Demi menyelamatkan nyawa adiknya yang kritis di ICU, Dania Kirana terpaksa menerima syarat gila dalam surat wasiat seorang konglomerat: menikah dengan Arvin Dirgantara, CEO dingin yang penuh prasangka.
Arvin menganggap Dania wanita matre yang memanfaatkan kakeknya demi harta dan 51% saham perusahaan. Sementara Dania bertaruh harga diri demi bertahan dalam pernikahan rahasia berdurasi satu tahun.
Di balik pernikahan penuh ancaman dan perjanjian kertas ini, bahaya besar mengintai dari Dion—sepupu Arvin yang haus kekuasaan. Mampukah Dania membuktikan dirinya di tengah kepungan musuh, ataukah pernikahan rahasia ini justru menjebak mereka dalam benih cinta yang tak terduga?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rhea Vey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 18: Memar dan Suhu Dingin
Suara sirine mobil pengawal membelah kemacetan sore Jakarta. Di dalam kabin belakang sedan hitam Arvin, hening menyengat rapat.
Arvin duduk dengan rahang mengeras, matanya yang pekat menatap lurus ke depan. Di sampingnya, Dania memegang pergelangan tangannya sendiri yang memerah dan sedikit memar akibat terbentur dinding beton saat Arvin menariknya tadi.
Rian yang duduk di kursi depan menoleh canggung. "Pak Arvin, tim keamanan di lokasi sudah mengamankan dua pekerja harian yang bertanggung jawab atas ikatan bekisting di lantai empat. Mereka mengaku diperintah oleh seseorang dengan imbalan uang tunai."
"Bawa mereka ke kantor pengacara internal kita," perintah Arvin dengan suara yang begitu dingin hingga mampu membekukan udara. "Jangan lepaskan sebelum mereka menyebutkan nama pihak yang mentransfer uang itu."
"Baik, Pak."
Dania meringis pelan saat mobil melewati jalanan bergelombang, menahan nyeri di lengan tangannya. Arvin melirik gerakan halus itu dari sudut matanya, namun tidak mengucapkan sepatah kata pun hingga sedan mereka tiba di pelataran parkir bawah tanah penthouse.
Sesampainya di lantai 45, Dania langsung melangkah menuju sofa ruang tamu, mendudukkan tubuhnya yang terasa lelah dan gemetar. Kejadian hampir tertimpa balok kayu tadi benar-benar menguras tenaganya.
Arvin berjalan menuju dapur, lalu kembali dengan membawa kotak pertolongan pertama dan sekantung es batu yang dibungkus kain tipis.
Pria itu mendudukkan tubuh tegapnya di atas sofa yang sama, tepat di samping Dania.
"Ulurkan tanganmu," kata Arvin datar.
Dania menatap kotak obat di meja, lalu menatap Arvin. "Saya bisa obati sendiri, Tuan Arvin."
Arvin tidak mendengarkan penolakan itu. Dengan gerakan tegas namun hati-hati, ia meraih pergelangan tangan Dania, mengangkatnya pelan. Jemari Arvin yang hangat dan kokoh menyentuh kulit dingin Dania, menempelkan kompres es batu ke area tangan yang memar.
Dania mendesis pelan menahan dingin dan nyeri yang beradu. "Pelan-pelan..."
"Kalau kamu tidak membantah instruksiku untuk menjauh dari tepi lantai tadi, kamu tidak akan terluka seperti ini," gumam Arvin kaku, matanya fokus menempelkan kompres tanpa menatap mata Dania.
Dania menatap profil samping wajah Arvin yang tegas. Di balik nada bicaranya yang menyalahkan dan dingin, ada kecermatan dan kehati-hatian luar biasa dari cara jemari pria itu menahan tangannya agar tidak makin sakit.
"Anda menyelamatkan nyawa saya tadi, Arvin," bisik Dania pelan, suaranya jujur tanpa ada benteng pertahanan. "Kalau Anda tidak menarik saya... mungkin saya sudah berada di ruang ICU seperti Rehan."
Gerakan tangan Arvin terhenti sesaat. Pria itu perlahan mendongak, menatap langsung ke dalam manik mata Dania yang bening.
"Aku memfasilitasi keselamatanmu bukan untuk melihatmu mati di area proyekku," kata Arvin rendah, suara baritonnya bergetar tipis oleh emosi yang tertahan kencang. "Insiden hari ini bukti bahwa Dion atau antek-anteknya makin terdesak dan bertindak nekat."
"Apakah Anda yakin ini ulah Dion?" tanya Dania.
"Siapa lagi yang diuntungkan kalau proyek ini bermasalah dan kamu terluka?" Arvin meletakkan kompres es, lalu mengambil salep pereda memar dan mengoleskannya tipis-tipis di kulit Dania. "Dion ingin merusak reputasi proyek ini sekaligus menghancurkan fokusku."
Sentuhan lembut jemari Arvin saat meratakan salep di kulitnya membuat dada Dania berdesir aneh. Jarak mereka begitu dekat hingga Dania bisa merasakan embusan napas Arvin di bahunya.
"Lalu... apa langkah Anda selanjutnya?" tanya Dania seraya mencoba mengalihkan fokus dari detak jantungnya yang mendadak tak beraturan.
Arvin menyelesaikan olesan salepnya, lalu menutup tabung obat dengan bunyi klik yang renyah. Ia menatap Dania lurus-lurus.
"Kita akan memancing mereka keluar," tegas Arvin. "Mulai besok, kamu tidak boleh melangkah satu meter pun di luar penthouse ini tanpa pengawalan melekat. Dan kita akan menggunakan dokumen palsu proyek untuk menjebak siapa pun yang memberi perintah pada pekerja tadi."
Dania mengangguk paham. "Saya ikut skenario Anda."
Arvin berdiri, merapikan kemejanya yang sedikit kusut. Sebelum berbalik menuju ruang kerjanya, ia menghentikan langkah sejenak.
"Istirahatlah," kata Arvin kaku tanpa menoleh. "Malam ini... aku yang akan menyiapkan makan malam."
Dania membelalakkan matanya terkejut, menatap punggung tegap Arvin yang menghilang di balik pintu dapur. Seorang CEO dingin yang tak tersentuh... mau menyiapkan makan malam?