Namaku Aluna Putri Sagara, panggil saja Aluna. Aku memiliki keluarga yang sangat bahagia. Ayahku seorang PNS dan ibuku memiliki usaha jahit yang cukup terkenal di Semarang. Aku sendiri adalah seorang honorer di sekolah dasar. Aku mempunyai kakak laki-laki bernama Sultan, dia bekerja sebagai PNS seperti ayah di instansi yang sama. Aku juga memiliki Adik perempuan yang bernama Alika yang saat ini masih sekolah. Namun, hidupku berubah drastis ketika ayah meninggal dunia.Langit seolah runtuh dan kebahagiaan yang kami dapat selama ini ikut hilang bersama dengan Ayah. Ibu sakit-sakitan, Kak Sultan dan istrinya Mbak Nisa mulai berubah dan menjauh, Alika yang butuh biaya untuk kuliah nanti.
Begitu banyak beban yang aku tanggung setelah Ayah tiada. Awalnya aku kerja sebagai guru honorer kini banting setir menjadi Wanita Panggilan seorang CEO pemilik klub tempatku bekerja.Marko Bumi Ferdinand. Nama itu adalah pemilik diriku sekarang. Dia butuh anak untuk mewarisi perusahaannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noona Rara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
JALAN GELAP YG KU TEMPUH
Matahari sore itu terasa lebih panas dari biasanya. Aluna duduk lelah di halte kecil pinggir jalan. Kemeja putih dan rok hitamnya masih rapi tapi wajahnya sayu. Wawancara kerja yang baru saja ia jalani kembali berujung dengan kalimat klise. “Kami akan menghubungi Anda jika lolos.” Kata-kata itu sudah sering ia dengar namun tak pernah benar-benar berujung panggilan.
Ia menunduk, jemari menggenggam map cokelat berisi CV yang mulai lusuh. Dalam hati, ia berdoa lirih mencoba menenangkan kegelisahan. Namun doa-doa itu seakan menggantung di udara tanpa jawaban. Orang-orang di sekeliling halte lalu lalang, pedagang kaki lima, pelajar yang baru pulang sekolah bahkan pekerja kantoran. Dunia terus berjalan, sementara hidup Aluna terasa mandek di satu titik.
Tak lama, seorang perempuan muda datang, berdiri di dekat halte. Penampilannya kontras sekali dengan Aluna. Rambut panjangnya dicat cokelat terang, gaun pendek merah melekat pada tubuhnya, bibirnya merah menyala. Wangi parfum menyengat bercampur asap rokok yang masih tersisa di udara sore. Aluna sempat menoleh sekilas, lalu menunduk kembali.
Perempuan itu tersenyum, mencoba ramah. “Mbak, lagi nunggu angkot ya?”
“Iya.” jawab Aluna pelan. “Baru pulang wawancara.”
“Ohh…” si perempuan menatapnya sekilas dari ujung kepala sampai kaki, lalu tersenyum lebih lebar. “Saya Friska. Lagi nunggu ojek, mau berangkat kerja.”
Aluna hanya mengangguk. “Oh, iya. Kerja di mana?”
Friska mengedikkan bahu santai. “Di klub malam. Jadi waitress sekaligus… yaa, penghibur tamu. Lumayanlah, tipnya gede.”
Kata-kata itu membuat Aluna tersentak dalam hati. Klub malam. Dunia yang bahkan tak pernah ia bayangkan untuk sekadar masuk ke dalamnya. Ia hanya bisa tersenyum kaku, tak ingin memperpanjang pembicaraan. Sesaat kemudian ojek Friska datang. Sebelum naik, Friska menoleh. “Kalau butuh kerjaan, kabarin aja. Klub butuh banyak orang, apalagi yang penampilannya manis kayak kamu.”
Aluna terdiam, hanya bisa melambaikan tangan singkat saat Friska pergi. Ucapannya terngiang-ngiang di kepala, seperti godaan yang menyelinap di sela kegelisahan.
**
Beberapa hari berlalu. Ekonomi rumah semakin terjepit. Obat Ibu makin sulit terbeli. Alika terus berusaha hidup hemat di perantauan, tapi tetap saja biaya tambahan selalu ada. Tabungan peninggalan Ayah hampir habis. Aluna mencoba melamar pekerjaan lain, namun tak ada kabar juga. Setiap hari ia menghabiskan waktu di depan ponsel, membuka situs lowongan kerja, menyesuaikan CV, menulis surat lamaran. Namun semua berujung sunyi.
Malam itu, ketika Ibu mengeluh sakit kepala hebat dan Alika menelepon meminta tambahan uang makan, Aluna duduk di teras rumah sambil menggenggam ponselnya erat-erat. Ingatan tentang Friska tiba-tiba muncul. Kata-katanya berputar di kepala. “Kalau butuh kerjaan, kabarin aja.”
Dengan tangan gemetar, Aluna membuka aplikasi pesan dan mengetik: “Halo Friska, ini Aluna. Kamu dulu pernah bilang soal kerja di klub. Bisa jelasin lebih detail?”
Balasan datang cepat. Friska antusias, menjelaskan bahwa pekerjaannya sederhana." Melayani tamu, menuangkan minuman, menemani ngobrol. Tidak ada paksaan. Uangnya besar. Kalau kamu minat, aku bisa kenalin ke manajer. Gajinya bisa langsung terasa, bahkan di hari pertama. Apalagi kalau dapat tip gede dari tamu”
Aluna menutup wajah dengan kedua tangannya. Air mata mengalir. Ia merasa berdosa bahkan hanya karena mempertimbangkan tawaran itu. Tapi kebutuhan terlalu menyesakkan. Malam itu ia membuat keputusan yang akan mengubah jalan hidupnya.
**
Malam pertama di klub malam. Musik keras bergetar di dada, lampu temaram berganti-ganti warna, asap rokok memenuhi udara. Aluna berdiri canggung di balik pintu masuk. Jilbabnya sudah dilepas, rambut panjang bergelombangnya jatuh menutupi punggung. Perasaan asing menguasai dirinya, ia merasa telanjang meski tubuhnya masih tertutup gaun pinjaman Friska.
“Tenang aja, Lun. Kamu cuma perlu senyum, tuang minum, dengerin cerita tamu. Gitu aja.” Friska menepuk pundaknya, memberi semangat.
Aluna mengangguk kaku. Ia dibawa ke meja pertama. Seorang pria paruh baya menyambut dengan tawa keras, tangannya langsung meraih pinggang Aluna. Ia tersentak, tapi Friska mengedipkan mata, memberi isyarat agar ia tenang. Dengan tubuh kaku, Aluna duduk. Gelas-gelas dituangkan, tawa terdengar dan tangan-tangan asing merayap di lengannya.
Malam itu terasa begitu panjang. Dentuman musik, gelas-gelas beradu, tawa riuh dan cumbu-cumbu yang dipaksakan membuatnya merasa seperti boneka. Saat klub akhirnya tutup, ia keluar dengan langkah gontai. Di atas sepeda motornya, ia menangis tersedu di balik helm. “Ya Allah… apa yang sedang kulakukan?” bisiknya. Sesampainya di gang rumah, ia berhenti sebentar, menghapus air mata, lalu kembali mengenakan jilbab. Kepada Ibu, ia hanya berkata, “Kerjaan baruku di restoran ada shift malam, Bu. Jadi jangan khawatir kalau aku pulang larut.”
Ibu mengangguk, meski wajahnya terlihat sedih. “Yang penting hati-hati, Nak. Jangan terlalu capek.”
Aluna mengangguk dengan senyum palsu, lalu masuk kamar. Begitu pintu terkunci, air matanya kembali jatuh.
**
Hari-hari berikutnya berjalan sama. Siang ia pura-pura mencari kerja atau membantu sedikit pekerjaan rumah. Malam ia ke klub, membuka jilbab, berpura-pura jadi sosok lain. Setiap pulang, ia menangis di motor, lalu menyembunyikan semua luka dari Ibu dan Alika. Kadang ia menatap bayangan dirinya di kaca spion, bertanya “Siapa aku sekarang?”
Rutinitas di klub semakin melelahkan. Kadang ia mendapat tamu yang cerewet, hanya ingin didengar curhatnya tentang bisnis atau rumah tangga. Kadang ia harus duduk berjam-jam mendengarkan tawa palsu sendiri, sementara dalam hati ingin berteriak. Ada tamu yang ringan tangan, mencubit, mencumbu bahkan memaksa. Aluna menahan diri, menyingkirkan rasa jijik hanya demi amplop tebal yang akan ia terima di akhir malam.
Friska selalu mendampingi, mengajari trik kecil, bagaimana menuangkan minuman dengan gerakan anggun, bagaimana tertawa kecil di sela obrolan, bagaimana menolak dengan halus ketika tamu mulai kelewatan. “Kalau kamu pintar jaga sikap, tamu bakal balik lagi. Dan kamu nggak perlu sampai melayani lebih jauh." ujar Friska suatu malam saat mereka istirahat di ruang ganti.
Aluna hanya mengangguk, menelan semua petuah itu. Dalam hati, ia merasa bagian dari dirinya mati sedikit demi sedikit. Namun setiap kali mengingat Ibu yang butuh obat dan Alika yang menanti kiriman uang, ia memaksa diri untuk kuat.
**
Sebulan berlalu. Awalnya Aluna kaku, selalu menghindari sentuhan. Namun kini, ia sudah terbiasa. Ia tahu kapan harus tersenyum, kapan harus berpura-pura tertawa, kapan harus mengalihkan topik. Ia tahu cara membuat tamu betah tanpa benar-benar menyerahkan diri. Meski begitu, rasa bersalah tetap menghantui setiap malam.
Meski hatinya tetap menangis, wajahnya harus tersenyum. Uang yang ia dapat memang besar. Obat Ibu bisa terbeli, biaya kos Alika bisa dibayar. Setiap kali melihat wajah Ibu yang sedikit lega atau mendengar suara Alika yang riang saat mendapat kiriman uang, Aluna mencoba meyakinkan diri bahwa semua ini layak. “Aku kuat demi mereka.” batinnya berulang-ulang.
Namun di setiap perjalanan pulang, air matanya tetap turun. Malam-malam panjang itu menjadi saksi bisu perjuangan sekaligus kejatuhan seorang perempuan yang dulu begitu berpegang pada harga diri dan agama.
**