NovelToon NovelToon
Stella Kesayangan Kutub Es

Stella Kesayangan Kutub Es

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Teen / Cintamanis
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Rofiwan

Stella itu berisik, ceria, dan keras kepala. Seluruh sekolah tahu dia cinta mati-matian pada Gibran, sang kapten futsal populer.

Sialnya, Stella selalu berakhir dengan penolakan mentah-mentah dari Gibran. Namun, di balik bayang-bayang koridor sekolah, ada Lingga. Cowok pendiam, misterius, dan sedingin es yang diam-diam selalu memperhatikan Stella.

Saat Gibran terus mematahkan hati Stella, Lingga hadir membawa kehangatan yang tak terduga. Lewat perhatian-perhatian kecil yang terselubung, Lingga perlahan mengobati luka Stella hingga mereka resmi jadian.

Di saat Lingga dan Stella sedang manis-manis nya sebagai best couple satu sekolah, Gibran justru datang kembali dan berbalik mengejar Stella.

Bisakah Lingga yang dingin tetap mempertahankan kehangatan cintanya untuk Stella?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rofiwan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Stella Lingga 29.

"Aku nggak apa-apa. Makasih, Lingga," ucap Stella, suaranya kini terdengar jauh lebih tegar. Sebuah senyuman tipis yang tulus terukir di bibirnya.

Lingga hanya mengangguk sekali, lalu kembali ke bangkunya tanpa sepatah kata lagi, seolah aksi heroiknya tadi adalah hal biasa. Namun bagi Stella, dunianya sudah berubah total. Hari itu, di jam istirahat yang bising, hatinya telah resmi diculik dan terkunci rapat oleh cowok paling pendiam dan misterius di kelasnya.

Sejak hari itu, dinamika di antara mereka bergeser secara alami. Tidak ada pernyataan cinta yang menggebu-gebu atau perubahan drastis yang membuat satu kelas curiga. Lingga tetaplah Lingga—cowok irit bicara yang lebih suka menatap jendela. Namun, bagi Stella, ada kenyamanan baru yang ia temukan dalam diamnya Lingga.

Stella mulai sering menggeser kursinya saat kerja kelompok, atau sengaja menyisakan satu botol minuman dingin di meja Lingga setelah pelajaran olahraga. Lingga tidak pernah menolak. Cowok itu selalu meminumnya sampai habis, lalu membalasnya dengan tindakan-tindakan kecil: menahan pintu kelas saat Stella membawa tumpukan buku, atau meminjamkan jaketnya saat AC kelas sedang dingin-dinginnya. Hubungan mereka tumbuh lewat interaksi-interaksi nyata yang tak kasat mata bagi orang lain, namun sangat berarti bagi mereka berdua.

Hingga akhirnya, di satu akhir pekan yang cerah, Lingga mengirimkan sebuah pesan singkat. “Sore ini senggang? Ke pasar malam, yuk.”

Jantung Stella sempat melewatkan satu ketukan. Itu adalah ajakan pertama Lingga di luar urusan sekolah.

Sore harinya, pasar malam pinggiran kota itu sudah dipadati pengunjung. Bau jagung bakar, suara musik dari wahana permainan, dan pendar lampu warna-warni menciptakan atmosfer yang hangat sekaligus nostalgia. Di antara keramaian itu, Lingga berjalan di sisi luar, memastikan tubuhnya yang menjadi pembatas agar Stella tidak tersenggol oleh orang-orang yang lalu lalang.

"Mau itu?" tanya Lingga, menunjuk stan arum manis merah muda yang berputar fusi.

Stella mengangguk antusias. Tidak butuh waktu lama sampai gumpalan manis sebesar kepala itu berpindah ke tangan Stella. Sambil mengunyah camilan manis tersebut, mereka berjalan ke area permainan ketangkasan. Lingga berhenti di depan stan lempar gelang. Matanya tertuju pada sebuah boneka beruang besar berwarna cokelat di baris belakang.

Tanpa banyak bicara, Lingga membeli beberapa gelang. Dengan fokus yang tenang, ia melemparkan gelang-gelang itu. Di lemparan ketiga, gelang plastik itu pas masuk ke leher botol target utama. Pemilik stan mendesah pasrah sambil menurunkan boneka beruang besar itu dan menyerahkannya kepada Lingga.

"Nih, buat kamu. Biar ada yang nemenin belajar," kata Lingga datar, tapi ada binar bangga yang samar di matanya saat menyerahkan boneka besar itu.

Stella memeluk boneka itu dengan satu tangan, wajahnya merona. "Gede banget, Ling. Makasih ya."

Puncak dari sore itu adalah bianglala. Wahana besi raksasa itu berputar lambat, membawa mereka naik meninggalkan kebisingan di bawah. Ketika kotak yang mereka naiki berhenti tepat di titik tertinggi, pemandangan lampu kota yang membentang indah langsung menyapa mata. Angin malam yang sejuk mulai berembus, membuat suasana di dalam kotak menjadi sangat intim.

Stella menaruh boneka beruangnya di samping, lalu pandangannya tidak sengaja jatuh ke lengan kanan Lingga yang malam itu sengaja digulung hingga siku. Di bawah remang lampu bianglala, garis luka sayatan yang cukup panjang dan sudah mengering menjadi jaringan parut terlihat jelas. Rasa penasaran yang selama ini dipendam Stella akhirnya tak terbendung lagi.

"Lingga..." panggil Stella pelan. "Boleh aku tanya sesuatu?"

Lingga menoleh. "Apa?"

"Itu..." Stella menunjuk lembut ke arah bekas luka di tangan kanan Lingga. "Luka karena apa? Kalau kamu nggak keberatan buat cerita."

Lingga terdiam beberapa saat. Ia menatap lengannya sendiri, lalu mengembuskan napas panjang. Tidak ada riak kemarahan di wajahnya, hanya ada tatapan lelah yang dalam.

"Ini sisa masa lalu," ujar Lingga, suaranya terdengar agak berat. "Waktu aku SMP, orang tuaku cerai. Hubungan mereka emang udah nggak sehat lama banget. Puncaknya malam itu, mereka berantem hebat. Papah udah nggak bisa kontrol emosinya dan ambil pisau dapur."

Stella menahan napas, tangannya refleks menutup mulutnya sendiri.

"Dia mau melukai Mamah," lanjut Lingga, matanya menerawang menembus kaca bianglala. "Aku nggak mikir panjang lagi. Aku langsung pasang badan di depan Mamah dan nahan pisaunya pakai tangan kanan ini. Sayatannya lumayan dalam, tapi yang penting Mamah nggak apa-apa. Setelah kejadian itu, mereka resmi pisah. Aku ikut Mamah."

Mendengar cerita itu, dada Stella terasa sesak. Pengorbanan Lingga bukan cuma sekadar aksi keren di sekolah, tapi memang sudah menjadi instingnya untuk melindungi orang yang dia sayangi sejak dulu. Rasa kagum dan haru bercampur aduk, membuat ikatan batin di antara mereka malam itu terasa menguat berkali-kali lipat. Stella menyadari bahwa di balik sifat diam dan misteriusnya, Lingga adalah sosok yang sangat tulus dan bertanggung jawab.

Bianglala masih bergandengan di titik tertinggi, bergoyang pelan ditiup angin. Stella menggeser duduknya, merapatkan jarak di antara mereka. Dengan perlahan dan pasti, ia menyandarkan kepalanya di pundak tegap Lingga. Lingga sempat menegang sedetik, terkejut dengan gerakan tiba-tiba itu, namun tubuhnya segera rileks kembali.

Lingga mengangkat tangan kirinya, lalu dengan sangat lembut mengelus rambut Stella, merapikan beberapa helai yang tertiup angin. Sentuhan itu terasa begitu protektif dan menenangkan. Lingga kemudian menundukkan kepalanya sedikit, lalu mengecup puncak kepala Stella dengan lembut dan lama.

Stella tidak menjauh. Ia justru memejamkan mata, membiarkan kecupan itu menyalurkan semua rasa aman yang selama ini tidak pernah ia dapatkan dari siapa pun. Sebuah senyuman tipis yang sangat bahagia terukir di bibirnya. Di atas ketinggian kota malam itu, Stella tahu hatinya telah menemukan rumah yang 'nyaman' sesungguhnya.

......................

...****************...

Tbc,

1
Rina ratnasari
lanjut tour🙏
Alex
lnjut thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!