NovelToon NovelToon
Pernikahan Kontrak Dengan Ceo Dingin Mantan Kaka Iparku

Pernikahan Kontrak Dengan Ceo Dingin Mantan Kaka Iparku

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Seiring Waktu / CEO
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: Atha Diyuta

Alena tidak pernah menyangka akan dinikahi oleh Aditya Pradana, CEO dingin yang juga mantan kakak iparnya.

Tujuannya satu: menjadi ibu untuk Sean, anak tiri berandal yang membencinya setengah mati.

Sean melakukan segala cara untuk mengusir Alena.

Balapan liar, berkelahi, membolos.

Tapi Alena yang berjilbab ini tidak takut.

Ia lawan balik Sean di arena balap dan di lapangan futsal.

Hingga Sean diam-diam kagum dan berbisik, "Siapa sebenarnya kamu, Bunda?"

Di sisi lain, Aditya Pradana yang dibantu Rendra, mulai menyadari...

Adik iparnya yang dulu pendiam itu, kini menjadi wanita yang tidak bisa ia lepaskan.

Pernikahan kontrak ini, apakah akan berakhir dengan cinta?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Atha Diyuta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 7

Bubur ayam yang disuruh Aditya untuk diantar Chef Junaedi ke kamar Alena di lantai dua rumah mewah di Pondok Indah itu masih mengepul hangat.

Alena duduk di tepi ranjangnya, memandangi mangkuk bubur itu dengan senyum yang tidak bisa ia tahan. Di atas bubur ada suwiran ayam, telur, dan sedikit emping. Persis seperti yang ia suka.

"Dia masih ingat... waktu Rendra tanya makanan kesukaanku, aku bilang bubur ayam. Ternyata Aditya ingat."

Jantung Alena mendadak berdebar lagi. Ia mengaduk bubur itu pelan.

"Dasar kulkas dua pintu,kaku dingin," gumam Alena pelan sambil tersenyum. "Gengsi banget bilang khawatir."

Dengan perut yang masih sedikit perih karena belum makan seharian, Alena menghabiskan bubur itu sampai habis. Tenaganya kembali sedikit. Pegal-pegal di pinggangnya karena balapan motor kemarin bersama Sean masih terasa, tapi hatinya hangat.

Malam itu, Alena tidur dengan nyenyak untuk pertama kalinya di rumah itu, dengan perasaan ada yang memperhatikannya diam-diam.

Keesokan paginya, jam 04.30. Alena sudah bangun. Ia sholat subuh, mengaji sebentar, lalu turun ke dapur. Ia ingin membuat sarapan sendiri.

Chef Junaedi kaget melihat Alena sudah di dapur.

"Nyonya Alena, kenapa sudah turun? Kata Tuan Aditya Nyonya masih sakit?"

Alena tersenyum anggun pagi ini ia mengenakan hijab warna sage dan Alena tampak terlihat semakin cantik. "Alhamdulillah sudah mendingan, Chef. Bubur ayamnya enak sekali kemarin. Terima kasih ya. Hari ini biar saya yang buat sarapan untuk tuan muda Sean dan Tuan Aditya."

"Jangan Nyonya, biar saya saja."

"Gak apa-apa Chef, saya tidak terbiasa terlalu lama bermalas-malasan didalam kamar,lagi pula saya juga sehat ko.Jadi jangan hawatir!" ucap Alena.

Chef Junaedi mengangguk terharu.

Pukul 06.30, Sean turun dengan seragam SMA-nya yang agak berantakan, dasinya miring, rambutnya masih acak-acakan. Ia menguap lebar.

Aditya sudah rapi dengan setelan jas hitamnya, siap berangkat ke kantor.

Mereka berdua kaget melihat meja makan sudah tertata. Ada nasi goreng, telur dadar, roti bakar, dan susu cokelat. Dan Alena berdiri di sana dengan senyum lembut.

"Pagi," sapa Alena.

Sean berhenti di tangga,matanya tampak berbinar saat melihat Alena sudah menunggunya dibawah.Meksipun ia bersikap seolah acuh namun Alena tau Sean senang melihat Alena sudah menyambutnya di meja makan.

Sean hari ini kamu ada ujian kan?Saya dengar dari Mbak Siti. Makanya saya buatkan sarapan biar semangat. Duduk sini."

Sean agak ragu, tapi aroma nasi goreng itu menggoda. Ia duduk. Aditya menatap Alena dengan tatapan tidak terduga. Wanita ini... baru semalam sakit, pagi ini sudah masak?" monolog Aditya dalam hati.

"Kamu sudah sehat?" tanya Aditya datar, tapi ada nada khawatir yang ia sembunyikan.

"Alhamdulillah, berkat bubur ayam dari seseorang," jawab Alena sambil melirik Aditya dengan senyum jahil.

Aditya langsung berdeham dan menatap koran. Sean yang melihat interaksi itu mengerutkan kening. Ada yang aneh dengan Ayah dan Ibu tirinya ini.

Sean makan dengan lahap. Nasi goreng Alena enak, berbeda dengan masakan Chef Junaedi yang mewah. Ini rasa rumahan. Rasa yang sudah lama tidak ia rasakan sejak Mamanya meninggal.

"Enak?" tanya Alena.

Sean mengangguk kecil. "Lumayan lah bund,"

Kata Bunda itu meluncur begitu saja dari mulut Sean. Alena membelalak. Aditya yang sedang minum kopi langsung tersedak.

Sean sadar ia keceplosan, langsung pura-pura cuek. "Maksudnya... lumayan buat asisten rumah tangga!"

Alena tertawa kecil. Dalam hati ia berteriak _Ya Allah, satu langkah lebih dekat!_

Pukul 07.00, mobil Alphard hitam yang biasa mengantar Sean ke sekolah elit sudah menunggu di depan gerbang. Sean berangkat.

Alena menatap mobil itu pergi dengan doa. Semoga Sean dimudahkan ujiannya.

Namun, doa Alena tidak terkabul seperti yang ia harapkan.

Jam 10.15, saat Alena sedang merapikan ruang tamu bersama Mbak Siti, ponselnya berdering. Nomor tidak dikenal.

"Halo, assalamualaikum?"

"Waalaikumsalam, apakah ini wali murid dari Sean Pradana?" Suara wanita tegas di seberang.

Alena langsung tegang. "Iya, saya bundanya. Ada apa ya Bu?"

"Saya Bu Rina, BK SMA. Saya minta Ibu bisa datang ke sekolah sekarang juga. Sean membuat masalah besar."

Jantung Alena seperti jatuh.

"Masalah apa Bu?"

"Sean berkelahi dengan teman sekelasnya dan merusak fasilitas sekolah. Kami sudah coba hubungi ayahnya, Tuan Aditya, tapi tidak diangkat. Tolong segera ke sekolah."

Telepon ditutup.

Tangan Alena gemetar. Di rumah yang besar ini, ia sendirian. Rendra sedang keluar mengurus perusahaan bersama Aditya.

Dengan cepat, Alena mengambil tasnya. Ia lantas meminta Pak Ujang, supir rumah, mengantarnya ke SMA yang jaraknya hanya 15 menit dari rumah.

Sepanjang jalan, pikiran Alena kalang kabut. "Ya Allah, Sean... kenapa lagi?"

Sesampainya di sekolah mewah itu, Alena langsung diarahkan ke ruang BK. Di sana, Sean duduk dengan seragam yang kotor, bibirnya sedikit berdarah, menunduk. Di depannya ada seorang anak laki-laki lain dengan hidung berdarah dan orang tuanya yang terlihat marah.

Bu Rina, guru BK, menatap Alena dari atas ke bawah.

"Anda ibunya Sean? Masih sangat muda ya?"

Alena menarik napas, mencoba tenang. "Saya Bunda tirinya, Bu. Saya Alena. Apa yang terjadi?"

Bu Rina menghela napas. "Sean meninju teman sekelasnya, Kevin, karena Kevin mengejek hasil ulangan Sean yang jelek. Sean juga membanting laptop sekolah. Ini sudah pelanggaran ketiga Sean bulan ini. Pihak sekolah sangat kecewa."

Orang tua Kevin langsung menyambar. "Lihat anak Anda! Anak saya sampai berdarah! Harus dikeluarkan! Ini sekolah elit, bukan tempat preman!"

Sean masih menunduk diam, mengepalkan tangannya.

Alena melihat Sean. Ia melihat luka di bibir Sean, tapi ia juga melihat mata Sean yang berkaca-kaca menahan marah dan malu. Bukan mata anak nakal, tapi mata anak yang terluka.

Alena maju, berdiri di depan Sean, melindungi Sean seperti induk melindungi anaknya.

"Maafkan kami, Pak, Bu," ucap Alena dengan suara lembut tapi tegas. Ia menunduk hormat pada orang tua Kevin. "Saya mewakili Sean minta maaf sebesar-besarnya atas luka Kevin. Semua biaya pengobatan Kevin dan ganti rugi laptop sekolah nanti kami pasti akan bertanggung jawab."

"Enak saja!" Orang tua Kevin masih marah.

Alena kemudian berbalik menatap Sean. Ia berjongkok agar sejajar dengan Sean, mengabaikan semua orang di ruang BK itu.

"Sean, lihat saya!" bisik Alena pelan.

Sean perlahan mengangkat kepala. Matanya merah.

"Kenapa?" tanya Alena lembut, tidak marah sama sekali.

Sean menggigit bibir. "Dia... dia bilang aku bodoh... dia bilang pantas Mama ninggalin aku karena aku bodoh... dia bilang Ayah nikah lagi karena aku anak gagal..."

Deg!

Hati Alena hancur mendengarnya.

Alena langsung memeluk Sean di depan semua orang. Sean kaget. Untuk pertama kalinya setelah Mamanya meninggal, ada yang memeluknya saat ia dihina seperti itu.

"Ssst... tidak apa-apa. Saya di sini," bisik Alena sambil mengusap punggung Sean. "Kamu tidak bodoh. Kamu pintar. Saya percaya kamu pintar. Saya akan bantu kamu belajar, ya?"

Sean tidak bisa menahan lagi. Air matanya jatuh di bahu Alena. Ia memeluk balik Alena dengan erat.

Bu Rina dan orang tua Kevin terdiam melihat pemandangan itu. Mereka tidak menyangka Bunda tiri yang masih muda itu bisa menenangkan Sean yang terkenal susah diatur.

Alena berdiri, masih merangkul Sean. Ia menatap Bu Rina dengan mata berkaca-kaca tapi penuh wibawa.

"Bu Rina, saya minta maaf atas perbuatan Sean. Tapi saya mohon jangan keluarkan Sean. Beri dia kesempatan satu bulan. Dalam satu bulan saya pastikan nilai Sean akan naik. Saya janji, sebagai Bundanya, saya akan mengajari Sean setiap malam. Jika dalam satu bulan tidak ada perubahan, saya sendiri yang akan bawa Sean keluar dari sekolah ini."

Bu Rina terkejut dengan janji Alena.

Di saat itu juga, pintu ruang BK terbuka dengan keras.

Aditya Pradana masuk dengan jas hitamnya, wajahnya dingin dan penuh amarah. Seluruh ruangan langsung tegang.

"Apa yang terjadi di sini?" Suara bariton aditya menggelegar diruangan tersebut bahkan terdengar hingga keluar ruangan.

Sean langsung takut dan bersembunyi di belakang Alena.

Alena? Ia tidak takut sama sekali. Ia justru menatap Aditya balik.

Aditya melihat Alena memeluk Sean, melihat mata Alena yang merah. Amarahnya sedikit mereda, diganti bingung.

Alena berbisik pada Aditya. "Jangan marah di sini. Di rumah saja."

Aditya menatap Alena lekat. Wanita ini... berani menyuruhnya.

Akhirnya, Aditya menarik napas dan menghadapi guru dan orang tua Kevin dengan dingin.

Setelah urusan ganti rugi selesai, mereka bertiga pulang dengan mobil yang sama. Di dalam mobil, tidak ada yang bicara. Sean menunduk di samping Alena, masih memegang tangan Alena.

Sesampainya di rumah, Sean langsung lari ke kamarnya.

Aditya menatap Alena di ruang tamu.

"Kamu... kamu memeluknya di sekolah?"

Alena mengangguk, air matanya masih ada. "Dia butuh dipeluk, bukan dimarahi, Aditya. Dia dihina soal Mamanya..."

Aditya terdiam. Dadanya sesak.

"Dan mulai malam ini," lanjut Alena dengan tekad, menatap Aditya tajam. "Saya akan ajari Sean belajar di rumah ini ujian yang akan datang nilai Sean saya pastikan akan naik.Oh ya satu lagi,saya akan buat Sean diterima di universitas terbaik dikota ini dan Sean.Kamu... jangan ganggu kami belajar!"

Alena naik ke lantai dua menuju kamar Sean, meninggalkan Aditya yang terpaku di ruang tamu.

Untuk pertama kalinya, Aditya merasa... istrinya jauh lebih berani dan lebih menjadi orang tua daripada dirinya.

*[Bersambung...]*

1
Atha Diyuta
trimakasih kk😊
Rian Moontero
mampiiirrr👍👍
Atha Diyuta
Karya terbaruku bantu ramaikan teman-teman ☺️☺️
Atha Diyuta: oke siap ka diperbaiki trimakasih kk ☺️☺️
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!