NovelToon NovelToon
3 NASIB YANG SAMA

3 NASIB YANG SAMA

Status: sedang berlangsung
Genre:BXB / Balas Dendam
Popularitas:359
Nilai: 5
Nama Author: Kal Ipah

tiga pemuda yang sama-sama bernasib buruk sama-sama di khianati kekasih mereka dan sama-sama di anggap buruk oleh keluarga sendiri




#bl
#bxb

yang gak suka gak usah baca

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kal Ipah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

17.

Suasana di dalam sebuah mansion mewah mendadak mencekam. Seorang pemuda tampak sedang mengamuk sejadi-jadinya. Ia membanting dan merusak semua barang berharga yang bisa dijangkaunya, membuat seluruh penghuni rumah dan para pelayan terkejut sekaligus ketakutan.

"Astaga, Ferdy! Apa yang kamu lakukan?! Kenapa kamu merusak barang-barang?" tanya Rika, ibu kandung Ferdy, histeris melihat kekacauan tersebut.

"Hancur semua, Ma! Hancur! Perusahaan kita sebentar lagi akan bangkrut!" ucap Ferdy dengan perasaan kalut dan emosi yang meluap-luap.

Rika mengerutkan kening panik. "Kenapa bisa begitu? Bukannya kamu sedang bekerja sama dengan proyek besar milik MX Company dan KX Company?"

"Dua perusahaan raksasa itu tiba-tiba membatalkan kerja sama mereka secara sepihak dengan perusahaan saya, Ma! Jika dalam waktu dekat saya tidak bisa mendapatkan investor baru, perusahaan kita akan benar-benar gulung tikar!" ucap Ferdy frustrasi dan putus asa.

"Kenapa tiba-tiba dua perusahaan itu membatalkan kerja samanya secara mendadak, Fer? Apa kamu ada membuat masalah atau tidak sengaja menyinggung mereka?" tanya Via, kakak pertama Ferdy, ikut menimpali.

"Tidak, Kak! Saya tidak pernah menyinggung siapa pun di sana!" elak Ferdy membela diri.

"Ini aneh. Kalau kamu tidak berbuat masalah, tidak mungkin dua perusahaan besar itu kompak membatalkan kontrak kerja sama begitu saja," gumam Via kebingungan.

Ferdy mengepalkan tangannya. "Saya akan langsung datang ke kantor KX Company sekarang untuk bertanya langsung, kenapa mereka membatalkan investasi di perusahaan saya!"

"Kakak ikut!" ucap Via, yang langsung diangguki oleh Ferdy.

Mereka berdua segera bergegas pergi menuju kantor KX Company, tanpa tahu siapa sebenarnya sosok di balik pemilik perusahaan besar tersebut.

Sementara itu, di dalam ruang kerja CEO KX Company.

"Elo bisa gak, jangan dekat-dekat?! Elo itu bau jigong, tahu!" semprot Elvian ketus dengan wajah memerah.

"Saya sudah sikat gigi dan mandi sampai bersih, Sayang," bisik Maxime tanpa dosa. Pria itu justru semakin mengeratkan pelukannya di tubuh ramping Elvian.

"Iiiih! Lepas, Max!" Elvian memberontak, berusaha mendorong dada bidang pria di depannya.

"Tidak mau," sahut Maxime manja.

Kavian yang duduk di kursi kebesarannya hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala melihat kelakuan dua pemuda yang tampaknya mulai dimabuk asmara itu. "Dasar kelakuan anak muda zaman sekarang," gumam Kavian pelan.

Tok! Tok!

"Pak Kavian," panggil Reynal dari balik pintu luar.

"Masuk," titah Kavian.

Reynal melangkah masuk ke dalam ruangan. Pandangannya langsung disuguhi pemandangan tidak biasa; Maxime yang sedang memeluk erat Elvian, sementara pemuda manis itu sedang merengut kesal sambil mengerucutkan bibirnya.

Reynal berdeham pelan untuk menetralkan suasana. "Ada apa, Reynal?" tanya Kavian.

"Di luar ada Tuan Ferdy dan Kakaknya. Mereka ingin bertemu dengan Anda, Pak," lapor Reynal.

Sorot mata Kavian seketika menajam. "Saya akan menemui mereka."

"El ikut, Bang! Woi, bisa lepas gak?! Gue gigit nih tangan ya!" ancam Elvian beralih memelototi Maxime.

"Dek, jaga sikap," lerai Kavian lembut.

"Habisnya El kesal, Bang! Dari tadi dia meluk-meluk melulu kayak lem!" gerutu Elvian akhirnya dilepaskan oleh Maxime yang terkekeh pelan.

Mereka berempat kemudian keluar dari ruangan dan berjalan menuju lobi untuk menemui Ferdy dan Via.

Saat pintu ruang tunggu terbuka, Ferdy dan Via spontan berdiri. Namun, begitu melihat siapa yang berjalan di depan mereka, kedua saudara itu langsung terperangah.

"Kalian?! Ngapain kalian berdua bisa ada di sini?" tanya Via dengan nada sinis. Detik berikutnya, matanya menyipit penuh curiga. "Hoo ... atau jangan-jangan kalian berdua ya, yang sudah menghasut pemilik perusahaan ini untuk membatalkan kerja sama dengan perusahaan Ferdy?!" tuduhnya asal.

Elvian langsung berkacak pinggang. "Woi, bacot! Sembarangan banget kalau ngomong! Untuk apa juga kita repot-repot menghasut pemilik perusahaan ini? Orang pemilik perusahaannya itu Abang gue sendiri kok!" cerocos Elvian telak.

Deg. Bertambah terkejutlah dua bersaudara itu.

"Itu tidak mungkin! Kamu pasti cuma mengaku-ngaku saja, kan? Mana mungkin perusahaan KX Company ini milik kamu, Kavian?!" sahut Ferdy dengan tatapan tidak percaya sekaligus cemas.

"Adik saya tidak sedang berbohong. Memang saya pemilik sah dari KX Company," ucap Kavian tenang namun sarat akan penekanan.

Elvian melipat kedua tangannya di dada, menatap sepupunya itu dengan pandangan mengejek yang kentara.

"Tidak! Ini tidak masuk akal! Karena yang saya tahu, kamu itu masih bekerja sebagai sekretarisnya Om Martin. Tidak mungkin kamu tiba-tiba bisa memiliki perusahaan sebesar ini!" seru Ferdy, jiwanya menolak menerima kenyataan bahwa sepupu yang selalu diremehkannya kini berada jauh di atasnya.

"Memang kenyataannya begitu, saya pemiliknya. Dan kamu mau tahu alasan kenapa saya membatalkan kerja sama denganmu? Itu karena kamu dan kekasihmu itu sudah berani membohongi saya!" ucap Kavian, menatap tajam langsung ke manik mata Ferdy.

Ferdy mendadak gugup. "A–apa maksudmu? Saya tidak mengerti."

"Bohong apa maksudmu? Bukannya kamu sendiri tahu kalau Ferdy dan Silvy itu memang dijodohkan oleh Kakek?" bela Via tidak mau kalah.

Kavian mendengus sinis. "Awalnya saya juga berpikir bodoh seperti itu. Tapi kenyataannya mereka berdua telah bersekongkol. Ferdy dan Silvy sebenarnya sudah menjalin hubungan jauh sebelum Silvy berpacaran dengan saya! Wanita itu mendekati saya murni hanya karena harta saya. Dia tidak pernah mencintai saya!"

Kavian mengarahkan telunjuknya tepat ke wajah Ferdy. "Dan dia ... mereka berdua menyusun rencana licik ini. Karena mereka gagal memorot harta saya secara langsung, mereka merencanakan cara lain, yaitu melalui perjodohan. Ferdy sengaja membual kepada Kakek kalau dia menyukai Silvy dan meminta Kakek untuk mengaturnya."

"Dan dengan bodohnya, Kakek menuruti itu semua. Saya tahu Kakek memang jauh lebih menyayangi kamu dibanding cucu-cucu yang lain, Ferdy. Makanya Kakek mau melakukan hal konyol itu. Saya bahkan disuruh Kakek untuk mengalah supaya kamu dan Silvy bisa bertunangan," lanjut Kavian dengan nada bicara yang mulai menggebu-gebu memuaskan dendamnya.

"Tapi untungnya, saya dengan senang hati melepaskan wanita matre itu. Kalau tidak, mungkin seluruh aset dan harta saya sudah habis dikuras oleh kalian berdua!" pungkas Kavian telak.

"Tidak! Itu fitnah! Saya tidak pernah mengenal Silvy sebelumnya! Saya mulai menyukainya saat Silvy berkunjung ke mansion Om Martin. Sejak saat itu saya langsung jatuh cinta, bukan seperti tuduhan tidak berdasar yang kamu katakan!" elak Ferdy dengan wajah yang mulai memucat.

Kavian tersenyum meremehkan. "Terserah kamu mau percaya atau tidak, toh saya sama sekali tidak rugi. Dan asal kamu tahu satu hal lagi, tepat sebelum hari pertunangan kalian, Silvy mendatangi saya. Dia mengemis meminta saya untuk cepat-cepat menikahinya karena dia bilang akan dijodohkan dengan orang yang tidak dicintainya. Tapi untungnya, saya menolak. Karena apa? Karena saya sudah tahu sebusuk apa isi kepala Silvy."

"Jika saya sampai menikah dengan Silvy, dia pasti akan dengan leluasa mengambil harta saya untuk diserahkan kepadamu, bukan begitu, Ferdy?" cecar Kavian mematikan skakmatnya.

"Saya tidak pernah merencanakan hal sekeji itu bersama Silvy!" teriak Ferdy marah karena rahasianya dikuliti habis.

Via yang mulai merasa terdesak segera menengahi. "Sudah, hentikan! Masalah pribadi itu nanti bisa kita bicarakan lain kali. Kedatangan saya ke sini ingin bertemu dengan CEO perusahaan ini. Kemana dia?!" tanya Via ketus, mengabaikan Kavian.

"Sudah gue bilang dari tadi, ini pemiliknya!" sahut Elvian gemas sambil menunjuk Kavian. "Kalau elo berdua masih gak punya otak buat percaya, noh, tanya aja sama semua pegawai di sini!"

Via langsung mengalihkan pandangannya ke arah salah satu staf administrasi yang kebetulan lewat. Mengerti arti tatapan itu, sang pegawai langsung mengangguk sopan. "Benar, Ibu. Pak Kavian memang pemilik sekaligus CEO dari perusahaan KX Company ini," ucap pegawai itu tegas.

Elvian langsung tertawa puas. "Sekarang elo berdua percaya, kan? Lebih baik sekarang elo pergi dari sini dan bawa sekalian adek elo ini. Ingat, langsung bawa ke rumah sakit jiwa ya, takutnya dia stres berat karena sebentar lagi perusahaannya bakal bangkrut total, wkwkwk!" ejek Elvian tanpa ampun.

"Saya tidak akan gila hanya karena satu perusahaan kecil ini membatalkan investasinya! Perusahaan saya jauh lebih besar dari ini!" ucap Ferdy tinggi hati, mencoba mempertahankan sisa harga dirinya.

Ferdy kemudian menyadari keberadaan Maxime yang sejak tadi berdiri diam di sebelah Elvian. "Tuan Max? Untuk apa Anda ada di sini? Hooo ... saya paham sekarang! Pasti kamu, kan, Kavian, yang sudah menghasut Tuan Max untuk membatalkan kerja samanya dengan perusahaan saya?!" tuduh Ferdy beralih menyerang Kavian.

Kavian hanya menampilkan ekspresi datar, sama sekali tidak terpengaruh oleh tuduhan murahan tersebut.

Namun, Elvian tidak tinggal diam abangnya dituduh. "Bacot banget elo, tolol! Hei, dengerin gue ya, Ferdy buluk! Nih orang," Elvian menunjuk Maxime dengan jempolnya. "Dia sendiri yang membatalkan kerja sama dengan perusahaan elo karena apa? Karena elo ketahuan korupsi uang proyek! Makanya dibatalkan. Iya, kan, Max?" tanya Elvian meminta dukungan.

"Benar sekali, Honey," sahut Maxime dengan senyuman menawan.

"Nah, tuh, dengar sendiri, kan—" Kalimat Elvian mendadak terhenti. Ia mengerjapkan matanya, lalu menoleh patah-patah ke arah Maxime. "Elo ... elo bilang apa tadi?"

"Honey*. Kenapa? Kamu tidak suka? Kalau tidak suka, saya bisa ganti jadi Baby, atau Sayang," tawar Maxime dengan binar mata menggoda.

Wajah Elvian langsung memerah sempurna sampai ke telinga. Ia buru-buru menjinjit dan menutup mulut Maxime dengan kedua telapak tangannya. "Syuuuuut! Diam elo!" sentak Elvian salah tingkah.

Melihat interaksi itu, Via mengernyitkan dahi tidak suka. "Kalian berdua ... pacaran?!"

"Tidak!" / "Iya." jawab Elvian dan Maxime bersamaan, membuat Via semakin dibuat kebingungan.

Ferdy yang sudah tidak tahan lagi langsung menggeram marah. "Kalian semua sengaja bersekongkol untuk menghancurkan perusahaan saya! Saya tidak terima! Saya akan balas perbuatan kalian semua, lihat saja nanti! Ayo, Kak, kita pergi dari tempat terkutuk ini!" ancam Ferdy berapi-api.

"Ayo, gue tunggu pembalasan elo, dasar buluk!" tantang Elvian berteriak membalas kepergian Ferdy dan Via yang melangkah lebar meninggalkan area kantor.

Setelah kedua orang itu benar-benar hilang dari pandangan, Kavian menepuk pundak adiknya. "Sudah, Dek. Orangnya juga sudah pergi."

"Kesal banget El, sumpah, sama si Ferdy itu! Dia yang salah, dia yang licik, tapi malah bertingkah sok tersakiti begitu," sungut Elvian merengut.

Kavian tertawa kecil melihat adiknya kembali mengomel. "Sudah, lebih baik sekarang kamu bawa Max sana pergi dari sini. Abang mau lanjut kerja lagi. Malas Abang lihat kalian berdua bucin melulu di ruangan kerja Abang," usir Kavian bercanda.

Sontak Elvian melotot tajam ke arah abangnya, membuat Kavian dan Maxime justru kompak terkekeh geli karena ekspresi marahnya terlihat sangat menggemaskan.

"Imut," gumam Maxime menatap lekat wajah Elvian.

"Hump!" Elvian membuang muka dengan pipi menggembung kesal.

1
fakhri
Lanjutkan, semangat berkarya 😁😁
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!