Sebuah kisah tentang seorang pria dari masa lalu yang bangkit di masa ini.
Di masa ini, ia bertemu dengan perempuan yang mirip dengan seseorang yang ia cintai di masa lalunya. Seseorang yang tidak berani ia gapai karena kondisi fisiknya yang seperti monster saat itu.
Akankah ia berhasil menyingkirkan kenangan buruk masa lalunya itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Boqin Changing, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lan Suya dalam Masalah
Lan Guan meminum tehnya perlahan. Cangkir di tangannya kemudian diletakkan kembali di atas meja.
“Ya Jijie, ada sesuatu yang ingin kusampaikan padamu...”
Nada suaranya kali ini berbeda. Tidak lagi terdengar santai seperti sebelumnya. Lan Suya yang sedang mengambil makanan langsung berhenti.
Lan Guan menatap kakaknya beberapa saat sebelum akhirnya berkata,
“Ayah akan datang ke Kota Weiyang minggu depan.”
Tangan Lan Suya terdiam di udara. Ia perlahan meletakkan sumpitnya.
“Ayah?”
Lan Guan mengangguk.
“Ya.”
Lan Suya tidak langsung menjawab. Entah mengapa, sejak mendengar kalimat itu, ia sudah bisa menebak apa yang akan dibicarakan ayahnya nanti.
Lan Guan melanjutkan,
“Ayah datang khusus untuk menemuimu.”
Lan Suya terdiam. Tatapannya perlahan menjadi serius.
“Untuk membahas perjodohanku lagi?”
Lan Guan mengangguk.
“Sepertinya begitu.”
Meskipun sudah menduga, mendengarnya secara langsung tetap membuat hati Lan Suya terasa tidak nyaman. Ia menghela napas panjang.
“Aku tidak mau dijodohkan lagi...”
Suara Lan Suya terdengar pelan, tetapi jelas. Entah sudah berapa kali keluarganya mencoba menjodohkannya dengan putra dari keluarga lain selama beberapa tahun terakhir.
Keluarga Lan bukan keluarga biasa. Mereka merupakan salah satu keluarga bangsawan terpandang di Kekaisaran Zhou. Dengan kedudukan seperti itu, pernikahan antar keluarga bangsawan merupakan sesuatu yang sangat wajar.
Bagi keluarga, sebuah pernikahan bukan hanya mengenai perasaan. Ada hubungan antar keluarga, kepentingan, kedudukan, serta pengaruh yang ikut dipertimbangkan.
Lan Suya memahami semua itu. Namun memahami bukan berarti ia bisa menerimanya.
Lan Guan menghela napas.
“Sepertinya kali ini akan sulit, Ya jiejie.”
Lan Suya menatap adiknya.
“Kenapa?”
Lan Guan terdiam sejenak sebelum berkata,
“Lima tahun lalu kau mengatakan kepada ayah bahwa kau ingin diberi kesempatan untuk memilih pasanganmu sendiri.”
Lan Suya mengangguk perlahan.
“Selama lima tahun itu, keluarga tidak pernah memaksamu.”
“Tetapi...”
Lan Guan tersenyum pahit.
“Kami juga tidak pernah mendengar kau dekat dengan siapa pun.”
Lan Suya kembali terdiam.
Memang benar selama lima tahun terakhir, ia tidak pernah membawa seorang pria ke hadapan keluarganya. Bahkan ketika beberapa orang mencoba mendekatinya, Lan Suya selalu menjaga jarak.
Lan Guan mengambil kembali cangkir tehnya.
“Kau meminta waktu lima tahun.”
Ia menatap kakaknya.
“Sekarang waktunya sudah habis.”
Lan Suya menggigit bibir bawahnya.
Lan Guan melanjutkan,
“Ayah sepertinya sudah memutuskan untuk menjodohkanmu lagi.”
Lan Suya menatap meja.
“Dengan siapa?”
Lan Guan justru balik bertanya,
“Kau tahu siapa calon yang sudah disiapkan ayah?”
Lan Suya menggelengkan kepala.
“Tidak.”
Lan Guan menarik napas perlahan.
“Tuan Fang Zhu.”
Lan Suya langsung terdiam. Nama itu tentu tidak asing baginya.
“Fang Zhu...”
Lan Guan mengangguk.
“Tuan Fang Zhu dari Keluarga Fang.”
Suasana di antara mereka mendadak menjadi jauh lebih berat.
Lan Suya mengenal Keluarga Fang. Di ibu kota, Keluarga Fang merupakan salah satu keluarga bangsawan paling kuat. Kedudukan mereka bahkan hanya berada satu tingkat di bawah Keluarga Zhou yang merupakan keluarga istana Kekaisaran Zhou. Jika perjodohan itu benar-benar terjadi, maka ini bukan lagi sekadar perjodohan biasa.
Lan Suya menatap adiknya.
“Apa itu benar?”
Lan Guan mengangguk.
“Itu benar.”
Ia menatap Lan Suya dengan serius.
“Aku mendengarnya sendiri dari ayah.”
Lan Suya tidak berkata apa-apa.
Lan Guan kemudian melanjutkan,
“Usiamu sudah sangat cukup untuk berumah tangga. Aku sendiri bahkan sudah menikah.”
Ia tersenyum tipis.
“Usahamu juga sudah tumbuh pesat. Harta Langit sekarang sudah memiliki pengaruh yang jauh lebih besar dibandingkan lima tahun lalu.”
Lan Guan menghela napas.
“Ayah sepertinya sudah kehilangan kesabarannya.”
Lan Suya kembali terdiam. Ia tidak pernah menyangka masalah dirinya yang belum menikah ternyata berkembang serumit ini.
Selama ini ia berpikir selama usahanya terus berkembang, keluarganya akan memberinya waktu lebih lama. Namun ternyata tidak.
Keluarga Fang bukan keluarga biasa. Jika ia menolak begitu saja, masalah tersebut mungkin tidak hanya berhenti pada dirinya. Hal itu bisa memengaruhi hubungan antara Keluarga Lan dan Keluarga Fang.
Lan Suya mengepalkan tangannya perlahan di bawah meja. Ia tidak ingin menikah dengan seseorang yang tidak ia cintai. Ia tidak ingin menghabiskan seluruh hidupnya bersama orang dengan tidak memiliki perasaan apa pun kepadanya. Namun di sisi lain, ia juga tidak bisa mengabaikan keluarganya begitu saja.
Beberapa saat berlalu. Lan Guan tidak mengganggunya. Ia hanya membiarkan kakaknya berpikir.
Lan Suya menundukkan pandangan. Pikirannya bergerak cepat.
Haruskah ia menolak? Apa yang akan dilakukan ayahnya? Bagaimana dengan Keluarga Fang?
Semakin dipikirkan, semakin rumit masalah tersebut. Hingga akhirnya Lan Suya mengangkat kepalanya. Tatapannya berubah.
Ia menatap Lan Guan yang masih duduk di hadapannya.
“Guan'er.”
“Hmm?”
Lan Suya menarik napas dalam-dalam. Kemudian ia berkata dengan wajah serius,
“Aku sudah punya kekasih.”
“...”
Lan Guan membeku. Cangkir teh yang baru saja hendak diangkatnya berhenti di udara.
Beberapa detik berlalu. Lan Guan perlahan menurunkan cangkir tersebut.
“Kau...”
Ia menatap kakaknya dengan mata melebar.
“Punya kekasih?”
Lan Suya mengangguk.
Lan Guan masih terlihat tidak percaya.
“Sejak kapan?”
Lan Suya tidak langsung menjawab. Ia justru mengalihkan pandangan ke arah jendela.
Lan Guan memperhatikan perubahan ekspresi kakaknya. Matanya menyipit.
“Ya jiejie...”
Lan Suya tersentak kecil.
“Apa?”
Lan Guan mendekatkan tubuhnya ke meja.
“Siapa orangnya?”
Lan Suya terdiam. Pertanyaan Lan Guan membuat pikiran Lan Suya semakin kacau.
Ia sendiri baru saja mengatakan bahwa dirinya memiliki kekasih. Padahal kenyataannya ia sama sekali tidak mempunyai kekasih. Kalimat yang keluar dari mulutnya mungkin akan membawa masalah yang jauh lebih besar daripada perjodohan itu sendiri.
Namun sekarang, setelah kata-kata itu terlanjur keluar, ia tidak mungkin menariknya kembali. Lan Suya akhirnya mengangkat wajahnya.
“Ini rahasia.”
Lan Guan mengerutkan kening.
“Rahasia?”
Lan Suya mengangguk.
“Aku berniat memberikan kejutan kepada ayah.”
Ia berusaha memasang wajah setenang mungkin.
“Karena itu aku belum menceritakannya kepada siapa pun.”
Lan Guan memandang kakaknya cukup lama. Ia tampak masih penasaran, tetapi setelah mendengar alasan tersebut, ekspresinya perlahan menjadi lebih santai.
“Oh... begitu.”
Lan Suya mengangguk kecil.
“Jadi jangan tanyakan lagi.”
Lan Guan tertawa.
“Hahaha, baiklah. Kalau begitu aku tidak akan bertanya.”
Ia kembali mengambil cangkir tehnya.
“Bagus jika begitu.”
Lan Suya sedikit terkejut.
“Bagus?”
Lan Guan mengangguk.
“Setidaknya sekarang aku tidak perlu khawatir.”
Ia menyesap tehnya sebelum melanjutkan,
“Semoga ayah merestui hubungan kalian nanti.”
“...”
Lan Suya hanya bisa tersenyum kaku.
“Semoga.”
Lan Guan sama sekali tidak menyadari bahwa kakaknya sedang berbohong. Ia justru terlihat senang.
“Kalau begitu, aku juga akan membantu menjelaskan kepada ayah nanti.”
Lan Suya langsung mengangkat kepalanya.
“Tidak perlu!”
Suara itu keluar terlalu cepat.
Lan Guan berkedip. Lan Suya segera tersenyum.
“Maksudku... biarkan aku yang menjelaskannya sendiri.”
Lan Guan mengangguk.
“Oh.”
“Baiklah.”
Keduanya kemudian kembali melanjutkan makan.
Percakapan mereka perlahan kembali menjadi santai. Lan Guan sesekali membicarakan kehidupannya selama berada di luar Kota Weiyang, sementara Lan Suya hanya menanggapi seperlunya.
Namun di dalam pikiran Lan Suya, tidak ada satu pun perkataan Lan Guan yang benar-benar masuk. Pikirannya hanya tertuju pada satu masalah. Ia baru saja mengatakan kepada adiknya bahwa dirinya mempunyai kekasih. Padahal orang itu tidak ada.
Lan Suya menggigit sumpitnya pelan.
“...”
Apa yang harus dilakukannya? Minggu depan ayahnya akan datang.
Jika ayahnya bertanya tentang kekasih tersebut, ia tidak mungkin hanya mengatakan bahwa ia berbohong. Terlebih lagi, calon yang disiapkan kali ini adalah Fang Zhu dari Keluarga Fang. Perjodohan itu terlalu serius untuk diselesaikan hanya dengan sebuah alasan sederhana.
Lan Suya menatap makanan di hadapannya tanpa benar-benar melihatnya.
“Kalau begitu... siapa yang harus kupilih?”
Ia mulai memikirkan orang-orang yang dikenalnya di Kota Weiyang.
Namun satu demi satu nama muncul lalu langsung ia singkirkan. Semakin dipikirkan, semakin Lan Suya merasa pusing.
Ia mencari seseorang yang bisa dipercaya dan bersedia membantunya berpura-pura menjadi kekasih selama pertemuan tersebut. Masalahnya ia bahkan tidak tahu harus mencari orang seperti itu di mana.
Lan Suya menghela napas dalam hati.
“Siapa yang bisa berpura-pura menjadi kekasihku?”
Ia menatap ke luar jendela. Tatapannya nampak kosong.
menyedihkan di ahir, itulah gu shu...
jgn buat penasaraan