NovelToon NovelToon
Gadis Barbar Kesayangan Ketos Dingin

Gadis Barbar Kesayangan Ketos Dingin

Status: tamat
Genre:Perjodohan / Romansa Fantasi / Ketos / Tamat
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Desty Haris Wahyuni

kalau adaa yang salah atau enggk nyambung ceritanyaa maapp yaaaahhh soalnya baru pertama bikin cerita kayak ginii (⁠◠⁠‿⁠◕⁠)


Siapa sangka gadis yang berisik, ceroboh, dan selalu bikin keributan itu justru jadi satu-satunya yang bisa meluluhkan hati ketua osis paling dingin, cuek, dan ditakuti seantero sekolah?


Dari yang saling tak suka, jadi tak bisa terpisahkan. Ini kisah gadis barbar yang mencuri hati ketos dingin yang tak pernah tersenyum pada siapa pun.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desty Haris Wahyuni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

JARAK DI ANTARA KITA.

Gue lari tanpa tahu ke mana. Hanya tahu harus menjauh dari sana, dari tatapannya, dari kenyataan yang baru gue lihat. Punggung gue terasa berat, dada sesak, napas ngos-ngosan — tapi sakit di hati jauh lebih perih. Arka memanggil nama gue dari belakang, suaranya terdengar panik, tapi gue nggak berani berhenti. Kalau gue berhenti dan natap dia… gue takut makin hancur.

Gue sampai di tempat biasa — bangku kosong di pinggir lapangan sekolah, tempat gue selalu duduk kalau lagi kacau. Di sana gue duduk, menekuk lutut, menutup wajah dengan telapak tangan. Air mata turun tanpa izin, bikin muka panas.

"Gue bodoh banget…" bisik gue pelan. "Pikir gue dia beda buat gue. Ternyata cuma gue yang merasa."

Belum lama duduk, langkah kaki terdengar mendekat. Gue nggak perlu menoleh — gue tahu siapa itu. Aroma yang selalu gue kenal, langkah yang gue hafal.

Dia berhenti tak jauh dari gue. Nggak langsung mendekat, nggak langsung memeluk. Cuma berdiri diam, seakan takut gue akan lari lagi.

"Lo kedinginan," ucapnya pelan, suaranya serak. Jaketnya dilepas, lalu diulurkan ke arah gue.

Gue menggeleng, nggak menoleh. "Nggak usah. Simpan aja buat orang yang pantas."

Dia terdiam sebentar, lalu duduk — agak jauh, nggak menyentuh gue. "Nggak ada orang lain, Luna. Cuma lo."

"Kalau cuma gue, kenapa lo sembunyiin semuanya?!" Gue menoleh, mata gue masih basah, suara bergetar. "Kenapa lo biarkan gue cari tahu sendiri kayak gitu?kenapa gue harus degar dari orang lain, dari tempat yang nggak seharusnya gue datang?!"

Arka menunduk, tangannya mengepal di lutut. "Karena gue nggak mau lo terlibat. Dunia itu… kotor, Luna. Berisiko. Gue nggak mau lo kenal sisi gelap gue. Gue mau lo tetap jadi lo — cerah, bebas, nggak takut apa-apa."

"Jadi lo anggap gue rapuh?" Gue berdiri, menatapnya lekat-lekat. "Lo pikir gue nggak kuat tahu siapa lo sebenarnya? Arka, gue sayang sama lo — sama semua sisi lo. Bukan cuma yang manis dan tenang!"

Dia mengangkat wajah, matanya merah. "Gue tahu lo kuat. Tapi gue nggak bisa jamin keamanan lo kalau semuanya terbuka. Mereka yang lawan gue… nggak segan menyakiti orang yang gue sayang. Itulah alasan gue diam. Bukan karena lo nggak penting. Tapi justru karena lo paling penting." ❤️

Gue terdiam. Kata-katanya tulus, gue bisa rasakan. Tapi rasa kecewa tetap ada — berat dan nyata.

"Lo melindungi gue dengan cara menjauh," ucap gue pelan. "Padahal yang gue mau cuma satu — kita hadapi bareng-bareng. Bukan lo sendiri di satu sisi, gue sendirian di sisi lain."

Arka bangkit berdiri, melangkah mendekat pelan, seakan takut gue mundur. "Gue takut, Luna. Kalau sesuatu terjadi sama lo karena gue… gue nggak akan pernah maafin diri gue sendiri."

Gue menatapnya lama. Takutnya masuk akal, tapi cara dia melakukannya — yang menyakiti kita berdua.

"Gue nggak minta lo tanggung semuanya sendirian," kata gue lembut. "Gue cuma minta… percaya sama gue. Biarkan gue ada di tempat lo, bukan cuma di luar gerbangnya."

Dia menatap gue, lalu perlahan mengangguk. Tapi ekspresinya masih gelisah — seakan ada beban yang belum bisa dia lepaskan sepenuhnya.

"Mulai sekarang… gue akan cerita pelan-pelan," ucapnya pelan. "Tapi beri gue waktu, ya? Bukan untuk menyembunyikan, tapi untuk memastikan lo aman."

Gue menghela napas panjang, lalu mengangguk pelan. "Oke. Gue kasih waktu. Tapi jangan terlalu lama, Arka. Jarak ini… rasanya jauh banget."

Dia mengulurkan tangan, menyentuh pipi gue pelan — lembut seperti biasa. "Maafin gue. Gue janji… gue berusaha jadi orang yang pantas buat lo."

Malam itu kita pulang bareng, tapi nggak berpegangan tangan seperti biasanya. Jarak di antara kita menyusut, tapi belum hilang sepenuhnya. Masih ada sisa keraguan, masih ada hal yang belum terucap.

Keesokan harinya di sekolah, suasana terasa berbeda. Raka dan Dito menyapa gue dengan tatapan lega tapi tetap waspada. Kirana menatap dari kejauhan — senyumnya hilang, digantikan dengan tatapan tajam yang penuh ancaman. Gue tahu ini belum selesai.

Saat istirahat, Arka menarik gue ke sudut sepi.

"Malam ini kumpul lagi. Kali ini gue nggak akan larang lo datang. Tapi janji — tetap di belakang, jangan ikut campur, dan pergi kalau situasi jadi berbahaya."

Gue menatapnya, lalu mengangguk mantap. "Janji. Tapi lo juga janji — jangan hadapi sendirian."

Dia tersenyum tipis — senyum yang masih menyimpan kekhawatiran, tapi kali ini tak sendirian.

JANGAN LUPA BUAT VOTE, LIKE SUBSCRIBE DAN KOMEN YAHH GUE MAKSAAA BANGET NIHHH SOALNYA GUE BUTUH UNTUK ISI ULANG OTAK GUE LAGI HWHEHE ⁽⁽٩(๑˃̶͈̀ ᗨ ˂̶͈́)۶⁾⁾

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!