Bagi Parrie Rose, dunia adalah medan pertempuran tanpa henti. Setelah kematian ibunya, gadis berusia 20 tahun itu terpaksa tinggal di kediaman keluarga Ford, menghadapi kebencian sang ibu tiri, serta perlakuan dingin keluarga barunya. Label ‘anak haram’ melekat erat di dadanya, menjadikannya sasaran hinaan yang seolah tak pernah usai.
Setitik harapan muncul saat Parrie berhasil masuk ke universitas paling bergengsi di New York melalui jalur beasiswa. Namun, takdir kembali mempermainkannya.
Hari pertamanya di universitas langsung berubah menjadi mimpi buruk saat sosok dari masa lalunya hadir kembali: Dimitriou Kaetos Ashford, putra konglomerat dengan kekuasaan besar, kembali hadir di kehidupannya.
Di antara tekanan keluarga tiri, hierarki kampus elit, dan jeratan obsesi Kaetos,
Akankah Parrie mampu melepaskan diri dari bayang-bayang masa lalunya, atau justru tenggelam dalam jerat permainan Kaetos?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 10
"Ciiirs...!"
Suara benturan dua gelas karton berisi es kopi menggema nyaring di sudut restoran cepat saji dekat kawasan kampus, disusul oleh tawa riang dari bibir Irysh.
Pekikan riang itu terdengar sangat renyah dan mencolok, seolah-olah mereka sedang berada di dalam area klab malam yang bising ketimbang sebuah restoran keluarga di sore hari.
Beberapa pengunjung restoran di meja sekitar sempat menoleh dan melemparkan tatapan terganggu ke arah meja mereka, namun wanita berwajah sangat cantik di depan Parrie itu tampak menjadi tipe orang yang sama sekali tidak peduli pada penilaian dunia luar.
Irysh menyesap es kopinya dengan gaya anggun namun santai, seakan-akan restoran itu milik keluarganya sendiri.
Parrie tersenyum tipis, lalu menyedot es kopinya dalam-dalam. Tenggorokannya yang kering sejak siang tadi mendadak terasa segar.
Mengingat kembali kejadian di kelas tadi pagi, Parrie merasa keputusan untuk menerima ajakan Irysh mengobrol di luar jam kuliah adalah langkah yang tepat. Meskipun tadi pagi Irysh baru saja memperingatkannya agar tidak percaya pada siapa pun—termasuk pada dirinya sendiri—ucapan Kaetos di kelas tadi masih terngiang jelas di telinga Parrie: “Kau akan cocok berteman dengan Irysh...”
Jika Kaetos yang dingin dan sangat selektif itu sampai menyebut nama Irysh, itu artinya dari pada Allenatore yang bersikap kelewat ramah dan mencurigakan sejak awal, Irysh yang memiliki mulut ceplas-ceplos ini justru jauh lebih aman dan asli tanpa topeng.
"Dengar ya, Parrie," ujar Irysh tiba-tiba, menyandarkan kedua sikunya di atas meja dan memajukan tubuhnya.
Matanya yang tajam menatap Parrie lurus-lurus. "Jangan sekali-kali kau berani dekat atau percaya pada Allen. Kau ini mahasiswi baru yang tidak tahu apa-apa tentang ular-ular berkeliaran di kampus kita."
Parrie mengerutkan keningnya, berpura-pura heran sambil memperjelas pegangannya pada gelas kopi. "Allen? Kenapa? Bukankah dia terlihat sangat baik dan perhatian?"
"Baik dahi hitamnya!" dengus Irysh sinis. "Allen itu mencintai Kaetos Ashford setengah mati! Pria temperamental dan dingin yang duduk di sebelahmu!"
Deg.
Parrie cukup terkejut mendengarnya. Bayangan wajah Allenatore yang begitu ramah menyodorkan kopi dan memperingatkannya untuk menjauhi Jessica Vance tadi pagi melintas di kepalanya. Allen... menyukai Kaetos?
"Tunggu dulu," pangkas Parrie pelan, berusaha mengurai benang kerumitan yang mulai merayapi pikirannya. "Kenapa kau begitu yakin dan menyimpulkan Kaetos adalah pria yang temperamental? Apa kau tahu sesuatu tentangnya?" Parrie berpura-pura tidak tahu apa-apa, memancing informasi lebih jauh untuk menguji seberapa dalam pengetahuan Irysh.
Irysh terkekeh pendek, lalu menggeleng-gelengkan kepalanya melihat wajah polos Parrie.
"Jika kau menganggapku sebagai temanmu di hari pertama kita berkenalan ini, maka dengarkanlah ini baik-baik," kata Irysh, suaranya dipelankan setengah oktaf namun dengan penekanan yang sangat intens. "Mungkin kau belum melihat wanita berambut merah muda di kampus kita—"
"Aku sudah melihatnya," potong Parrie cepat. "Tadi pagi di lorong fakultas. Dia memperingatkanku untuk menjauhi Kaetos dan mengancam beasiswaku."
Irysh melotot gembira, seakan baru saja menemukan teman penderitaan yang pas. "Nah! Kau sudah kena ancam, kan? Jessica Vance! Dia itu dikenal sebagai ratu bully terdepan di kampus kita. Lebih-lebih jika kau terlihat lemah dan tak punya latar belakang keluarga konglomerat, dia akan menindasmu habis-habisan tanpa ampun!"
Irysh mengambil sedotannya, memutarnya di dalam es kopi, lalu melanjutkan dengan nada penuh drama, "Tapi jangan pernah kau berpikir kalau si rambut merah muda gila itu adalah ketua dari komplotannya. Dan yang paling konyol... Jessica sebenarnya sama sekali tidak tertarik secara romantis pada Kaetos! Si rambut merah muda gila itu bahkan membuatku putus dari kekasihku hanya karena salah paham!"
Parrie menyipitkan matanya, rasa ingin tahunya terpicu hebat. "Hah? Aku tidak mengerti. Kalau Jessica bukan ketuanya dan tidak suka Kaetos, lalu kenapa dia yang sibuk melarang semua wanita mendekati Kaetos?"
Irysh memajukan wajahnya hingga hanya berjarak beberapa senti dari wajah Parrie, berbisik kecil seakan sedang membocorkan rahasia negara paling terlarang.
"Allen... Allenatore adalah ketuanya yang sebenarnya!" bisik Irysh dengan mata berbinar bahaya. "Kau mungkin tidak akan pernah percaya karena wajahnya yang sok suci dan gaya bicaranya yang seolah-olah penolong, tapi itu fakta mutlak! Allen menggunakan si rambut merah muda untuk melakukan semua pekerjaan kotor yang berkaitan dengan Kaetos. Dia ingin tangannya tetap bersih di depan publik, seolah-olah dia manusia polos yang tidak punya ambisi. Padahal... Allen sudah berusaha mengejar Kaetos sejak kami masih duduk di kelas 10 High School!"
Parrie menahan napasnya. Otaknya berputar cepat merangkai kepingan puzzle yang baru saja ia dapatkan. Allen adalah dalang di balik si rambut merah muda? Dan dia pura-pura menjadi temanku tadi pagi hanya untuk mengawasiku dari dekat?
Begitu banyak serigala berbulu domba yang mengelilinginya hanya karena satu nama: Dimitriou Kaetos Ashford.
"Kau... satu sekolah dengan Kaetos sejak sekolah menengah?" tanya Parrie, menangkap satu poin penting dari cerita Irysh.
Irysh tersenyum bangga lalu mengangguk mantap. "Tentu saja! Bukan cuma satu sekolah... aku bahkan bertetangga dengan Kaetos sejak kami masih kecil di kawasan pemukiman Ashford Estate!"
Parrie Rose tampak terkejut lagi, kali ini matanya benar-benar membelalak lebar. Ia tidak menyangka sama sekali bahwa gadis cantik yang ceplas-ceplos di depannya ini ternyata adalah tetangga masa kecil seorang Kaetos Ashford!
"Kau... bertetangga dengannya?" ulang Parrie dengan suara agak bergetar.
"Yup! Rumah kami hanya terpisah dua blok taman," sahut Irysh santai. Ia lalu melirik jam tangan mewahnya yang bertahtakan berlian kecil, lalu berdiri dari kursinya dengan gerakan gesit. "Wah, sudah hampir jam lima sore! Ayo kita pulang, aku akan mengantarmu! Kau tidak naik bus kampus, kan?"
Parrie tersentak dari lamunannya, lalu ikut berdiri dari kursi. Ia menatap Irysh dengan raut ragu. "Apa tidak apa-apa, Irysh? Aku tidak ingin merepotkan mu di hari pertama kita kenal..."
Irysh mendengus keras, menepuk bahu Parrie dengan cukup kuat hingga Parrie sedikit terhuyung. "Hey! Apa kau baru saja merasa sungkan padaku?"
Parrie mengerutkan bibirnya, menunduk pelan. "Sedikit..."
"Jangan pernah sungkan! Aku paling benci sifat sungkan-sungkan seperti itu pada teman!" seru Irysh riang. Namun tiba-tiba, matanya berbinar licik, seolah-olah sebuah ide gila yang sangat menyenangkan baru saja muncul di dalam otaknya.
Irysh merangkul leher Parrie dengan akrab. "Daripada kau pulang ke rumahmu yang pasti membosankan itu... bagaimana kalau kau menginap saja malam ini di rumahku?"
Parrie tertegun. "Menginap di rumahmu?"
"Iya! Di rumahku!" kekeh Irysh dengan tawa yang sangat renyah. "Aku beritahu rahasia ya... karena rumahku bertetangga dengan rumah Kaetos, Kaetos itu punya seorang kakak laki-laki yang cukup tampan dan ramah! Tidak dingin seperti adiknya yang gila itu! Dan aku jamin kau bakal betah di rumahku. Malam ini kita bisa naik ke balkon kamarku dan mengintip pria tampan di sebelah rumah!"
"Hahaha!"
Tawa Parrie dan Irysh meledak bersamaan di dalam restoran itu. Gagasan konyol Irysh tentang 'mengintip pria tampan' berhasil mengikis ketegangan yang merayapi hati Parrie sepanjang hari.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Parrie merasakan kembali tawa lepas yang tulus keluar dari dadanya.
"Ayo!" ajak Irys seraya menarik tangan Parrie menuju mobil sports merah murni yang terparkir di pelataran restoran.
•••
Perjalanan menuju kawasan perumahan elit Ashford Estate memakan waktu sekitar tiga puluh menit. Sepanjang jalan, Irys tidak pernah berhenti mengobrol—mulai dari menceritakan kebiasaan aneh para dosen, gosip-gosip konyol anak kaya di universitas, hingga mengomeli Marvel—mantan kekasihnya yang dianggap bodoh karena mau dibohongi oleh Jessica Vance.
Parrie mendengarkan sambil menatap keluar jendela mobil. Angin sore meniup pelan rambut cokelatnya yang terurai. Ada perasaan hangat yang aneh singgah di hatinya. Kehadiran Irysh yang ramah dan tanpa kepura-puraan perlahan-lahan mengobati luka hatinya yang menganga akibat siksaan psikologis di Mansion Ford dan pertengkarannya dengan Kaetos.
Namun, saat mobil sports milik Irysh memasuki gerbang besi raksasa berukiran emas yang menandai kawasan elit Ashford Estate, dada Parrie mendadak berdenyut tegang kembali.
Kawasan perumahan ini sangat luas, dipenuhi oleh jalanan aspal mulus yang diapit oleh pepohonan rindang dan mansion-mansion megah bergaya klasik Eropa dengan halaman rumput yang membentang luas.
Tempat ini adalah pemukiman para miliarder kelas atas New York—dunia yang sangat asing dan jauh dari jangkauan gadis miskin seperti Parrie.
Mobil Irysh melaju pelan menyusuri jalanan kompleks yang sepi hingga akhirnya belok ke sebuah halaman mansion bergaya modern minimalis yang sangat indah.
"Kita sampai!" seru Irysh riang seraya mematikan mesin mobilnya.
Parrie keluar dari mobil, menatap bangunan megah milik keluarga Irysh di depannya dengan decak kagum. "Rumahmu sangat besar, Irysh..."
"Ah, biasa saja! Rumah Kaetos dua kali lebih besar dari ini dan punya helipad di atapnya," sahut Irysh santai sambil menyampirkan tas mewahnya di bahu. "Ayo masuk, orang tuaku sedang ada bisnis di luar negeri sampai minggu depan, jadi mansion ini milik kita sepenuhnya malam ini!"
Parrie mengangguk dan melangkah mengekor di belakang Irysh masuk ke dalam mansion.
Interior rumah Irysh sangat mewah, dipenuhi oleh perabotan kaca dan marmer putih yang berkilauan di bawah lampu kristal. Irysh langsung memandu Parrie naik ke lantai dua, menyusuri lorong panjang dan membuka pintu sebuah kamar tidur tamu yang sangat luas dengan tempat tidur berkanopi indah.
"Kau bisa tidur di sini, atau kalau mau kita tidur berdua di kamarku di sebelah," ujar Irysh gembira. "Kamar mandi ada di dalam, dan aku punya puluhan piyama baru di lemari yang belum pernah dipakai. Kau bisa pakai yang mana saja!"
"Terima kasih banyak, Irysh... kau sungguh baik sekali," ucap Parrie tulus.
"Sudah kubilang jangan sungkan!" kekeh Irysh. "Nah, sekarang bersihkan dirimu dulu. Setelah ini aku akan minta koki mansion membuatkan kita makan malam yang sangat enak, lalu kita jalankan misi mengintip balkon!"
Irysh memberikan kedipan mata jahat sebelum melangkah keluar dari kamar dan menutup pintunya, memberikan ruang bagi Parrie untuk membersihkan diri.
Setelah pintu tertutup rapat, Parrie menyandarkan punggungnya di pintu kayu yang tebal. Ia menghela napas panjang, meresapi keheningan kamar yang mewah ini.
Gadis itu berjalan perlahan menuju kamar mandi, mandi air hangat untuk membasuh seluruh sisa kelelahan, kotoran, dan bau air mata yang menempel di tubuhnya sejak tadi pagi. Setelah selesai dan mengenakan salah satu piyama kain sutra berwarna merah muda lembut pemberian Irysh, Parrie melangkah menuju jendela kaca besar di ujung kamar.
Parrie menyibak tirai tipis berwarna putih. Dari lantai dua tempatnya berdiri, matanya langsung tertuju pada pemandangan di luar sana.
Hanya terpisah oleh sebuah selokan buatan berhiaskan batu alam dan taman bunga mawar yang luas... sebuah mansion raksasa bergaya Gothic bernuansa hitam-abu berdiri megah dan anggun di sebelah mansion Irysh.
Mansion keluarga Ashford.
Lampu-lampu taman di mansion itu menyala hangat, namun suasana di sana terlihat sangat sepi dan misterius.
Parrie menatap lurus ke arah balkon lantai tiga mansion Ashford tersebut. Di sana, di balik pintu kaca yang sedikit terbuka, Parrie bisa melihat sesosok pria bertubuh tegap sedang berdiri membelakangi kegelapan malam.
Pria itu mengenakan kaos kasual hitam, memegang segelas minuman di tangan kirinya, dan tangan kanannya mengapit sebuah rokok yang asapnya membumbung tipis ke udara malam yang dingin.
Kaetos...
Dada Parrie bergetar hebat. Meskipun jarak mereka terpisah ratusan meter, Parrie bisa mengenali postur tubuh dan aura dingin itu bahkan dari dalam kegelapan.
Pria itu berdiri di balkon rumahnya sendiri, menatap kosong ke arah langit malam yang pekat tanpa bintang. Wajahnya dari kejauhan tampak begitu hampa, sepi, dan dipenuhi oleh beban berat yang seolah-olah siap meruntuhkan bahu tegapnya kapan saja.
Parrie mencengkeram kain tirai jendela dengan erat.
Bayangan kata-kata yang tertulis di dalam diary-nya, bayangan tatapan hancur Kaetos di dalam kelas saat menciumnya, dan rahasia tentang rasa sepi yang ternyata juga menggerogoti jiwa pria itu... kembali membakar dadanya dengan rasa perih yang teramat sangat.
Mereka berdua sama. Dua jiwa yang sama-sama hancur, sama-sama kesepian, dan sama-sama terperangkap dalam lingkaran takdir yang saling menyakiti.
Tiba-tiba, dari arah balkon sebelah sana, Kaetos memutarkan tubuhnya pelan. Seolah-olah memiliki insting yang kuat, mata tajam pria itu mendadak menatap lurus ke arah jendela kamar tempat Parrie berdiri!
Parrie tersentak kaget dan refleks menarik tirai jendela rapat-rapat, membelakangi dinding dengan jantung yang berdegup kencang bagaikan genderang perang.
"Parrie! Makanan sudah siap!"
Suara teriak riang Irysh dari luar kamar memutus ketegangan itu seketika. Parrie mengelus dadanya yang naik turun, mencoba menenangkan napasnya, lalu tersenyum tipis dan melangkah menuju pintu.