NovelToon NovelToon
Selir Favorit Sang Mafia

Selir Favorit Sang Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Senja sastrala

Dijual oleh keluarganya demi melunasi utang, Aurora terperangkap dalam sangkar emas milik Gabriel Moretti—bos mafia paling dingin dan ditakuti di dunia bawah tanah. Meski hanya berstatus sebagai selir rahasia tanpa cincin di jarinya, Aurora menjadi satu-satunya wanita yang sanggup melunakkan kegelapan sang iblis. Di antara benturan bahayanya, ancaman musuh, dan obsesi Gabriel yang makin mengekang, Aurora harus memilih: menyerahkan hatinya secara utuh pada sang penguasa, atau bertaruh nyawa demi merebut kebebasannya kembali.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja sastrala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

14

Sensasi pertama yang menyapa kesadaranku adalah aroma tajam pembersih kimia dan antiseptik yang menusuk indra penciuman. Udara terasa sangat dingin, mengalir masuk secara paksa melalui sebuah selang plastik kecil yang menempel tepat di bawah hidungku.

Perlahan, sangat perlahan, aku mencoba membuka kelopak mataku yang terasa seberat lempengan timah.

Cahaya putih dari lampu neon di langit-langit ruangan langsung menyengat mataku, memaksa pandanganku kabur dan berbayang selama beberapa saat. Ketika keburaman itu perlahan memudar, hal pertama yang kutangkap adalah deretan peralatan medis yang berdiri membisu di sekelilingku. Suara bip... bip... bip... yang konstan dan monoton dari monitor detak jantung menjadi satu-satunya irama yang mengisi keheningan.

Aku mencoba menggerakkan jemari tangan kananku. Sensasi ngilu dan kaku langsung menjalar dari punggung tangan yang terpasang jarum infus.

Namun, rasa sakit di punggung tangan itu sama sekali tak sebanding dengan apa yang kurasakan di bagian bawah tubuhku. Sebuah rasa nyeri yang tumpul, terbakar, dan berdenyut hebat menyengat dari area organ intim dan panggulku sebuah ingatan fisik yang seketika membawa ingatan tergelap malam itu kembali berputar di kepalaku bagai kaset rusak.

Kekerasan itu. Cengkeraman kasarnya. Rasa sakit saat tubuhku yang dibakar demam dipaksa untuk melayani kebuasan dan kecemburuannya yang gila.

Aku memalingkan kepala ke sisi kanan ranjang dengan napas yang tersengal pelan.

Kosong.

Sisi ranjang medis itu dingin dan tak berpenghuni. Tidak ada siapa pun di sana. Tidak ada sosok pria bersetelan mahal dengan mata sehitam jelaga yang biasanya mengurungku dalam bayang-bayang dominasinya. Hanya ada sebuah kursi kosong bertumpu kaku di samping tempat tidur.

Aku memejamkan mata rapat-rapat, menghembuskan napas parau yang tertahan di tenggorokan. Sebuah tawa kecil yang getir dan hampa hampir saja lolos dari bibirku yang pecah-pecah.

Tentu saja.

Apa lagi yang kuberharapkan? Apa lagi yang pantas kubayangkan dari seorang Gabriel Moretti?

Untuk sejenak mungkin dalam ilusi bodoh yang sempat terlintas di tengah kejang demamku aku berpikir bahwa pria itu akan berdiri di sana, menatapku dengan sudut mata yang menyimpan penyesalan. Namun kenyataan selalu menghantamku kembali pada daratan yang paling keras. Gabriel adalah iblis di dunia bawah tanah. Dia adalah seorang Don yang darahnya dialiri oleh dominasi, penaklukan, dan keangkuhan mutlak.

Manusia berhati dingin seperti dia tidak akan pernah benar-benar peduli pada rasa sakit atau penderitaan jiwaku. Bagi Gabriel, aku hanyalah sebuah barang pajangan indah yang kebetulan sangat disukainya. Sebuah mainan mahal yang ia beli dari utang judi ayahku, yang ia klaim hak kepemilikannya dengan cara meremukkan seluruh harga diri dan fisiku.

Bagi pria itu, hal yang paling utama dalam hidupnya hanyalah dua hal: kekuasaan di atas tahta Moretti, dan pemenuhan hawa nafsunya yang tak pernah mengenal batas.

Saat aku terbaring kritis, hampir mati akibat luka robek dan infeksi yang disebabkan oleh perbuatannya sendiri, Gabriel pasti sudah kembali ke dunianya. Pria itu pasti sedang duduk di meja dewan dengan pistol di tangannya, membantai orang-orang yang menentangnya, atau mungkin... kembali meluapkan hasrat gilanya pada wanita-wanita lain di sayap barat puri yang selalu siap melayaninya tanpa perlu jatuh sakit.

Aku hanyalah perisai. Tempat pelampiasan stres dan kecemburuannya. Dan ketika aku rusak hingga tak bisa lagi digunakannya, dia dengan mudah meninggalkanku di ruangan steril yang dingin ini, dibiarkan membusuk bersama rasa sakitku sendiri.

Dua tetes air mata yang dingin dan pasrah mengalir pelan dari sudut mataku, membasahi kain bantal putih rumah sakit. Rasa sakit di tubuhku kini kalah jauh dibanding kehampaan yang telah mematikan seluruh perasaanku pada pria itu.

"Nona... Nona Aurora?"

Suara pintu bergeser pelan memecah keheningan. Elena melangkah masuk seraya membawa baskom berisi air hangat dan handuk kecil. Begitu matanya menangkap sosokku yang sedang menatapnya dengan mata terbuka, wanita paruh baya itu tersentak. Baskom di tangannya nyaris terlepas.

"Tuhan... Nona Aurora! Anda sudah sadar!" seru Elena dengan suara bergetar gembira. Ia dengan cepat meletakkan baskom di atas meja dan berlari mendekati ranjangku.

Elena berlutut di samping tempat tidur, menatapku dengan air mata yang menetes membasahi pipinya yang keriput. "Anda sadar, Nona... Dokter! Saya harus memanggil dokter!"

"Jangan..." suaraku keluar sangat pelan, parau, dan nyaris tak terdengar bagai bisikan angin lalu. Tenggorokanku terasa sangat kering dan terbakar.

Elena menghentikan langkahnya, kembali mendekat dan dengan hati-hati membantu menyodorkan sendok berisi sedikit air putih ke bibirku. "Minumlah sedikit, Nona. Jangan terlalu banyak bergerak dulu. Tubuh Anda masih sangat lemah."

Aku menyesap air itu pelan-pelan, merasakan cairan dingin itu sedikit meredakan dahaga di tenggorokanku.

"Sudah berapa lama aku... di sini?" tanyaku pelan, memandangi langit-langit kamar yang asing.

"Hampir tiga hari, Nona," jawab Elena lembut seraya mengusap keningku dengan handuk hangat yang basah. "Anda mengalami koma medis akibat demam tinggi dan... pendarahan internal. Kami semua sangat ketakutan Anda tidak akan bangun lagi."

Aku terdiam. Tiga hari. Tiga hari hidupku digantung di antara garis kematian, sementara duniaku yang terisolasi tetap berputar tanpa peduli.

Mataku secara refleks melirik ke arah pintu kamar yang tertutup rapat. Meski aku tahu jawabannya, ada bagian dari jiwaku yang paling pahit yang ingin mendengar konfirmasi atas kebenaran itu.

"Di mana... Gabriel?" tanyaku, menyebut nama pria itu tanpa sedikit pun nada kehangatan yang tersisa.

Raut wajah Elena yang tadinya gembira mendadak berubah agak ragu. Wanita tua itu memalingkan pandangannya sejenak, menunduk seraya memeras kain kompres di dalam baskom.

"Tuan Gabriel... beliau baru saja pergi beberapa jam yang lalu, Nona," jawab Elena pelan, suaranya terdengar sangat hati-hati. "Terjadi kekacauan besar di markas utama dan sektor perbatasan. Julian Romanov telah tewas, dan faksi-faksi musuh mulai bergerak menyerang wilayah kita. Tuan Gabriel harus memimpin pasukan secara langsung untuk menghentikan perang saudara."

Aku menyunggingkan senyum tipis sebuah senyuman miris yang sarat akan cemoohan pada diriku sendiri.

Tentu saja. Perang, darah, dan kekuasaan.

Iblis itu tidak berada di sini karena dia sedang sibuk mencabut nyawa orang lain. Dia sedang mempertahankan tahta darahnya yang diagungkan. Sangat naif jika aku sempat berpikir bahwa pria yang telah menembak jari petinggi dewannya sendiri dan meremukkan tubuhku di atas ranjang akan duduk diam di samping ranjang medis menungguku membuka mata.

"Beliau berada di sini sepanjang malam sebelumnya, Nona," tambah Elena cepat, seolah-olah bisa membaca jalan pikiranku yang kelam. "Tuan Gabriel tidak tidur sama sekali. Beliau menggenggam tangan Anda seharian, berbicara pada Anda, bahkan"

"Cukup, Elena," potongku datar, menghentikan kalimat wanita itu sebelum ia sempat memberikan kepalsuan lain padaku. "Jangan menghiburku dengan cerita bohong."

"Saya tidak berbohong, Nona Aurora..."

"Dia ada di sini bukan karena dia peduli padaku," ucapku dengan suara yang sangat dingin dan mantap, menatap lurus ke dalam mata Elena. "Dia ada di sini untuk memastikan bahwa barang miliknya tidak mati sebelum dia selesai menggunakannya. Gabriel tidak pernah menganggapku sebagai manusia, Elena. Baginya, aku hanyalah selir yang harus tetap bernapas agar dia bisa meluapkan nafsu dan kegilaannya kapan saja dia mau."

Elena bungkam seketika. Wanita paruh baya itu menatapku dengan raut penuh kepedihan dan kasihan, namun ia tidak mampu menyangkal kenyataan dari dunia tempat kami hidup.

Aku memalingkan wajah kembali ke arah jendela kaca besar yang memperlihatkan pemandangan kota di bawah guyuran hujan gerimis. Di luar sana, dunia sangat luas. Ada kebebasan yang pernah kupunya, ada udara segar yang tak terhirup bau darah dan tembakau mahal.

Namun di dalam kamar steril ini, di bawah bayang-bayang nama Moretti, aku menyadari satu hal yang telah membeku di dalam dadaku: Gabriel Moretti mungkin telah berhasil meremukkan fisikku dan mengunci tubuhku dalam sangkar emasnya. Tetapi mulai detik ini, saat aku terbangun dari koma ini, hatiku telah mati sepenuhnya untuk pria itu. Tidak akan ada lagi ketakutan, tidak akan ada lagi air mata kepasrahan. Yang tersisa hanyalah cangkang kosong yang akan menunggu saat yang tepat untuk menghancurkan sangkar ini dari dalam.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!