dan pasrah terukir di bibirnya yang pucat pasi. Air mata hangat menetes perlahan, membasahi pipinya yang kotor oleh debu dan darah.
"Setidaknya... aku akan menemui Mama di sana," gumam Hazel lembut. Di titik terendah hidupnya ini, membayangkan pelukan hangat almarhumah ibunya adalah satu-satunya penghiburan yang tersisa.
Tanpa sepatah kata pun dan tanpa rasa iba, salah satu pengawal memajukan tubuhnya lalu memberikan satu dorongan kuat di punggung Hazel.
BRAK!
Tubuh ramping Hazel melayang jatuh melewati bibir jurang yang gelap gulita. Angin malam menyergap tubuhnya saat ia meluncur deras ke bawah. Hazel memejamkan matanya rapat-rapat, membiarkan kegelapan merengkuhnya...
BYURRRRRR!
Hantaman permukaan air laut yang sangat dingin menyerap tubuhnya dalam sekejap. Air asin masuk memenuhi indera dan tenggorokannya, menyengat luka-luka di punggungnya hingga terasa terbakar. Tubuh Hazel perlahan tenggelam semakin dalam ke dalam gulungan arus samudra yang kelam.
Sementara itu, di markas bawah tanah klan Victor.
Arlend melangkah menyusuri lorong sel tahanan yang remang dan dingin. Langkah kaki tegapnya bergaung di antara dinding-dinding beton. Di salah satu sel, seorang pria tahanan yang sedang memegang gelas kaca berisi air mendadak gemetar hebat saat melihat sosok Arlend melintas.
PRANG!
Gelas kaca di tangan tahanan itu terlepas, jatuh menghantam lantai semen dan pecah berkeping-keping. Air beningnya menyiprat ke mana-mana, membasahi ujung sepatu kulit mahal yang dikenakan Arlend.
Arlend menghentikan langkahnya secara tiba-tiba.
Ia berdiri kaku, menatap gumpalan air dan pecahan kaca yang berserakan di atas lantai. Bayangan pantulan air bening yang menyiprat mendadak memicu denyutan heboh yang luar biasa dahsyat di dalam otaknya.
DEG!
ZRRRTTT!
Hantaman memori yang sangat pekat meretas paksa dinding amnesianya. Kepala Arlend mendadak terasa dihantam godam besar. Ia memegang pelipisnya, memejamkan mata erat-erat saat potongan-potongan ingatan yang tadi terkunci mendadak menyembur keluar secara beruntun:
Momen saat seorang gadis cantik mengusap noda es krim di sudut bibirnya dengan lembut di depan kedai es krim...
Momen saat gadis itu memutar tubuhnya di ruang tamu, pasang badan menahan cambukan Cateline demi melindunginya...
Suara lembut gadis itu di kamar rawat rumah sakit saat telaten membersihkan luka punggungnya...
Genggaman jemari yang teramat erat dan hangat saat mereka berlari menembus kegelapan hutan di bawah guyuran hujan...
Dan jeritan histeris penuh duka yang memecah malam di tepi jurang: "TIDAKKKK! KAK SAGARAAA!"
Mata elang Arlend seketika terbuka lebar. Binar matanya yang biasa dingin dan asing berubah gemetar hebat oleh rasa syok dan kepanikan yang teramat dahsyat.
Seluruh memorinya tentang Hazella Adeline telah kembali utuh sepenuhnya.
Gadis yang baru saja ia perintahkan untuk dicambuk... gadis yang menangis memohon agar ia mengingatnya... dan gadis yang baru saja ia vonis mati dengan dibuang ke laut... adalah satu-satunya manusia yang mempertaruhkan nyawa dan tulus melindunginya selama ia menjadi Sagara!
"Hazel..." bisik Arlend dengan nada suara yang pecah dan gemetar hebat, rahang tegasnya mengeras hingga buku-buku jarinya memutih.
Dengan jantung yang berdegup kencang bak disambar petir, Arlend menyambar ponsel pribadinya dengan jemari yang berguncang hebat. Ia menekan nomor panggilan anak buahnya yang bertugas membawa Hazel.
Panggilan tersambung pada dering kedua.
"T-Tuan Besar?" suara pengawal dari balik telepon terdengar melapor.
"TANGANMU! JANGAN SENTUH HAZEL SEDIKIT PUN!" teriak Arlend menggelegar, suaranya yang biasa dingin kini dipenuhi kepanikan dan amarah yang luar biasa liar. "BATALKAN PERINTAHKU! BAWA DIA KEMBALI SEKARANG JUGA!"
Hening sejenak di ujung telepon sana. Pengawal itu terdengar gugup dan ketakutan.
"M-Maafkan kami, Tuan Besar..." bisik pengawal itu dengan suara gemetar dari balik telepon. "Kami... kami baru saja dalam perjalanan pulang ke markas. Nona Hazel... sudah kami dorong masuk ke dalam laut lepas dua menit yang lalu."
double up y thor 😄🙏
kasihan si hazel ...