Pernikahan Vivian Valerie Ananditha dan Radhit Gezha Revandhana bukanlah sebuah dongeng indah. Bagi Radhit seorang pengusaha muda yang arogans, gila kerja, dan terbiasa memegang kendali Vivian hanyalah sebuah "beban" dan "kewajiban konyol" yang terpaksa dia jalani demi memenuhi wasiat almarhum ayahnya.
Di mata Radhit, Vivian adalah wanita lemah, membosankan, dan tidak bernilai. Setiap hari, kehidupan rumah tangga mereka dipenuhi dengan kedinginan, pengabaian, hingga bentakan verbal yang merendahkan. Tidak ada tempat untuk Vivian di dalam hati Radhit, terlebih ketika hadir sosok Clarissa Olivia seorang model cantik nan manipulatif yang pandai memainkan peran di balik panggung bisnis Radhit.
Namun, di balik diamnya Vivian yang penurut, ada sebuah rahasia kecil yang dia jaga dengan nyawanya: sebuah kehidupan baru sedang tumbuh di dalam rahimnya.
Vivian bertahan menelan semua luka, caci maki, dan aroma parfum wanita lain dari pakaian Radhit semata-mata demi janin di perutnya. Dia berhar
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ragan Fian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penebusan dosa
BIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIP!
Suara berdengung panjang dari alat pemantau jantung itu bergema horor di dalam ruang ambulans yang melaju kencang. Lampu strobo merah berkedip-kedip liar, memantulkan bayangan samar pada dinding kendaraan yang berguncang keras.
"Kejut jantung! Charge ke dua ratus!" teriak Julian tegas kepada perawat di sisinya.
Julian menempelkan dua pad defibrilator ke dada telanjang Radhit yang penuh jelaga hitam dan noda darah.
DUK!
Tubuh Radhit terlonjak keras di atas tandu. Namun garis di layar monitor tetap lurus datar, tanpa gelombang kehidupan sedikit pun.
"Naikkan ke tiga ratus! Clear!"
DUK!
"Ayo, Pak Radhit! Berjuang! Anak Anda menunggu!" bentak Julian seraya terus memompa dada Radhit secara manual dengan jemarinya yang berdarah.
Di sudut ruangan ambulans, Vivian duduk bersimpuh di lantai kendaraan yang dingin. Kedua tangannya menutup mulutnya rapat-rapat, mencoba menahan raungan tangis yang hendak pecah. Matanya membelalak lebar, menatap tubuh kaku Radhit yang bersimbah darah.
Anak mereka Bumi tertidur pulas di dalam pelukan hangat jaket perawat karena kelelahan, sama sekali tidak tahu bahwa ayah kandungnya sedang bertaruh nyawa beberapa sentimeter di hadapannya.
Kenapa, Mas...? batin Vivian meraung pedih. Kenapa kamu harus bertindak sejauh ini? Kenapa kamu baru mau melindunginya setelah semuanya hancur?!
Perasaan di dalam dada Vivian berkecamuk hebat. Rasa benci, trauma, dan kekecewaan beradu keras dengan rasa iba dan kepedihan yang teramat sangat. Pria yang dulu begitu angkuh dan dingin... kini terbaring tak berdaya hanya demi memastikan anak yang dulu tak diakuinya bisa bernapas dengan selamat.
Tetttt... Tetttt... Tetttt...
Tiba-tiba, garis lurus di layar monitor bergetar tipis. Sebuah gelombang kecil muncul perlahan, diikuti denyut lemah yang tak beraturan.
Bip... bip... bip...
"Ada denyut! Denyut nadinya kembali!" seru perawat dengan nada lega yang luar biasa.
Julian menghela napas panjang, mengusap keringat bercampur jelaga di dahinya. "Pertahankan pasokan oksigen! Kita hampir sampai di Rumah Sakit Daerah!"
Vivian menyenderkan kepalanya di dinding ambulans. Air matanya menetes makin deras, membasahi pipinya yang pucat. Kehidupan Radhit masih bergantung pada seutas benang tipis.
---
Tiga hari kemudian...
Bau karbol dan obat-obatan menyengat memenuhi ruang perawatan intensif (ICU). Suara mesin ventilator berbunyi teratur, menjadi satu-satunya irama di dalam ruangan yang hening itu.
Radhit terbaring kaku di atas ranjang. Kepala dan sebagian bahunya dibalut perban putih tebal. Wajahnya yang biasa tampan dan tegas kini pucat pasi, dipasangi selang oksigen dan berbagai jarum infus.
Di samping ranjang, Vivian duduk diam di atas kursi besi.
Sudah tiga hari Radhit tidak sadarkan diri pascaoperasi darurat untuk mengangkat pecahan tulang tengkorak dan merawat luka bakar di punggungnya. Dokter menyatakan kondisinya kritis, dan kemungkinan untuk sadar sangat kecil jika tidak ada dorongan kemauan yang kuat dari dalam dirinya sendiri.
Vivian menatap jemari tangan Radhit yang tergeletak lemas di atas seprei putih. Jemari yang dulu pernah menamparnya, meremas lengannya dengan kasar, dan menunjuk wajahnya dengan hinaan.
Namun kini, jemari itu tampak begitu ringkih dan tak berdaya.
Perlahan, dengan tangan yang bergetar ragu, Vivian mengulurkan jemarinya. Ia menyentuh ujung jemari dingin Radhit.
"Mas Radhit..." bisik Vivian lirih. Suaranya pecah di tengah heningnya ruangan ICU.
"Bangun, Mas... Tolong bangun..."
Air mata Vivian jatuh menetes tepat di atas punggung tangan Radhit.
"Kalau Mas Radhit mati sekarang... bagaimana aku bisa memaafkan Mas? Bagaimana aku bisa menyampaikan pada Bumi kalau ayahnya pernah menyelamatkan nyawanya?" Vivian terisak pelan, bahunya berguncang menahan keharuan yang meluap.
"Aku memang belum bisa melupakan semua rasa sakit yang pernah Mas torehkan... Tapi melihat Mas begini... hatiku juga sakit, Mas. Bangunlah... Buka mata Mas..."
Tepat saat air mata Vivian meresap di kulit tangan Radhit...
Bip... bip... bip...
Grafik di monitor jantung mendadak berdenyut lebih cepat.
Jemari tangan Radhit yang dingin perlahan bergerak tipis. Kelopak matanya yang berat bergetar perlahan, berusaha terbuka menembus rasa sakit yang luar biasa di kepalanya.
"V... Vivian..." suara parau dan sangat lemah keluar dari celah bibir Radhit yang kering dan pecah-pecah dari balik masker oksigen.
Vivian tersentak, menutup mulutnya dengan kedua tangan seraya berdiri dari kursi. "Mas Radhit...? Mas sadar?"
Radhit menggerakkan matanya yang kabur, menatap sosok Vivian yang berdiri di sampingnya. Air mata bening menetes perlahan dari sudut mata Radhit yang memerah.
"M-Maaf..." bisik Radhit sangat lirih, suaranya hamper tak terdengar di antara deru mesin ventilator. Tangannya yang lemah berusaha menggapai ujung gaun Vivian.
"Jangan banyak bicara dulu, Mas. Kondisi Mas masih kritis," cegah Vivian lembut, tangannya menahan gerakan tangan Radhit agar tidak melepas jarum infus.
Radhit menggeleng pelan dengan sisa-sisa tenaganya. "B-Bumi... mana... anak kita...?"
Vivian menoleh ke arah pintu kaca ruangan ICU. Di luar sana, berdiri dr. Julian yang sedang menggendong Bumi. Balita mungil itu menempelkan wajahnya di kaca, menatap ke dalam ruangan dengan mata bulatnya yang polos.
Melihat sosok anak kandungnya sehat tanpa kurang satu apa pun, Radhit tersenyum tipis di balik masker oksigennya. Sebuah senyuman haru yang penuh dengan kepasrahan dan rasa syukur yang teramat dalam.
"Terima kasih... Ya Allah..." bisik Radhit lirih.
Radhit menatap mata Vivian lurus-lurus. Tidak ada lagi keangkuhan di sana. Yang ada hanyalah penyesalan yang telah mencapai titik terdalam di jiwanya.
"Vivian... saya tidak... minta kamu kembali..." kata Radhit seraya menahan rasa sakit di dadanya.
"Saya tahu... dosa saya terlalu besar... Luka yang saya beri... tidak akan pernah sembuh..." Radhit terbatuk pelan, napasnya tersendat.
"Mas, sudah... jangan dipaksakan," pinta Vivian, matanya kembali digenangi air mata.
"Dengarkan saya, Vi..." lanjut Radhit dengan suara gemetar.
"Seluruh harta... perusahaan... dan rumah atas nama saya... sudah saya alihkan... atas nama kamu dan Bumi..."
Vivian tertegun membelalak. "Mas... aku tidak butuh semua itu"
"Bukan untuk membeli maafmu..." potong Radhit pelan.
"Itu... hanya jaminan... supaya kamu dan Bumi... tidak pernah menderita lagi... Supaya anak saya... bisa tumbuh dengan bahagia..."
Radhit menggenggam erat jemari Vivian dengan sisa tenaga terakhir yang dimilikinya.
"Kalau kamu mau hidup bersama dr. Julian... saya ikhlas, Vivian..." bibir Radhit bergetar hebat saat mengucapkan kalimat itu, hatinya bagaikan diiris-iris pisau tajam, namun matanya memancarkan ketulusan yang murni.
"Dia pria baik... Dia bisa menjaga kamu dan Bumi jauh lebih baik dari bajingan seperti saya... Saya cuma minta satu hal..."
Radhit menatap Vivian dengan tatapan memohon yang sangat memilukan.
"Izinkan saya... melihat Bumi tumbuh besar dari jauh... Jangan hapus keberadaan saya... sebagai ayahnya..."
JLEB.
Kalimat itu meruntuhkan sisa-sisa dinding kebencian di dalam hati Vivian.
Melihat seorang Radhit Revandhana pria paling angkuh yang dulu menginjak-injak harga dirinya kini pasrah melipat lutut dan merelakannya demi kebahagiaannya bersama pria lain... Vivian tahu, penyesalan pria ini bukan lagi sekadar kata-kata. Penyesalan itu telah meremukkan seluruh keangkuhan jiwanya hingga tak tersisa.
Vivian memegang genggaman tangan Radhit yang bergetar. Ia mengangguk perlahan di antara lelehan air matanya.
"Aku... tidak akan pernah melarang Mas melihat Bumi," bisik Vivian tulus. "Terima kasih... karena sudah menyelamatkan nyawa anak kita, Mas Radhit."
Mendengar kata-kata itu, mata Radhit berbinar hangat. Air mata bahagialah yang kini mengalir membasahi pipinya. Beban berat yang selama dua tahun ini menghimpit jiwanya hingga hampa... kini terangkat perlahan.
Ia mungkin telah kehilangan wanita yang paling dicintainya akibat kebodohannya sendiri di masa lalu. Namun di atas pusara penyesalannya, Radhit telah menemukan cara untuk menjadi seorang Ayah yang bertanggung jawab.
Masalah Clarissa cari kelemahannya,dan hancurkan apa yang dimilikinya yang bisa mengancam perusahaan
Untuk Julian sungguh mulia,kamu yang menolong Vivian, melindunginya,dan memberi rasa nyaman,namun tidak memaksa Vivian, untuk memilihnya, karena dia tahu masih ada nama Radit di hati Vivian