Luna meninggal tepat di usianya yang masih tergolong muda, percintaan juga kehidupan yang tak pernah memihaknya membuatnya jatuh terperangkap semakin dalam pada dusta.
Tidak ada yang berjalan baik dalam kehidupannya, namun sebuah keajaiban membuatnya memiliki satu kesempatan untuk mengulang segala hal dan merubahnya menjadi lebih baik.
"Aku.... aku masih hidup?" ucap Luna dengan raut wajah yang tak percaya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon senja liana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3
Bruak.....
Seulas senyum terlintas jelas di raut wajah Rachel kala itu. Namun raut wajah kepanikan malah terlihat jelas di wajah Arkan yang baru saja berhasil lepas dari cengkraman kematian yang mungkin saja akan merenggut nyawanya, jika ia tidak dengan cekatan melepaskan cengkraman tangan Luna beberapa detik yang lalu.
Tak tak tak
Suara langkah kaki nampak beradu dengan suara keheningan yang saat ini menyapa di telinga Arkan.
"Apa kau sudah gila!" pekik Arkan dengan raut wajah kesal menatap ke arah Rachel yang terlihat datang menghampirinya.
"Mengapa kamu begitu panik? Bukankah dengan dia m*ti semuanya akan lebih mudah?" ucap Rachel dengan santai.
Arkan mengernyit mendengar penuturan Rachel barusan, meski apa yang dikatakan oleh Rachel ada benarnya, namun setidaknya bukan dengan cara seperti ini. Apa yang dilakukan oleh Rachel benar-benar di luar rencananya.
"Kau memang benar, tapi bukan dengan cara seperti ini. Apa kau tidak mengerti cara bermain dengan cantik? Jika kau membunuhnya seperti ini maka sama saja kau terang-terangan mengumumkan bahwa kau ingin masuk ke penjara. Apa kau sudah tidak waras?" ucap Arkan dengan kesal.
Mendengar bentakan yang keluar dari mulut Arkan membuat Rachel terdiam, apa yang dikatakan oleh Arkan terasa mengguncang dirinya.
"La....lu aku harus bagaimana?" ucap Rachel dengan raut wajah yang khawatir takut jika polisi mengetahui apa yang telah ia lakukan.
"Persetan dengan dirimu, aku tak mau ikut campur urusan mu! Lakukan apapun yang kau mau dan jangan coba-coba menyeret ku dalam masalah ini!" ucap Arkan memperingatkan sambil kemudian berlalu pergi meninggalkan Rachel dan masuk ke dalam mobil.
"Tunggu.. Arkan... Mengapa kau meninggalkan ku? Bantu aku Arkan... Aku benar-benar minta maaf ...." teriak Rachel hendak mengejar Arkan, namun sayangnya mobil tersebut telah melaju cukup kencang meninggalkannya.
Kepergian Arkan membuat kepanikan terlihat jelas di raut wajah Rachel kala itu. Rachel menatap genangan darah yang terus mengalir dari tubuh Luna, membuat Rachel semakin tak bisa berpikir dengan benar.
"Bahkan ketika kau sudah m*ti pun, kau masih menyusahkan ku!" ucap Rachel dengan kesal sambil menatap ke tubuh Luna yang bersimbah darah akibat ulahnya.
Rachel yang tak ingin mempertanggungjawabkan perbuatannya, langsung melarikan diri dari lokasi kejadian menyisakan Luna yang saat ini tengah berjuang melawan maut.
Jari tangan Luna nampak bergerak perlahan, napasnya mulai tersengal seakan seperti bisa terhenti sewaktu-waktu.
"T...o...l...ong... Siapa ..pun to...long.. Aku... Uhuk uhuk..." ucap Luna dengan nada yang terdengar begitu lirih.
Luna menatap ke arah langit dengan tatapan yang nanar, segala hal baik impian, kekasih hati, cita-cita bahkan orang tua hancur dan tak berbekas akibat ulahnya sendiri.
Luna benar-benar menyesal karena telah percaya dengan seorang pria buaya darat yang hanya bermodalkan mulut manis kepadanya.
Dalam keadaan antara hidup dan mati, Luna nampak tersenyum dengan getir, begitu setiap momen yang telah ia lewati beberapa tahun belakangan mulai terlintas bagai pecahan kaset rusak dan terus berputar di kepalanya.
"Kau benar-benar perempuan bucin terbodoh Luna!" makinya dalam hati tanpa bisa berkata-kata.
"Apakah ini akhir hidup ku? Benar-benar sungguh tragis!" ucap Luna kembali dalam hati.
Disaat rasa putus asa yang beriringan dengan pasrah memenuhi seluruh isi hatinya, suara decitan rem mobil yang mendadak berhenti di dekatnya, membuat telinga Luna semakin berdenging dengan hebat.
Nging......
Tak tak tak....
"Luna... Luna... Apa kau bisa mendengar ku?" teriak sosok tinggi besar yang datang dan langsung memeluk tubuhnya yang lemah.
Manik mata Luna nampak perlahan mengikuti suara panggilan yang terus terucap dari mulut Pria tersebut.
"S...a...g...a...r....a" ucap Luna dengan nafas yang tersengal.
Luna begitu tak menyangka jika orang terakhir yang menemaninya adalah Sagara. Iya seorang Sagara, yang bahkan telah ia usir dengan kejam tepat sebelum hubungan keduanya renggang beberapa waktu yang lalu.
***
Dua tahun yang lalu
Di sebuah taman terlihat Sagara tengah mengambil langkah besar dan tergesa menyusul kepergian Luna yang nampak begitu marah kepadanya.
"Luna... Lunnn dengar dulu penjelasan ku.. Luna... Ku bilang berhenti sebentar!" teriak Sagara dengan raut wajah yang penuh ke khawatiran.
Mendengar teriakan tersebut membuat langkah kaki Luna terhenti dengan paksa. Dengan perlahan Luna memutar tubuhnya dan menatap ke arah Sagara dengan raut wajah yang datar.
"Apa lagi? Apa kau akan kembali mengatakan jika Arkan bukanlah Pria yang baik? Atau kau juga mengatakan jika Rachel dan juga Arkan ada hubungan khusus yang mungkin saja sewaktu saat akan menyusahkan ku? Iya? Benar bukan?" ucap Luna dengan nada yang meninggi, membuat helaan napas besar terdengar keluar dari mulut Arkan kala itu.
"Dengar dulu penjelasan ku Lun, untuk apa yang kamu bilang barusan memanglah benar. Bukan karena aku cemburu atau ada hal lain seperti yang di bilang Arkan kepadamu. Aku berbicara berdasarkan fakta Lun, kita berdua sudah berteman dari kecil, apakah hal itu saja tidak cukup untuk membuat mu percaya akan perkataan ku?" ucap Sagara meminta pengertian kepada Luna yang terus keras kepala mengagung agungkan Arkan di hadapannya.
"Jangan bawa-bawa hubungan masa kecil Saga... Setiap orang bisa berubah, aku tidak mengatakan hal ini dan menuduh mu telah berubah... Tapi aku percaya pada Arkan, dia itu Pria yang sangat tulus dan baik! Kau tidak bisa asal menuduhnya seperti itu dan membahasnya setiap kali kita bertemu." ucap Luna dengan nada yang ketus.
"Please Lun.. Sekali ini saja percaya kepadaku..." ucap Sagara dengan nada yang memohon.
"Cukup sudah aku sudah muak terus mendengar kata-katamu Saga. Ini yang terakhir kalinya aku mendengar atau jangan pernah temui aku lagi!" ucap Luna dengan nada yang mengancam.
Raut wajah Sagara berubah dingin dengan seketika. Kata-kata dan kepercayaan yang ia dan juga Luna bangun selama ini, nyatanya hilang dalam sekejap hanya karena seorang pemuda yang asal usulnya tidak jelas.
"Jika memang kau lebih mempercayainya Luna.. Silahkan lakukan.. Tapi jangan pernah berharap aku akan bertingkah sama seperti yang dulu. Hubungan kita yang selama ini terjalin, nyatanya hilang begitu saja tak berbekas hanya karna seorang Arkan! Jika ini memang keputusan mu baiklah, aku tidak akan lagi ikut campur dengan urusan mu ataupun Arkan Arkan mu itu!" ucap Sagara dengan nada yang tegas.
***
Area jalan raya
Sagara yang melihat Luna tidak merespon teriakannya, lantas nampak mengusap darah segar yang terus mengalir dan hampir menutupi semua wajah Luna.
"Lun ku mohon... Jangan tinggalkan aku...." ucap Sagara dengan manik mata yang berkaca-kaca, membuat hati Luna semakin teriris dan menyesali setiap hal yang telah ia perbuat kepada Sagara selama ini.
Dengan perlahan Luna mulai mengangkat tangannya hendak menyentuh wajah Sagara yang terlihat begitu sedih melihat keadaanya saat ini.
"Ma...af..kan...aku Saga...ra" ucap Luna untuk yang terakhir kalinya. "Jika ada kehidupan selanjutnya atau kesempatan kedua datang menghampiri ku, aku akan berbalik memuja mu dan memperbaiki segala hal yang telah ku hancurkan dengan tangan ku sendiri." ucap Luna dalam hati sebelum pada akhirnya menghembuskan napas terakhirnya.
"LUNAAAAAAAAAA" teriak Sagara dengan air mata yang berlinang.
*
*
*
*
*
*
Ngingggggggggggggggggggggggggggggggggggggggggggggggggggggggggggggggggggggggggggggggggggggggggggggggggggggggg
"Aku ..... Aku hidup lagi?" ucap Luna dengan manik mata yang membulat.
Bersambung