NovelToon NovelToon
Silam 1989

Silam 1989

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / TKP / Kutukan
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: The Hollow Archive

Di penghujung tahun 1989, Kota Marunda digegerkan oleh hilangnya Nirmala Hadiningrat, anak perempuan berusia tujuh tahun dari keluarga terkaya dan paling berpengaruh di kota tersebut. Tanpa ada tuntutan uang tebusan, satu-satunya petunjuk yang ditinggalkan pelaku di kamar korban hanyalah sebutir talas hutan misterius yang dibungkus kain kafan kusam.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon The Hollow Archive, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dosa Tahun 1959

Aris perlahan menurunkan tangan kanannya dari balik jaket kulit. Tanpa memedulikan tatapan tidak percaya dari Januar, dia mencabut revolver enam peluru miliknya dari sarung pistol di pinggang, lengkap dengan lencana perak kepolisian kota.

"Aris! Kamu sudah gila?!" bisik Januar setengah berteriak, wajahnya semakin panik. "Kita akan mati konyol di dalam sana!"

"Kalau kita menembak mereka sekarang, Nirmala tidak akan pernah keluar hidup-hidup, Jan," jawab Aris.

Dia meletakkan pistol dan lencananya di atas sebongkah batu datar di dekat gerbang akar.

"Tugas kita adalah membawa anak itu pulang. Bukan memenangkan kontak senjata."

Pria bertopeng di tengah mengangguk. Salah satu dari mereka maju dan mengambil senjata Aris, lalu menyembunyikannya di balik jubah tenunnya.

"Pilihan yang bijak, Detektif," ujar sang pria.

Dia mencabut obor bambu yang tertancap lalu berbalik arah, berjalan mengarah area di balik gerbang.

"Ikuti cahaya obor ini. Jangan menoleh ke belakang, dan jangan menyentuh apa pun yang tumbuh di tanah kami."

Aris dan Januar berjalan masuk. Begitu mereka melewati gerbang akar, aroma bau menyengat dari bunga bangkai dan kemenyan yang dibakar. Di kanan dan kiri jalan setapak yang sempit, rumah-rumah panggung kayu kuno berdiri tegak tanpa lampu minyak di jendelanya.

Namun, Aris bisa merasakan ada puluhan pasang mata mengawasi mereka dari balik celah-celah dinding bambu. Suasana desa itu sepi senyap, semuanya benar-benar terputus dari peradaban tahun 1989. Setelah berjalan beberapa menit, mereka tiba di sebuah pelataran luas di tengah desa.

Di sana berdiri sebuah rumah panggung yang paling besar, dengan ukiran kepala kerbau di bagian atapnya. Di tangga rumah tersebut, seorang wanita tua dengan rambut putih yang menjuntai hingga ke pinggang sudah duduk menunggu. Matanya yang buta sebelah menatap ke arah kedatangan Aris.

Di samping kursi wanita tua itu, terikat pada sebuah tiang kayu besar, tampaklah Nirmala Hadiningrat. Anak perempuan itu terkulai lemas dengan mulut disumpal kain, namun matanya yang sembab terbuka lebar penuh ketakutan saat melihat Aris.

"Kalian tepat waktu," suara wanita tua itu, selamat datang di tanah kutukan, Detektif.

Sekarang, ceritakan pada kami... apa yang kau ketahui tentang dosa besar yang dilakukan kakek anak ini pada desa kami tiga puluh tahun yang lalu?"

Aris mengepalkan tangannya di dalam saku jaket. Dia harus memutar otak dengan cepat, mengandalkan ingatan dari arsip-arsip lama yang pernah dibacanya di kantor polisi kota sebelum berangkat.

Kilatan ingatan dari tumpukan berkas di lemari arsip bawah tanah Polresta Marunda mendadak kembali di kepalanya. Dokumen rahasia tahun 1959 yang hampir rusak dimakan rayap, berkas yang diberi cap merah: Dilarang Dipublikasikan.

"Tiga puluh tahun yang lalu," Aris memulai bicara, "Tepatnya tahun 1959. Kakek Nirmala, Bratasena Hadiningrat, memesan ribuan hektar lahan di kaki Gunung Kelam untuk memperluas perkebunan teh miliknya."

Wanita tua berrambut putih itu bergeming, namun pegangan tangannya pada tongkat kayu semakin mengencang. Warga desa bertopeng di sekeliling pelataran mulai berbisik-bisik.

"Pemerintah saat itu menolak memberikan izin karena lahan tersebut merupakan tanah adat milik leluhur kalian," lanjut Aris.

melangkah satu kali mendekati tangga rumah panggung.

"Namun Bratasena bukan orang yang menerima kata tidak. Di satu malam pada musim kemarau tahun itu, dia menyewa sekelompok preman kota untuk melakukan pembakaran lahan secara ilegal."

Januar menoleh ke arah Aris. Sebagai polisi muda, dia sama sekali tidak pernah mendengar sejarah kelam teror tanah tersebut.

"Api berkobar selama tiga hari tiga malam," sorot mata Aris menajam, langsung tertuju pada mata buta sang wanita tua.

"Kebakaran itu tidak hanya menghanguskan hutan pusaka kalian, tapi juga membumihanguskan separuh dari pemukiman warga Desa Talas kuno.

Belasan orang, termasuk anak-anak, terjebak di dalam rumah panggung yang terbakar. Kasus itu ditutup rapat oleh uang dan pengaruh politik keluarga Hadiningrat, lalu nama desa ini dihapus dari peta resmi kota."

Suasana mendadak menjadi hening total. Wanita tua itu perlahan bangkit dari kursinya. Air mata mengalir dari kelopak matanya yang buta, membasahi pipinya yang keriput.

"Kau tahu rupanya, Detektif kota," bisiknya dengan suara yang bergetar menahan dendam yang membara. "Darah dibayar darah. Tanah kami yang abu membutuhkan tumbal dari keturunan orang yang membakarnya, agar kutukan kelaparan di desa ini bisa berakhir."

Dia kemudian menunjuk ke arah Nirmala yang mulai menangis ketakutan di balik sumpalan kainnya. Di dekat kaki anak itu, sebuah belati kuno berkarat diletakkan di atas altar batu.

"Kau sudah mengungkap kebenaran," kata wanita tua itu lagi. "Tetapi hukum adat kami tetap harus berjalan. Jika kau ingin membawa anak ini pulang hidup-hidup, kau harus memilih... menukar nyawanya dengan nyawamu sendiri di altar ini, atau membiarkan kami menyelesaikan ritual sebelum ayam berkokok."

Aris kini dihadapkan pada situasi hidup dan mati tanpa senjata di tangannya.

1
Syauqi Purnama
lanjutt dongggg😭😭😭
The Hollow Archive: D tunggu ya kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!