NovelToon NovelToon
IBU TIRI PENYELAMATKU

IBU TIRI PENYELAMATKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu Tiri / Balas Dendam / Action
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Icita

Setelah enam bulan wafatnya sang Ibu, Dea memutuskan meninggalkan rumah karena tidak tahan terhadap tekanan dan siksaan dari Paman, Bibi dan sepupunya yang sengaja ingin merebut warisan dari sang ayah yang merupakan seorang CEO sebuah perusahaan Ekspor-Impor bernilai ratusan triluin.

Takdir Pelarian Dea mempertemukannya dengan Tania, seorang gadis desa yang merantau ke kota untuk mencari keluarga dan asal usul jati dirinya.
Dea akhirnya mau kembali ke rumah setelah sang ayah menikahi Tania dan menjadi ibu tiri untuk Dea. Kembalinya Dea ke rumah menimbulkan ketidak sukaan dari paman dan bibi Dea, apalagi sekarang adanya Tania yang menjadi perisai hidup bagi Dea.

Banyak drama dan kejadian yang menguras emosi, banyak plot twist dalam setiap bab kejadiannya, baik dalam kehidupan Dea maupun kehidupan Tania dalam mencari keluarganya di ibukota.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Icita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Akting Kelas Atas dan Pisau Mentega

Suasana meja makan megah di kediaman Adhitama pagi itu merupakan perpaduan antara sinetron drama berdarah dan komedi gelap. Sinar matahari pagi yang cerah menerobos jendela kaca besar, menerangi jajaran hidangan sarapan ala Barat yang melimpah. Namun, udara di sekitar meja makan sepanjang delapan meter itu terasa begitu dingin dan tegang.

Di ujung meja, Baskoro Adhitama duduk dengan setelan jas rapi, menyesap kopi hitamnya sambil membaca koran pagi. Di samping kanannya, Tania duduk anggun mengenakan gaun rumah berbahan sutra merah muda yang sangat feminin—sangat bertolak belakang dengan fakta bahwa semalam ia baru saja mematahkan rusuk tiga pembunuh bayaran.

Di seberang mereka, Paman Hendra, Bibi Rika, dan Siska duduk berdempetan. Ketiganya tampak seperti terdakwa yang sedang menunggu eksekusi mati. Wajah mereka pucat, mata mereka berbingkai lingkaran hitam karena tidak tidur semalaman, dan tubuh mereka berguncang pelan setiap kali Tania menggerakkan tangannya.

"Mas Hendra, kenapa dahi dan lehermu ber keringat begitu?" tanya Baskoro santai, tanpa mengalihkan pandangan dari korannya. "AC ruangan ini kurang dingin?"

"E-eh? Tidak, Kak! Dingin kok, sangat dingin!" sahut Hendra gagap, hampir menjatuhkan garpunya. Matanya melirik takut-takut ke arah Tania.

Tania tersenyum sangat manis—jenis senyuman yang sanggup membuat bulu kuduk keluarga Hendra berdiri tegak. Ia meraih sebuah pisau mentega dari perak, lalu mulai mengoleskan selai stroberi ke atas sepotong roti tawar.

Sret... sret... sret...

Suara gesekan pisau mentega itu mengalun lambat. Setiap kali mata pisau itu menekan roti, Hendra dan Rika memejamkan mata erat-erat, seolah-olah pisau itu sedang menggorok leher mereka sendiri. Pikirannya masih terbayang kejadian semalam saat Hendra diam-diam mengintip dari celah pintu kamarnya dan melihat Tania menangkis belati dengan tangan kosong.

"Kamu kenapa, Siska? RotiMu belum disentuh sama sekali," tegur Baskoro lagi, kini menatap keponakannya.

"A-aku... aku tidak lapar, Paman," cicit Siska dengan suara mencicit seperti tikus terkeperet.

"Aduh, Siska sayang, tidak boleh melewatan sarapan," sela Tania dengan nada suara penuh kasih sayang seorang ibu sambung yang mengayomi. Tania meraih sebuah buah kenari ber cangkang keras dari piring buah di tengah meja. "Ini, Ibu kuaskan kenari untukmu ya. Kenari sangat bagus untuk nutrisi otak, supaya kamu tidak gampang berpikiran jahat atau berniat mencelakai orang lain."

Tanpa menggunakan alat pemecah kenari, Tania menggenggam buah kenari keras itu di telapak tangan kanannya. Ia tersenyum menatap Siska, lalu...

KRAK!

Dengan satu remasan ringan tangan mulusnya, cangkang kenari yang keras itu hancur berkeping-keping. Serpihannya berjatuhan ke piring, meninggalkan isi kenari yang sudah bersih di telapak tangannya.

Rika spontan menjerit kecil dan menutup mulutnya. Hendra tersedak ludahnya sendiri hingga batuk-batuk hebat. Siska merapat ke sandaran kursi, wajahnya seputih kertas, hampir menangis karena ketakutan.

Baskoro menoleh, tampak bingung melihat reaksi adiknya sekeluarga. "Kalian ini kenapa, sih? Cuma kenari pecah kok kagetnya seperti melihat bom meledak?" Baskoro lalu menatap Tania dengan penuh rasa kagum yang polos. "Wah, Tania, kualitaskenarinya renyah sekali ya? Sampai bisa diremas begitu."

"Iya, Mas. Kebetulan tanganku agak kuat karena sering melatih jari-jari untuk gerakan tari piring," jawab Tania santai sambil menyodorkan isi kenari itu ke piring Siska. "Ayo dimakan, Siska. Kalau tidak dihabiskan, nanti Ibu remas yang lain."

Siska langsung menyambar kenari itu dan mengunyahnya cepat-cepat tanpa dikunyah benar-benar, takut tangannya menjadi korban berikutnya.

Dea, yang duduk di sebelah Tania, berusaha mati-matian menahan tawanya. Gadis remaja itu menutupi mulutnya dengan cangkir teh, berpura-pura minum padahal bahunya naik-turun menahan tawa yang hampir meledak. Sungguh pemandangan yang sangat memuaskan melihat keluarga benalu yang dulu menyiksanya kini gemetar ketakutan hanya karena sebuah pisau mentega dan buah kenari.

"Oh ya, Baskoro," ucap Tania mengalihkan pembicaraan dengan mulus. "Soal Rapat Pemegang Saham Tahunan Adhitama Group nanti malam... apakah aku dan Dea benar-benar harus ikut?"

Baskoro meletakkan korannya, menatap Tania dan Dea dengan pandangan hangat—yang kini diketahui Tania hanyalah topeng seorang manipulator ulung. "Tentu saja, Sayang. Malam ini adalah malam bersejarah. Aku akan mengenalkanmu secara resmi kepada publik dan para pemegang saham sebagai istriku. Selain itu, aku juga akan mengumumkan pembentukan Diana-Tania Foundation, sebuah yayasan amal atas namamu dan almarhumah Diana. Kita butuh tanda tangan biometrikmu untuk legalitas pengalihan dana hibahnya nanti malam."

Tanda tangan biometrik untuk membobol brankas Zurich, batin Tania dingin.

"Wah, mulia sekali hatimu, Mas," puji Tania dengan mata berbinar buatan. "Aku jadi tidak sabar."

"Karena itulah, aku sudah memanggil desainer dan perias terbaik di Jakarta untuk mendandani kalian berdua siang ini," tambah Baskoro bangga.

Tepat pukul satu siang, sebuah mobil van hitam mewah berhenti di depan rumah. Keluar seorang pria jangkung dengan pakaian super nyentrik—setelan jas bermotif bunga sakura mencolok, kacamata hitam berbingkai emas, dan gaya berjalan yang sangat meliuk-liuk.

"Ooh, hello darling!" seru pria itu begitu melangkah masuk ke dalam ruang tengah. "Nama Saya Mimi Cabana! Desainer para diva dan penguasa dunia! Mana pengantin baru yang beruntung itu?!"

Baskoro terkekeh pelan. "Mimi, tolong buat istri dan anakku menjadi wanita tercantik di gedung Adhitama Tower nanti malam."

"Serahkan padaku, Mas Baskoro! I will make them shine like diamonds in the sky!" jerit Mimi dramatis sambil mengibaskan selendang bulunya.

Baskoro tersenyum puas lalu pamit untuk berangkat lebih awal ke kantor guna mempersiapkan berkas. Begitu mobil Baskoro meninggalkan pelataran rumah, suasana di ruang tengah seketika berubah.

Mimi Cabana mengunci pintu ruang rias. Gaya meliuk-liuknya hilang dalam sekejap. Pria itu melepas kacamata hitamnya, menatap Tania dengan sorot mata yang sangat tajam dan profesional. Ia membungkuk hormat dengan satu lutut menyentuh lantai.

"Pelindung Cabang Tiga, melaporkan diri. Mas Dirga menyuruh saya menyampaikan ini, Nyonya Tania," ucap Mimi dengan suara ngebass yang sangat masculine, jauh dari suara melengkingnya tadi.

Dea melotot kaget sampai melompat ke belakang. "Lho?! Kok suaranya berubah jadi laki-laki banget?!"

Tania tersenyum tipis. "Teratai Merah memang tidak pernah kehabisan penyamaran unik. Berdiri, Mimi. Apa yang dibawa dari Dirga?"

Mimi berdiri rapi, menguakkan gaun malam berwarna hitam elegan yang tergantung di manekin. Dari balik lipatan kain sutra gaun itu, ia mengeluarkan sebuah bros berbentuk bunga mawar hitam bersalut berlian imitasi yang sangat indah.

"Di dalam bros ini terpasang pemancar frekuensi tinggi buatan intelijen militer," terang Mimi cepat. "Begitu Nyonya menekan bagian tengah bros ini saat berada di atas panggung gala, sinyalnya akan meretas server utama layar LED raksasa di Adhitama Tower. Seluruh bukti pembunuhan Nyonya Diana dan pencucian uang Mas Baskoro yang ada di flashdisk akan langsung terputar secara otomatis di depan ratusan wartawan dan pejabat."

"Luar biasa," gumam Tania sambil membelai bros tersebut. "Bagaimana dengan sistem keamanannya?"

"Mas Dirga dan tim penyusup sudah berada di dalam gedung sebagai staf teknis. Begitu bukti terputar, lampu gedung akan dipadamkan selama sepuluh detik untuk memberi waktu Nyonya dan Dea keluar dari panggung menuju helipad," lanjut Mimi.

Sementara Tania dan Mimi sedang menyusun rencana, tiba-tiba pintu ruang rias sedikit terbuka. Siska berdiri di luar, mengintip dengan membawa segelas jus kornet campur tinta hitam yang berniat ia siramkan ke gaun Tania untuk balas dendam. Siska berpikir Tania sedang lengah karena sibuk berdandan.

Namun, sebelum Siska sempat melangkah masuk, Tania yang memiliki pendengaran tajam sudah menyadarinya. Tanpa menoleh, Tania mengayunkan kakinya ke belakang secara kebetulan—seperti gerakan peregangan tubuh saat fitting baju.

Brak!

Pintu kayu tebal itu terdorong keras dan menghantam hidung Siska yang sedang menempel di celah pintu.

"Aaaaaakh! Hidungku!" jerit Siska histeris dari luar, jatuh terlentang dengan gelas jus ber racun yang tumpah menyirami wajah dan pakaiannya sendiri. Tinta hitam dan cairan busuk membasahi wajahnya hingga tampak seperti hantu lumpur.

Tania menoleh ke arah pintu dengan wajah polos tanpa dosa. "Lho, Siska? Kamu sedang apa tiduran di lantai sambil pakai masker tinta begitu? Mau ikut perawatan kecantikan juga?"

Siska meringis kesakitan, memegangi hidungnya yang memerah dan penuh cairan hitam. "K-kau... kau sengaja, kan?!"

Mimi Cabana kembali ke mode dramatisnya. Ia menghampiri Siska sambil mengibaskan tangan dengan jijik. "Aww! Oh my god! Hantu lumpur dari mana ini?! Jangan kotorin karpet impor mahalku, Jeng! Pergi, pergi! Hussh!"

Mimi mendorong Siska keluar menggunakan ujung tongkat komando fashion-nya, lalu membanting pintu sampai terkunci lagi. Dea tak sanggup lagi menahan tawanya dan meledak dalam tawa terpingkal-pingkal sampai memegangi perutnya.

"Ibu... Ibu benar-benar luar biasa!" ujar Dea di sela tawa bahagianya.

Tania menatap Dea, mengelus kepala keponakannya itu dengan lembut. "Ini baru permulaan, Dea. Nanti malam, kita akan mengambil kembali seluruh hak ibumu dan menghancurkan monster yang selama ini berpura-pura menjadi ayahmu."

Malam pun tiba. Gedung pencakar langit Adhitama Tower yang menjulang delapan puluh lantai di pusat Jakarta tampak megah bercahaya. Puluhan mobil mewah kelas atas berderet di karpet merah luar gedung. Lampu kilat kamera wartawan tak henti-hentinya menyambar setiap tamu penting yang hadir.

Sebuah mobil Limousine hitam berhenti tepat di depan karpet merah. Pintu terbuka, dan Baskoro Adhitama melangkah keluar dengan senyum penuh kemenangan. Ia berbalik dan mengulurkan tangannya.

Tania melangkah keluar dari mobil. Ia tampak luar biasa memukau dalam balutan gaun malam hitam berkilau buatan Mimi Cabana, dengan rambut terurai sempurna dan bros mawar hitam menyemat di dadanya. Keanggunannya memancar kuat, membuat seluruh wartawan menahan napas. Di sebelahnya, Dea berjalan anggun mengenakan gaun putih perak, memancarkan pesana seorang putri penguasa bisnis.

Baskoro merangkul pinggang Tania, menggandeng Dea, lalu berjalan menaiki tangga karpet merah diiringi sorotan ratusan kamera. Baskoro merasa berada di puncak dunia. Ia merasa rencananya sempurna, kekayaan triliunan rupiah sudah berada di ujung jarinya, dan dua wanita di sisinya hanyalah domba yang siap dikorbankan.

Ia tidak pernah tahu, bahwa domba yang dirangkulnya malam ini adalah seorang pemangsa yang membawa bom waktu yang siap meledakkan kerajaannya menjadi abu.

1
sunaryati jarum
Mantaaap technologynya
sunaryati jarum
Bermimpilah setinggi langit Baskoro,bilang jatuh nanti langsung remek
sunaryati jarum
Makin penasaran
sunaryati jarum
Perang antara klan
sunaryati jarum
Wonder woman kamu Tania
sunaryati jarum
baru mampir
Icita: Tks KK, semoga betah y.. sehat selalu
total 1 replies
ceuceu
ga kebaca alur ceritanya,ternyata beda dari prediksi pembaca,keren sih
ceuceu
Baru mulai baca.
sejauh ini sy suka ceritanya,sy kasi like thor
Icita: mkasih kk, sehat selalu..💪💪
total 1 replies
Nica
sangat suka dan luar biasa...lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!