NovelToon NovelToon
Hantu Pedang Menantang Takdir

Hantu Pedang Menantang Takdir

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:108.7k
Nilai: 5
Nama Author: Boqin Changing

Sebuah kisah tentang seorang pria dari masa lalu yang bangkit di masa ini.

Di masa ini, ia bertemu dengan perempuan yang mirip dengan seseorang yang ia cintai di masa lalunya. Seseorang yang tidak berani ia gapai karena kondisi fisiknya yang seperti monster saat itu.

Akankah ia berhasil menyingkirkan kenangan buruk masa lalunya itu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Boqin Changing, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Menuju Cabang Harta Langit

Keesokan paginya, setelah sarapan selesai, rombongan Harta Langit segera bersiap untuk menjalankan agenda pertama mereka. Tujuan pertama hari itu adalah cabang Harta Langit yang berada di Kota Wuye. Lan Suya ingin memeriksa keadaan cabang tersebut secara langsung sebelum mereka melanjutkan perjalanan menuju lokasi tanah yang telah dipersiapkan untuk pembangunan Penginapan Kayu Mawar.

Rombongan pun berangkat. Seperti perjalanan sebelumnya, Lan Suya dan Gao Rui duduk di dalam kereta kuda. Sementara itu, Sha Nuo menunggangi seekor kuda hitam besar bersama beberapa anggota Harta Langit lainnya.

Para anggota Harta Langit yang menunggang kuda tampak jauh lebih bersemangat daripada biasanya. Bagi mereka, perjalanan kali ini terasa sangat aman.

Bagaimana tidak? Di antara mereka terdapat salah satu pendekar terkuat di dunia ini, Hantu Pedang Sha Nuo.

Selama pria itu berada di sisi mereka, rasanya tidak ada seorang pun yang cukup berani untuk mencari masalah. Bahkan jika mereka benar-benar bertemu kelompok perampok atau pendekar kuat di tengah perjalanan, para anggota Harta Langit yakin masalah tersebut akan selesai dengan mudah.

Beberapa dari mereka bahkan tanpa sadar duduk lebih tegak di atas kuda. Mereka merasa bangga. Bukan hanya karena membawa pemimpin Harta Langit dalam perjalanan, tetapi juga karena bisa menunggang kuda bersama sosok seperti Sha Nuo.

Perjalanan berlangsung dengan tenang. Tidak ada gangguan sepanjang jalan. Setelah beberapa waktu, rombongan akhirnya tiba di salah satu jalan utama Kota Wuye.

Di ujung jalan tersebut berdiri sebuah bangunan besar dengan papan nama bertuliskan Harta Langit. Itulah salah satu cabang Harta Langit di Kota Wuye.

Begitu kereta berhenti, kepala toko bersama beberapa pegawai sudah menunggu di depan bangunan. Mereka segera maju menyambut ketika melihat Lan Suya turun dari kereta.

“Nyonya Ya!”

Kepala toko membungkuk dengan hormat.

“Selamat datang di cabang Harta Langit, Nyonya Ya.”

Lan Suya mengangguk.

“Bagaimana keadaan toko selama beberapa bulan terakhir?”

“Kami sudah menyiapkan semua laporan yang diperlukan. Nyonya bisa memeriksanya di dalam.”

“Baik.”

Lan Suya kemudian masuk bersama Gao Rui. Sha Nuo juga turun dari kudanya dan mengikuti mereka dari belakang. Para anggota Harta Langit lainnya tetap berada di sekitar toko untuk berjaga.

Tidak lama kemudian, mereka sampai di sebuah ruangan yang memang telah dipersiapkan untuk menerima kedatangan Lan Suya. Di atas meja sudah terdapat beberapa tumpukan laporan. Lan Suya langsung duduk.

Ia mengambil laporan pertama lalu mulai membacanya dengan teliti. Sesekali ia bertanya kepada kepala toko mengenai jumlah pemasukan, pengeluaran, persediaan barang, serta beberapa transaksi yang dilakukan selama beberapa bulan terakhir. Kepala toko menjawab satu per satu.

Namun semakin lama, suasana di dalam ruangan semakin terasa berat. Lan Suya menemukan beberapa hal yang tidak sesuai dengan laporan sebelumnya.

“Aku ingat bulan lalu jumlah keuntungan dari penjualan barang di cabang ini masih meningkat.”

“Benar, Nyonya.”

“Lalu mengapa bulan ini turun cukup banyak?”

Kepala toko terlihat sedikit gugup.

“Ini... karena beberapa pelanggan besar mengurangi jumlah pesanan mereka.”

Lan Suya mengangkat wajah.

“Alasan itu tidak cukup.”

Kepala toko langsung terdiam.

Tatapan Lan Suya menjadi serius.

“Kalau jumlah pelanggan berkurang, aku bisa memahami penurunan penjualan. Namun laporan ini menunjukkan beberapa pelanggan lama masih melakukan transaksi dalam jumlah yang hampir sama. Jadi, ke mana selisih keuntungan tersebut pergi?”

Kepala toko mulai berkeringat.

“Nyonya... masalah ini sebenarnya...”

Lan Suya menatapnya tanpa berkata apa-apa.

Tekanan yang keluar dari wanita itu tidak terlalu besar, tetapi cukup membuat kepala toko merasa tidak nyaman. Ia tahu Lan Suya bukan orang yang mudah dibohongi.

Di sisi lain ruangan, Sha Nuo dan Gao Rui duduk bersebelahan. Gao Rui sedang membaca sebuah buku yang entah dari mana ia dapatkan. Sementara Sha Nuo hanya duduk sambil memperhatikan keadaan di dalam ruangan.

Tatapannya sesekali tertuju kepada Lan Suya. Ia baru menyadari satu hal. Wanita itu benar-benar berbeda ketika sedang mengurus pekerjaan.

Wajahnya yang biasanya lembut kini terlihat serius. Tatapannya tajam, sementara nada suaranya tetap tenang tetapi memiliki tekanan yang membuat orang lain tidak berani sembarangan menjawab.

Sha Nuo kemudian sedikit mendekat kepada Gao Rui.

“Rui’er.”

Gao Rui menghentikan gerakan matanya di atas buku.

“Hm?”

Sha Nuo melirik ke arah Lan Suya lalu berbisik.

“Bibimu jika marah memang seperti itu?”

Gao Rui ikut melirik ke arah Lan Suya. Ia melihat wajah serius bibinya yang sedang memeriksa laporan.

Beberapa saat kemudian, Gao Rui kembali menghadap Sha Nuo. Ia juga menurunkan suaranya.

“Bibi Ya jika marah memang menakutkan.”

Sha Nuo mengangkat alis.

“Oh ya?”

Ia kembali melihat Lan Suya.

“Kau sering dimarahinya juga?”

Gao Rui mengangguk.

“Sering.”

Sha Nuo menahan senyum.

“Kenapa?”

Gao Rui menutup bukunya sebentar.

“Kalau aku melakukan kesalahan, Bibi pasti memarahiku. Namun Bibi hanya marah kalau aku memang berbuat salah.”

Ia tersenyum kecil.

“Dia tetap orang yang sangat baik, Paman.”

Sha Nuo terdiam sesaat. Tatapannya kembali tertuju kepada Lan Suya. Kemudian sudut bibirnya ikut terangkat.

“Begitu rupanya.”

Gao Rui membuka kembali bukunya. Sha Nuo juga kembali diam. Keduanya tidak mengganggu pembicaraan Lan Suya lagi.

Namun setelah beberapa waktu berlalu, Sha Nuo mulai merasa bosan. Ia melihat ke arah jendela. Kemudian melihat Gao Rui yang masih membaca buku.

“Rui’er.”

“Hm?”

“Ayo keluar.”

Gao Rui menurunkan bukunya.

“Mau ke mana?”

Sha Nuo nampak menatapnya.

“Berjalan-jalan.”

Gao Rui langsung tertarik. Ia menutup bukunya lalu berdiri.

“Boleh juga.”

Keduanya kemudian menghampiri Lan Suya.

“Bibi,” kata Gao Rui, “aku dan Paman Nuo ingin keluar sebentar.”

Lan Suya yang masih membaca laporan mengangkat wajah.

“Kalian mau ke mana?”

Gao Rui menjawab antusias.

“Berjalan-jalan di sekitar kota.”

Lan Suya melihat keduanya beberapa saat.

“Boleh. Tapi dua jam harus sudah kembali.”

Gao Rui mengangguk.

“Baik, Bibi.”

Lan Suya kembali menatap laporan di tangannya.

“Setelah itu kita akan menuju tanah yang akan digunakan untuk membangun Penginapan Kayu Mawar. Jangan sampai terlambat.”

Gao Rui tersenyum.

“Tenang saja.”

Ia kemudian menarik lengan Sha Nuo.

“Ayo, Paman.”

Sha Nuo hanya tersenyum lalu mengikuti pemuda itu keluar.

Begitu meninggalkan toko, keduanya langsung berjalan menyusuri jalan Kota Wuye. Suasana kota pagi itu terasa damai. Para pedagang mulai membuka toko. Orang-orang berjalan memenuhi jalanan. Beberapa kereta kuda melintas, sementara suara para penjual makanan terdengar dari berbagai arah.

Gao Rui terlihat sangat menikmati suasana tersebut. Ia bahkan beberapa kali berhenti untuk membeli makanan.

“Paman, coba ini.”

Gao Rui menyerahkan sebuah makanan kepada Sha Nuo.

Sha Nuo melihatnya sebentar sebelum mengambilnya.

“Lumayan.”

“Benar, kan?”

Mereka terus berjalan. Sesekali Gao Rui membeli makanan lain. Sha Nuo juga membeli beberapa barang kecil yang menarik perhatiannya. Keduanya benar-benar terlihat seperti dua orang yang sedang menikmati waktu luang tanpa memikirkan urusan Harta Langit.

Hingga tiba-tiba...

“Cepat! Ada perkelahian!”

Suara seseorang terdengar dari arah jalan di depan.

“Di sana! Mereka sedang bertarung!”

“Jangan mendekat!”

“Orang-orang itu bukan orang biasa!”

Beberapa orang berlari melewati mereka menuju arah keributan.

Gao Rui menghentikan langkah. Sha Nuo juga berhenti. Keduanya saling menatap. Entah mengapa, mata mereka seakan-akan bersinar pada saat yang sama.

Gao Rui tersenyum.

“Paman... sepertinya ada hiburan.”

Sha Nuo berdehem kecil.

“Perkelahian?”

Gao Rui terkekeh.

“Iya. Itu maksudku.”

Sha Nuo memasukkan kedua tangannya ke dalam lengan bajunya.

“Kalau begitu, coba kita lihat.”

Senyum tipis muncul di wajahnya.

“Mungkin sedikit menarik.”

Gao Rui langsung tertawa.

“Ayo!”

Keduanya pun mempercepat langkah menuju sumber keributan.

1
Mamat Stone
senggol bacok /Cleaver/
Mamat Stone
senggol tabok 👊
Mamat Stone
/Casual/
Mamat Stone
/CoolGuy/
Mamat Stone
/Joyful/
Mamat Stone
/Smirk/
Mamat Stone
/Good/
Mamat Stone
/Ok/
tariii
👍👍👍👍👍👍
mbono keling
👍💪👍💪👍💪👍💪
Eko🍤
hehehehe bantaaaaaaaiiiiii
Aghaffar
gasss paman nuo ya'er mu sdh maju ituuu.. tlg thoor.. tambah update ny 💪🙏
Aghaffar
mantap sekali..
Raju
TUNGGU !!
kami memang harus menunggu Thor, stidaknya tau siapakah org yg menyebut kata tersebut ??
sam
👩senior no tolong meraka..
👱siap yaer
Nanik S
Rui.... jangan hanya diam💪💪💪
Nanik S
Tunggu... apakah Suara Paman Nuo Ayolah Paman Nuo... jangan biarkan mereka Lolos
@ᴛᴇᴘᴀsᴀʟɪʀᴀ ✿◉●•◦
Bibi Ya... 🔥🌽
Warda Rahmawati
Kuncinya ada pada lan suya dan gao rui.. asal keduanya muncul.. paman nuo pasti bergerak.. bantaiii.. 😄🤭
Ayumi
Paman Sableng,,,Hancurkan tuch,,,pembuat Onar,,
Kenzo Bunen: Hajar Paman Sableng....jgn kasih ampun....sampai mereka minta ampun 2 dach......😄😄😄
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!