Ayu mengira rumah tangganya baik-baik saja—Bayu tampak suami penyayang dan bertanggung jawab. Namun perlahan ia sadar, penghasilannya selama ini diam-diam menghidupi wanita lain: istri kedua Bayu yang tak pernah ia ketahui keberadaannya. Ketika kebenaran terbongkar, Ayu bukan hanya menghadapi pengkhianatan, tapi juga fitnah dan kekerasan dari orang-orang yang seharusnya ia percaya. Dari titik paling rapuh itu, ia bangkit dan diam-diam menyusun rencana untuk membalikkan keadaan yang selama ini merugikannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB DUA PULUH ENAM
Bayu terhuyung, mencoba bangkit dari kursi namun tubuhnya sudah tidak lagi menuruti kemauannya. Pandangannya kabur, kepalanya terasa berat luar biasa, dan sebelum ia sempat berkata apa-apa lagi, tubuhnya ambruk pelan ke sofa kecil ruang tamu Wulan, tertidur pulas dalam hitungan menit.
Wulan berdiri mematung sejenak, menatap tubuh Bayu yang kini sepenuhnya tidak berdaya di hadapannya. Ada rasa gentar yang sempat menyelinap—ini pertama kalinya ia benar-benar melakukan sesuatu yang, jika dipikirkan secara jernih, jauh melewati batas yang seharusnya. Namun keputusasaan yang sudah terlalu lama mengendap membuatnya dengan cepat mengesampingkan rasa gentar itu, menggantinya dengan tekad dingin untuk melanjutkan rencana yang sudah ia susun.
Ia mengambil ponsel Bayu yang tergeletak di meja, menggunakan jempol Bayu yang lemas untuk membuka kunci layar—sesuatu yang bisa ia lakukan karena Bayu sudah tidak sadarkan diri sepenuhnya. Dengan cepat, ia mengetik pesan singkat ke nomor Ayu yang tersimpan di kontak, berpura-pura menjadi Bayu.
*Yu, aku nginep di rumah temen kantor malam ini, ada kerjaan mendadak yang harus selesai bareng tim. Maaf nggak sempet kabar dari tadi,* tulis Wulan, mengirimkan pesan itu sebelum kembali mengunci ponsel dan meletakkannya di meja seperti semula.
---
Namun rencana Wulan tidak berhenti sampai di situ. Ia mengambil ponselnya sendiri, memotret beberapa gambar Bayu yang tertidur di sofa rumahnya—foto-foto yang, jika dilihat sekilas tanpa konteks, bisa memberi kesan bahwa Bayu masih sering menghabiskan waktu di kontrakan itu atas kemauannya sendiri, bukan karena keadaan yang sebenarnya sedang tidak sadarkan diri akibat obat yang ia campurkan.
Setelah itu, dengan tangan yang masih sedikit gemetar, Wulan mengirimkan salah satu foto itu langsung ke nomor Ayu, kali ini dari nomornya sendiri, disertai pesan singkat yang dirangkai penuh perhitungan.
*Mbak Ayu, maaf mengganggu. Saya rasa Mbak perlu tau, suami Mbak sekarang lagi di rumah saya. Kalau nggak percaya, Mbak bisa dateng sendiri ke Kalitirto, alamat yang waktu itu,* tulis Wulan, mengirimkan pesan itu dengan perasaan campur aduk antara kepuasan dan kecemasan atas apa yang akan terjadi setelah ini.
Ia tahu, langkah ini penuh risiko. Namun dalam pikirannya yang sudah dipenuhi keputusasaan, ia meyakini bahwa dengan memancing Ayu datang sendiri dan melihat langsung Bayu berada di rumahnya—meski dalam kondisi yang sebenarnya jauh dari sukarela—setidaknya akan menciptakan keretakan baru dalam rumah tangga Ayu dan Bayu, sebuah keretakan yang, ia harap, bisa membuka kembali celah baginya untuk kembali masuk ke dalam kehidupan Bayu.
---
Di rumah, Ayu yang baru saja selesai membereskan pekerjaan rumah tangga, terkejut mendapati dua pesan berbeda dari dua nomor yang berbeda pula—satu dari nomor Bayu yang mengabarkan menginap karena kerjaan, satu lagi dari nomor asing yang mengaku sebagai Wulan, mengklaim bahwa Bayu sebenarnya berada di rumahnya.
Tangan Ayu gemetar membaca kedua pesan itu secara bergantian. Ia mencoba menelepon nomor Bayu, namun tidak ada jawaban, hanya nada sambung yang terus berbunyi tanpa ada yang mengangkat. Kekhawatiran dan kecurigaan yang sempat mereda selama beberapa minggu terakhir, kini kembali membuncah dengan kekuatan yang bahkan lebih besar dari sebelumnya.
*Apa dia bohong lagi? Atau ini cuma jebakan Wulan buat ngerusak kepercayaan yang udah mulai kubangun ulang?* batin Ayu, bergulat dengan dua kemungkinan yang sama-sama menyakitkan untuk dipikirkan.
Namun, foto yang dikirimkan Wulan—menampilkan Bayu yang tampak tertidur di sofa rumah yang sangat ia kenali sebagai kontrakan di Kalitirto—terlalu konkret untuk bisa ia abaikan begitu saja. Ayu menatap foto itu lama, mencoba mencari kejanggalan yang bisa menunjukkan bahwa ini hanya rekayasa, namun semakin lama ia menatap, semakin besar pula kekhawatiran yang muncul—bukan hanya kekhawatiran akan pengkhianatan, namun juga kekhawatiran akan kondisi Bayu yang tampak begitu tidak wajar dalam foto itu, tertidur dengan posisi yang, jika diperhatikan lebih dekat, terlihat terlalu pulas untuk sekadar kelelahan biasa.
---
Tanpa berpikir panjang lagi, Ayu mengambil kunci mobil, memutuskan untuk langsung menuju Kalitirto malam itu juga, kali ini bukan hanya didorong oleh amarah semata seperti kunjungan sebelumnya, melainkan juga oleh kekhawatiran yang mulai tumbuh tentang keselamatan suaminya sendiri.
Sepanjang perjalanan, pikirannya dipenuhi berbagai skenario—mungkinkah Bayu kembali mengkhianatinya setelah semua janji yang telah ia ucapkan? Ataukah benar ada sesuatu yang lebih serius terjadi, sesuatu yang membuat kondisinya dalam foto itu terlihat begitu tidak biasa?
Sesampainya di depan kontrakan yang sudah ia kenali, Ayu turun dari mobil dengan langkah cepat, jantungnya berdegup kencang antara kemarahan dan kekhawatiran yang bercampur aduk. Ia menggedor pintu dengan keras, tidak peduli lagi pada rasa malu atau kesopanan yang biasa ia jaga.
Pintu terbuka. Wulan berdiri di sana, wajahnya menunjukkan ekspresi yang sulit diartikan—campuran antara ketakutan atas rencana yang sudah terlanjur ia jalankan, dan sedikit kepuasan tersembunyi karena berhasil memancing Ayu datang persis seperti yang ia rencanakan.
"Mana Bayu?" tanya Ayu, suaranya tegas meski jelas menyimpan kekhawatiran mendalam yang sulit ia sembunyikan sepenuhnya.
Wulan melangkah mundur, membiarkan pintu terbuka lebar, menunjukkan sosok Bayu yang masih tertidur pulas tidak wajar di atas sofa kecil ruang tamunya—sebuah pemandangan yang, malam itu, akan menjadi pemicu dari serangkaian kejadian yang jauh lebih besar dan lebih menyakitkan dari yang pernah bisa dibayangkan oleh siapa pun yang terlibat di dalamnya.
---