NovelToon NovelToon
Satpam Penjaga CEO

Satpam Penjaga CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyelamat / Romansa Fantasi / Nikah Kontrak
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Asep agustian

Bimo, seorang pemuda kaya yang enggan dijodohkan, menyusun rencana konyol dengan meminta sahabatnya semasa SMA, Arga, seorang anak panti asuhan bertubuh tegap yang akrab dipanggil Dewa, untuk menyamar menjadi dirinya. Tugas Dewa sederhana: bersikap norak dan menyebalkan di depan Nadia Nugroho, CEO wanita dingin pemimpin imperium bisnis Nugroho Group, agar kencan perjodohan itu batal total.

Namun, rencana konyol itu berantakan. Nadia yang tak mudah terkecoh justru melayangkan ancaman pembalasan yang sanggup membangkrutkan perusahaan keluarga Bimo seketika. Terdesak, Dewa terpaksa menandatangani Surat Kesepakatan Pernikahan Kontrak atas nama Bimo.

Di tengah situasi yang kian kacau dan pernikahan resmi yang dihitung hari, Dewa berusaha menyambung hidup dengan melamar kerja sebagai petugas keamanan. Tanpa ia sadari, hari pertama tugasnya sebagai Satpam justru menempatkannya di lobby utama Menara Utama Nugroho Group, gedung megah milik keluarga sang CEO dingi

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asep agustian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27. Pemenang yang Sebenarnya

Selesai. Tinta hitam dari pulpen emas itu telah mengering, meninggalkan goresan nama Arga Dewa Putra di atas kertas segel tebal.

Helaan napas lega yang terdengar sangat jelas langsung berembus dari sudut meja. Nadia menyandarkan punggungnya ke sandaran kursinya, tampak seolah baru saja melepaskan beban seberat ber ton-ton dari pundaknya. Di sampingnya, Rina mengangguk pelan sembari mengemas lembaran dokumen itu dengan cekatan. Namun, reaksi paling dramatis tentu saja datang dari Bimo. Pria itu mengelus dadanya berulang kali, menyunggingkan senyum lebar seolah baru saja lolos dari hukuman mati.

Arga menatap kertas yang kini berpindah tangan ke dalam map kulit Rina. Dadanya masih terasa sesak, namun nasi sudah menjadi bubur. Ia bangkit dari duduknya, merapikan letak kerah seragam Satpam yang sedikit kusut, lalu menoleh ke arah Bimo.

"Urusan gue di sini udah selesai, 'kan?" tanya Arga datar, suaranya terdengar berat. "Ayo balik, Bim. Shift gue emang udah kelar, tapi gue butuh mandi."

"Ayo, ayo! Gue yang antar lu balik, Wa! Lu mau makan apa aja malam ini gue yang bayar!" sahut Bimo bersemangat. Ia langsung berdiri, hendak melangkah mengekor di belakang Arga.

"Tunggu. Siapa yang bilang urusan kamu sudah selesai, Arga?"

Suara dingin Nadia menghentikan langkah kedua pria itu seketika. Masing-masing dari mereka membeku. Suasana di dalam area privat Kopi Sunyi mendadak hening kembali. Arga memutar badannya perlahan, menatap sang CEO Nugroho Group dengan kening berkerut.

"Maksud Bu Nadia apa lagi? Saya udah tanda tangan. Suratnya udah di Mbak Rina. Tugas saya cuma tinggal nunggu instruksi kapan harus ketemu Kakek Ibu, 'kan?" cecar Arga.

Nadia menopang dagunya dengan kedua tangan yang terjalin rapi di atas meja marmer. Mata indahnya menatap Arga dari ujung kepala hingga ujung kaki, memperhatikan seragam Satpam lengkap dengan nametag yang menempel di dada kiri pria itu.

"Tanda tangan itu baru langkah awal, Arga. Jangan dangkal," ujar Nadia tegas. "Pernikahan ini bukan cuma soal kamu, saya, dan Kakek. Ini menyangkut nama besar Nugroho Group dan konsorsium bisnis keluarga kami. Kamu pikir, saya bisa begitu saja membawa seorang Satpam lobi dan mengenalkannya ke Kakek serta dewan direksi sebagai calon suami saya?"

Bimo menyela ragu, "Ya... tapi 'kan Dewa emang Satpam, Bu Nadia. Mau diomongin gimana lagi?"

"Diam dulu, Bimo," potong Nadia tanpa menoleh sedikit pun dari Arga. Ia melipat tangannya di dada. "Kakek saya itu pebisnis ulung. Dewan direksi kami isinya serigala berdarah dingin. Kalau besok saya mengumumkan pembatalan dengan Wira Perkasa Group dan mendadak menggantinya dengan seorang Satpam, Kakek bisa langsung serangan jantung detik itu juga, dan saham perusahaan saya bisa anjlok."

"Terus mau Ibu Nadia apa?" tanya Arga, nada suaranya mulai menyiratkan kejengkelan yang ditahan.

Nadia menatap Rina sejenak sebelum kembali menatap Arga. "Kita buat identitas baru. Mulai besok, kamu bukan lagi Arga sang Satpam panti asuhan. Saya akan siapkan profil baru untuk kamu sebagai seorang pengusaha muda dari luar daerah. Mobil mewah, rumah di kawasan elit, pakaian dari penjahit pribadi, sampai kartu nama perusahaan bentukan, semuanya akan saya sediakan. Kamu cuma perlu menghafal skenario dan bersikap seperti pria berkelas di depan Kakek dan direksi."

Rina mengangguk setuju. "Itu opsi paling rasional, Mas Arga. Masalah dana dan fasilitas, Bu Nadia yang akan tanggung sepenuhnya."

Bimo menepuk bahu Arga. "Wah, keren itu, Wa! Lu mendadak jadi crazy rich! Tinggal ikutan akting dikit aja, aman hidup lu!"

Namun, bukannya tergiur, raut wajah Arga justru makin mengeruh. Matanya memicing tajam menatap Nadia. Keheningan menggantung selama beberapa detik sebelum Arga akhirnya membuka suara dengan nada sangat dingin.

"Gak."

Nadia mengerutkan kening. "Apa maksud kamu 'gak'?"

"Saya gak mau," tegas Arga mantap. Ia melangkah satu tindak mendekati meja. "Saya udah setuju buat pura-pura jadi tunangan ibu Nadia demi bantu Kakek ibu dan demi anak-anak panti. Tapi saya gak akan pernah mau pura-pura jadi pengusaha, orang kaya, atau siapa pun itu."

"Arga, tolong bersikap realistis!" suara Nadia mulai meninggi, kehilangan sedikit ketenangannya. "Ini demi kelancaran rencana kita! Mana ada cerita CEO Nugroho Group menikah sama Satpam gedung utamanya sendiri? Logikanya di mana?"

"Logikanya ada di kejujuran, Bu!" potong Arga tak kalah tegas. "Saya masuk ke ruangan ini sebagai Arga, anak panti yang kerja jadi Satpam. Saya mau jalanin ini sebagai diri saya sendiri. Saya gak mau nambah satu kebohongan baru di atas kebohongan yang udah ada. Cukup saya bohongi publik soal hubungan kita, tapi jati diri saya gak akan pernah saya jual."

"Kamu jangan keras kepala! Semua fasilitas itu cuma tameng!" Nadia ikut berdiri, menatap Arga dengan pandangan menantang.

"Kalau Ibu Nadia maksa saya harus nyamar jadi pengusaha kaya, detik ini juga batalkan surat itu," balas Arga tanpa ragu sedikit pun. Matanya menatap lurus ke dalam manik mata Nadia. "Saya lebih pilih kehilangan pekerjaan ini, balik hidup susah di kontrakan, dari pada harus terus-terusan hidup dalam skenario kebohongan Ibu. Ambil kertas itu, sobek sekarang. Saya gak takut."

Bimo mendadak panik setengah mati. "Eh, Wa! Dewa! Lu gila ya?! Jangan emosi dulu, Bro! Bu Nadia, tolong, bu, jangan disobek!"

Rina menahan napas, terkejut melihat ada seorang pria biasa yang berani menantang dan mengancam balik seorang Nadia Nugroho tepat di depannya.

Nadia terpaku. Selama hidupnya, tidak pernah ada satu orang pun yang berani menolak perintahnya, apalagi membalas intonasinya dengan begitu berani demi sebuah "harga diri". Pria di depannya ini tidak tergiur mobil mewah, tidak silau oleh rumah elit, dan sama sekali tidak takut kehilangan mata pencahariannya demi mempertahankan identitas aslinya.

Perlahan, ketegangan di wajah Nadia melunak. Di balik tatapan tajamnya, ada percikan rasa kagum yang samar. Pria ini benar-benar beda, batin Nadia.

Nadia menghela napas panjang, lalu perlahan kembali duduk di kursinya. Ia merapikan blazer hitamnya.

"Oke," ucap Nadia pelan namun tegas.

Arga menaikkan sebelah alisnya. "Oke apa?"

"Saya terima penolakan kamu," kata Nadia, membuat Rina dan Bimo melotot kaget. "Kamu gak perlu pura-pura jadi pengusaha. Soal bagaimana cara menjelaskan identitas kamu ke Kakek dan dewan direksi nanti, biar saya yang pikirkan jalannya. Untuk saat ini, kita pakai cara kamu."

"Serius, Bu Nadia?" Bimo memastikan dengan mata membelalak.

"Saya serius," jawab Nadia datar, meski matanya masih tidak lepas menatap Arga. "Aturan mainnya begini, di luar kantor, kamu adalah tunangan saya. Tapi selama di Menara Utama Nugroho Group, kamu tetaplah seorang Satpam. Tidak ada perlakuan khusus, tidak ada fasilitas mewah di tempat kerja, dan rahasia ini harus tertutup rapat dari seluruh karyawan serta kawan-kawan Satpam kamu. Mengerti?"

"Itu malah lebih bagus buat saya," sahut Arga tenang. "Saya memang berniat tetap kerja profesional seperti biasa."

Nadia kemudian memalingkan pandangannya ke arah Bimo. "Dan kamu, Bimo."

Bimo langsung menegakkan posisinya bagai prajurit dipanggil Komandan. "Ya, Bu Nadia? Ada perintah apa buat gue?"

"Tugas kamu sekarang, pulang dan kasih tahu orang tua kamu kalau perjodohan kita resmi batal," instruksi Nadia dingin. "Bikin alasan apa pun ke orang tua kamu, tapi ingat, jangan sampai desas-desus ini bocor ke telinga Kakek saya sebelum saya sendiri yang bicara. Kalau sampai Kakek tahu dari pihak luar, investasi Wira Perkasa Group tetap saya cabut. Paham?"

"Paham, Paham banget, Bu Nadia! Gue jamin mulut orang tua gue rapat sampai waktu yang tepat!" jawab Bimo cepat dengan wajah berseri-seri. "Tapi... investasi keluarga gue beneran aman 'kan?"

"Semua kerja sama bisnis keluarga kamu aman. Kamu pegang janji saya," tandas Nadia.

"Aaaaa! Makasih banyak, ibu Nadia! Lu emang penyelamat hidup gue!" seru Bimo girang luar biasa.

Tanpa aba-aba, Bimo yang terlalu bahagia langsung berbalik dan melompat merangkul Arga dari samping. Ia memeluk leher sahabatnya itu dengan sangat erat, menempelkan kepalanya di bahu Arga secara manja.

"Dewa! Lu bener-bener malaikat pelindung gue! Gue sayang banget sama lu, Bro!" jerit Bimo heboh.

Arga yang masih menyimpan rasa kesal mendalam akibat ulah konyol sahabatnya itu langsung tersontak kaget. Wajahnya memerah menahan marah.

"Paan sih lu, Bim?! Lepas gak!" bentak Arga sambil berusaha mendorong tubuh Bimo.

"Gak mau! Gue mau meluk lu sampai kontrakan! Lu udah menyelamatkan masa muda gue, Wa!" rengek Bimo makin mengencangkan pelukannya, tak peduli Arga terus berontak.

"Lepas, bangsat! Geli gue, Bim! Lu yang bikin masalah, lu yang sok manja! Lepas gak, sebelum gue banting lu di sini!" seru Arga setengah berbisik namun penuh nada ancaman, tangannya berusaha melonggarkan lehernya dari himpitan lengan Bimo.

Bimo malah makin menjadi-jadi, menyandarkan berat badannya ke tubuh tegap Arga. "Banting aja! Banting gue! Yang penting gue gak jadi nikah muda!"

Melihat pemandangan dua pria dewasa yang saling dorong dan berontak di depan mereka, Rina tidak sanggup lagi menahan tawanya. Ia menutupi mulutnya dengan tangan, tertawa kecil melihat tingkah absurd Bimo dan kepasrahan Arga.

Nadia hanya mampu menggeleng-gelengkan kepalanya. Wajah dinginnya sedikit mencair.

"Persahabatan kalian agak aneh," gumam Nadia pelan, ada nada pujian tipis dalam suaranya saat memperhatikan bagaimana Arga, meski tampak sangat marah dan berniat menempeleng Bimo, tetap menahan kekuatannya agar sahabat penakutnya itu tidak benar-benar cedera. "Tapi setidaknya, Bimo punya satu hal yang bisa dibanggakan, dia punya sahabat seperti kamu, Arga."

1
Dian Paramita Dewi
Salam kenal, bantu like ya Kak 🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!