Di mata keluarganya, Aira hanyalah seorang anak kedua yang tak pernah dianggap. Berbeda dari kakak dan adik bungsunya yang berpendidikan tinggi dan berkarier sukses, Aira hanya seorang lulusan SMA yang sehari-hari berjuang menjajakan kue keliling. Kasih sayang sang ayah menjadi satu-satunya alasan Aira bertahan di rumah yang penuh kepalsuan itu.
Namun, pertahanannya runtuh seketika saat pria yang ia cintai datang melamar. Bukan untuk dirinya, melainkan untuk sang adik. Pengkhianatan yang telah lama berjalan di belakangnya itu justru didukung penuh oleh ibu dan kakaknya.
Dalam hancurnya rasa kecewa, Aira melangkah pergi menembus derasnya hujan malam. Malang tak dapat ditolak, sebuah sepeda motor menyenggol tubuhnya yang ringkih. Sang pengendara yang merasa bersalah bermaksud membawanya ke rumah sakit, tetapi jalanan malam yang sepi dan hujan lebat memaksa mereka berteduh di sebuah gubuk tua.Siapa sangka, niat baik untuk berteduh justru berbuah petaka. Warga sekitar yang mengepung gubuk
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noona Rara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perawatan di salon
"Sekarang kita mau ke mana, Mas?" tanya Aira sembari menatap jalanan.
"Bebas, ke mana aja. Kamu ikut Mas aja ya." jawab Devan santai.
"Gimana kalau kita ngontrak rumah aja dulu?" usul Aira.
Devan tak langsung menjawab. Tanpa aba-aba, ia malah menarik rem dan menepikan motornya.
Aira mengerutkan kening. "Loh, kok malah berhenti di sini, Mas?"
"Kita lanjut naik mobil temanku ya. Motor ini biar dikembalikan sama pemiliknya." kata Devan tenang, membuat Aira makin kebingungan.
"Hah? Dikembalikan? Berarti motor ini bukan punya kamu, Mas?" cecar Aira heran.
"Iya, memang bukan. Cuma pinjam punya teman buat keliling di daerah sini." aku Devan santai.
Sebenarnya, lokasi proyek yang sedang digarap Devan berada di area yang cukup strategis dan tak jauh dari perkampungan tempat tinggal Aira. Biasanya Devan ke sana diantar supir menggunakan mobil mewahnya. Tapi hari itu, Devan lagi ingin mencari suasana baru dan masuk ke lorong-lorong pemukiman. Karena mobil tak bakal muat melewati gang sempit, ia sengaja meminjam motor salah satu pekerja proyeknya.
Meskipun berstatus sebagai bos besar, Devan tipe pria yang membumi. Ia tak segan turun langsung ke lapangan bareng para karyawan untuk memberi arahan. Sikapnya itulah yang membuat keluarga Aira salah paham dan mengiranya cuma kuli bangunan biasa.
Aira menghela napas pendek. Ia pikir motor butut tadi milik suaminya. Kalau ternyata cuma pinjaman, berarti Devan sama sekali tak punya kendaraan.
"Nggak apa-apa deh, Mas. Nanti kita bisa nabung pelan-pelan buat beli motor." ujar Aira tulus.
Devan langsung menaikkan sebelah alisnya.
"Makanya, harusnya Mas nggak usah kasih uang sebanyak itu ke Ibu. Nggak perlu juga beliin aku baju-baju mahal kemarin. Uangnya kan bisa dipakai buat beli motor bekas dulu biar Mas ada tumpangan buat kerja, jadi nggak perlu merepotkan teman." cerocos Aira panjang lebar.
Devan menahan senyum mendengar celotehan istrinya. Ia langsung paham kalau Aira benar-benar mengira dirinya tidak punya uang.
"Udah, soal itu gampang." potong Devan lembut.
Di dalam hati, Aira sebenarnya menyisakan rasa sesal karena sudah memberikan uang sumbangan yang terlampau besar untuk Karin. Ia cemas sisa uang di tangannya tak cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Apalagi mengingat kelakuan Bu Ismi beserta Siska dan Karin yang kerap menyakiti hatinya, makin membuat Aira merasa dongkol karena sudah kelewat royal pada mereka.
Tiba-tiba sebuah mobil mewah berhenti persis di dekat mereka. Mata Aira berkedip takjub melihat kilau mobil tersebut. Dua pria bersetelan rapi keluar dan bergegas menghampiri Devan.
"Maaf, Tuan, kalau membuat Anda menunggu lama." ucap salah satu pria itu sopan.
"Ck, nggak usah terlalu kaku kalau lagi di luar. Aku juga baru sampai." tegur Devan santai.
Pria itu adalah Aldi, asisten pribadi Devan yang juga teman kuliahnya dulu. Devan memang sengaja menyuruh Aldi menjemputnya karena ingin membawa Aira pulang. Karena mereka berteman sejak dulu, Devan paling malas kalau Aldi terlalu formal padanya.
Sementara itu, Aira hanya bisa melongo. Ia heran melihat suaminya begitu akrab dengan pemilik mobil mewah itu, bahkan pria itu terlihat sangat menaruh hormat pada Devan. *Siapa sebenarnya pria yang baru saja menikahiku ini?* batin Aira makin penasaran.
"Sudah kewajiban saya, Tuan." sahut Aldi sembari membukakan pintu mobil belakang. "Silakan, Tuan, Nyonya."
"Ayo, Sayang." bisik Devan lembut sambil merangkul pinggang Aira untuk masuk ke dalam.
Dengan perasaan campur aduk dan ragu, Aira terpaksa melangkah masuk dan duduk bersisian dengan Devan. Sementara pria satunya lagi bertugas mengendarai motor butut milik pekerja tadi.
Aira mendekatkan tubuhnya dan berbisik pelan di telinga Devan, "Mas, dia siapa sih? Kok sopan banget sama kamu?"
"Dia temanku sekaligus rekanku, Sayang. Orang biasa, cuma memang rada kaku." jawab Devan enteng, sedikit beralasan karena Aldi memang selalu menempel ke mana pun ia pergi.
"Kita langsung pulang ke rumah aja, Al." perintah Devan pada Aldi.
"Maaf, Tuan, tapi satu jam lagi Anda ada rapat penting." sela Aldi mengingatkan, takut bosnya itu lupa agenda.
Devan mendadak menepuk jidatnya. "Oh iya, aku hampir lupa."
Rencananya Devan ingin membawa Aira ke rumah Neneknya. Tapi dipikir-pikir lagi, ia tidak bisa membawa istrinya dalam kondisi seadanya seperti ini. Penampilan Aira terlalu sederhana. Sebagai pengusaha kaya raya, Devan tahu betul bisa-bisa Neneknya mengamuk jika melihat sang cucu membawa istri yang terkesan tidak terurus.
Aira makin mengerutkan dahi mendengar percakapan itu. "Rapat? Kerjaan kamu sebenarnya apa sih, Mas? Kok pakai ada rapat segala kayak orang kantoran?"
Devan terkekeh pelan. "Anggap aja gitu, Sayang. Kalau gitu kita mampir ke salon dulu ya, Al." titah Devan.
"Baik, Tuan." jawab Aldi. Aldi tentu sudah paham situasi pernikahan Devan, termasuk fakta bahwa keluarga Aira mengira bosnya itu pria miskin tanpa harta.
Aira makin kebingungan. "Loh, ngapain kita ke salon, Mas?"
"Bukannya cewek paling suka kalau diajak ke salon, Sayang? Kamu mau, kan?" Devan balik bertanya sambil menatap mata Aira dalam-dalam.
Jujur, sudah lama Aira mendambakan perawatan salon agar bisa tampil makin cantik, seperti halnya Siska dan Karin. Wanita mana yang tidak ingin terlihat memikat di depan suaminya?
"Mau sih, tapi kita harus hemat, Mas. Kita kan butuh uang buat bayar kontrakan. Uang yang kamu kasih kemarin aja cuma sisa 3 juta." ujar Aira mengingatkan.
Devan tersenyum tipis, meremas lembut jemari Aira. "Soal itu kamu nggak usah pusing. Yang penting kamu mau."
Aira akhirnya cuma bisa menghela napas pasrah. Sikap Devan yang sukar ditebak membuat kepalanya makin pusing, jadi ia memilih menurut saja.
"Nanti begitu urusan pekerjaanku beres, aku langsung ajak kamu ke rumah Nenek. Aku mau mengenalkan kamu sama beliau." tambah Devan.
"Jadi nanti kita bakal tinggal di sana, di rumah Nenek kamu, Mas?" tanya Aira memastikan.
"Iya, kamu mau, kan?" goda Devan.
Aira mengangguk lega. Setidaknya kalau tinggal bersama Nenek Devan, ia tak perlu pusing memikirkan biaya sewa tempat tinggal lagi. *Syukurlah kalau Mas Devan ajak tinggal di rumah Neneknya* gumam Aira dalam hati.
Tak butuh waktu lama, mobil mewah yang dikendarai Aldi berhenti di depan sebuah salon ternama dan amat elit. Devan merangkul mesra Aira dan menuntunnya masuk. Kedatangan Devan langsung disambut hangat dan penuh hormat oleh para staf salon.
Para pegawai salon tentu sudah hafal betul siapa Devan Kusuma. Sejak ayahnya memutuskan menikah lagi, Devan memilih lepas tangan dan enggan memakai marga sang ayah. Ia justru lebih nyaman membawa nama besar dari keluarga ibunya.
Lagipula, Devan sama sekali tak butuh sepeser pun harta ayahnya. Warisan dari keluarga sang ibu saja sudah melimpah ruah dan tak habis tujuh turunan. Mendiang ibunya adalah anak tunggal dari jajaran konglomerat nomor dua di Indonesia, yang otomatis membuat seluruh kekayaan fantastis itu jatuh penuh ke tangan Devan.
"Selamat siang. Selamat datang di Beauty Salon, Tuan dan Nyonya." sambut resepsionis menyapa ramah penuh penghormatan.
"Siang, Mbak." balas Devan tenang.
"Ada yang bisa kami bantu, Pak?" tanya staf itu cekatan.
"Istri saya mau head-to-toe treatment di sini. Tolong langsung arahkan perawatan yang paling pas buat kondisi kulitnya."ujar Devan.
"Bisa banget, Tuan. Mari, Nyonya bisa langsung konsultasi dulu dengan dokter kami." jawabnya sigap.
Khusus untuk orang kelas atas seperti Devan, tak ada istilah antre. Aira langsung dialihkan ke fasilitas perawatan VVIP. Begitu selesai berkonsultasi singkat dengan dokter spesialis, Rangkaian perawatan Aira pun dimulai.
"Mbak, saya mau perawatannya lengkap ya, seluruh tubuh. Terus penampilannya juga di-makeover sekalian biar makin modis. Nanti gaunnya pakai yang saya sediakan. Kalau buat gaya rambutnya, tolong dibikin begini." instruksi Devan detail sambil menyodorkan layar ponselnya.
Di layar, terlihat sampel gaya rambut wavy berkilau warna cokelat hangat yang tergerai indah dengan aksen keriting halus di bagian ujungnya.
"Baik, Tuan. Semuanya siap dilaksanakan sesuai permintaan." jawab staf salon patuh.
"Kira-kira butuh waktu berapa lama?" tanya Devan lagi.
"Kurang lebih tiga jam, Tuan." sahutnya.
Devan mengangguk paham. Ia membalikkan badan menatap Aldi. "Al, perawatannya tiga jam. Kita ditinggal rapat dulu aja kalau gitu." cetus Devan.
"Baik, Tuan." sahut Aldi kaku.
Devan berdecak gemas melihat tingkah rekannya itu. "Kamu ini... udah sering aku bilang, kalau di luar jam kerja nggak usah kaku-kaku amat." protes Devan.
"Maaf, Tuan, tapi saya tidak bisa. Bagaimanapun Anda ini atasan saya, rasanya tidak etis kalau saya kelewatan santai, apalagi di depan orang lain." jalas Aldi tetap teguh pada pendiriannya.
"Yaudah lah, terserah kamu." serah Devan sambil menggeleng-gelengkan kepala.
Aldi memang seperti itu dingin, lempeng, dan kelewat patuh sejak dulu. Kerja dengannya tak bisa diajak bercanda. Tapi Aldi adalah sosok paling setia yang sudah mendampingi Devan sejak ibunda Devan meninggal dunia dan Devan mulai memegang kendali penuh atas imperium bisnis keluarga Sitorus.
Sebelum pergi, Devan menyempatkan diri menghampiri Aira yang mulai dipijat lembut oleh para terapis.
"Sayang, Mas tinggal urus pekerjaan sebentar ya. Nanti begitu beres, Mas langsung balik ke sini buat jemput kamu." bisik Devan lembut.
Aira mengangguk pasrah. "Iya, Mas. Nanti kalau sudah selesai aku kabari." jawabnya.
Tanpa diduga, Devan mendaratkan kecupan hangat di kening Aira sebelum melangkah pergi, membuat wajah Aira mendadak merona merah.
Aira sungguh merasa diperlakukan bagaikan seorang ratu di salon ini. Pelayanannya begitu privat dan istimewa. Ia disuguhi minuman hangat beraroma menenangkan yang langsung mengusir rasa pusing di kepalanya. Rasa pegal di seluruh badannya seolah menguap. Kulit wajah yang tadinya tampak kusam akibat kepikiran masalah keluarga kini menyala glowing, cerah, dan kenyal. Seluruh badannya pun terasa begitu halus, wangi, dan merona indah.
Rambut Aira yang biasanya cuma dikuncir asal-asalan, kini tergerai indah bergelombang. Warna kecokelatan yang dipilihkan Devan benar-benar menyatu sempurna dengan warna kulitnya, membuat aura kecantikannya terpancar berlipat ganda.
Begitu perawatan dan makeover selesai, Aira dipandu untuk mengenakan gaun mewah yang sudah disiapkan Devan.
Saat melangkah ke depan cermin besar, Aira langsung membatu.
Mata Aira berkedip tak percaya menatap bayangan di hadapannya. Wanita cantik bertubuh molek dengan aura anggun dan menawan itu... benarkah dirinya? Ia hampir tidak mengenali sosoknya sendiri yang berubah total 180 derajat!
"Ya Tuhan... ini beneran aku?" bisik Aira shock sambil meraba pipinya halus.
Penampilannya sekarang benar-benar berkelas. Bahkan jika Karin dan Siska disandingkan dengannya saat ini, kedua saudaranya itu bakal kalah jauh dan tampak biasa saja!
Tentu saja perubahan Aira bisa sedrastis ini. Devan sama sekali tak tanggung-tanggung menggelontorkan uang. Tanpa sepengetahuan Aira, Devan sudah menggesek kartu dan membayar cash sebesar 250 juta rupiah di awal!
Andai saja Aira tahu tarif perawatan fantastis yang baru saja dinikmatinya, bisa dipastikan wanita polos itu bakal pingsan di tempat, mengingat selama ini ia terbiasa hidup serba hemat dan sederhana.
**Bersambung**
Hai guys...bantu up yah novel baru ini.
Semoga di bab 20 mencapai retensi biar semangat nulisnya